
Pohon tua itu terus bergerak, mencari orang yang sudah membangunkan dirinya dari tidur panjang dengan tetesan darah yang diberikan oleh Anna. Tubuh Anna masih sulit digerakkan, tangan-tangan yang ada di bawah masih saja menariknya masuk ke dalam tanah sehingga kakinya sudah masuk ke dalam sampai ke bagian lututnya.
Dia tidak mendapatkan informasi apa pun setelah membangkitkan pohon tua tersebut. Nenek dan roh pelindungnya tidak mengatakan apa pun akan hal itu sehingga dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia masih panik karena tangan-tangan tengkorak yang masih saja menariknya dan meminta untuk untuk bergabung. Sepertinya setelah ini dia harus melakukan dengan isntingnya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Bagaimanapun dia tidak boleh terlalu bergantung pada roh pelindungnya. Jika dia ingin menghentikan kebangkitan Mariana dan menyelamatkan orang-orang maka dia pun harus memiliki kemampuan apalagi untuk menghadapi pohon tua yang mendadak hidup dan marah.
"Siapa yang membangunkan aku?" dahan-dahan pohon kembali memukul tanah. Dahan-Dahan pohon itu ibarat lengan yang kelar dan kuat.
"A-Aku!" teriak Anna. Dia yakin untuk menghentikan tangan-tangan yang menariknya, dia harus berbicara degan pohon tua itu terlebih dahulu dan memintanya membuka jalan alam gaib untuknya.
Pohon tua itu melihat ke bawah, mencari sosok Anna. Setelah berputar, dia baru bisa mendapati sosok Anna yang sedang berdiri di belakangnya. Sang pohon bergerak, memajukan batangnya yang berbentuk wajah untuk mendekati Anna.
"Jadi kau yang membangunkan aku?" tanya pohon itu dengan suara menggelegar.
"Jawab, apa kau yang membangunkan aku?" teriaknya lagi karena Anna belum menjawab.
"Ya, aku yang membangunkan dirimu!" teriak Anna lantang.
"Beraninya kau?" pohon itu sangatlah marah sehingga angin bertiup kencang. Tubuh Anna bahkan tertarik ke depan akibat kencangnya angin yang berhembus.
"Aku akan menelanmu hidup-hidup Karena kau sudah berani membangunkan aku!" teriak pohon itu marah.
"Aku membangunkan dirimu karena aku ingin melewati pintu untuk masuk ke dalam alam gaib!" teriak Anna.
"Masuk ke alam gaib?" pohon itu melihat Anna dengan teliti, "Hanya orang yang sudah mati yang bisa masuk ke alam gaib dan dia yang istimewa. Manusia awam tidak akan bisa masuk kecuali mati!" teriak pohon tersebut.
"Apa aku benar-benar tidak bisa masuk?" Anna juga berteriak.
"Kau?" pohon itu melihat ke arah Anna lalu menunjukkan menggunakan rantingnya. Pohon itu pun mengendus seperti mencari tahu aroma tubuh Anna.
"Hm, aroma ini," kini dia kembali mengendus dan semakin mendekat ke arah Anna.
"Kau yang istimewa, tentu saja kau bisa masuk," ucap pohon itu seraya memundurkan tubuhnya. Dengan satu kibasan ranting, tangan-tangan yang memegangi kaki Anna masuk kembali ke dalam tanah dan secara ajaib tubuh Anna kembali terangkat ke atas. Sudah dia duga, dia harus berbicara dengan pohon itu jika ingin menyingkirkan tangan-tangan tengkorak yang menarik kakinya.
"Sekarang, bisakah kau membiarkan aku masuk?" pinta Anna.
"Kenapa? Aku membangunkanmu karena aku ingin masuk ke dalam jadi sekarang ijinkan aku untuk masuk ke alam gaib!"
"Untuk apa kau masuk ke dalam? Di sana bukan dunia manusia, di sana bukan tempat untuk di masuki oleh manusia. Setiap manusia yang masuk ke alam itu tidak akan bisa keluar lagi jadi sebaiknya kau tidak masuk ke alam itu!"
"Aku harus masuk karena aku harus mencari sesuatu di alam itu," ucap Anna.
"Apa yang kau cari sehingga kau harus masuk ke alam itu?"
