Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Kakak vs Adik [2]


Malam itu Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berhenti di depan klub malam.


Dia duduk di bar dan memesan segelas whiskey, bahkan whiskey yang harusnya dinikmati sedikit demi sedikit karena kadar alkoholnya tinggi itu ia minum dengan sekali tenggak.


”Tuang lagi,” perintah Leon pada bartender yang ada di depannya.


Bartender itu menuangkan whiskey ke gelas Leon hingga habis satu botol, Leon sudah merasa mabuk tapi ia terus meminta gelasnya diisi terus.


”Lo udah abis sebotol, lo udah mabuk jadi mendingan lo pulang, atau pesan ruang VIP.” ucap bartender.


”Gue belum mabuk, udah tuang lagi. Lo tenang aja, gue bakalan bayar. Duit gue banyak.” Leon menjawab sambil mengeluarkan kartu hitam miliknya.


”Tapi muka lo udah merah, lo juga udah sempoyongan gitu duduknya.”


”Udah tuang aja, jangan banyak omong. Kenapa semua orang hari ini banyak banget omong sih.”


Akhirnya bartender itu menuruti keinginan Leon, ia terus menuang gelas kosong Leon dengan whiskey.


Yang ditakutkan bartender itu akhirnya terjadi, setelah menghabiskan 3 botol whiskey akhirnya ia menjatuhkan kepalanya di meja dan terus meracau tidak jelas.


”paperrenamilinhkkuh kak Steven napagi”


Leon terus meracau tidak jelas dan yang terdengar jelas hanya kak Steven, akhirnya bartender itu mengambil HP di saku Leon dan mencari kontak yang bernama kak Steven, namun sayangnya nomornya sudah tidak aktif.


Lalu bartender itu menemukan kartu nama di saku Leon yang ternyata kartu nama Arya dan no HP nya.


Saat Arya sedang tiduran di sofa tiba tiba layar ponselnya menyala dan bergetar, ia melihat yang menelpon adalah nomor yang tidak di kenal.


”Siapa ya malam malam gini” gumamnya sambil mengangkat telponnya.


”Hallo, siapa ya”


[Saya John bartender di CM diskotik]


”Lalu?”


[Saya menemukan kartu namamu di saku salah satu pengunjung yang mabuk berat]


”Dari pada nelpon saya, lebih baik nelpon ke nomor keluarganya.”


[Saya sudah nelpon keluarganya yang namanya Steven tapi nomornya gak aktif, terus juga dia terus meracau nama Steven.]


Arya sadar bahwa orang yang mabuk itu adalah Leon.


”Yaudh, saya kesana sekarang. Tolong jagain dia dulu sampai saya datang.”


[Ya cepat ya, soalnya saya takut pengunjung yang lain merasa terganggu]


Arya menutup telponnya dan bergegas menjemput Leon dengan naik taxi. Tak lama kemudian ia sampai di diskotik yang diberitahu orang di telpon tadi. Dia masuk dan menghampiri Leon yang sudah ambruk di meja.


”Saya yang tadi di telpon,”


”Ah iya, ini kartunya.”


Hah, kenapa dia menghabiskan uang untuk foya foya gini, dasar gak pernah dewasa. Pikirnya sambil mengambil kartu yang diberikan bartender lalu memapah Leon menuju parkiran.


”Sial, lo berat banget si. Bisa bisanya lo ngabisin duit cuma buat mabuk masukan begini.” omel Arya sambil memapah Leon.


Leon yang sedang mabuk berat melihat wajah kakaknya dan ia wajahnya berubah menjadi tersenyum.


”Ya ampun, kakakku yang hebat ada didepanku. Kakakku memang yang terbaik.” ucapnya sambil sempoyongan di papah Arya.


”Udah diem, lo berat tau.”


Akhirnya Arya berhasil membawa Leon ke mobil yang dibawa Leon tadi. Arya mengenali semua mobil yang ada dirumah, jadi tidak sulit menemukan mobil yang dibawa Leon.


Dia kebingungan harus membawa Leon kemana? dia sendiri enggan kembali ke rumah prayoga, hingga terpaksa ia membawa Leon ke kantornya.


Sesampai di kantor, Arya menggendong Leon di punggungnya dan meletakkan tubuh Leon di sofa tak lupa dia juga menyelimuti Leon yang sudah tertidur pulas setelah banyak meracau.


”Hah, apa lo begini gara gara kejadian tadi? apa lo begitu merasa bersalah udah bikin Sari terluka?”


