Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Ganti Rencana


”Saya Sari Jaya diningrat CEO CH Group.”


Setelah Sari memberikan pengumuman itu semua orang berkepit tangan dan para awak media berebut untuk bertanya.


Suasana di aula itu cukup heboh, hingga akhirnya menjadi tenang setelah Arya meminta semua tenang dan jika ada pertanyaan diharap bertanya satu persatu dengan mengangkat tangan.


”Mohon tenang, jika ada pertanyaan silahkan tanyakan satu persatu dengan mengangkat tangan anda. Orang yang saya tunjuk yang berhak bertanya.” tegas Arya.


”Baiklah silahkan jika ada yang mau bertanya.” tambah Arya sambil memilih awak media yang mengangkat tangan.


”Anda silahkan.” tunjuk Arya pada salah satu awak media.


”Terimakasih, saya Dika dari PCS TV. Saya mau bertanya berapa usia anda saat ini?” tanya jurnalis.


”Usia saya tahun ini hampir dua puluh lima tahun.”


”Sejak kapan Anda menjadi CEO CH group? ”


”Sejak CH group masih menjadi perusahaan rintisan.”


”Artinya itu sudah sekitar delapan tahun yang lalu, saat itu usia Anda masih sangat muda. Bagaimana mungkin anda bisa terpikirkan menyokong perusahaan rintisan?”


”Saya hanya menginvestasikan uang jajan saya ke dalam bentuk saham, saya melihat perusahaan ini memiliki potensi jadi saya menginvestasikan uang saya kesini.”


”Apa anda bisa melihat masa depan?”


Sari terkejut mendengar pertanyaan itu namun dia mencoba tenang agar tidak ada orang yang tahu bahwa dia kembali ke masa lalu.


”Saya bukan cenayang, saya hanya bisa melihat peluang.”


”Dengan kata lain anda ingin bilang bahwa anda genius?”


”Silahkan kalian artikan apapun itu sesuka kalian.”


”Satu pertanyaan terkahir, dari mana anda memiliki uang saat pertama membeli saham sedangkan saat itu anda hanya siswi SMA?”


”Anda tidak dengar perkenalan awal saya tadi? saya bilang nama saya Sari Jayadiningrat. Anda sudah paham?” ucap Sari tersenyum.


”Anda putri Jayadiningrat yang jarang terekspos itu? apa mungkin ini semua andil dari ayah anda?”


”Maaf saya tidak akan menjawab karena anda bilang tadi adalah pertanyaan terakhir. Terimakasih.”


Mikrofon yang di pegang oleh jurnalis itu langsung dimatikan sehingga dia tidak bisa bertanya lagi.


Sari memberikan pernyataan terakhir di conference pers nya.


”Saya muncul ke publik untuk memberitahukan bahwa saya akan mendukung perekonomian Indonesia agar lebih maju lagi. Saya akan membuat CH group tidak hanya menjadi pilar perekonomian di dalam negeri tetapi juga pilar perekonomian dunia. Terimakasih.”


Setelah memberikan pernyataan terakhir itu Sari pergi meninggalkan aula di ikuti oleh Nathali.


Suasana di aula menjadi gaduh, banyak awak media yang masih memiliki banyak pertanyaan namun Arya hanya mengatakan bahwa hanya itu saja yang bisa di sampaikan.


”Hanya itu yang kami sampaikan, terimakasih atas kehadirannya dan saya pamit undur diri.” ucap Arya kemudian pergi meninggalkan aula.


Para karyawan kembali bekerja sambil banyak bertanya dan juga takjub akhirnya bisa melihat CEO CH group, sedangkan para awak media merasa belum puas dengan pernyataan itu namun dengan terpaksa pergi karena acara sudah di bubarkan.


Sari sudah menunggu Arya di ruangan CEO sedangkan Nathali menunggu di depan ruangan bersama dengan sekretaris Kimmy yang selama ini membantu pekerjaan Arya.


tok tok tok


Arya masuk begitu saja dan melihat Sari yang sedang duduk di sofa menunggunya.


”Kamu cantik ya?” puji Arya sambil tersenyum.


”Ini kantor loh, aku mau membicarakan posisi kamu di kantor ini. Aku akan buatkan kamu ruangan khusus.”


”Tidak usah, kamu tahu kan aku disini hanya untuk menghandle pekerjaan selama kamu gak ada. Lagipula kamu tahu kan aku juga harus menerus perusahaanku sendiri. Aku sudah begitu banyak pekerjaan jadi aku tidak meminta jabatan apapun disini.”