"Aku tidak bisa menjawab untuk hal itu. Aku harus segera masuk ke dalam jadi bukakanlah pintu itu untukku," pinta Anna memohon.
Pohon itu belum menjawab, Anna melangkah mendekati lentera yang dia tinggalkan karena masih ada satu mantera yang belum dia selesaikan. Mantera itu tidak terlalu panjang sehingga dapat dia hapal dengan mudah.
..."Aperi Viam clausam, hanc ei dabo lucernam!"...
(Terbukahlah jalan yang tertutup itu, aku akan memberikan lentera ini untuknya!)
Anna berteriak lantang sambil mengangkat lentera yang ada di tangan. Pohon tua itu kembali bergerak, berputar beberapa kali lalu lubang yang tadinya kecil terbuka lebar menjadi sebuah pintu lorong namun pintu itu masih tertutup. Sosok seorang gadis misterius muncul di samping Anna secara tiba-tiba sehingga membuat Anna terkejut.
Lentera yang ada di tangan Anna diambil. Gadis itulah yang dimaksud dalam gambar yang dibuat oleh sang nenek. Pohon tua dan seorang gadis pembawa lentera, mereka ada hubungannya oleh sebab itu Anna membawa lentera karena dia tahu dia harus memberikan lentera itu pada sang gadis.
Gadis misterius itu membawa lentera menuju pintu lalu menggantungnya di samping daun pintu. Gadis misterius itu berbalik ke arah Anna, seperti menatapnya. Wajahnya tidak terlihat kerena gelap, rambut yang panjang bahkan mnenutupi sebagian wajahnya.
"Kau hanya memiliki waktu sedikit, cahaya yang ada di lentera adalah penunjuk waktu yang kau miliki. Jika lentera itu mati, maka kau tidak akan bisa kembali lagi ke dunia manusia dan akan terjebak di dalam sana untuk selamanya jadi bergegaslah. Pintu hanya akan terbuka sepuluh detik, jika tidak cepat maka pintu ini tidak akan terbuka lagi untukmu!" ucap gadis misterius itu. Satu tangan dikibaskan, pintu menuju alam lain pun terbuka. Hawa dingin menusuk tulang berhembus, membuat Anna kembali merinding. Anna mencoba melihat ke dalam pintu itu tapi hanya gelap gunita saja yang ada.
Ludah ditelan dengan kasar, Anna melihat ke arah Barrow yang belum sadarkan diri. Pintu itu hanya bisa terbuka selama sepuluh detik saja jadi dia harus bergegas. Senter diambil, pistol pun diangkat. Anna melangkah maju menuju pintu yang gelap. Hawa dingin begitu terasa dan juga bau busuk yang begitu menyengat padahal dia belum masuk ke dalam.
Anna melangkah masuk, tiba-tiba hawa yang begitu dingin kembali berhembus tapi lebih kencang dari sebelumnya. Setelah hawa dingin itu berhembus, pintu yang ada di belakangnya tertutup rapat sehingga membuat semuanya menjadi gelap.
Pohon tua itu kembali bergerak berputar, kembali ke posisi semula. Lubang itu pun tertutup, gadis misterius itu pun menghilang. Pohon kembali seperti semula, seperti pohon tua pada umumnya sehingga tidak ada yang tahu akan keberadaan pintu itu.
Anna berada di dalam kegelapan dengan suasana yang mencekam. Senter yang sudah sangat terang pun tidak mampu membuat tempat itu terang. Suasanya di tempat itu sangat berbeda dengan suasana di tempat yang pernah dia masuki sebelumnya untuk mencari jiwa Barroe. Yang kali ini benar-benar menyeramkan, udara dingin dan bau busuk yang menyengat tidak juga berhenti berhembus dan tercium. Kedua kakinya bahkan terasa gemetar, teriakan-teriakan mengerikan mulai terdengar. Alam gaib yang dia masuki kali ini sungguh menakutkan tapi dia harus mencari kedua benda itu jadi dia tidak akan mundur apalagi dia sudah masuk ke dalam alam gaib dan dia hanya punya waktu sedikit. Semoga lampu pelita tidak padam sebelum dia menemukan keberadaan payung terkutuk dan juga pisau Artbond yang disembunyikan oleh Mariana.