Ia bermonolog sendiri sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya.


...----------------...


Pagi harinya Leon belum juga bangun dari tidurnya, padahal hari itu ia sudah janji untuk mengantar Sari ke sekolah.


Ia ingin meninggalkan Leon sendirian, tapi ia merasa tidak tenang. Sehingga ia memutuskan untuk membatalkan janjinya, ia segera meraih ponselnya dan menekan nomor telpon Sari.


”Maaf ya? sepertinya aku gabisa antar kamu pagi ini.”


[Kenapa?]


”Semalem Leon mabuk mabukan dan ada yang menelponku jadi aku menjemputnya di diskotik, aku males datang ke rumah jadi aku bawa dia ke kantorku.”


[Ya ampun, kenapa Leon mabuk mabukan?]


”Entahlah mungkin merasa bersalah padamu.”


[Kamu cemburu ya? suaramu terdengar gak semangat.]


”Itu gak perlu ditanya.”


[Kamu itu jujur banget si, bikin malu aja.]


”Iyalah aku mah jujur gak kayak kamu,” sindir Arya.


[Ya maafin aku ya]


”Aku cuma bercanda koq, gak usah minta maaf aku jadi gak enak.”


[Gausah ga enak, aku emang punya salah. oia ngomong ngomong gimana keadaan Leon sekarang.]


”Dia belom bangun, nanti pulang sekolah kamu mampir kesini kan?”


[Iya nanti aku kesana, kalo gitu udah dulu ya? aku mau siap siap dulu.]


”Iya oke.”


Setelah selesai menelpon, Arya memesan sarapan secara online. Ia memesan sup ayam dan juga jus, supaya jika Leon bangun bisa langsung menyantapnya dan makanan itu juga bisa meredakan pengarnya.


Setelah makanannya datang, tak lama kemudian Leon bangun, ia merasakan pening di kepalanya.


”Aduh, kepala gue sakit banget.” keluh Leon sambil memegang kepalanya.


”Jelas lah lo minum alkohol kebanyakan.” omel Arya sambil menyiapkan sarapan yang ia pesan ke dalam mangkok.


”Kenapa lo disini,”


”Ini kantor gue, harusnya gue yang nanya kenapa lo mabuk nyebut nyebut nama gue. Gara gara lo gue tengah malam di telpon buat jemput lo.”


”Hah? ngapain lo bawa gue kesini, taro gue di hotel kek.”


”Hah, gue gak punya duit buat bayar hotel terus gue males nganter lo ke rumah.”


”Gue juga males pulang kerumah. Aduh, kepala gue sakit banget gila.”


”Nih makan dulu, biar pengar lo ilang.”


Leon heran melihat kakaknya menyiapkannya makanan tapi wajahnya masih saja datar, Leon jadi kesal kenapa kakaknya terus dingin kepadanya dari kecil.


”Gausah, gue mau langsung cabut aja.” Leon mencoba berdiri tapi ia merasa kepalanya sangat berat sehingga tidak mampu berdiri.


”Lo gak akan bisa bangun kalo gak makan itu, lo itu kebanyakan minum.” ucap Arya sambil menyantap makanannya sendiri.


Sial, kalo kepala gue gak berat dan pusing banget kaya gini gue pasti langsung cabut daritadi.


Leon yang kesal dengan terpaksa memakan makanan yang sudah disiapkan kakaknya.


”Nih, obatin luka di wajah lo pake ini.” Arya melemparkan salep dan cotton bud ke arah Leon.


”Gausah sok baik deh, lagian gue gamau cepet cepet sembuh biar gue selalu inget luka ini elo yang buat.”


Leon kesal melihat kakaknya yang dingin tapi perhatian. Namun Arya hanya makan sambil melihat ponselnya, ia tampak tidak perduli dengan apa yang dikatakan Leon.


Beginilah lo, dari dulu lo cuek dan dingin. Harusnya terus aja begitu tapi kenapa coba pake sok perhatian tapi ekspresinya datar. Bikin gue kesel aja sialan.


”Gue terpaksa makan dan tidur di tempat lo ini ya? kalo kepala gue udah gak pusing, gue bakalan pergi dari sini. Lo itung aja berapa biayanya, gue gamau punya utang ama lo.”


”Gausah, kalo lo mau pergi yaudah pergi aja, kalo mau disini yaudah silahkan.”


Mendengar itu Leon jadi makin kesal dan tak bisa berkata kata lagi.


...****************...