
Arya dan Sari berjalan bersama di trotoar, Arya ingin mengobrol tapi ia bingung harus mulai darimana.
Saat sedang bingung sendiri, Arya jadi terbayang saat memberikan nafas buatan ke Sari. Sontak ia menampar pipinya sendiri.
plaaakk
Sari reflek menengok dan ia kaget dengan tindakan Arya yang menampar pipinya sendiri.
”Kamu kenapa si, koq nampar pipimu sendiri.”
Sari yang melihat pipi Arya memerah sontak langsung memegang pipi Arya.
”Sakit ya?”
Ekspresi Sari yang tampak khawatir dan tangan lembut yang menyentuh pipinya membuat Arya mematung, ia merasakan jantungnya tidak hanya berdebar lebih kencang namun terasa sakit seperti mau copot dan nafasnya juga tidak beraturan.
Ya Tuhan, penyakit apa yang ku derita. Kenapa jantungku berdetak lebih kencang. batin Arya
Sari yang merasa Arya hanya diam saja, akhirnya tersadar dengan tindakannya yang spontan itu.
”Ah maaf, aku gak bermaksud apa apa.”
Saking bingungnya harus bicara apa akhirnya Sari hanya bisa mengomel untuk mengalihkan perhatian.
”Lagian kamu, ngapain sih nampar pipi sendiri. Udah ga waras ya?” omelnya sambil membalikkan badannya.
Arya yang ingin mencoba menenangkan jantungnya pun memilih mengomel balik.
”Enak aja gila, orang tadi.. hmm itu ada nyamuk di pipiku, makanya aku nampar pipiku sendiri.” jawab Arya mencari alasan.
”Dasar, cuma nyamuk doank juga gausah sebegitunya namparnya kali.”
Sari tampak berceloteh sambil manyun manyun hingga Arya tak tahan melihat keimutannya dan mulai tersenyum tipis.
”Bawel banget si, udahlah ayo jalan lagi.” jawab Arya sambil mengelus rambut Sari.
Sari tampak terkejut dengan tindakan Arya sehingga spontan ia memegang kembali rambut yang baru saja Arya pegang.
Apa apaan si ni orang, ngapain dia ngelus rambut aku si. Dan lagi ada apa si denganku, kenapa jantungku malah berdebar? sepertinya aku harus ke rumah sakit lagi, jangan jangan efek alerginya muncul lagi. batin Sari
Hingga sampai di halte mereka tidak mengobrol apapun.
Sari duduk di bangku panjang yang ada di halte dan Arya menemani duduk di sampingnya.
”Kamu ngapain duduk?emang ga balik ke kantormu.” tanya Sari.
”Kan udah aku bilang mau nganterin kamu, ya aku duduklah nungguin bisnya dateng.”
”Loh, bukan cuma sampe halte?”
”Namanya nganterin ya sampe rumah lah, lagian aku juga khawatir nanti kamu sengaja makan kepiting lagi.”
”Emang aku ga punya otak, makan makanan yang bikin alergi apa?” jawab Sari kesal.
”Lah kalo tau punya otak kenapa kemarin sengaja makan kepiting coba.”
”Itu mah karena aku punya alasan.”
”Apa coba alasannya?”
Sari hanya diam karena tidak mungkin memberitahukan alasannya.
”Pokonya ada lah, pengin tau aja si kamu.”
”Paling juga karena diputusin cowok. Dasar anak SMA diputusin pacar langsung nekat.” ledek Arya sambil menggelengkan kepalanya.
”Sok tau nih ya? siapa juga yang diputusin pacar, aku gak ada waktu buat itu ya. Bukan saatnya aku mikirin cinta cintaan.”
”Kamu gak punya pacar? serius? ”
”Iya, udahlah gausah dibahas lagi. Bikin kesel aja.”
Arya yang mendengar Sari tidak punya pacar entah mengapa merasa senang dan lega hingga ia tak sadar sudah tersenyum tipis.
Sari yang sekilas melihat Arya tersenyum merasa kesal karena berfikir Arya sedang meledek nya.
”Ngapain senyum? kamu lagi ngeledekin aku dalam hati kan?” tuduh Sari.
”Ya ampun nih anak, nuduh nuduh aja ya. Siapa juga yang senyum coba.”
