
Anna dan Barrow melangkah perlahan melewati makam yang ada, mereka melihat makam yang mereka lewati satu persatu dengan teliti namun makam yang ada di sana, tidak memiliki nama. Sepertinya ada yang aneh, Anna pun melangkah ke arah makam lain dan melihatnya dengan teliti. Semua makan itu berbentuk sama. Tidak ada yang beda sama sekali.
Barrow pun melihat makam itu dengan teliti, tidak ada yang berbeda. Semua pun sama. Aneh, apa makam itu sengaja dibuat sama untuk mengalihkan perhatian?
"Semua makam ini terlihat aneh, Anna," teriaknya karena jarak mereka yang cukup jauh.
"Aku tahu, Barrow," Anna pun berteriak.
Memang semua makam itu terlihat aneh, tidak ada perbedaan yang bisa membedakan antara makam yang satu dengan makam yang lainnya. Barrow melangkah mendekati Anna, namun dia masih melihat makam yang dia lalui.
"Bagaimana kita mencarinya?" tanyanya.
"Entahlah, mungkin kita perlu menumbalkan sesuatu untuk menemukannya," ucap Anna asal.
"Tumbal? Apa yang harus kita tumbalkan?"
"Aku lihat si payung merah suka dengan laki-laki tampan."
"Hei, apa maksud perkataanmu?" entah kenapa dia jadi curiga dengan perkataan Anna.
"Apa kau tidak mengerti, Barrow. Aku mengajakmu karena kau harus menjadi tumbal. Kau harus berbaring di kelilingi lilin lalu aku akan melakukan ritual untuk membebaskan jiwanya."
"Apa kau serius?"
"Yes, sebab itulah aku mengajakmu."
"Sial, aku selalu mendapatkan bagian tidak menyenangkan!"
Anna terkekeh, tentu saja apa yang dia katakan tidak benar. Dia hanya ingin menggoda Barrow saja. Lagi pula mereka perlu bercanda di situasi yang menyeramkan itu. Semoga tidak ada yang muncul dari dalam tanah lalu menarik kaki mereka berdua.
Jam yang melingkar di tangan pun dilihat, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Mereka hanya punya waktu setengah jam untuk mencari keberadaan makam Natalie.
"Serius, Barrow. Kita hanya punya waktu kurang lebih setengah jam saja."
"Apa? Bagaimana kita mencarinya di antara makam yang begitu banyak yang tidak berbeda sama sekali ini?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu!" Anna berharap mereka mendapat petunjuk.
Mereka sepakat untuk berpencar, mencari keberadaan makam Natalie. Anna ke sebelah kanan, sedangkan Barrow ke sebelah kiri. Walau semua makam itu tidak memiliki perbedaan tapi mereka yakin, pasti mereka bisa menemukan keberadaan makam Natalie.
Anna dan Barrow begitu serius, mereka pun sudah menjauh. Ini kesempatan bagi Anna untuk bertanya pada roh pelindungnya. Dia tidak bisa berkomunikasi jika ada Barrow karena dia tidak mau Barrow tahu bahwa dia memiliki roh pelindung.
"Apa kau tahu di mana makam Natalie?" tanya Anna dengan pelan.
"Hitunglah, Anna. Berhenti di tengah dan mulailah menghitung. Dua puluh lima dari arah kiri, lalu tujuh belas dari arah kanan. Tiga belas dari arah belakang lalu sebelas dari aras yang lain. Kau pasti akan menemukan keberadaan makam itu."
Anna melangkah ke tengah, melihat sekitarnya. Dia pun menghitung jumlah yang dikatakan oleh roh pelindungnya sambil melihat makam yang ada di bawahnya.
"Enam puluh enam?" tanya Anna.
"Ya, itu lambang setan. Cari makam dengan lambang setan karena hanya makam Natalia yang dikutuk dan jiwanya dibelenggu oleh Mariana."
"Baiklah, terima kasih," Anna mulai melangkah ke kiri, melangkah sambil menghitung jumlah makam menuju ke arah tengah. Dua puluh lima makam sudah dia lalui, sebuah tanda pun sudah dia buat. Barrow sangat heran melihat apa yang dia lakukan, Anna berlari ke kanan setelah menghitung dari arah kanan. Dia juga menghitung dan melakukan hal yang sama di sisi lainnya.
"Apa yang kau lakukan, Anna?" tanya Barrow.
