Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Berada Di Ujung Maut


"Barrow!" Anna berteriak dengan keras, memanggil Barrow yang tidak juga terlihat.


Kastil yang gelap dan besar mempersulit dirinya untuk menemukan keberadaan Barrow apalagi banyaknya ruangan di dalam kastil juga banyaknya tangga melingkar yang entah menuju ke arah mana.


Anna tidak tahu harus pergi ke mana, dia hanya bisa berteriak memanggil Barrow berharap Barrow dapat mendengar teriakannya. Dia sungguh tidak menyangka mereka akan langsung diperdaya begitu masuk ke dalam kastil itu tapi kenapa dia harus melihat Nick? Sungguh dia belum mengerti namun itu bukan waktu yangh tepat untuk memikirkan hal itu karena mencari keberadaan Barrow lebihlah penting.


"Barrow!!" Anna kembali berteriak, suara tawa mengerikan terdengar dan suara-suara itu seperti menertawakan dirinya.


Anna tidak peduli, dia tampak panik karena Barrow tidak juga terlihat. Dia mencari keberadaan Barrow dari satu ruangan ke ruangan lain tapi sesungguhnya Barrow berada di lantai paling atas.


Barrow tidak mendengar suara teriakan Anna, itu karena yang dia dengar hanya musik piano yang menghipnotisnya. Barrow sudah berdiri di atas pagar pembatas, Jenie masih melambai dan memanggilnya. Dalam pandangan Barrow mereka sedang berada di dalam ruangan, dia tidak melihat jika di hadapannya sudah tidak ada pijakan sama sekali.


Anna semakin panik, mencari keberadaannya namun sebuah bisikan menghentikan langkahnya yang hendak menuju sebuah ruangan.


"Hancurkan pianonya, Anna!" suara itu terdengar jelas, Anna segera berlari menuju piano yang ada di ujung ruangan. Dua pstol sudah dikeluarkan, Anna akan menghancurkan piano itu.


Satu kaki Barrow sudah terangkat, dia sudah siap melangkah maju tentunya dengan tatapan kosong.


"Cepat, Kak Barrow!!" sosok arwah yang menyerupai Jenie masih memannggil dan melambai. Pria itu pasti menjadi mangsanya.


"Sadarlah, Barrow!" teriak Anna lalu Anna menembak piano itu berkali-kali.


Arwah yang menyerupai Jenie sangat marah, Barrow tersadar dari hipnotis secara tiba-tiba karena suara piano yang dia dengar mendadak menghilang namun dia terkejut saat tahu dia berada di mana. Barrow berteriak, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tidak ada yang bisa menahannya, tubuhnya terjun ke bawah.


Anna berhenti menembak saat mendengar suara teriakan Barrow. Dia segera berlari meninggalkan piano yang sudah dia rusak walau belum rusak total.


"Anna, help!!" teriak Barrow. Tubuhnya jatuh ke bawah namun dia berhasil meraih pagar pembatas menggunakan satu tangan.


"Anna!" Barrow berteriak, dia berusaha mengangkat tubuhnya agar satu tangannya bisa meraih pagar pembatas sehingga dia bisa naik ke atas namun dia merasa tubuhnya berat. Barrow melihat ke bawah namun gelap. Ludah ditelan dengan kasar, kenapa dia merasa ada yang merangkak naik dari kakinya?


"Anna, cepat tolong aku?" teriak Barrow ketakutan. Tidak salah lagi, ada yang merangkak naik bahkan suara tawa mengerikan dapat dia dengar.


"Bertahanlah, Barrow!!" teriak Anna. Dia sudah berada di bawah lalu Anna mengarahkan senternya ke atas untuk memastikan apakah Barrow benar-benar berada di atas atau tidak.


Anna terkejut, walau cahaya senter tidak begitu menjangkau sampai ke atas namun dia bisa melihat Barrow sedang bergentung sambil memegangi pagar pembatas tapi siapa yang sedang merangkak di kaki Barrow?


"Bertahanlah, aku akan ke sana!" teriak Anna.


Barrow Diam, dia tidak bisa bergerak. Berkat sinar senter Anna, dia bisa melihat sosok mengerikan dengan wajah retak sedang merangkak naik ke atas tubuhnya. Barrow mengumpat, rasanya sangat berat sehingga satu tangannya tidak kuat menahan beban tubuhnya dan arwah itu.


