
Sore harinya Nathali bergegas pergi, dia berniat mendatangi Sarah ke penjara. Meski tubuhnya masih sedikit sakit namun itu sama sekali tak menghalanginya.
Saat Nathali hendak pergi itulah yang membuat Teguh bertanya tanya, Teguh memang hendak memberikan obat untuk Nathali namun dari jauh dia malah melihat Nathali yang hendak pergi dengan terburu buru.
Mau kemana dia? padahal terluka tapi malah pergi, apa dia tidak sayang pada tubuhnya sendiri? bagaimana kalau lukanya tambah parah? lebih baik aku ikuti dia.
Teguh mengikuti Nathali di belakangnya yang pergi terlebih dahulu dengan mobilnya, di dalam mobil dia terus bertanya tanya sebenarnya hal penting apa yang membuat Nathali terburu buru seperti ini.
Tidak lama kemudian dia sampai di depan lembaga pemasyarakatan. Teguh memilih menunggu di depan saja karena tidak mungkin dia mengintai hingga masuk ke dalam, jelas sekali dirinya akan dicurigai petugas sipir.
Hanya saja dia merasa bingung kenapa Nathali pergi kesini? siapa yang ingin dia temui? bukankah dia baru di negara ini? terlalu banyak pertanyaan di kepala Teguh yang tidak bisa dia jawab sendiri.
Cukup lama Teguh menunggu sampai Nathali keluar, setelah menunggu sekitar lima belas menit akhirnya Nathali keluar. Namun kali ini Nathali tampak santai, tidak seserius saat sebelum masuk ke lembaga pemasyarakatan.
Teguh memutuskan untuk masuk dan mencari tahu siapa yang ditemui Nathali, dia tidak mengikuti Nathali lagi karena dia yakin Nathali akan kembali ke rumah maka dari itu dia memilih mencari tahu hal yang membuatnya penasaran.
Dia masuk dan bertanya pada petugas sipir mengenai orang yang dikunjungi wanita yang sebelumnya datang, namun petugas sipir itu tidak mau memberitahukan karena melanggar prosedur.
Teguh tidak habis akal, dia mengaku sebagai suami dari wanita tadi. Wanita tadi mengidap gangguan kecemasan berlebih karena pernah menjadi korban percobaan pembunuhan. Dia hanya khawatir istrinya menemui pelaku itu lalu penyakit istrinya akan kambuh lagi nantinya.
Meski begitu petugas sipir itu tetap tidak memberitahukannya, malah petugas itu meminta Teguh untuk bertanya langsung pada istrinya.
Teguh beralasan tidak bisa bertanya langsung karena istrinya akan tahu bahwa dia diawasi dan akan mengamuk, Teguh mengatakan terpaksa mengikuti karena khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.
”Coba bayangkan jika anda diposisi saya bagaimana? anda sangat mencintai istri anda sehingga anda selalu mengkhawatirkan istri anda yang sempat menjadi korban percobaan pembunuhan.”
Petugas sipir itupun terdiam sejenak sedangkan Teguh terus memasang wajah memelas agar petugas itu iba padanya sehingga memberitahukan apa yang ingin dia ketahui.
”Baiklah saya akan beritahukan.”
”Terimakasih banyak pak, saya yakin anda suami yang baik pada istri anda.”
”Tentu saja.”
”Lalu siapa yang ditemui wanita tadi?”
”Dia menemui tahanan 7332.”
”Siapa nama tahanan itu?”
”Saya tidak bisa memberitahukannya.”
”Kalau begitu apa saya boleh menemui tahanan itu?”
”Bisa, tapi waktu kunjungan hanya tinggal sepuluh menit.”
”Itu cukup.”
Teguh diantar oleh petugas sipir itu ke ruangan tempat dia bisa mengunjungi tahanan. Teguh menunggu sekitar semenit hingga akhirnya yang datang adalah Sarah.
Teguh merasa terkejut melihat Sarah, dia jadi makin bertanya tanya mengapa Nathali menemui Sarah? bukankah mereka tidak saling kenal?
Tiba tiba saja rasa curiga menghampirinya, berbeda dengan Teguh yang terkejut, Sarah justru terlihat kesal bertemu Teguh. Tentu saja itu wajar karena yang membuat dirinya masuk penjara salah satunya adalah karena Teguh.
