Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Aku Percaya Padamu


Barrow sedang membuat makanan saat Anna kembali. Entah dari mana, Anna tidak mengatakan ke mana sesungguhnya dia pergi. Setiap kali Barrow bertanya, Anna mengatakan dia pergi mengambil barang di rumah neneknya. Barrow pun tidak curiga karena Anna selalu membawa barang begitu kembali.


Anna langsung masuk ke dalam kamar, sebuah lingkaran berada di kalender. Itu adalah tanggal di mana bulan akan purnama dan di mana Mariana akan bangkit dan waktunya sudah dekat. Segala sesuatu yang dia inginkan pun sudah dia dapatkan, Anna juga sudah siap menghadapi hari itu untuk menghentikan kebangkitan Mariana.


Setelah menyimpan barang-barang yang dia bawa, Anna keluar dari kamar. Aroma lezat makanan tercium, Anna bergegas menuju dapur untuk membantu Barrow. Mereka sudah memberi laporan pada atasan saat mereka kembali agar sang kapten tahu bagaimana perkembangan kasus yang sedang mereka tangani tapi mereka belum mengatakan apa yang akan terjadi nanti di malam bulan purnama sebelum mereka tahu situasi yang ada.


"Apa kau sudah selesai, Barrow?" tanya Anna.


"Ck, kau selalu pergi seorang diri. Dari mana saja kau?" tanya Barrow.


"Sudah aku katakan, aku mengambil barang di rumah nenekku!"


"Bagaimana jika Nick melihat dirimu dan mengikutmu, bukankah itu sangat berbahaya? Kau bisa terbunuh dengan mudah!"


"Aku tahu, Barrow. Tapi tidak perlu khawatir, dia memerlukan aku sebagai tumbal nantinya."


"Apa? Kenapa kau juga harus menjadi tumbal, Anna?" Barrow berpaling, menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Percaya atau tidak, Mariana sudah menginginkan aku semenjak aku masih bayi bahkan dia membunuh kembaranku karena salah mengenali kami berdua."


"Wow, jadi dia sudah menginginkan dirimu sejak lama?"


"Yeah, bagaimana? Apa kau masih berminat pada wanita yang bisa melihat arwah ini?" goda Anna.


"Tentu saja, aku sudah memiliki akal. Saat kita sedang melakukan hal itu, aku akan menyiapkan penutup mata untuk menutupi kedua matamu!" ucap Barrow.


"Menyebalkan, aku tidak sudi. Apa kau tahu, Barrow? Kelima arwah itu dan arwah si nenek tua menyukaimu. Setelah aku membebaskan mereka, aku akan mengundang mereka agar bisa bergabung dan bermain dengan kita!" goda Anna lagi.


"What? Are you serious?"


"Yes, Barrow. Sebab itu kau harus menyiapkan banyak obat kuat!" Anna mengedipkan sebelah mata, lalu mengambil makanan yang sudah jadi dan membawanya menuju meja.


Barrow masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya lalu tatapan matanya melihat ke bawah, apakah junior berharga miliknya akan baik-baik saja saat para arwah itu bergabung? Ck, pikiran bodoh. Memangnya mereka masih bisa diajak melakukan hal demikian?


"Anna, jangan bercanda. Aku tidak sudi mereka bergabung dengan kita!" ucap Barrow.


Anna terkekeh, Barrow benar-benar menganggap serius ucapannya padahal dia hanya bercanda saja. Tapi dia merindukan saat-saat seperti itu, sudah lama rasanya mereka tidak pernah bercanda. Entah apa yang akan terjadi dengan mereka nanti, dia juga tidak tahu karena bisa saja mereka kalah saat bertarung dengan Mariana dan para sekutunya dan bisa saja mereka menang. Hanya dua kemungkinan itu saja yang akan terjadi nantinya.


"Apa yang akan kita lakukan nanti, Anna?" tanya Barrow yang sudah duduk di sampingnya.


"Apa maksudmu?" tanya Anna tidak mengerti.


"Sebentar lagi malam bulan purnama, apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi mereka? kita bahkan tidak tahu di mana kebangkitan itu akan terjadi, kita juga tidak bisa bergerak sembarangan karena ibu dan bibimu berada di dalam genggaman tangan mereka."


