
Mariana mencoba merasakan keberadaan Barrow namun keberadaan pemuda itu tidak bisa dia rasakan lagi. Keberadaan Barrow lenyap sejak ada penyusup, dia bahkan tidak bisa merasakan keberadaan penyusup itu lagi. Apakah Barrow sudah membunuhnya? Atau penyusup itu sudah melarikan diri?
Untuk memastikannya, Mariana mendatangi rumah tua itu. Dia harus memastikan semuanya aman sampai waktunya tiba. Tidak ada yang boleh mengganggu hari kebangkitannya. Tidak ada yang boleh tahu kelemahannya.
Mariana sudah berdiri di depan rumah tua itu, di dalam pelindung yang dia buat agar tidak ada penyusup lagi. Tatapan matanya yang hitam kelam melihat sekitar tempat itu. Aneh, sosok Barrow tidak ada. Kehadirannya tidak bisa dia rasakan sama sekali. Ke mana pemuda itu pergi?
Mariana tidak akan bisa merasakan keberadaan Barrow dan merasakan kehadirannya karena jimat yang disimpan Anna di tubuh Barrow. Mariana bahkan tidak bisa melihat mobil Anna yang berada tidak jauh darinya karena Anna memasang jimat pelindung di dalam mobilnya.
Mata Mariana terpejam, dia kembali mencari keberadaan Barrow di dalam pelindung yang dia buat. Mariana bahkan melihat tempat itu dengan teliti namun hanya ada jejak bekas peluru yang di tembakan oleh Barrow.
Karena ingin tahu apa yang terjadi, Mariana mencari kelima arwah yang dia sekap di dalam rumah tua tersebut. Mereka pasti tahu apa yang telah terjadi di tempat itu. Mariana masuk ke dalam rumah tua itu dan begitu melihatnya, kelima arwah itu bersembunyi karena takut. Nenek Tua yang ditugaskan oleh Mariana untuk memantau kelima arwah itu, muncul dari dinding bagaikan asap hitam yang tipis lalu terbang menghampiri Mariana.
"Apa yang membuat Nyonya datang kemari?" nenek tua itu membungkuk, sebagai tanda hormat.
"Keluarlah!" teriak Mariana lantang sambil mengibaskan satu tangannya ke samping sehingga benda-benda yang ada di rumah itu terbang dan menghantam dinding.
Kelima arwah yang bersembunyi keluar dan terlihat ketakutan. Kelima arwah itu terbang mendekati Mariana dan tampak gemetar. Mereka tidak begitu berani mendekat sehingga mereka berdiri di sisi ruangan saja.
"Apa kalian melihat pemuda yang aku tempatkan untuk menjaga tempat ini?"
"Ti-Tidak!" jawab mereka serempak.
"Tidak? Apa kalian tidak melihat apa pun?" Mariana berteriak sehingga kelima arwah itu semakin ketakutan.
"Tidak, Nyonya. Kami hanya melihat pemuda itu menyerang sesuatu yang tidak terlihat lalu pemuda itu menghilang," jawab salah satu dari arwah tersebut.
"Apa?" Mariana mencoba mengartikan apa yang sedang terjadi, pemuda yang tiba-tiba menghilang sangatlah aneh di tambah penyusup yang tidak bisa dia rasakan keberadaannya dan tidak bisa dia kenali.
Arwah Mariana terbang keluar dari rumah, lalu berdiri di hadapan pohon tua yang sebagai penghubung antara dunia manusia dan alam gaib. Apakah ada yang masuk ke dalam sana melalui pintu rahasia yang ada di pohon? Cukup lama dia berdiri di hadapan pohon itu namun sosoknya mendadak menghilang karena dia sudah kembali ke rumah tua dan sudah berdiri di hadapan kelima arwah yang ketakutan.
"Apa kalian melihat ada yang membuka pintu di pohon tua itu?" tanya Mariana dengan suara mengerikannya sehingga membuat kelima arwah itu berlutut di hadapannya karena takut.
"Tidak, Nyonya. Tidak ada siapa pun yang membuka pintu di pohon itu. Kami hanya melihat anak muda itu menyerang sesuatu lalu setelah itu tidak terjadi apa pun lagi."
Mariana melihat ke arah Nenek tua yang dia percaya karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kelima arwah tersebut. Nenek tua itu mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh kelima arwah tersebut.
