Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Bertemu Leon


Saat ini Leon bekerja sebagai model, sifatnya yang narsis ditambah wajahnya yang tampan memang sangat cocok bekerja di bidang entertainment. Sejujurnya Orangtuanya tidak setuju terlebih maminya yang masih berusaha agar Leon menjadi penerus papinya, tapi Leon tidak perduli karena dari awal memang dia tidak tertarik pada bisnis. Sedangkan kakaknya tidak pernah melarang apapun yang mau dilakukannya asalkan tidak melanggar hukum.


Meski dia terbilang sudah cukup sukses menjadi model dan juga punya manager sendiri bahkan sudah mempunyai rumah sendiri namun karena ia jarang pulang dan sibuk di lokasi pemotretan sehingga ia memilih tetap pulang ke rumah kakaknya.


Hari itu memang dia ada pemotretan, sejak pagi pun Hasta yang merupakan managernya sudah stand by di rumahnya.


Ketika Leon sudah siap untuk pergi, tiba tiba ada suara handpone berbunyi namun bukan handponenya ataupun handpone managernya. Setelah dicari ternyata itu suara handpone kakaknya yang tertinggal di meja makan.


Leon mengangkat telponnya yang ternyata dari kakaknya sendiri memakai nomor telepon kantor.


”Hallo.”


[Syukurlah HP gue ada dirumah, gue kira ilang dimana ternyata gue lupa.]


”Dasar pikun lo.”


[Tolong anterin ke kantor ya? gue ada meeting bentar lagi jadi gak bisa pulang buat ambil HP.]


”Tapi gue mau pemotretan.”


[Gue tau jadwal lo masih dua jam lagi, udah anterin dulu sekalian lewat kan.]


”Nyusahin lo.”


Telepon di tutup kemudian Leon meminta managernya mengantarnya ke kantor pusat CH group.


Sekitar lima belas menit perjalanan dari rumah akhirnya dia sampai di kantor pusat CH group.


Dia langsung dipersilahkan masuk karena sebagian besar karyawan sudah tahu bahwa Leon adik dari Arya. Sedangkan managernya sengaja dia suruh menunggu di mobil.


Leon langsung saja menuju ruangan kakaknya, setelah keluar dari lift dan turun dilantai paling atas, dari kejauhan dia seperti melihat seorang wanita mengintip dan menempelkan telinganya di pintu ruangan kakaknya.


Siapa itu ya? mencurigakan sekali, ngapain coba mengendap ngendap gitu. Jangan jangan penguntit.


Leon segera menghampiri wanita itu dengan langkah pelan agar wanita itu tidak menyadari kehadirannya.


Setelah berada di belakang wanita itu, Leon langsung menepuk pundaknya. Wanita itu terkejut dan reflek meninju perut Leon.


Aaarrrggghhhh


Leon berteriak kesakitan namun langsung di tutup mulutnya oleh Sari.


Loh Sari? dia sudah pulang? tapi kenapa gak bilang bilang dan ngapain mengendap ngendap di kantor pacarnya sendiri.


”Diem ya, nanti gue lepas kalo lo janji gak bakalan berisik.”


Leon menjawab dengan mengangguk, sejujurnya dia sangat berdebar di posisi seperti sekarang ini. Dia tahu Sari adalah pacar kakaknya dan dia juga yakin sudah melupakannya tapi entah kenapa jika melakukan kontak fisik dengan Sari pasti jantungnya berdebar seperti akan meledak.


Akhirnya Saei melepas tangannya dari mulut Leon.


”Gila sakit banget, lo sekarang jadi petinju ya?”


”Aduh maaf ya? perut lo masih sakit?” Sari meminta maaf sambil memegang tangan Leon yang berada di perutnya karena merasa sakit.


Leon bergegas mengalihkan pandangan dan bertanya hal lain karena ia tidak ingin terbawa perasaan.


”Lo udah balik kenapa gak ngabarin malah mengendap ngendap kaya maling gini di kantor pacar lo sendiri.”


”Aduh nanti gue jelasin, lo kesini mau apa?”


”Gue mau bawain HP kakak gue.”


”Sepertinya dia gak ada diruangan ini, gimana kalau kita pergi dari sini. Gue bakal jelasin semuanya tapi jangan disini, jangan sampai Arya tahu gue udah pulang.”


”Memang kenapa?”


”Udah jangan banyak tanya, ayoo.”


”Bentar, gue taro HP kakak gue dulu di ruangannya.”


Leon masuk ke ruangan kakaknya dan meletakkan HP di lagu meja kerja kakaknya kemudian dia keluar dari ruangan dan tampak Sari sudah menunggunya.