"Ikutlah denganku, Kak Barrow," sosok mengerikan itu masih meniru suara Jenie.


"Pergi, kau! Jangan meniru suara adikku!" teriak Barrow marah. Sungguh tangannya sudah tidak kuat lagi.


"Apa Kakak tidak mau ikut denganku?" kini sosok itu juga menyerupai Jenie.


"Menyingkir dari tubuhku!" Barrow benar-benar kesal, tangannya sudah gemetar.


"Hi... Hi... Hi...," sosok itu justru tertawa dan semakin merangkak naik ke atas tubuh Barrow.


Anna menaiki tangga yang berbentuk spiral dan terlihat terengah, tangga itu bagaikan tiada ujungnya. Kedua kaki sudah terasa pegal luar biasa, napasnya bahkan sudah memburu.


"Anna, jika kau tidak cepat datang maka aku benar-benar akan mati!" teriak Barrow. Sial, hantu itu semakin terasa berat sehingga membuatnya merasa sebentar lagi peganggan tangannya akan terlepas.


Anna terus berlari, menuju lantai atas. Dia tidak menyangka mereka akan diperdaya seperti itu, dia juga tidak menduga akan terpedaya oleh sosok Nick dan sialnya dia bahkan berhalusinasi bercinta dengan Nick. Sepertinya dia sudah gila akibat kesepian. Apakah para hantu itu menyerang kelemahan mereka? Tapi jika menyerang kelemahan mereka, kenapa dia harus diperdaya dengan wujud Nick?


Sungguh luar biasa, dia diperdaya dua kali oleh arwah menggunakan sosok pria itu. Sepertinya dia begitu terpikat oleh pesonanya sehingga para arwah itu memanfaatkan hal demikian.


Barrow sudah pasrah, tangan yang memegangi pagar pembatas benar-benar sudah tidak mampu. Dia sudah berada di ujung maut. Sepertinya dia akan mati di sana, dia rasa kali ini dia tidak akan bisa lolos. Tapi dia tidak menyesal, setidaknya dia mati saat ada Anna.


Keringat mengalir dari dahi, tawa arwah yang ingin mengambil nyawanya terdengar bahkan arwah itu masih menggunakan suara dan wajah Jenie. Dia benar-benar menunggu kematian Barrow.


"Ayo ikut denganku, kak Barrow. Lepaskan pagangannnya. Kita tidak akan terpisah lagi, kita akan selalu bersama," arwah itu merayu dirinya agar Barrow memilih melepaskan tangannya.


"Kau bukan adikku, jadi pergi!"


"Ini aku, Jenie. Ayo ikut aku, Kak," ucap arwah itu memelas.


"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin membawanya!" teriak Anna.


Barrow mendongak, Anna meraih tangannya dan pada saat itu juga arwah yang menempel pada tubuh Barrow terpental jauh.


Teriakan arwah yang marah terdengar, tiba-tiba Barrow merasa tubuhnya tidak seberat tadi. Anna menarik tangannya dengan sekuat tenaga sehinga Barrow dapat meraih pagar pembatas. Anna masih menariknya hingga Barrow bisa naik ke atas.


Mereka berdua terengah, Anna bersandar di pagar sedangkan Barrow berbaring di lantai yang kotor.


"Aku masih hidup, sudah dua kali tapi aku masih hidup," ucap Barrow di sela napasnya yang hampir habis.


"Siapa yang kau lihat, Barrow?" tanya Anna.


"Adikku yang sudah meninggal. Apa kau juga diperdaya, Anna?" Barrow melihat ke arahnya.


"Yeah, tapi yang aku lihat adalah Nick Devan!"


"Why? Apa kau menyukainya?"


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu!"


"Sial, saingan cinta yang berat!" umpat Barrow.


Mereka berdua diam, mereka benar-benar butuh istirahat. Cukup lama mereka seperti itu namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dentuman keras dari bawah sana.


Barrow terduduk akibat terkejut, sedangkan Anna memasang telinga dengan baik untuk mendengar suara yang tidak asing baginya.


Suara dentuman keras kembali terdengar disusul dengan suara mobil. Anna dan Barrow beranjak, sial. Sepertinya ada orang lain selain mereka di tempat itu dan jangan katakan arwah yang mengecoh mereka sedari tadi hanya untuk mengalihkan perhatian mereka dari misi mereka mencari kotak yang lagi-lagi sudah memakan korban.