Semua yang terjadi terasa aneh, Mariana hendak menginterogasi kelima arwah itu karena dia merasa mereka berbohong namun suara panggilan putranya menghentikan niat Mariana.
"Mom, di mana kau? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," terdengar suara putranya yang memanggil.
"Aku akan kembali lagi nanti, jika aku mendapati kalian semua berbohong maka bersiaplah, aku akan melemparkan kalian ke dalam api abadi sehingga kalian akan terbakar di sana untuk selamanya," ancam Mariana, tubuhnya melayang ke belakang lalu hilang tak membekas.
Kelima arwah ketakutan, lalu mereka melihat ke arah nenek tua yang juga melayang menuju dinding dan hilang di sana. Apakah mereka benar-benar tidak tahu dan tidak melihat apa pun?
Mariana kembali untuk menemui putranya, arwahnya keluar dari lukisan yang ada di dinding. Sesungguhnya lukisan itu adalah sebuah jalan untuknya pergi ke rumah tua dengan mudah. Putranya pun bisa melewati lukisan tersebut. Mariana terbang mendekati putranya yang selalu menunggunya di depan jendela, tatapan mata putranya tidak lepas dari seseorang yang berada di bawah sana.
"Apa yang ingin kau bicarakan, anakku?" tanya Mariana.
"Aku hanya ingin tahu, apa kau masih tidak bisa merasakan keberadaan jiwa Anna Baker? Jika kau masih tidak bisa merasakannya, bukankah kita harus mencari tumbal lain untuk menyempurnakan tumbal yang sudah ada?"
"Kau tidak perlu khawatir, anakku. Trik apa pun yang dia mainkan, dia tidak akan bisa lari ke mana pun!" ucap ibunya.
"Apa kau punya rencana, Mom?"
Seringai mengerikan menghiasi wajah Mariana yang memang sudah menakutkan. Tentu saja dia punya rencana. Sekali pun Anna Baker mengelabui dirinya dengan berpura-pura menjadi boneka hidup tapi dia tidak akan mudah terkecoh. Dia tetap akan mendapatkan Anna seperti yang dia inginkan bahkan Anna akan datang padanya untuk menyerahkan nyawanya tanpa perlu dia pinta.
"Dengarkan baik-baik, dia memiliki kelemahan. Dia tidak sehebat yang kita bayangkan jadi kita tidak perlu takut dengannya. Secara kebetulan saja dia memiliki keistimewaan dan aku memerlukan keistimewaannya itu tapi dia tetaplah manusia biasa yang memiliki kelemahan jadi kita harus memanfaatkan kelemahannya itu. Saat malam bulan purnama, dia yang akan datang padaku dengan senang hati dan menyerahkan jiwa murninya padaku!"
"Apakah maksud Mommy?" putranya berpaling, melihat ke arah ibunya.
"Yeah.... Anakku. Keabadian, kecantikan dan ketampanan yang kita miliki saat ini serta seluruh dunia akan berada di dalam genggaman kita setelah malam purnama oleh sebab itu, mainkan peranmu dengan baik sampai tujuan kita tercapai!"
"Lalu bagaimana dengan Natalie?"
"Kau tidak perlu khawatir, dia akan memainkan perannya dengan baik. Dia tidak akan bisa lepas dari belengguku. Semua yang ada di bawah kendaliku adalah budak yang tidak akan bisa melarikan diri dariku. Natalie adalah pion yang berharga karena dia dan Anna Baker yang akan menyempurnakan kebangkitanku nanti."
"Aku sudah tidak sabar menunggu kebangkitanmu, Mom. Aku akan menjalankan tugasku dengan baik sampai waktu itu tiba."
"Bagus!" seringai licik kembali menghiasi wajah Mariana. Dia pasti akan bangkit abadi tanpa ada yang bisa mencegah karena tidak ada yang bisa membunuhnya selain pisau Artsbond yang sudah dia sembunyikan di alam gaib. Tidak akan ada yang bisa menemukan keberadaan pisau itu tapi sayangnya, sang agen yang dia remehkan sedang mengacau di alam itu tanpa sepengetahuannya dan Mariana tidak kembali ke rumah tua untuk mencari tahu lebih jauh apa yang telah terjadi di sana.