Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Serangan Binatang Buas


Dua singa betina masih menyerang Anna, sedangkan Barrow sudah ditarik oleh seekor ular besar entah ke mana. Hanya suara teriakan Barrow saja yang terdengar memecah keheningan malam.


Suara binatang malam bahkan tidak terdengar karena suara teriakan Barrow yang semakin lama semakin tidak terdengar. Anna mengumpat, dia harus cepat karena dia bisa kehilangan Barrow.


Dua singa lapar melangkah mengelilingi dirinya, Anna menyimpan pistol namun dia mengambil pistol bius yang sengaja dia bawa. Dia membawa pistol bius itu memang untuk berjaga-jaga saat dalam situasi seperti itu agar dia tidak membunuh binatang apa pun di dalam hutan tersebut.


Kedua singa yang lapar masih juga mengincarnya, dia harus menunggu waktu yang tepat untuk menembakkan pistol bius tersebut. Hutan yang lebat memang memiliki banyak bahaya, selain bahaya binatang buas mereka juga harus mewaspadai yang lainnya.


Satu ekor singa sudah siap menerkam dirinya, air liur singa itu bahkan menetes di sela giginya yang tejam. Anna melihat kedua singa itu dengan teliti, yang mana akan menyerang terlebih dahulu dia harus tahu. Dua ekor singa itu masih saja berjalan mengelilingi dirinya, Anna pun melangkah mundur dan semakin waspada karena dia tidak tahu yang mana yang akan menyerangnya terlebih dahulu.


Suara teriakan Barrow samar terdengar di kesunyian malam, semoga saja Barrow bisa melawan binatang yang menyerangnya namun saat itu tubuh Barrow mulai ditarik naik ke atas sebuah pohon besar. Barrow bahkan terkejut ketika melihat besarnya ular yang ada di hadapannya. Semoga Anna cepat datang jika tidak dia akan remuk oleh lilitan ular besar itu. Dia ingin melawan namun kedua tangannya sudah terlilit oleh ekor ular. Entah kenapa dia merasa selalu terkena sial, setelah pulang nanti dia akan berendam air susu dengan bunga dua puluh jenis agar kesialan pergi darinya tentunya dia ingin berendam dengan Anna.


Salah satu singa yang yang mengincar Anna mulai melompat ke arah Anna. Anna yang sedari tadi memang sudah waspada segera menghindar dan menembakan senjata bius ke arah singa itu. Suara letusan senjata api terdengar, Anna baru saja menembak tapi dia harus dikejutkan oleh singa lain yang menyergapnya secara tiba-tiba.


Anna kembali menembak, kali ini dua peluru bius karena serangan yang mendadak. Obat bius yang dia gunakan begitu ampuh, itu obat bius yang dia gunakan saat membius Barrow. Singa pertama sudah pingsan disusul dengan singa kedua yang pingsan dan jatuh menimpa tubuhnya.


Anna berteriak akibat beratnya tubuh singa yang menimpa dirinya. Anna bahkan kesulitan bergerak karena tubuh singa tersebut.


"Sial!" umpatnya sambil mendorong tubuh singa dan berusaha menarik dirinya. Cukup lama Anna berusaha sampai akhirnya dia terbebas dari singa yang menipanya.


Tidak mau membuang waktu karena Barrow dalam bahaya, Anna segera berlari di mana Barrow menghilang tadi dan mengikuti jejak di atas rerumputan.


"Barrow!" Anna berteriak memanggil Barrow sambil mencarinya di sekitar tempat itu.


Jejak tubuh Barrow yang diseret ular masih terlihat, Anna masih mengikuti jejak tersebut yang akhirnya berakhir di dekat beberapa pohon besar.


"Barrow!" Anna memanggil dan mencari sekitar namun Barrow tidak ada di mana pun.


Suara desisan ular terdengar, Anna berlari ke arah datangnya suara. Barrow sudah terlilit di antara dahan pohon. Dia tidak bisa berkata-kata akibat lilitan ular yang begitu erat.


"Barrow!" Anna berteriak memanggil namun dia tidak menemukan keberadaan Barrow.


Barrow berada di ambang kematian, dia sudah merasa tidak bisa bernapas bahkan dia merasa tulang-tulangnya akan remuk sebentar lagi.


