
Malam itu, Arya datang ke rumah keluarga Jayadiningrat. Kali ini, dia berpenampilan rapi dengan memakai kaos, celana dan sepatu hitam dilengkapi jas kotak kotak hitam putih.
”Selamat datang Tuan, mari saya antar ke ruang tengah.” sambut salah satu pelayan di rumah Sari.
”Terima kasih.”
Arya melangkahkan kakinya masuk mengikuti pelayan itu dan di sepanjang jalan ia melihat sekeliling dan mengagumi betapa mewahnya rumah Sari.
”Selamat datang Arya.” sambut papah Ilyas.
Arya terlihat mengagumi kecantikan Sari, ia tau kalau Sari cantik tapi malam ini dengan balutan gaun panjang tanpa lengan berwana hitam ia terlihat sangat anggun.
Begitupun Sari tampak tercengang melihat penampilan Arya yang begitu rapi tidak seperti biasanya.
Tidak kusangka ternyata Arya tampan juga, batinnya sambil tersenyum tipis.
”Maaf Pak, saya terlambat. Saya jadi membuat semua menunggu.” jawab Arya dengan perasaan tidak enak.
”Gapapa, kita juga sambil ngobrol ngobrol biasa disini. Ayo kita ke ruang makan, semua sudah disiapkan.” Ajak mamah Rita.
Mereka berjalan bersama menuju ruang makan, dan duduk di ruang makan untuk menikmati makanan yang sudah di siapkan.
”Maaf, kami hanya menyiapkan seadanya. Kami gatau apa kesukaan nak Arya, jadi hanya ini yang bisa kami siapkan. Semoga sesuai seleramu ya?”
ucap mamah Rita.
”Saya jadi tidak enak karena sudah merepotkan ibu dan bapak.”
”Tidak repot koq, justru kami merasa ini kurang sebagai terimakasih kami.” ucap Papah.
”Ah, itu tidak perlu berterimakasih, sebagai sesama manusia sudah sewajarnya saling menolong.”
”Ya kamu benar, tapi ngomong ngomong jangan terlalu formal memanggil saya bapak dan istri saya ibu. Panggil saja om dan tante.”
”Saya merasa tidak sopan memanggil begitu.”
”Gapapa, bicara santai saja ya biar enak.”
”Baiklah, pak.. maksud saya om.”
”Nah gitu dong, kan enak di denger. hehe”
Disela pembicaraan Teguh tampak memotong karena merasa terlalu lama basa basi nya.
”Duh, ngobrolnya nanti lagi aja dong. Kita makan dulu, aku udah laper tau.”
”Kakak ga sopan banget si begitu.” tegur Sari.
”Lagian lama banget si ngobrolnya. Kan bisa nanti lagi.”
Mamah Rita tampak menyudahi obrolan di meja makan.
”Udah udah kenapa jadi berantem, malu loh ada tamu. Kalo gitu mari kita makan, silahkan di nikmati ya nak Arya.”
”Terima kasih tante, saya akan menikmatinya.”
Mereka tampak makan bersama setelah selesai mereka pindah ngobrolnya di bar kecil yang ada di samping ruang makan.
Sari heran, ternyata Arya bisa berbaur dengan keluarganya bahkan Kakaknya yang awalnya tampak tidak suka, sekarang tampak senang mengobrol dengan Arya.
Sekitar pukul 23.00 Arya berpamitan kepada keluarganya dan Sari mengantarkan Arya sampai teras rumahnya.
”Aku pamit dulu ya? kalau kamu butuh bantuan apapun itu kabarin aku aja.” pamit Arya.
”Tunggu”
Sari memegang tangan Arya untuk menahannya, dan Arya yang hanya diam terpaku sambil melihat ke arah tangannya yang di pegang Sari.
Sari yang menyadari arah pandangan Arya, langsung melepaskan tangannya.
”Ah maaf. Aku ga sengaja.”
”Gapapa, kenapa kamu menahanku.”
”Aku ingin tahu, kenapa kamu bisa mengantarkan aku ke rumah sakit? apa kamu mengikuti ku?” tanya Sari
”Aku minta maaf ya, aku bukannya penguntit tapi waktu kemarin kamu bilang mau pergi ke suatu tempat, aku takut kamu kenapa kenapa setelah tau kamu bermasalah dengan mantan Napi, walaupun aku sendiri gak tau apa masalahnya. Tapi yang jelas aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu.”
”Kenapa kamu khawatirin aku?”
”eeeee karena... karenaa..”
Arya menjawab sambil memikirkan harus berkata apa.
”Karena apa?” tanya Sari sambil memiringkan kepalanya dan menatap ke arah Arya.
”Ya karena kamu klien ku, kalau sampe ada apa apa sama kamu kan aku juga repot. Nanti gak akan ada yang ngasih job dengan bayaran tinggi lagi.”
Arya menjawab dengan cepat dengan harapan perasaannya tidak ketahuan oleh Sari, sejujurnya ia sendiripun tidak tahu kenapa ia begitu memikirkan Sari akhir akhir ini.
”Sudah kuduga, yang ada di pikiran kamu kam cuma klien berduit.”
”Ya itu kamu tau, yaudah aku pamit dulu.”
Ketika Arya hendak pergi sekali lagi Sari memegang tangannya yang membuatnya kembali terhenti dan menengok kebelakang.
”Ada apa lagi?” tanya Arya.
”Hmmm yaudah sana kamu pulang,”
Sari mendorong tubuh Arya dan langsung berbalik badan untuk masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.
