Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Teguh tahu semuanya


Teguh masuk ke kamarnya dan langsung duduk di depan meja belajar sambil menggaruk garukan kepalanya.


”Kenapa aku nyium Tania sih, saat ini bukan saatnya aku menyukai seseorang, sebelum aku menyingkirkan wanita itu aku belum bisa tenang.” gumamnya.


Teguh langsung mengecek HP dan menelpon seseorang.


”Bagaimana? kamu udah punya buktinya belum?”


[Belum bos, tapi tenang aja saya pasti bisa dapatin.]


”Jangan lama lama minggu depan Ujian saya udah selesai, jadi waktunya tidak lama. Jangan sampai gagal ya? kalau gagal, kalian akan tahu akibatnya.” ancam Teguh pada penerima telpon setelah itu langsung menelponnya.


Aku harus punya rencana B supaya kalau rencana ini gagal atau ketahuan, aku masih bisa menjebloskan wanita itu ke penjara. Berani sekali dia mengusik kebahagian kami, dia fikir aku mudah di bohongi apa? aku mengiyakan karena aku butuh waktu untuk mencari bukti yang mungkin udah di hancurkan. Liat saja, siapa yang akan tersakiti nanti.


Saat sedang berfikir tiba tiba Sari mengetuk pintu, adiknya bilang ingin membicarakan hal yang penting maka dari itu Teguh membuka pintu kamarnya.


”Ada apa lagi de.” ucap Teguh lalu ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


”Kakak suka sama Tania kan?”


”De, tolong berhenti ikut campur ya de.Kamu itu masih kecil jadi nikmati masa remaja kamu ya de, apa kamu mau kalau kakak melarangmu pacaran sama Arya?”


Sari terkejut mendengar apa yang diucapkan Teguh, ia tidak menyangka kakaknya tahu padahal ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun.


”Kakak tahu darimana?”


”Kakak tahu semuanya, termasuk masalah papah sama mamah kemarin, kamu benci sama tante Sarah juga kakak tahu.”


”Kalau kakak tahu, kenapa kakak mau menikah dengan mak Lampir itu?” Teriak Sari sambil membalikkan badan Teguh yang sedang tiduran tengkurap.


”Kakak ini anak tertua, jadi kakak yang akan melindungi kamu dan keluarga kita. Kakak punya rencana, dan kakak gak mau melibatkan kamu. Kamu percaya pada kakak kan?”


”Apa rencana kakak? kakak harus beritahu aku supaya aku bisa bantu kakak.”


”Kamu jangan lakukan apapun ya de, dengan begitu kamu membantu kakak.”


”Kak, kalau kakak begini terus mungkin akan ada yang terluka nantinya. Kita harus saling terbuka kak, aku janji setelah mendengar rencana kakak, aku hanya akan diam mendoakan kakak. Ku mohon kak.” Mata Sari berkaca kaca dan raut wajahnya sangat memelas.


Cukup lama Teguh diam dan tidak berkata apapun, ia sedang berfikir apakah adiknya perlu terlibat dengan ini semua? bagaimana kalau dia tidak bisa menahan emosinya?


”Sebelum itu kamu harus janji untuk mengontrol emosi kamu, kamu yang terlalu terang terangan marah atau benci itu malah membuat musuh menjadi curiga. Apa kamu janji?”


Sari mengangguk, ia pun sadar bahwa ia terlalu emosional. Hal itu pula yang membuatnya beberapa kali hampir gagal menjalankan rencananya.


”Sebenarnya dari beberapa bulan lalu saat kamu kakak bangunin pagi pagi, kamu pernah kaget dan menangis melihat kakak dan mamah kan? Saat itu kakak merasa ada yang aneh sama kamu, setelah itu kamu selalu membuat alasan agar papah dan mamah tidak pergi ke Ausy karena kamu tahu kan apa yang akan terjadi pada orangtua kita? kamu bahkan sampai masuk rumah sakit demi melindungi keluarga kita. Disitu kakak sangat takut, kenapa kamu begitu nekat dan bahkan tidak cerita apapun pada kakak.”


”Itu, aku cuma takut dibilang aneh kalau cerita.”


