
Bagaimana ini, nona bisa pingsan karena serangan paniknya. Aku harus pura pura mengalah dulu, setelah ini aku akan mencari cara lagi untuk kabur. Yang penting sekarang adalah keselamatan nona.
”Baiklah saya menyerah, kau boleh mengikatku lagi tapi lepaskan nona.”
Doni memerintahkan anak buahnya yang masih merasa nyeri di seluruh tubuhnya untuk mengikat kembali Nathali dengan kencang. Setelah selesai mengikat Nathali kemudian Doni memasukkan kembali pistolnya di sela sela antara sabuk dan pinggangnya.
”Nona..”
Nathali berteriak begitu tubuh Sari terkulai lemas dan nyaris jatuh ke lantai namun ditangkap oleh Doni.
Melihat Sari lemas membuat Doni sedikit panik, biar bagaimanapun dia ingin Sari tidak terluka sedikitpun.
Doni menggendong Sari ke sofa yang juga ada di ruangan itu. Dia juga memberikan Sari segelas air putih dan meminumkannya, namun hal itu tidak merubah apapun karena Sari masih kesulitan mengatur napasnya, serangan paniknya belum juga mereda.
”Bajingan, panggil dokter kesini. Kalau sampai sesuatu terjadi pada nona maka kalian semua akan mati ditanganku.”
Mendengar itu membuat Doni kesal, dia menyiram segelas air ke muka Nathali dan menyuruhnya diam.
”Bos jangan bawa dokter kesini, bisa bisa kita ketauan menculik mereka.” saran salah satu anak buahnya.
”Lalu gimana? aku gak mau Sari mati. kalau dia sampai kenapa kenapa kalian akan aku lenyapkan. Tidak boleh ada yang terjadi pada milikku.” teriak Doni.
”Beri nafas buatan aja bos, dengan begitu dia bisa selamat dan bos pun senang.”
Doni tersenyum dengan riang, kenapa dari tadi dia tidak berfikir demikian? padahal ada cara menyenangkan untuk menyelamatkan nyawa Sari tapi bisa bisanya dirinya malah ikut panik.
”Bedebah, jangan berani sentuh nona. Kau itu menjijikan, sialan.”
Nathali terus berteriak dan membuat Doni semakin kesal, dia menyuruh anak buahnya untuk membungkam mulut Nathali dengan lakban agar tidak terus membuat keributan.
Tentu saja Nathali tetap berusaha berteriak meski tidak ada suara yang bisa dia keluarkan.
Bajingan ini, lihat saja yang pertama kali aku lakukan padamu adalah mencongkel biji matamu itu. Sial, bagaimana ini? Ya Tuhan ku mohon jangan biarkan sampah itu menyentuh nona.
Doni sudah bersiap memberikan nafas buatan, meski Sari kesulitan bernapas namun otaknya masih berfungsi dengan baik, sesekali dia mencoba memberontak dan mendorong Doni agar tidak mendekatinya. Dia lebih baik mati daripada harus disentuh pria bajingan seperti Doni.
Namun tentu saja tenaga Sari saat ini belum cukup untuk membuat tubuh Doni terdorong jauh, justru Doni merasa lebih tertantang setelah mendapat penolakan seperti itu.
Doni mencengkram kedua tangan Sari dengan erat dan di letakkan ke atas kepalanya agar tidak lagi mendorong tubuh Doni, saat ini Sari berada di bawah tubuh Doni.
”Sayang, aku mau menyelamatkan nyawamu. Jadi kau harusnya tenang jangan memberontak. Kau juga akan menyukainya bahkan berterimakasih padaku nantinya. Jadi diam ya?” Suara bisikan Doni di telinga Sari itu sungguh membuat Sari sangat jijik, dia berusaha menenangkan pikirannya dan mengatur napas agar bisa menghindari bajingan ini, namun situasinya justru membuatnya semakin panik.
Wajah Doni benar benar sudah berada di depan wajah Sari, dia nyaris sekali menempelkan bibirnya itu namun tiba tiba saja ada tangan yang menarik tubuhnya hingga dia tersungkur jatuh dan menjauh dari tubuh Sari.