Dibalik pintu Sari tampak menyender dan napasnya tampak tidak beraturan.
Gila, kenapa aku ngomong begitu, dan ada apa dengan jantungku, gumamnya sambil memegang dadanya.
Ucapan Sari yang tulus itu membuat Arya merasa sesak, ia tidak tahu kenapa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia pun menepuk nepuk dadanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Sadar Arya, gak boleh punya perasaan lebih untuk klienmu, lagipula ia bukan orang sembarangan, tidak sebanding denganmu. batinnya seraya meninggalkan rumah Sari.
...----------------...
Sari membuka isi amplop yang di berikan oleh Arya sebelum ia masuk rumah sakit.
Disitu tampak tertulis asal usul mang Heru, bahkan ada beberapa foto dengan siapa saja ia bertemu.
Saat sedang melihat satu persatu foto, ia terkejut dengan apa yang ada di foto itu.
Difoto itu tampak mang Heru bertemu dengan tante Sarah ibu dari sepupunya Nita.
Apa mang Heru kenal dengan tante Sarah? tapi sampai sekarang tante Sarah belum muncul juga padahal ia ada di kota ini. Kalau dia memang adik tiri mamah, kenapa ia muncul setelah orangtuaku meninggal. Sejujurnya dulu aku juga tidak mencari tahu apakah betul tante Sarah ini adik tiri mamah? Apa kematian orangtuaku dulu adalah ulah tante Sarah?
Pikirannya di penuhi banyak pertanyaan. Ia memutuskan untuk mencari tau siapa tante Sarah ini baru mengambil langkah berikutnya.
Sari mengambil HP nya dan menelepin Arya.
”Halo, sejam lagi aku ke kantormu ya? aku mau minta tolong sesuatu.” ujar Sari dengan singkat dan langsung menutup teleponnya.
Arya yang menerima telepon hanya tercengang mendengar itu.
”Waaaah,,, gadis ini benar benar ya. Masa nelpon cuma ngomong apa yang mau di ucapkan terus tanpa mendengar jawabanku langsung ia tutup begitu aja.. woooowww luar biasa.”
Arya yang sedang duduk di depan laptop tampak bermonolog sendiri sambil bertepuk tangan dan tertawa kesal.
Sejam kemudian Sari sampai di kantor Arya dan langsung masuk tanpa permisi lagi.
”Waaah,, kamu gadis luar biasa gak sopan banget ya? udah main tutup telpon aja trus sekarang nyelonong masuk aja.” keluh Arya.
”Katanya kamu pengen aku santai aja ke kamu. Aku kalo ke temen temen aku ya gini. Udahlah jangan kebanyakan protes, di sopan ini komplen giliran santai juga komplen.” jawab Sari sambil duduk.
”Ya ya ya.. ”
”Jadi kenapa kamu kesini.” tanya Arya sambil membuatkan kopi sachet untuk Sari.
” Aku mau kamu cari tau tentang wanita yang ada di foto ini. Termasuk dimana ia tinggal.” ujar Sari sambil memberikan foto mang Heru yang tampak bertemu cakap dengan tante Sarah.
”Ya akan aku cari tahu, tapi begini ya boleh gak aku nanya sesuatu.”
”Kamu mau nanyain tambahan uang kan, tenang aja. Aku akan bayar 30 juta dulu untuk beberapa informasi yang akan aku minta juga nantinya. Jadi mulai saat ini kamu detektif pribadiku sampai semua urusannku selesai ya.!”
Sari bicara panjang lebar sambil mengeluarkan setumpuk uang di meja.
”Bukan masalah uang, kamu kenapa si nganggep aku cuma mentingin uang.”
”Lho, kan kemarin kamu sendiri yang bilang kalau aku klien berduit kamu kan?”
”Ah udahlah, pokonya bukan masalah uang.” sanggah Arya.
”Jadi mau nanya apa?”
”Apa aku boleh tau apa masalah yang kamu hadapi, aku liat keluargamu baik baik aja dan sepertinya kalian hidup bahagia.” tanya Arya dengan wajah cemas.
Sari yang melihat itu tampak ingin jujur namun untuk saat ini ia tidak mempercayai siapapun dan lagipula jika dia bilang kalau dia kembali ke masalalu setelah dihukum mati, siapa juga yang akan percya.
”Untuk saat ini aku gak bisa bilang apa apa. Mungkin suatu hari aku akan bercerita.”
Mendengar jawaban itu, Arya merasa Sari memasang tembok untuk semua orang karena ia menghadapi masalah yang mungkin membuatnya tidak mempercayai siapapun.
Tapi hal itu malah membuatnya semakin khawatir, ia tidak bisa apa apa kecuali menuruti yang diminta Sari sambil berusaha melindunginya.
”Ya baiklah, aku akan cari tau semua yang kamu butuhkan.” jawab Arya.
”Makasih ya, dan tolong Terima uang ini dulu, karena kedepannya aku masih butuh banyak bantuanmu.” ucap Sari
”Ya aku akan terima.”
”Yaudah aku mau pulang dulu ya?” pamit Sari
”Aku antar ya, boleh kan?”
Sari berfikir ingin sedikit meregangkan ototnya dengan berjalan kaki sampai halte bus.
”Tapi aku mau naik bus, jadi aku mau jalan kaki dulu sampai halte.”
” Aku gak nyangka putri konglomerat mau jalan kaki dan naik bus.” ledek Arya.
”Jangan ngeledek deh, jadi mau anterin gak? Kalo engga, aku mau jalan sendiri.”
”Ya aku temenin lah, ayo jalan.”
...****************...