”Jangankan aneh, kalaupun kamu gila sekalipun kakak akan selalu di pihakmu dan mendukungmu. Padahal waktu itu kakak udah sengaja menyuruh teknisi diam diam tengah malam mengecek mobil yang akan di pakai papah dan mamah ke bandara, dia sudah memperbaiki rem yang sengaja dirusak oleh seseorang yang waktu itu kakak belum tau siapa, karena orang itu tidak tertangkap CCTV. Orang itu seperti tahu dimana titik buta CCTV dirumah kita, dan yang mungkin mengetahuinya hanyalah pegawai yang tinggal dirumah kita. Tapi keesokan harinya kamu malah nekat makan kepiting dan masuk rumah sakit, disitu kakak takut dan merasa gagal.” Teguh menjelaskan panjang lebar sambil meneteskan airmata karena perasaan takut sesuatu terjadi pada adiknya.


”Kakak maafin aku, aku salah. Aku janji akan menceritakan semua kepada kakak mulai sekarang.” Ucap Sasi sambil memeluk kakaknya.


”De, bisakah kali ini biar kakak yang mengatasinya. Selama ini sudah banyak yang kamu lakuin sendiri bahkan sampai tidak menghiraukan keselamatanmu. Kakak juga tahu kamu yang membuat mang Heru di pecat, karena orang itu kan yang sudah merusak rem mobil papah? tapi hal itu sangat berbahaya de, bagaimana kalau dia sampai tahu kalo ade yang selama ini membuat dia gagal. Nyawamu bisa terancam. Kakak mohon, percayakan pada kakak ya? kakak bahkan punya plan B jika rencana kakak yang pertama gagal.”


Sari mengangguk karena dia tidak ingin membuat kakaknya semakin mengkhawatirkannya, namun ia akan tetap mengawasi dan membuat rencana lain kalau kalau kak Teguh gagal.


”Lalu, ancaman apa yang membuat kakak mau menikahi mak Lampir itu.” ucapnya sambil terisak isak karena daritadi menahan sedih mendengar cerita kakaknya.


”Dia bukannya mengancam, tapi kakak tahu dari orang orang kakak kalau wanita itu hamil dan katanya anak papah, dia bahkan memiliki tes DNA kehamilannya. Itulah kenapa, kakak menemuinya untuk menawarkan diri akan menikahinya dan membawanya ke rumah ini, kakak rasa tujuannya adalah menjadi nyonya dirumah ini.”


”Kakak gila, kakak percaya itu dengan mudahnya? bisa saja itu dimanipulasi.”


”Kakak gak percaya, kakak cuma mengulur waktu untuk membuktikan anak itu bukan anak papah. Kakak gak mau dia tiba tiba muncul tanpa kita punya bukti bahwa anaknya bukan anak papah, karena hal itu pasti akan menghancurkan keluarga kita. Kamu lihat kan? bahkan kemarin mereka salah paham gara gara foto papah dan sarah.”


”Kakak benar, tapi kenapa kakak sampe minta ijin juga ke orangtua kita, mereka jadi marah gara gara itu. Padahal kakak gak beneran akan menikahi dia.”


”Kaka sengaja melakukan itu, biar wanita itu percaya kalau kakak akan menepati janji, kalau hubungan kita terlihat harmonis pasti dia tahu kalau kakak gak bilang pada orangtua kita, dan hal itu bisa membuat dia bertindak lebih dulu sebelum kakak berhasil mengumpulkan buktinya.”


Mendengar itu Sari merasa lega sekaligus khawatir, bagaimana kalau bukti bahwa wanita itu memanipulasi DNA tidak ditemukan. Kalau meminta dia DNA ulang pasti dia menolak atau bisa jadi akan memanipulasi lagi, jika dilakukan diam diam maka itu ilegal.


Setalah obrolan panjang itu, Sari kembali ke kamarnya. Ia sudah memerintahkan kakaknya untuk mengutamakan keselamatannya dibanding apapun, dia juga meminta kakaknya untuk selalu jujur tentang perkembangan rencananya.


Sementara itu Arya tengah menunggu tengah malam di depan vilaa yang di tinggali Sarah.


...****************...