”Jangan bohong ya, aku tadi ngeliat kamu senyum.”
”Gak senyum”
”Senyum”
”Aku liat kamu senyum.”
”Engga senyum”
”Senyum”
Arya yang melihat ekspresi Sari yang imut karena kesal jadi ingin terus ia jahili.
...----------------...
Di dalam bis, mereka duduk bersebelahan sambil diam satu sama lain.
Sari hanya menatap keluar jendela sambil melihat gedung gedung.
Hingga akhirnya bis berhenti di halte selanjutnya dan naiklah seorang pria.
Pria itu berjalan menuju bangku kosong di belakang Sari dan Arya, namun saat di samping Arya tiba tiba bisnya ngerem mendadak sehingga membuat pria itu terjatuh.
Arya sontak membatu pria itu untuk bangun.
”Mas gapapa?”
”Pak supir tolong hati hati dong jangan ngerem mendadak, bahaya.” omel Arya.
”Iya maaf ya semua, tadi ada kucing tiba tiba menyebrang. Saya jadi ngerem mendadak. Sekali lagi maaf ya semua.” jawab supir sambil menganggukan kepalanya beberapa kali.
”Udah mas, saya gapapa koq. Makasih udah membantu saya ya?” jawab pria yang jatuh tadi.
Mendengar suara pria yang tampak tidak asing itu menarik perhatian Sari yang daritadi tampak tidak perduli dengan sekitar.
Aku seperti pernah dengar suaranya, batinnya.
Saat Sari melihat sumber suara itu, ia tampak membatu karena kaget dengan apa yang ia lihat.
Doni? kenapa dia muncul sekarang? harusnya ia muncul dia tahun lagi saat aku hampir lulus sekolah. Dan apa apaan penampilannya itu? apa emang dari awal ia berantakan begini? apa masa depan juga mulai berubah karena aku berhasil menyelamatkan orangtuaku, dan aku juga bertemen dengan Arya yang akan menjadi detektif terbaik? batin Sari.
Sari langsng membuang mukanya dan kembali melihat jendela, ia tampak malas melihat Doni karena mengingatkan pada penderitaannya dulu.
Artinya masa depan mulai berubah, Aku harus cepat memulai rencana kedua ku, yaitu membongkar kebusukan mang Heru, sebelum Doni, Nita dan Tante Sarah masuk ke kehidupanku. batin Sari
Arya yang melihat Sari hanya diam dan menatap jendela berfikir kalau Sari masih ngambek karena tadi ia terus meledek Sari.
”Kamu kenapa diem aja si? kamu masih ngambek ya gara gara tadi?
Sari hanya diam karena ia tidak mendengar apa yang Arya ucapkan, pikirannya sedang kemana mana.
Melihat Sari tidak menjawab, Arya langsung memegang kedua pipi Sari dan membuat wajah Sari menghadap ke wajahnya.
”Kamu masih ngambek? kenapa aku tanya gak dijawab jawab si? ”
Sari hanya mengedipkan matanya, ia tampak tercengang melihat wajah Arya begitu dekat dengannya.
Karena tindakan itu juga membuat wajahnya memanas dan merah.
”Aku gak ngambek, aku gak denger kamu ngomong apa, tadi aku lagi mikirin hal lain.” jawab Sari
Sari mencoba melepaskan tangan Arya yang memegang wajahnya tapi saat memegang tangan Arya ia malah jadi kembali mematung, wajahnya juga merah padam ditambah jantungnya berdebar dengan kencang hingga membuat Sari khawatir akan terdengar oleh Arya.
Arya pun sama hanya diam karena melihat wajah Sari yang ada tepat dihadapannya.
Mereka terus saling menatap seperti itu hingga akhirnya bis berhenti, Mereka sadar sudah waktunya turun hingga akhirnya sama sama memalingkan wajahnya dan berjalan turun dari bis.
Sambil berjalan kaki menuju rumah Sari, mereka hanya terdiam dan tidak ada sepatah katapun yang terucap.
Mengapa jantungku berdebar?
Mengapa wajahku memerah?
Mengapa nafasku terengah engah?
Sebenarnya aku mengidap penyakit apa?
Haruskah sekarang juga medical check up untuk memastikan penyakit ku?
Seperti itulah yang terus mereka pikirkan sepanjang jalan.
...****************...