
Sebuah bangunan aneh berdiri di hadapan Anna. Bangunan itu seperti bangunan yang dibangun oleh suku Inca. Bebatuan besar mengelilinginya dengan banyaknya tangga. Bangunan itu pun sedikit mirip piramida, entah kenapa bangunan seperti itu berada di alam gaib.
Jangan katakan Mariana mencuri bangunan itu dari mesir atau dari suku Inca lalu membawanya ke alam gaib. Jika demikian maka dia akan memuji kehebatan Mariana.
Anna masih memandangi bangunan tersebut. Jika bangunan itu seperti piramida berarti akan banyak jebakan di dalam sana. Sangat masuk akal Mariana menyimpan dua benda di dalam bangunan yang memiliki jebakan. Dia tidak mungkin menyimpan senjata yang bisa membunuhnya sembarangan sehingga bisa ditemukan dengan mudah. Setelah melewati penunggu alam gaib, sepertinya dia harus bermain dengan jebakan namun dia khawatir masih ada makhluk mengerikan di dalam sana.
"Apakah masih ada hantu atau monster mengerikan di dalam sana?" Anna bertanya pada roh pelindungnya.
"Sepertinya tidak, aku tidak merasakan apa pun di dalam sana."
"Kenapa bangunan seperti ini ada di sini?" sungguh dia sangat ingin tahu. Apakah peradaban Inca yang hilang gara-gara dicuri oleh Mariana?
"Tempat ini dibuat oleh Mariana sendiri, Anna. Dibuat dengan pikirannya jadi berhati-hatilah karena ini adalah tempat kekuasaannya. Kau masih membawa jimat yang kau bawa, bukan?"
Anna meraba saku celana, lalu mengangguk karena jimat itu masih dia bawa. Beruntungnya jimat itu tidak jatuh karena dia sudah jatuh bangun untuk sampai ke tempat itu. Walau harus melewati banyak rintangan tapi dia sangat bersyukur sudah tiba di tempat itu. Sekarang tinggal mencari kedua benda itu saja, maka perjalanannya selesai.
"Jika jimat itu masih kau bawa maka kau tidak perlu khawatir, walau ada makhluk apa pun di dalam sana maka mereka tidak akan melihat keberadaanmu seperti Mariana yang tidak bisa melihatmu. Makhluk yang ada di dalam berbeda dengan makhluk yang kau lewati karena mereka benar-benar penunggu alam gaib sedangkan yang ada di dalam adalah anak buah Mariana. Mereka tidak akan menyadari keberadaanmu tapi kau tetap harus berhati-hati karena aku tidak tahu apa yang ada di dalam sana!" ucap Roh pelindungnya.
"Terima kasih sudah menjelaskan," pistol dan senter diangkat, dia siap dengan petualang baru di dalam bangunan berbentuk piramida itu.
Anna melangkah menaiki tangga, tentu dengan kewaspadaan tinggi. Senter mengarah ke kanan, lalu ke kiri. Bebatuan besar tampak berserakan karena bangunan yang runtuh. Tiba-Tiba dia merasa berada di Giza. Apa Marian dulu suka berkeliling piramida sehingga dia bisa memikirkan bangunan seperti ini?
Ck, sebaiknya fokus. Jangan sampai ada jebakan yang terinjak dan dia tidak tahu sama sekali. Anna masih menaiki anak tangga yang berjumlah puluhan untuk menuju ke atas sampai akhirnya dia tiba di depan sebuah pintu batu yang cukup besar.
"Apa kau yakin?" tanya Anna karena dia benar-benar tidak yakin.
"Aku yakin, Anna. Aku bisa merasakan kedua benda yang disimpan oleh Mariana di tempat terpisah. Teruslah melangkah maju, aku akan menuntunmu," jawab roh pelindungnya.
"Wow, kau bisa bisa merasakannya?"
"Karena sudah dekat, sebab itu aku bisa merasakannya."
"keren," puji Anna lalu dia melangkah memasuki pintu batu yang dia yakin akan berubah nantinya.
Tempat itu gelap, bau pengap. Anna kembali melangkah dan benar saja, beberapa pintu bergeser dan pintu yang baru dia masuki tertutup digantikan dengan beberapa pintu terbuka. Anna berputar untuk melihat apa yang terjadi, bangunan itu pun terasa berputar dan ruangan pun terasa berubah.
"Bagaimana ini, ruangannya berubah?" Anna terlihat panik.
"Jangan panik, walau berubah tapi kita akan tetap sampai ke tujuan bahkan ruangan yang berubah bisa membawa kita ke dua benda itu dengan cepat," roh pelindungnya menenangkan. Selama dia bisa merasakan kedua benda itu maka mereka tidak akan tersesat.
"Jadi, mana yang harus kita masuki?" Anna mengarahkan senternya ke arah tiga pintu yang terbuka.
Anna mengangguk dan melangkah menuju pintu yang ada di sebelah kiri. Sebuah lorong yang begitu sempit harus dia lewati bahkan dia harus memiringkan tubuhnya agar dia bisa lewat. Jika ada yang melemparkan sebuah pisau maka dia tidak akan bisa menghindari itu.
