
Sudah berjam jam Ilyas dan Rita berada di ruang ICU untuk mendapatkan penanganan dari dokter.
Hanya tersisa Teguh, Tania, Arya dan Sari yang masih bertahan menunggu di depan ICU sambil terus merasa cemas.
Tak lama kemudian Nathali datang dan langsung menghampiri Sari yang sedang duduk terdiam tanpa ekspresi dan kata sedangkan Tania tampak sedang menghibur Teguh yang terus gelisah, sekilas Nathali melihat kemesraan Teguh dan Tania namun dengan segera dia menyadarkan dirinya.
”Nona, maaf saya baru datang.” ucap Nathali.
Sari memberi perintah kepada Nathali untuk mengecek semua rekaman CCTV rumah dan juga sekitar kediaman paling tidak sebulan belakangan, cari hal yang mencurigakan dan selidiki semua orang yang saat itu hadir di pesta termasuk pihak EO serta semua pegawai yang bekerja di kediaman Jayadiningrat.
Kemudian Sari juga meminta Nathali menempatkan beberapa orang di rumah sakit ini untuk menjaga kedua orangtuanya.
Setelah mendapat instruksi dari Sari, dia segera pergi untuk melaksanakan tugasnya. Dia menghubungi rekannya yang anggota CAI agar membantunya, tak lupa dia juga membawa beberapa anak buahnya bersamanya agar membantunya dalam penyelidikan menyeluruh ini.
Arya pun tak tinggal diam, dia sudah lebih dulu memerintahkan anak buahnya menyelidiki aktivitas Nita maupun Zayn karena keduanya yang belakangan ini terlihat dengan Sari.
Tidak berselang lama Dokter keluar dari ruang ICU dan mengabarkan bahwa Rita dan Ilyas saat ini sudah cukup stabil hanya saja mereke belum sadarkan diri akibat efek obat bius, lalu dokter itu menyarankan agar Rita dan Ilyas di periksa lebih lanjut dengan tes lab setelah mereka berdua sadar karena dokter merasa ada kemungkinan mereka mengidap suatu penyakit.
Saran itu disetujui oleh Teguh dan Sari, mereka meminta dokter melakukan apapun demi kesembuhan orangtuanya.
Setelah itu kedua orangtuanya dipindahkan ke ruang inap VVIP, tak lama kemudian orangtuanya sadar meski masih terlihat sedikit lemas namun akhirnya proses pemeriksaan lebih lanjut bisa dilakukan.
Semua proses pemeriksaan telah selesai dan mereka hanya tinggal menunggu hasilnya besok, Rita dan Ilyas kembali ke ruang inap karena mereka masih dalam tahap perawatan.
...----------------...
Bi Inah sudah bekerja di kediaman Jayadiningrat semenjak dirinya masih muda, saat itu Bi Inah merantau mencari pekerjaan bersama putranya yang baru berusia lima tahun namun ketika baru tiba di kota ternyata terjadi tawuran antar warga sehingga dirinya menjadi terpisah dengan putranya.
Berjam jam dia berkeliling mencari putranya itu namun tidak kunjung ditemukan hingga akhirnya dia tidak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berebut tas dengan seorang pria yang memakai topeng.
Dia tahu bahwa wanita itu sedang berusaha mempertahankan tasnya dari pria bertopeng yang sudah pasti adalah jambret.
Dia mengambil balok kayu yang tergeletak di samping warung pinggir jalan yang sedang dalam tahap renovasi.
Secepat kilat dia berlari sambil membawa balok itu kemudian memukul jambret itu sambil berteriak jambret.
Sontak hal itu membuat jambret itu panik kemudian melepaskan tangannya dari tas wanita itu dan lari dengan cepat.
Para warga pun mengejar jambret itu sedangkan wanita itu langsung berterimakasih karena telah di tolong.
Wanita itu adalah Indah istri Irsyad kepala keluarga Jayadiningrat saat itu, dan mereka adalah mendiang orangtua Ilyas.