Barrow benar-benar tidak mengerti karena Anna berlari ke sisi yang lain setelah menghitung lalu dia membuat tanda di sebuah makam. Anna sudah selesai menghitung, enam puluh enam makam dari segala sisi dan dari jumlah itu, dia dituntun pada sebuah makam yang ternyata sedikit berbeda. Anna melangkah mendekati makam tersebut, dan berjongkok di bawahnya. Senter mengarah ke batu nisan, Anna mengusapnya perlahan untuk menyingkirkan dedaunan yang menempel dan pada saat itu, angka enam puluh enam pun terlihat.
"Aku menemukannya, Barrow!" teriak Anna.
Barrow segera berlari ke arah Anna, tidak mungkin Anna bisa menemukan makam si payung merah di antara makam-makam yang sama persis itu.
"Bagaimana kau bisa tahu itu makam yang kita cari?" tanya Barrow.
"Memang ini makamnya, Barrow. Lihat, ada lambangnya," jawab Anna sambil menunjukkan angka 66 yang ada di batu nisan.
"Hanya lambang itu saja, bagaimana kau bisa yakin?"
"Entahlah, ada yang berbisik padaku dan mengatakan jika inikah makamnya."
"Ck, kau benar-benar menakutkan!" ransel yang Barrow bawa diletakkan di dekat makam Natalie.
"Sudah saatnya, sebaiknya kita bersiap untuk melakukan ritual," Anna juga melepaskan rasel yang dia bawa.
"Sial, aku benci ini. Apa kau benar-benar ingin menjadikan aku sebagai tumbal?" tanya Barrow, dia benar-benar menganggap ucapan Anna serius.
"Yes, segeralah bergegas dan buka semua bajumu!" goda Anna.
"What the hell?!" Barrow mengumpat dan tampak kesal.
Anna tertawa secara diam-diam. Sangat menyenangkan dapat menggoda Barrow. Anna mengeluarkan alat ritual yang dia butuhkan, lilin-lilin pun dipasang di sekeliling makam Natalie. Sejauh ini tidak ada rintangan dan dia harap tidak ada agar dia bisa membebaskan jiwa Natalie tanpa adanya kendala.
Anna meminta Barrow untuk membantunya memasang lilin yang dia bawa dan dan menyalakannya. Barrow masih saja menganggap ucapan Anna serius sehingga dia tampak enggan.
"Cepat, Barrow!" ucap Anna.
"Ck, jadi aku harus berbaring di atas makamnya dalam keadaan telanjang?"
"Kau benar-benar menganggap perkataanku serius. Aku hanya bercanda saja, jangan dianggap serius," ucap Anna.
"Sial, kau benar-benar menakuti aku!"
Anna terkekeh, dia kembali meminta Barrow untuk serius. Semua lilin sudah menyala, payung terkutuk pun diletakkan di atas makam Natalie. Anna mengajak Barrow untuk duduk, mereka harus menunggu waktu yang tepat yaitu tepat tengah malam.
Barrow menelan ludah karena saat itu mereka berada di tengah-tengah makam. Hanya cahaya lilin saja yang menerangi tempat itu karena semua penerangan Anna matikan. Suara burung hantu pun terdengar, suara lolongan serigala juga terdengar dari kejauhan.
Bulu roma meremang, Barrow melihat sekeliling karena dia takut ada yang bangkit dari dalam makam itu. Jujur saja tempat itu mengerikan apalagi kabut asap menyelimuti makam tersebut.
"Anna," Barrow menyenggol lengan Anna.
"Sttss!" Anna mengambil sesuatu, benda yang sudah dia siapkan juga mengambil pisau. Anna mengiris jarinya menggunakan pisau itu lalu meneteskan darahnya ke atas payung terkutuk yang menyegel jiwa Natalia sambil membacakan mantera.
Barrow benar-benar tidak mengerti, Anna sudah terlihat seperti seorang cenayang. Anna masih juga membaca mantera, udara dingin pun berhembus di sekitar mereka. Api lilin bergerak-gerak akibat hembusan angin ini.
Anna mengambil satu lilin lalu mengangkatnya, saat itu waktu sudah tepat menunjukkan pukul dua belas malam.
"Dengan darah yang aku persembahkan, aku membebaskan dirimu dari cengkraman penyihir jahat. Terbukalah rantai yang membelenggu jiwamu dan datanglah padaku!" teriak Anna lalu lilin yang ada di tangan dilemparkan ke atas payung yang ada di atas makam Natalie.
Payung mulai terbakar oleh api, Jiwa Natalie yang sedang terbelenggu dan tidak berdaya merasa ada sesuatu. Kekuatan Mariana yang membelenggu dirinya terasa memudar. Di saat dia belum mengerti dengan situasi, Prangg...... dia merasa belenggu yang selalu mengikatnya tiba-tiba hancur dan, Duaarrr.... makan Natalie meledak membuat Anna dan Barrow terkejut. Apakah ritualnya gagal?