”Ayo.” Sari langsung menggandeng tangan Leon dan menariknya agar cepat keluar dari kantor itu.


Sari menariknya ke mobil yang ia bawa kemudian mereka masuk.


”Kita pergi dari sini dulu.” ucap Sari sambil bergegas mengendarai mobilnya.


”Pemotretan apa?”


”Gue model terkenal tau, lo gak liat tadi semua orang menatap kagum gue.”


”Lo apa?” Sari terkejut sampai mengerem mendadak mobilnya.


”Gue model terkenal, lo gak percaya.”


”Ya gue denger, gue cuma kaget aja.”


”Yaudh balik dulu, manager gue masih di parkiran kantor.”


”Biar gue anter lo, sekarang lo hubungi manager lo aja biar langsung ke lokasi.”


”Lo itu aneh banget, udah pulang gak bilang bilang terus sekarang menculik model terkenal lagi.”


”Berisik.”


Leon menelpon managernya dan menyuruhnya langsung datang ke lokasi pemotretan karena dirinya suda jalan lebih dulu dengan temannya sedangkan Sari menyetir dengan wajah datar lalu menanyakan alamat pemotretan Leon.


Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka tiba di lokasi pemotretan, lokasinya seperti hutan namun terawat.


”Lo model majalah animal ya? kenapa pemotretan di hutan begini.” ledek Sari.


”Lo tuh ya gak gaul, sekarang pose di hutan itu lagi banyak diminati.”


”Halah terserah lah, yaudah lo turun.” ucap Sari.


”Lo gak mau ikut turun, kan lo mau jelasin banyak ke gue.”


”Gue tunggu sampe lo selesai pemotretan aja di dalam mobil sekalian istirahat sebentar, gue juga belum istirahat dari kemarin.”


”Gila lo, bisa bisanya gak istirahat. Gimana kalo lo sakit, pantes wajah lo pucat.”


”Gak akan sakit, udah sana pemotretan.”


”Sebentar gue ambilan beberapa cemilan, minuman, bantal dan selimut yang ada di mobil gue. Lo jangan kunci dulu pintunya.”


”Gak usahlah, ribet banget.”


”Udah lo tunggu, sebentar doang koq. Biar istirahat lo nyaman, soalnya gue pemotretan paling cepat dua jam.”


”Apa dua jam? kalo gitu gue pulang aja lah.”


”Jangan pulang, lo istirahat dulu. Lo mau dijalan kecelakaan nanti gara gara lo kelelahan.”


Sari akhirnya pasrah dan menunggu Leon datang, namun barusaja dia menyenderkan kepalanya di bangku mobil ternyata dia langsung tertidur lelap. Dia memang begitu kelelahan karena tidak istirahat sama sekali.


Ketika Leon kembali ke mobil sambil membawa yang dia janjikan tadi ternyata dia melihat Sari sudah tertidur lelap.


Leon tidak tega membangunkannya, sehingga dia meletakkan bantal leher pada Sari agar lehernya tidak sakit saat terbangun nanti, lalu dia juga menyelimuti Sari.


Saat menyelimutinya posisinya wajahnya benar benar sangat dekat dengan Sari, Leon begitu berdebar hingga tidak sadar mencium kening Sari yang sedang tertidur.


Setelah mencium kening Sari, dirinya langsung tersadar dan bergegas pergi dari mobil.


Leon berjalan menuju tenda untuknya berganti pakaian dan make up, selama sedang bersiap siap dia hanya diam dan larut dengan pikirannya sendiri.


Gue gila ya? bisa bisanya gue nyium orang yang sedang tidur, terlebih orang itu pacar kakak gue sendiri.


Sial, bagaimana ini kenapa hati gue gak bisa dikontrol begini.


Saat sedang memikirkan Sari tiba tiba managernya menepuk pundaknya.


”Leon, lo kenapa sih? fokus dulu lah, masalah pacaran mah nanti. Lagipula ke lokasi malah bawa pacar, bagaimana kalo ada yang tahu dan jadi skandal.”


”Berisik, lo udah salah ngerti jadi jangan sok tau ah.”


”Ya terserah yang penting gue mau lo jangan sampe kena skandal ya?”


”Iya bawel, yaudah ayo ke tempat pemotretan nya biar cepet kelar.”


Leon berjalan menuju lokasi pemotretan di ikuti oleh managernya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil bergumam dan menghela napas panjang ”Dia yang pacaran, gue yang bakalan repot kedepannya huuhh.”


...****************...