"Sudah aku katakan, tidak perlu khawatir. Mariana memerlukan aku, dia pasti akan mengirim seorang bawahan untuk memancing aku pergi ke tempatnya jadi untuk saat ini, kita nikmati saja waktu kita sambil bersiap-siap untuk melawan mereka," tiba-tiba saja Anna teringat dengan payung terkutuk yang membelenggu jiwa Natalie, apa yang harus dia lakukan pada payung tersebut? Sepertinya dia harus bertanya pada roh pelindungnya setelah ini.


"Benda itu tetap harus kita bawa, Barrow. Aku yakin pengikut Mariana tidak sedikit, pengikut Mariana pasti akan berkumpul untuk menyambut kebangkitan sang pujaan mereka."


"Jadi kita akan menembaki mereka seperti sedang berburu ayam hutan? Jika begitu kita harus membawa senjata otomatis lalu menghabisi mereka semua!" Barrow terlihat begitu bersemangat, anggap dia sedang bermain game.


"Jangan, dasar kau gila. Kita harus bergerak hati-hati dan setelah kita tahu bagaimana situasi yang kita alami barulah kita memanggil beberapa pasukan untuk datang. Itu pun jika situasi tidak memungkinkan di mana tidak bisa kita tangani berdua tapi yang aku inginkan adalah pasukan elite yang sudah terlatih untuk mengintai . Kita tidak boleh membuat keributan sehingga ketahuan karena bisa saja, Mariana menyerang kita menggunakan para arwah yang menjadi anak buahnya."


"Jika begitu kita harus menyusun rencana, bukan?"


"Yeah, kita memang harus melakukan hal itu."


"Tapi di mana tempatnya, Anna? Kita tidak bisa menyusun rencana jika kita tidak tahu lokasinya," Barrow melihat Anna dengan lekat, dia rasa mereka harus tahu terlebih dahulu di mana tempat yang akan menjadi tempat terjadinya kebangkitan Mariana. Apakah di rumah tua, di kastil ataukah di hutan? Mereka harus mencari tahu hal ini terlebih dahulu.


"Aku akan mencari tahu akan hal ini, Barrow. Tapi aku rasa akan ada yang menuntun kita, jadi segera lakukan apa yang aku perintahkan."


"Baiklah, baik. Wanita lebih berkuasa!" ucap Barrow.


"Lakukan saja!" Anna beranjak, sudah saatnya mencari tahu apa yang harus dia lakukan pada payung terkutuk itu. Jika dia bisa membebaskan Natalie saat ini juga, mungkin dia bisa mengajak Natalie untuk bersekutu dengannya sehingga mereka bisa menggagalkan kebangkitan Mariana bersama-sama.


"Mau ke mana?" tanya Barrow.


"Tidur, terima kasih atas makanannya," jawab Anna.


"Apa? Apa tidak ada sedikit waktu untuk kita bermesraan?"


"Tidak ada, Barrow. Jika kau mau aku akan meminta yang lain bermesraan denganmu!"


"Ck, sial. Cerita macam apa ini? Sedikit bermesraan pun tidak ada!" protes Barrow.


Anna melambai dan melangkah menuju kamar. Pintu kamar dikunci agar Barrow tidak bisa masuk begitu saja saat dia sedang berkomunikasi dengan roh pelindungnya. Payung yang menyegel jiwa Natalie pun dikeluarkan dan diletakkan di atas ranjang, Anna duduk di hadapan payung itu dan memanggil roh pelindungnya.


"Apa kau ada di sini?" tanya Anna.


"Tentu, kenapa kau memanggil aku?" terdengar suara roh pelindungnya namun sosoknya tidak terlihat.


"Apa yang harus aku lakukan pada payung ini? Apa harus aku bakar untuk membebaskan jiwa Natalie?"


"Tidak semudah itu, Anna. Pergilah ke hutan di mana Natalie di bunuh dan dikuburkan, lakukan ritual di atas kuburannya untuk melepaskan rantai yang membelenggu jiwanya."


"Ritual? Apa yang harus aku lakukan?"


"Nanti malam, pergilah ke hutan. Tepat pada pukul dua belas malam, lakukan ritual itu. Aku akan menuntun dirimu dan mengatakan apa saja yang kau butuhkan dan apa saja yang harus kau lakukan!" ucap roh pelindungnya.


"Baiklah, aku percaya padamu!" Anna mengambil payung itu, semoga setelah dia membebaskan belenggu yang membelenggu jiwa Natalie, arwah itu bisa dia ajak bekerja sama. Setelah menyimpan payung tersebut, Anna keluar dari kamar untuk berbicara dengan Barrow karena dia butuh bantuan Barrow untuk melakukan ritual di mana dia akan membebaskan jiwa Natalie.