”Ada apa lagi? kau mau memaksaku menandatangi apalagi? apa membunuh suami dan putriku tidak cukup? kalian bahkan ingin cuci tangan dengan cara licik seperti itu.”
Teguh bingung, kenapa Sarah mengatakan putrinya dibunuh? apa maksud ucapan itu? dan apa juga maksud tanda tangan itu?
”Maksudmu Nita meninggal?”
Sarah menangis karena tidak menyangka harapan satu satunya yaitu putrinya sudah tiada dan itu semua karena keluarga jayadiningrat.
Ditambah lagi dirinya tidak berdaya untuk menolak tanda tangan berkas yang hanya menguntungkan mereka dengan mengancam tidak akan memberitahukan dimana putrinya itu dimakamkan.
Sarah benar benar tidak punya pilihan selain menandatangani surat itu, meski begitu dia masih bertekad jika bebas dari penjara makan dia akan menghancurkan keluarga Jayadiningrat. Meski itu sesuatu yang mustahil.
”Iya putriku meninggal, lalu aku dipaksa menandatangani surat yang isinya aku meminta adikmu yang brengsek itu menguburkan mayat putriku tanpa diketahui siapapun termasuk polisi.”
”Dasar pembohong, mana mungkin adikku yang manis membunuh orang. Bahkan iblis sepertimu saja dibiarkan hidup.”
”Kalau bukan dia siapa lagi? dia sama dengan ayahnya yang juga sudah membunuh suamiku.”
”Dasar gila.”
Teguh memilih untuk meninggalkan tempat itu karena melihat Sarah terus berkata omong kosong.
Sepanjang perjalanan Teguh berpikir bahwa Sarah sudah pasti berbohong karena yang suaminya bukan dibunuh oleh papahnya, sudah bisa dipastikan Nita pun tidak mungkin meninggal karena dibunuh oleh adiknya. Hanya saja dia merasa janggal mengenai tanda tangan surat itu, kalau memang itu kebohongan lalu alasan Nathali datang apa?
Jangan jangan Nathali dan Sarah bersekongkol untuk membuatku membenci keluargaki sendiri?
Teguh tidak ingin salah paham dan berpikir yang tidak tidak mengenai Nathali apalagi adiknya, maka dia memutuskan untuk menanyakan hal ini pada adiknya sesampainya dirumah nanti.
...----------------...
”Ada apa kak?” tanya Sari yang heran melihat kakaknya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk lebih dulu.
”Apa Nita sudah meninggal?”
Pertanyaan itu sontak membuat Sari membuka lebar matanya karena terkejut, darimana kakaknya tahu mengenai kematian Nita? apakah Doni sudah menyebarkannya?
Namun Sari memang berniat memberitahu kakaknya mengenai yang terjadi pada Nita dan Bi Inah, dia rasa sekarang adalah waktu yang tepat.
”Duduklah kak, aku akan mengatakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun.”
Teguh duduk disamping adiknya yang sedang menjelaskan dari awal kejadian hingga terbunuhnya mereka berdua oleh orang yang tidak di kenal juga menceritakan bahwa Bi Inah adalah nenek dari Nita dan juga ibu kandung Guntur.
Sari juga menceritakan bahwa Bi Inah yang memasukan limbah kimia ke minuman orangtua mereka karena mengira putranya telah dibunuh oleh papa.
Memang kesalahannya karena mengira tidak ada yang mengetahui kejadian itu maka dirinya memutuskan untuk mengubur mereka dengan layak secara diam diam, dia hanya tidak mau repot berurusan dengan polisi.
Namun ternyata ada orang luar yang melihatnya kemudian saat ini mengancam dirinya, itulah mengapa saat ini Sari sedang mengumpulkan bukti yang kuat bahwa dirinya tidak bersalah, termasuk meminta tandatangan persetujuan pemakaman dari Sarah.
Tapi Sari bersumpah bahawa dirinya tidak pernah membunuh siapapun, kesalahannya saat itu hanyalah tidak melaporkan kejadian itu pada polisi.
Teguh paham dan mempercayai adiknya itu, dia merangkul adiknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja. Mulai sekarang Teguh pun akan terlibat dengan urusan ini, dia tidak ingin adiknya kesulitan. Namun tiba tiba saja Sari bertanya sesuatu yang mengejutkannya.
”Tapi ngomong ngomong kenapa kakak mengikuti Nathali?”
...****************...