Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Mantera Pelindung


Lava yang panas, tidak mungkin bisa dilewati begitu saja. Anna mencoba mencari cara untuk melewati kolam lava tersebut agar dia bisa mendapatkan pisau Artsbond yang ada di tengah ruangan. Tidak ada apa pun di dalam lava, batu untuk berpijak pun tidak ada.


Batu yang ada hanya berada di tengah, di mana pisau itu berada. kali ini dia kebingungan, tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk mendapatkan pisau tersebut. Anna rasa inilah yang paling sulit karena dia benar-benar harus mencari cara untuk melewati lava panas tersebut.


Anna menyinari tempat itu dengan senternya yang mulai kedap kedip. Celaka, jangan katakan baterai senternya sudah mau habis. Senter diketuk beberapa kali, semoga saja dia tidak kehabisan waktu untuk mendapatkan pisau tersebut walau setelah ini dia tidak tahu bagaimana dia harus kembali.


"Apa yang harus aku lakukan?" Anna mencari cara, berharap ada tangga seperti yang dia temukan tadi namun yang kali ini sangatlah sulit.


"Oh, God. Seandainya kau memberi aku sayap," ucap Anna. Seandainya dia bisa memiliki sayap maka dia sudah terbang ke sana lalu mengambil pisau itu.


"Jangan panik, Anna. Kau tidak akan bisa menemukan cara jika kau panik," ucap roh pelindungnya.


"Aku tahu," Anna berjalan mondar mandir dari satu dinding ke dinding yang lain. Mungkin saja untuk mendapatkan benda itu dia harus memecahkan trik seperti tadi namun tidak ada pola di kedua dinding tersebut. Anna mencoba mendorong batu besar yang ada di dinding namun batu itu tidak bereaksi sama sekali. Dia pun kembali mendorong batu lain tapi hal yang sama terjadi.


"Jika tidak ada tangga, lalu dengan cara apa aku bisa mengambil pisau itu," gumam Anna.


Dia kembali melangkah menuju dinding bagian lain. Tidak, tidak mungkin trik yang sama berada di dua ruangan yang berbeda. Setiap ruangan yang dia lewati memiliki rintangan yang berbeda dan trik yang berbeda pula. Dia yakin yang kali ini memiliki trik yang tidak sama dengan yang sebelumnya.


"Apa kau tidak bisa terbang ke sana untuk mengambil benda itu?" tanya Anna seraya menyinari pisau yang terlihat sedikit.


"Aku hanya roh, Anna. Aku tidak bisa menyentuh benda padat."


"Bagaimana jika menggerakkan, apa kau tidak bisa menggerakkan benda itu dan membawanya ke sini?"


"Anna, aku roh pelindungmu yang bertugas melindungi dirimu. Tapi mari kita coba," roh pelindungnya keluar, berdiri di hadapan Anna. Roh itu mengulurkan satu tangan untuk mengambil pisau Artsbond yang ada di tengah-tengah lava.


Pisau itu sedikit terangkat namun kembali jatuh karena pisau itu dirantai. Roh pelindung Anna mencoba melepaskan rantai yang membelenggu pisau itu tapi tidak bisa karena seperti ada yang menahannya, semacam mantera agar pisau itu tidak bisa diambil dengan mudah.


"Ada mantera yang menahan pisau itu sehingga aku tidak bisa mengambilnya," ucap roh pelindung Anna.


"Mantera?"


"Aku akan pergi untuk melihatnya!" roh itu terbang namun belum juga mendekati pisau itu, roh pelindung Anna terpental ke belakang karena di sekitar pisau itu memang diberi mantera pelindung oleh Mariana.


Anna terkejut, dia berlari ke arah roh pelindungnya yang terlempar. Roh pelindungnya bahkan terlihat kesakitan akibat mantera pelindung yang cukup kuat. Anna sangat khawatir, karena rohnya terlihat menipis.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Anna, dia ingin menyentuh roh pelindungnya sendiri namun roh itu tidak bisa tersentuh karena seperti asap.


"Mariana membuat mantera pelindung agar tidak ada yang bisa mengambilnya, Anna."


"Aku tidak tahu, tapi pisau itu dirantai dengan sebuah rantai besi. Sepertinya yang meletakkan pisau itu adalah manusia. Untuk menghindari adanya arwah yang mengambil, Mariana membuat mantera agar tidak ada arwah yang mengambilnya."


