Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Kekecewaan


Leon memilih untuk pergi menuju diskotik. Hanya alkohol yang menurutnya bisa sedikit membuatnya melupakan rasa sakit dan kecewa yang saat ini ia rasakan.


Begitu sampai di diskotik, ia langsung memesan sebotol whisky. Bartender langsung mengambilkan yang di pesan Leon lengkap dengan gelas dan es batu. Whisky memang cocok jika diminum dengan es batu. Namun Leon malah langsung meminum dari botolnya dalam sekali tenggak. Hal itu membuat bartender itu terkejut, whisky mengandung kadar alkohol yang cukup tinggi sehingga orang orang biasanya menikmatinya dengan gelas ditambah es batu dan diminum perlahan. Bartender mulai khawatir karena setelah menengguk sebotol whisky, Leon memesan sebotol lagi, hal itu bisa membuat Leon kehilangan kesadaran namun Leon sama sekali tidak memperdulikan kekhawatiran bartender itu. Ia terus memesan hingga sudah mencapai botol ke empat.


Kekhawatiran bartender itu bukan hanya isapan jempol, setelah menghabiskan empat botol akhirnya Leon benar benar tidak sadarkan diri. Ia mabuk berat hingga terus meracau dan menangis.


”Gimana ini, dia mabuk berat. Coba lo cek di HPnya telpon siapapun deh yang terakhir ia hubungi.” ucap salah seorang bartender.


”Iya bentar gue cek dulu kantongnya ada HP gak.” Bartender yang lain langsung mengecek kantong jaket dan menemukan HP, ia langsung membuka kunci HP dengan sidik jari Leon.


Ia menghubungi kontak yang terakhir dihubungi di HP itu namun tidak ada yang mengangkat hingga menelpon beberapa kali barulah di angkat.


”Adaapa sih nelponin terus lo, ganggu aja.” omel Arya yang kesal karena yang menelpon daritadi adalah Leon bukannya Sari yang ia tunggu tunggu.


”Maaf, saya bartender diskotik Happy. Pemilik HP ini mabuk berat. Saya menelpon karena nomer anda yang terakhir dihubungi olehnya. Tolong anda kesini kalau tidak kami terpaksa membiarkannya di jalanan.”


”Hah lagi lagi anak itu. Yaudh tunggu sebentar, saya kesana sekarang.”


Arya menutup telponnya dan langsung meluncur ke diskotik, di sepanjang perjalanan ia terus berfikir apa lagi yang terjadi dengan Leon sampai mabuk mabukkan begini.


Sesampainya di diskotik ia langsung merapat Leon dan membawanya ke mobil.


”Kenapa sih lo nyusahin gue terus.” gumam Arya sambil memasangkan seat belt ke tubuh Leon.


Arya langsung melajukan mobilnya ke rumahnya, namun ia mampir dulu ke apotik untuk membeli obat pengar untuk Leon.


Setelah sampai di rumah, ia memapah adiknya dan menidurkannya di kamar. Ia menyelimuti Leon lalu mematikan lampu kamarnya.


Arya pergi ke ruang tengah yang berada tepat di depan kamar Leon. Ia khawatir sehingga menunggu Leon di depan kamarnya.


Arya merebahkan dirinya di sofa panjang sambil terus berfikir apa yang sedang terjadi dengan Leon, sudah lama ia tidak melihat Leon mabuk mabukkan seperti itu. Namun semakin di fikrikan malah semakin membuatnya pusing, lalu akhirnya lama lama ia pun tertidur di sofa.


Pagi harinya Arya bangun, ia langsung membuat sup ayam untuk sarapan karena sup ayam lumayan ampuh untuk meredakan pengar karena mabuk.


Semenjak tinggal sendiri memang Arya sudah lumayan jago memasak, awalnya dia selalu membeli makanan instan. Namun kadang ia juga ingin makan makanan rumahan sehingga ia mulai belajar memasak dan kini sudah mulai ahli walau tidak seahli chef.


Setelah sarapan siap, ia masuk ke kamar Leon. Ia ingin mengecek apakah Leon sudah bangun atau belum, saat ia masuk ternyata Leon sudah terbangun dan sedang berdiri di depan kaca jendela sambil melamun.


Arya yang merasa khawatirpun menghampiri Leon.


”Lo udah bangun kenapa gak keluar? emang kepala lo gak pusing?” tanya Arya sambil menepuk pundak Leon.


”Kenapa lo jemput gue? harusnya kalo lo emang membenci gue lakukan sampai akhir. Kenapa lo malah perduliin gue.”


Arya merasa sepertinya Leon sudah mengetahui semuanya, namun ia mengalihkan pembicaraan itu. Ia sengaja agar Leon bisa sarapan dulu dan meminum obat pengar nya agar masuknya hilang. Ia ingin membicarakan hal yang penting seperti ini dengan kepala dingin.


”Ayo makan dulu, gue udah bikin sarapan.”


”Apa sarapan saat ini lebih penting? kenapa lo gak pernah mau membahas masalah keluarga kita.” Teriak Leon sambil memegang kepalanya karena ia masih merasa pusing akibat alkohol.


”Iya penting, ayo makan dulu.” ucap Arya sambil keluar kamar.


”Gue gak mau makan.” teriak Leon dari dalam kamar.