Greekkk!! Terdengar seperti suara batu yang bergeser. Anna melihat ke atas dan ke sisi kanan, celaka. Jangan katakan tempat itu akan kembali berubah. Karena tidak mau terjebak di dalam lorong sempit itu Anna segera bergegas apalagi dia merasa lorong itu semakin menyempit. Jangan sampai dia menjadi daging ham karena terhimpit tembok batu.
Napas Anna memburu, dia harap tidak terlambat karena tembok yang semakin menyempit. Langkah Anna semakin cepat dan pada akhirnya dia keluar dari lorong sempit itu. Anna bernapas lega, sungguh berbahaya. Semoga dia tidak harus melewati lorong sempit seperti itu lagi.
"Ke kanan, Anna."
Senter di arahkan ke kanan, sesuai dengan ucapan roh pelindungnya. Entah apa yang akan dia temukan terlebih dahulu, tapi dia harap tidak menemukan rintangan yang berarti namun langkahnya terhenti saat dia berada di sebuah ruangan yang cukup luas.
Anna belum melangkah, dia curiga ruangan itu memiliki jebakan. Senternya menyinari lantai, ubinya terlihat tinggi rendah. Kini dia semakin yakin ada jebakan. Setelah melihat lantai, Anna melihat dinding dengan ukiran-ukiran yang aneh. Dia harus melewati ruangan itu jika dia ingin tiba di tempat benda yang dia cari.
"Apa ruangan ini tidak bisa berpindah?" tanya Anna.
"Jika kau ingin menemukan salah satu benda itu, kau harus melewati ruangan ini."
Anna menghela napas, melawan penghuni alam gaib atau melewati jebakan sepertinya tidak ada bedanya tapi kali ini dia harus menggunakan otak dari pada tenaga. Anna melangkahkan satu kaki, menginjak lantai yang sedikit tinggi dan pada saat itu, tiba-tiba saja lantai itu amblas dan jatuh ke bawah. Anna kembali menelan ludah dan menyinari senter ke bawah sana yang dipenuhi dengan benda tajam seperti tombak yang tertancap secara terbaik. Jika dia sampai salah menginjak lantai maka dia akan jatuh dan mati tertusuk mata tombak yang tajam itu.
Anna melangkah ke samping, di mana lantainya masih utuh. Kakinya kembali menginjak lantai namun lantai itu tidaklah amblas. Anna tampak lega, dia mulai mempelajari pola yang ada di lantai namun dia merasa curiga. Tidak, pasti tidak semudah yang dia bayangkan. Selain lantai yang dia injak saat ini, dia rasa lantai lain tidaklah kokoh dan amblas seperti lantai sebelumnya. Piramida itu bukan di alam manusia, itu piramida di alam gaib yang pastinya Mariana membuat jebakan yang akan mengecoh.
Semua itu pasti untuk mengecoh dirinya agar dia yakin dia bisa melewati tempat itu dengan mengijak lantai. Pola di lantai memang sudah menunjukkan, tinggi dan rendah. Seperti jebakan yang dibuat oleh manusia pada umumnya tapi jebakan itu tidak dibuat oleh manusia.
Anna kembali melangkah mundur, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Cukup satu lantai itu saja yang bisa dia injak karena dia yakin, semua lantai itu tidak akan bisa diinjak seperti lantai yang pertama.
"Apa yang kau lakukan, Anna?" tanya roh pelindungnya karena Anna kembali melangkah mundur.
"Mengambil ancang-ancang," jawab Anna.
Anna begitu serius, kesempatan hanya satu kali. Di sini dia butuh ketangkasan dan kecepatan juga akal cerdik agar dia bisa melewati rintangan itu. Anna mulai berlari, menginjak ubin yang tidak runtuh lalu Anna melompat naik ke atas tembok dan berlari melalui tembok. Setelah berlari beberapa langkah, Anna kembali melompat ke atas ubin, bagian ini dia harus cepat karena ubin yang dia pijak akan langsung amblas dan sebelum hal itu terjadi, Anna sudah melompat naik ke tembok lagi dan berlari ke atas tebok dengan posisi tubuh miring.
Dia melakukan hal itu beberapa kali dan benar saja, setiap ubin yang dia pijak langsung amblas. Seperti yang dia duga, jika dia percaya ada ubin yang tidak amblas dan menginjak ubin-ubin itu maka dia akan mati terperosok karena semua ubin itu memang akan amblas selain ubin yang dia pijak tadi. Cara untuk melewati tempat itu adalah melayang seperti arwah. Karena dia tidak bisa terbang maka dia menggunakan cara itu.
Anna kembali melompati ubin terakhir lalu melompat ke atas tembok. Anna berlari beberapa langkah dia atas tembok dan setelah itu Anna berputar di udara dan mendarat di sisi ruangan dengan mulus. Akhirnya dia bisa melewati jebakan itu tanpa celaka. Satu jebakan sudah dia lewati, semua ubin sudah jatuh, menyisakan ubin yang tadi. Lubang menganga besar, dengan tombak-tombak yang tajam.
"Aku hampir menjadi daging yang tertusuk dan siap di panggang," ucap Anna.
Mariana memang pintar untuk orang yang hidup di jaman yang berbeda, jebakan yang sempurna dan dia yakin masih ada banyak lagi tapi berkat roh pelindungnya dia bisa langsung ke tujuan untuk mendapatkan kedua benda yang dia inginkan bahkan dia sudah dekat dengan salah satu benda itu.