"Diletakkan oleh manusia?" Anna tampak berpikir. Apakah yang meletakkannya adalah keturunan murni Mariana? Hal itu bisa saja terjadi, mungkin Mariana meminta keturunannya untuk meletakkan pisau tersebut lalu Mariana membuat pelindung agar tidak ada satu arwah pun yang mengambilnya. Benda itu diletakkan di tengah-tengah lava agar tidak ada manusia yang mengambilnya dan jika tebakannya benar bahwa yang meletakkan pisau tersebut adalah keturunan murni Mariana, dia yakin pasti ada jalan untuk menuju pisau tersebut.


Roh pelindungnya kembali masuk ke dalam tubuhnya, Anna berjalan mondar mandir memikirkan cara untuk mendapatkan pisau tersebut. Sungguh trik rumit yang harus dia pecahkan karena tidak ada apa-apa yang bisa dia gunakan untuk menyeberang. Mariana benar-benar licik, dia kembali memuji.


Dinding batu kembali diperiksa, atas ruangan tidak luput dari pantauannya. Seandainya ada tali pun, dia tidak mungkin berayun ke tengah ruangan karena tidak ada celah atau dahan untuk menautkan tali. Lalu bagaimana dia bisa mengambil pisau tersebut?


"Pasti ada jalan, jika putra Mariana yang meletakkan pisau itu, pasti ada sebuah jalan untuk menuju pisau tersebut," Anna kembali melangkah dan tanpa sengaja menginjak lantai yang sedikit landai. Anna bahkan terkejut karena dia hampir terjatuh namun yang membuatnya semakin terkejut saat lantai itu bergetar.


"Apa yang terjadi?" Anna melihat ke bawah, di mana kakinya berpijak lalu melihat sekeliling. Dia kira ruangan akan berpindah tapi dia dikejutkan oleh sebuah batu yang muncul dari permukaan lava.


Ana berlari mendekat, sebuah batu muncul seperti jalan setapak. Ternyata dugaannya benar, ada jalan. Anna kembali berlari mendekati lantai yang dia pijak tadi. Dia mulai melihatnya dengan teliti. Beberapa lantai yang mirip berjarak cukup jauh. Anna menginjaknya tanpa ragu sehingga beberapa batu lagi muncul dari dalam lava.


Setelah menginjak lantai itu, Anna kembali mendekati kolam lava. Sebuah jalan setapak sudah muncul di atas lava, jalan setapak itu menuju pisau Artsbon.


"Bagus!" Anna melompat ke batu pertama. Kokoh, tidak tenggelam. Dia kembali melangkah ke batu yang lain, jangan sampai tergelincir sehingga dia menjadi abu.


Anna terus melangkah dengan hati-hati, menginjak batu-batu itu dengan hati-hati. Langkahnya terhenti di mana roh pelindungnya terpental tadi.


"Apa mantera itu sampai di sini?" tanya Anna.


"Berhati-hatilah, bisa saja mantera itu berpengaruh untukmu."


Anna mengulurkan tangan, mencoba apakah mantera itu berlaku untuknya. Tangannya semakin dekat lalu secara tiba-tiba terpental karena mantera yang dibuat oleh Mariana.


"Sial, ternyata mantera itu juga tidak bisa ditembus oleh manusia!"


"Mariana benar-benar melindungi benda yang berbahaya untuknya. Sekarang kau harus mencari cara untuk menghancurkan mantera tersebut.


"Bagaimana aku bisa menghancurkan mantera tersebut?" Anna kembali mengulurkan tangan dan lagi-lagi terpental. Dia bisa merasakan ada sebuah energi yang mendorong tangannya. Jika dia gegabah, mungkin dia akan seperti roh pelindungnya yang terpental dan mungkin saja dia akan terpental ke dalam lava.


"Apa kau tidak memiliki petunjuk?" tanya Anna. Mungkin saja roh pelindungnya memiliki petunjuk.


"Maaf, Anna. Aku tidak tahu!"


"Ck, bagaimana sekarang?" Anna tampak berpikir, bagaimana dia bisa menembus mantera yang dibuat oleh Mariana? Jujur kali ini dia tidak tahu karena tidak ada petunjuk sama sekali. Bagaimana dia bisa mendapatkan pisau yang sudah ada di depan mata? Kali ini dia benar-benar harus berpikir dengan keras.