”Oh iya kamu juga harus mengurus perusahaan AW ya? bagaimana perusahaanmu aman kan?”


”Aman, perusahaan media mana si yang di sokong CH group yang tidak aman.”


”Kau ini, tapi ini kan juga berkat bantuanmu. Makasih ya?” ucap Sari tersenyum sambil menggenggam tangan kiri Arya.


”Tidak, semua berkat kamu. Aku hanya menjalankan sesuai intruksimu. Sejujurnya jadi pengusaha bukan bakatku.” jawab Arya.


”Kamu hanya berterimakasih lewat ucapan nih.”


”Memang apa yang kau mau, aku akan memberimu jabatan tapi kamu gak mau.”


”Ini.” ucap Arya tersenyum sambil memegang bibirnya.


Sari tersenyum tipis melihat tingkah nakal Arya namun dia tidak membencinya.


Sari mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir Arya kemudian mereka berpelukan.


”Aku sangat bahagia saat ini.” gumam Arya.


Setelah beberapa saat berpelukan Sari melepaskan pelukannya.


”Aku akan mengecek pekerjaanku, kamu mau disini atau?” ucap Sari


”Maaf ya sayang, aku harus mengecek kantor AW lalu aku juga akan mulai membuka kantor detektive ku kembali. Kau ingat kan yang aku katakan di restoran dulu.”


”Yang mana?”


”Yang aku bilang kalau di masa depan aku akan menjadi detective tampan yang bucin bukannya detective killer.” bisik Arya di telinga Sari.


Sari tersenyum mendengar ucapan Arya kemudian Arya berpamitan dengan mengecup kening Sari.


Arya keluar ruangan CEO lalu melihat sekretaris kimmy sedang duduk dan ada Nathali juga.


”Sekretaris kim, sekarang kamu bekerja langsung dibawah bu CEO. Ingat layani dia dengan baik.” perintah Arya.


”Baik Pak, apa bapak akan keluar dari perusahaan ini?”


”Dari awal saya bukan bagian perusahaan ini, saya hanya mewakili CEO saja. Sekarang saya akan fokus pada pekerjaan saya sendiri, jadi kamu juga fokus layani CEO dengan baik layaknya sekretaris.”


”Pasti pak.”


Arya pergi meninggalkan kantor pusat CH group dan mengendarai mobilnya menuju AW pers, perusahaan media peninggalan mendiang ibunya.


Sementara disisi lain Nita yang ditemani Doni menonton conference pers CH group di TV menjadi kesal.


”Sial, ternyata CH group milik wanita itu. Bagaimana ini? dia bahkan semakin kuat, apa yang harus kita lakukan?” teriak Nita sambil melempar gelas yang sedang dia pegang.


”Tenanglah, jangan emosi. Pikirkan dengan kepala dingin agar muncul ide.” ucap Doni menenangkan.


Sejujurnya Doni sama sekali tidak merasa kesal justru dia jadi semakin menginginkan Sari yang membuatnya penasaran.


Dibandingkan dengan Nita yang hanya bisa menggoda, justru Sari yang tenang dan cuek itu sangat membuatku penasaran. Aku benar benar semakin ingin memilikimu.


Doni mengajak Nita untuk duduk dan berpikir dengan tenang hanya karena dia pusing mendengar Nita yang teriak marah marah.


”Kamu benar sayang,.” ucap Nita dengan tenang.


Tak lama kemudian Nita terpikirkan sebuah cara yang bagus kemudian dia menceritakannya pada Doni.


”Sayang, kamu bisa membantuku kan?” seru Nita.


” Tentu, apa yang kamu butuhkan?” jawab Doni.


”Kamu tolong cari tahu daftar semua pemegang saham di CH group dan juga daftar perusahaan oesaing CH group.”


”Kau mau membuat koloni?” tanya Doni.


Nita hanya mengangguk lalu memegang wajah Doni sambil berbisik dengan suara mendesah yang membuat Doni bergairah.


”Kamu mau bantu aku kan sayang?” bisik Nita.


Mendengar bisikan yang menghanyutkan itu membuat Doni bergairah dan langsung saja mencium bibir Nita dengan rakusnya.


Doni mengangkat tubuh Nita dan membawanya ke ranjang sambil terus mencium bibirnya dengan intens.


Sementara itu disisi lain terlihat pria berjas berusia sekitar empat puluh tahun bersama dengan sekelompok pria berjas yang lain yang sedang duduk meminum wine sambil menonton conference pers CH group.


”Akhirnya dia muncul juga, ini menjadi menarik.” ucap pria itu sambil tersenyum licik.


...****************...