Indah begitu iba mendengar kisah bi Inah sehingga dia mempekerjaan bi Inah sebagai asisten rumah tangga agar dia memiliki tempat tinggal selama mencari putranya yang hilang itu.
Bertahun tahun bi Inah bekerja untuk keluarga Jayadiningrat hingga saat ini sudah berganti kepala keluarga.
Dia begitu menyayangi keluarga ini dan sudah menganggap Ilyas seperti putranya sendiri, dia mencurahkan segala kasih sayang dan pengabdian pada keluarga itu, dia membesarkan anak anak mereka dengan cinta hingga tiga tahun lalu dia mengetahui fakta bahwa putranya telah meninggal.
Seorang pria bertopeng memberikan informasi mengenai putranya, bahkan dia menunjukan bukti foto masa kecil dan juga baju yang terakhir digunakan oleh putranya saat mereka terpisah.
Dia sangat terkejut mengetahui fakta bahwa putranya itu adalah Guntur suami Sarah sekaligus ayah dari Nita.
Bagai disambar petir di siang bolong, ternyata selama ini dia sudah melayani keluarga penyebab putranya meninggal, seandainya dia mengetahuinya lebih cepat makan dia akan membantu menantu dan juga cucunya itu namun semua sudah terlambat. Menantunya mendekam di penjara sedangkan cucunya entah saat ini tinggal dimana setelah keluar dari panti asuhan.
Karena tidak terpelajar maka bi Inah dengan mudah di pengaruhi dan menuruti perintah pria misterius itu untuk memasukan setetes air dari botol yang diberikannya kepada minuman yang akan di minum oleh Rita dan Ilyas.
...----------------...
flashback
Putra bi Inah sebelum terpisah dengannya bernama Agus, mereka terpisah tepat setelah sampai di kota dan harus terbawa arus tawuran warga yang tiba tiba itu.
Agus di temukan oleh seorang pria paruh baya yang seorang pedagang asongan bernama Eko. Mungkin karena trauma melihat tawuran itu Agus sampai tidak mengingat apapun termasuk namanya sendiri, sehingga Eko memberinya nama anak itu Guntur dan berniat menjadikannya anak karena merasa iba.
Kehidupan di kota begitu sulit, penghasilannya semakin menurun hingga kesulitan mencukupi kebutuhan sehari hari, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Solo dan berniat untuk menjadi petani saja. Setidaknya biaya hidup di kampung tidak sebesar di kota.
Di kampung halamannya itu ada istrinya Sri dan putranya yang berusia empat tahun bernama Heru. Untungnya mereka menerima Guntur dengan tangan terbuka.
Mereka membesarkan kedua putranya di kampung dengan sederhana hingga mereka beranjak dewasa.
Setelah setahun berlalu orangtua Guntur dan Heru meninggal, awalnya Eko yang lebih dulu meninggal sebulan kemudian Sri menyusulnya.
Guntur yang telah dewasa akhirnya jatuh cinta pada seorang wanita yang cantik bernama Sarah dan akhirnya mereka menikah.
Pernikahan mereka dikaruniai seorang putri yang mereka beri nama Nita, karena kebutuhan semakin banyak sedangkan lapangan pekerjaan di kampung tidak begitu menjanjikan, akhirnya Guntur memutuskan untuk merantau dan menitipkan istri dan anaknya kepada adiknya Heru yang berada di kampung.
Tidak butuh waktu lama Guntur diterima bekerja di perusahaan furniture milik keluarga Jayadiningrat. Gaji yang diterima sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung bahkan sebulan sekali dirinya bisa pulang kampung untuk melepas rasa rindunya pada keluarga.
Dia memang berencana membawa istri dan anaknya ke kota hanya saja dia belum memiliki tabungan yang cukup untuk membeli sebuah rumah kecil sebagai tempat tinggal keluarganya.
Namun ternyata takdir berencana lain, dirinya yang berusaha menyelamatkan bosnya yang sedang dibegal justru harus meregang nyawa di tangan begal itu.
...****************...