”Makan dulu kalo lo mau denger penjelasan gue.” ucap Arya sambil duduk di meja makan yang letaknya tidak jauh dari kamar Leon sehingga suaranya pun masih tbisa terdengar.


Leon duduk dan memakan sarapannya itu, sementara Arya sudah hampir menghabiskan sarapannya lalu ia berdiri dan mengambil obat pengar uang semalam ia beli. Obat itu berupa pil yang dimasukkan kedalam botol obat.


”Habiskan sarapannya, lalu minum ini. Setelah pengar lo ilang baru kita ngobrol.” Arya meletakkan obat itu di samping gelas air putih yang berada di depan Leon.


Leon tidak habis pikir, kenapa kakaknya masih saja berbuat baik padanya walaupun ia sudah di sakiti oleh maminya. Ia yakin bahwa Arya pasti sangat membenci mami papi dan juga dirinya, tapi meski kakaknya membencinya dan bicara dengan kasar kepadanya ia tetap saja perhatian dan selalu menjaganya selama ini. Hal itu justru membuat hatinya semakin sakit.


Harusnya lo balas dendam aja pada kami, kenapa lo malah memilih pergi bahkan melepaskan semua hak waris lo. Kenapa lo bikin gue semakin merasa bersalah.


Beberapa saat setelah Leon meminum obatnya, ia merasa lebih baik, kepalanya sudah tidak pusing dan mabuknya sudah hilang. Ia menghampiri kakaknya yang sedang berada di ruang tamu sambil duduk dan ngopi.


”Bisa kita bicara sekarang?” ucap Leon sambil duduk.


”Kepala lo gimana?”


”Udah gak pusing lagi, makasih lo selalu merawat gue walaupun elo pasti sangat membenci gue.”


”Kenapa gue harus membenci lo?”


”Gue udah tau yang dilakuin mami ke mama lo dan elo. Gue gak nyangka mami adalah wanita jahat, gue fikir kita saudara kandung ternyata kehadiran gue justru yang membuat kehidupan lo jadi menyakitkan.”


”Lo gak bisa kan milih lahir dari rahim wanita yang seperti apa? jadi yang terjadi bukan salah lo. Gue emang sangat membenci mereka, tapi kebencian gue sudah di tahap tidak ingin lagi berhubungan atau melihat mereka lagi. Bagi gue melihat mereka setiap hari hanya membuat gue ingat penderitaan mama gue.” ucap Arya.


”Kenapa lo gak balas dendam, sebagian aset papi bahkan sebenarnya milik lo karena itu peninggalan mama lo, gara gara lo pergi begitu saja saat ini mami malah jadi semakin serakah. Dia ingin semua harta diwariskan ke gue. Gue gak mau mami gue jadi orang yang semakin jahat.”


”Kalo semua harta diwariskan ke elo, gue gak masalah karena gue yakin lo pasti akan menggunakan harta itu dengan benar.”


”Sialan, harusnya lo marah. Dengan lo bersikap begini justru membuat gue semakin sakit. Hati gue seperti tercabik cabik.”


”Ya gue emang marah, makanya gue keluar dari rumah dan mencoret nama pemberian orang itu dari hidup gue. Lihat gue sekarang bahagia, gue cuma gak mau berurusan dengan mereka. Kita menghindari kotoran bukan karena takut tapi karena kita merasa jijik. Begitulah perasaan gue melihat mereka.”


”Gak bisa begini, gue akan keluar dari keluarga prayoga dan akan mengembalikan hak elo kak.”


”Sudahlah jangan melakukan hal yang sia sia.”


”Lo harus mendapatkan hak elo, itu harta peninggalan mama lo. Kenapa lo akan merelakan begitu saja pada orang jahat seperti kita. Bagaimana perasaan mama lo di atas sana coba? dia pasti akan sedih karena merasa lo tidak menjaga apa yang ditinggalkan beliau.”


Ucapan Leon memang ada benarnya, kenapa ia membiarkan harta mamanya di kuasai orang yang sudah menyakitinya? Tapi sejujurnya ia sudah tidak ingin berurusan dengan mereka. Jika ia menuntut hak warisnya, maka ia harus sering bertemu papanya untuk urusan itu.


Cukup lama ia berfikir, hingga akhirnya Leon kembali menyadarkannya.


”Lo harus mengambil kembali hak lo, harta mendiang mama klo gak boleh digunakan oleh orang yang sudah menyakitinya. Lagipula pikirkan posisi gue juga. Apa lo kira gue bakalan seneng nerima itu semua. Bahkan gue jijik karena mengalir darah mami di tubuh gue.”


Arya jadi merasa kasian pada Leon, saat ini dia pasti jauh lebih sakit dibandingkan dirinya.


Akhirnya Arya memutuskan untuk mengambil haknya kembali. Selain untuk mendiang mamanya agar arwahnya tenang juga ia lakukan untuk Leon agar beban di hatinya sedikit berkurang.


”Baiklah gue akan ambil hak gue lagi, tapi lo janji jangan menyalahkan diri lo lagi. Lo juga tetaplah tinggal disini, gue udah anggap lo seperti adik kandung gue sendiri. Kalau lo mau berjanji, gue juga akan berjanji mengambil hak gue lagi demi meringankan beban di hati lo.”


Leon menganggukan kepalanya sambil menangis lalu Arya memeluknya.


...****************...