Anna terus mencari di bawah tapi tidak ada, suara desisan ular terdengar tidak jauh. Anna mendongak dan mengarahkan senter ke atas dan sangat terkejut ketika melihat seekor ular besar melilit tubuh Barrow dan ular itu sudah akan menelannya.


"Barrow!" Anna mengambil pisau yang ada dan melemparkan pisau itu ke arah ular besar yang sudah ingin menelan Barrow. Dia memang tidak menggunakan senjata bius karena dia ingin membunuh ular yang hendak membunuh Barrow.


Pisau yang dia lemparkan menancap tepat ke kepala ular tersebut. Lilitan ular itu pun merenggang dan tidak lama kemudian ular itu jatuh ke bawah bersama dengan tubuh Barrow.


Anna segera berlari menghampiri Barrow, dan menariknya keluar dari lilitan ular yang sudah mati. Barrow tampak tidak bergerak, dia pun tidak bernapas sehingga membuat Anna begitu panik dibuatnya.


"Barrow, sadarlah Barrow!" Anna menepuk wajah Barrow dan mengguncangnya namun Barrow tidak bereaksi sama sekali.


"Barrow, jangan mati seperti ini!" Anna kembali mengucang tubuh Barrow, namun tidak juga ada reaksi.


"Bertahanlah, Barrow. Bertahanlah!" ucapnya, tanpa terasa air matanya menetes.


"Aku tidak akan membiarkan kau mati dalam keadaan seperti ini!" Cpr kembali diberikan lalu napas buatan. Semoga saja usahanya berhasil dan benar saja, Barrow tersadar dan terbatuk akibat Anna menekan dadanya terlalu keras.


"Barrow!" Anna sangat senang dan memeluknya.


Barrow meringis kesakitan dan mengumpulkan tenaga, sungguh kejadian yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun.


"A-Apa yang terjadi? Apa aku sudah mati dalam perut ular?" tanya Barrow. Sekujur tubuhnya terasa sakit, bagian dadanya benar-benar sakit.


"Bodoh, kau benar-benar membuat aku takut!" ucap Anna.


"Aku juga tidak mau mengalami hal ini, Anna," Barrow mengusap dadanya yang terasa nyeri.


"Apa kau baik-baik saja??" Anna melepaskan pelukannya dan memeriksa keadaan Barrow dengan teliti.


"Apa kau menagisi aku, Anna?" tanya Barrow karena Anna menghapus air matanya.


"Aku mengkhawatirkan keadaanmu, Barrow. Sebaiknya kita lebih berhati-hati setelah ini!!" Anna mengambil senter hendak beranjak namun Barrow menarik tangannya.


"Kenapa? Seharusnya kau tidak menangis seperti ini!"


"Aku tidak saja menangis hari ini saja, aku sudah menangisi keadaanmu saat kau berada di bawah pengaruh Mariana jadi jangan terlalu berlebihan!"


"Kenapa?" lagi-lagi Barrow bertanya demikian.


"Entahlah, aku tidak tahu!"


Barrow kembali menarik Anna sehingga Anna terjatuh dalam pelukannya. Entah apa yang terjadi dengan Barrow, jangan katakan ular sudah menggigitnya sehingga dia terkena racun ular tapi ular besar itu tidak memiliki racun.


"Barrow, kita akan kehabisan waktu!"


"Untuk sesaat, aku ingin kita seperti ini!"


Anna mengangkat wajah, menatap pria itu dengan lekat. Barrow juga menatapnya dengan lekat sehingga membuat mereka berdua terbius. Wajah mereka berdua pun semakin dekat, mata Anna sudah terpejam saat Barrow mendaratkan kecupan ringan di bibir Anna. Akhirnya adegan mesra yang dia ingin terjadi juga.


Kedua tangan Anna melingkar di lehernya, mereka berciuman cukup lama di tengah bangkai ular yang besar tapi setelah selesai, mereka berdua jadi canggung dan salah tingkah dengan apa yang baru saja mereka lakukan.


"A-Aku akan membuat obor," ucap Barrow. Sial, tidak seharusnya mereka jadi canggung seperti itu tapi jujur saja, dia sangat senang.


Anna memegangi wajahnya yang memanas, ada apa ini? Ciuman yang dia lakukan terasa berbeda dengan ciuman yang dia lakukan bersama dengan Nick. Sebaiknya dia tidak memikirkan hal itu karena mereka harus mencari keberadaan makam Natalie yang masih jauh berada di dalam hutan.