”Sari, kau tidak apa apa?”
Menyadari kekasihnya itu mengalami serangan panik dan kesulitan bernapas, tanpa pikir panjang dia langsng memberikan napas buatan pada Sari hingga Sari mulai bisa mengatur napasnya lagi dengan normal.
”Bernapaslah pelan pelan, sekarang ada aku jadi semua akan baik baik saja.” ucap Arya sambil memeluk Sari.
Arya datang membawa anak buahnya, situasi saat itu sangat ribut, antara anak buah Doni dan Arya saling berkelahi.
Nathali juga ikut berkelahi menghajar anak buah Doni setelah ikatannya dilepaskan oleh salah satu anak buah Arya.
Doni yang masih tersungkur dilantai menyadari bahwa kondisi saat ini sangat tidak menguntungkannya.
Dengan buru buru dia bersembunyi agar mereka semua mengira Doni kabur, Doni sudah berencana untuk menembak Sari dari tempat dia sembunyi.
Aku gak punya pilihan lain selain membunuh, daripada Sari dimiliki pria itu lebih baik dia mati sehingga tidak akan ada yang bisa memilikinya.
Selang beberapa menit kemudian semua anak buah Doni sudah pingsan dan babak belur, Nathali langsung berlari kearah Sari yang sedang dirangkul oleh Arya. Sari sudah nampak membaik namun tetap saja Nathali sangat khawatir.
”Harusnya nona jangan kesini, lihat sekarang kondisi nona seperti ini, sialan kemana bajingan itu kabur. Saya akan pastikan melenyapkan dia karena berani melakukan ini pada nona.” Suara Nathali sangat lantang namun juga bergetar, dia sangat marah dan juga sedih melihat kondisi Sari.
Sedangkan Sari hanya bilang bahwa dirinya sudah tidak apa apa, jadi meminta Nathali untuk tidak menyalahkan diri sendiri lagi.
Berbeda dengan Sari, Arya justru marah pada Nathali, dia berkata sangat kasar dan terus menyalahkan Nathali atas kejadian ini, namun Nathali memang merasa apa yang dikatakan Arya memang benar maka dari itu dia tidak membantahnya sama sekali.
Arya sampai merasa bersalah dan tidak enak karena Nathali yang biasanya akan membantah ucapannya justru kali ini hanya diam saja. Arya merasa menjadi orang jahat karena terus menyalahkan Nathali.
”Sudahlah sayang, ini bukan salah Nathali tapi si bajingan itu. Lebih baik sekarang kita pulang, masalah Doni nanti kita pikirin lagi. Nathali kau ikut pulang dengan kami kan?” Suara Sari begitu lembut membuat Nathali meneteskan airmata karena merasa bersalah telah menempatkan Sari pada situasi berbahaya seperti ini.
Nathali mengangguk, dia berniat tetap disisi Sari sampai dia bisa melenyapkan Doni. Nathali tidak ingin Sari mengalami bahaya seperti ini lagi gara gara Doni.
Arya meminta anak buahnya itu membawa anak buah Doni yang pingsan ke markas mereka, Arya berniat mengorek informasi dari mereka untuk menemukan Doni.
Ketika semua anak buah Arya sudah membawa pergi anak buah Doni yang babak belur, akhirnya mereka bertiga berjalan keluar ruangan. Tentu saja Sari berada di tengah di papah oleh Arya sedangkan Nathali berada di belakangnya.
Saat berjalan, Nathali pun merasakan ada orang lain selain mereka bertiga yang juga berjalan. Dengan segera dia membalikkan tubuhnya dan benar saja, dia melihat Doni mengarahkan pistol ke arah Sari.
Sial, tidak ada waktu merebut pistol dari tangan Doni. Kalau begitu aku harus menghalangi agar peluru itu tidak mengenai tubuh nona.
Sari dan Arya masih berjalan keluar ruangan karena tidak tahu ada sesorang yang mengarahkan pistol ke mereka.
Nathali bergegas memasang badan ketika pistol yang diarahkan Doni itu di tembakkan ke arah Sari.
Dooorrrr
...****************...