
Suara tawa Mariana terdengar, Anna Baker benar-benar punya nyali. Ingin menahan semua pengikutnya? Sepertinya Anna Baker sedang berkhayal. Para pengikut Mariana pun tidak takut dan tidak bergeming sama sekali. Semua pengikutnya justru menatap ke arah Barrow dan Anna tanpa berkedip.
Teriakan Lucia dan ibunya terdengar, mereka merasa sedikit lega karena Anna datang ke tempat itu. Setidaknya ada harapan untuk mereka bebas dari tempat itu.
"Kak Anna, tolong lepaskan kami!" pinta Lucia memohon.
"Tolong bebaskan kami, Anna!" teriak Maria pula.
Anna tidak menjawab, Lucia dan ibunya aman tapi dia mana ibu dan bibinya? Dia harap mereka baik-baik saja walau di sandera di tempat lain.
"Kau benar-benar bernyali datang ke sini, Anna," ucap Mariana. Senyuman mengerikannya terukir di bibir, jika putranya gagal bernegosiasi pada wanita itu, maka akan dia bunuh tanpa ragu.
"Aku datang untuk membuat perhitungan denganmu, Mariana. Tapi sebelum itu kembalikan ibu dan bibiku!"
"Ha... Ha... Ha... Ha...!" Mariana kembali tertawa. Begitu mudahnya Anna meminta ibu dan bibinya dikembalikan? Apa dia mengira sedang meminta sebuah permen?
"Mereka akan baik-baik saja, Anna. Tapi semua itu tergantung dirimu," ucap Nick.
"Pria tua, turun sekarang. Aku akan menghajarmu!" Barrow mengarahkan senjata apinya ke arah Nick.
"Kau tidak ada urusannya dengan hal ini!" teriak Mariana. Sebuah kekuatan dilepaskan, tentunya kekuatan itu menghantam tubuh Barrow sehingga pemuda itu terpental ke belakang.
Barrow berteriak ketika tubuhnya menghantam dinding dengan keras, Anna terkejut melihat sang rekan yang diserang secara mendadak. Anna segara berlari untuk membantu Barrow yang sedang menahan rasa sakit di dada.
"Jangan memprovokasi, Barrow. Ikuti saja permainan. Kita harus pura-pura tidak berdaya dan harus lebih cerdik dari mereka apalagi mereka banyak," bisik Anna pelan.
"Maafkan aku, Anna. Aku terlalu gegabah karena aku sudah tidak sabar menendang pria tua itu!" ucap Barrow dengan pelan pula.
"Abaikan, yang terlihat bodoh belum tentu bodoh. kita berada di antara kumpulan penyamun tapi ketika junjungan mereka aku kalahkan, mereka akan menjadi seperti anak bebek yang kehilangan induknya jadi simpan tenaga kita untuk pertarungan yang sebenarnya. Bersiaplah, saat aku dan Natalie beraksi, pada saat itu pula giliran kau dan pasukan!" ucap Anna seraya menepuk bahu Barrow.
Barrow mengangguk, apa yang Anna ucapkan sangatlah benar. Dia terlalu gegabah dan emosi melihat si tua bangka yang telah menipu banyak orang.
"Apa maumu? Kenapa kau menyerangnya secara tiba-tiba?!" teriak Anna seraya melangkah mendekat.
"Aku ingin melakukan negosiasi denganmu, Anna. Ibu dan bibimu akan aku bebaskan tapi jika kau mau mengikuti permintaanku," ucap Nick.
"Aku tidak sudi berbasa basi denganmu, Nick. Sebaiknya bebaskan ibu dan bibiku karena mereka tidak terlibat akan hal ini!"
"Sebentar lagi kau tidak akan berkata demikian!" Nick mengangkat tangan dan pada saat itu terdengar suara mobil crane. Anna melihat ke arah datangnya suara di mana para pengikut Mariana mulai menyingkir.
Kedua mata Anna terbelalak saat melihat ibu dan bibinya tergantung di atas mobil crane. Kedua tangan mereka terikat dan mereka tergantung di tengah-tengah dan tampak tidak berdaya. Tidak hanya itu saja, ada sesuatu berada di bawah mereka. Salah seorang pengikut Mariana melempar sebatang obor yang dia bawa dan pada saat itu, api menyala di bawah ibu dan bibinya.
Ibu dan Bibinya ketakutan, mereka akan langsung terbakar jika jatuh ke bawah. Api berkobar semakin besar apalagi terkena tiupan api.
"Mom, Aunty!" Anna berlari untuk melihat keadaan ibunya namun anak buah Mariana menahan dirinya. Ibunya melihat ke bawah, di mana Anna sedang ditahan oleh anak buah Mariana.
"Anna, jangan pedulikan kami. Bunuh dia!" ucap ibunya dengan pelan. Hawa panas api yang ada bi bawah, mulai terasa. keadaan mereka benar-benar lemah karena mereka tidak diberi makan dan tidak diberi minum.
"Tungguhlah, aku pasti akan membebaskan kalian!" air mata mengalir, dia tidak sanggup melihat ibu dan bibinya diperlakukan seperti itu.
Air mata dihapus dengan kasar, Anna memutar langkah dan berbalik menatap ke arah Nick dengan tatapan penuh kebencian. Dia paling tidak suka ada sandera apalagi melibatkan orang yang lebih lemah karena itu tindakan seorang pengecut.
"Apa maumu, Nick. Lepaskan mereka berdua!" Anna sungguh kesal tapi dia harus memikirkan keadaan ibu dan bibinya.
"Cepat, Nick. kau membuang waktu!" ucap ibunya. Jangan sampai dia gagal bangkit karena keinginan putranya yang menginginkan agen itu. Tidak seharusnya dia membiarkan Nick jatuh hati apalagi pada musuh dan pada jiwa istimewa yang sangat dia inginkan. Semoga saja keinginan Nick tidak membawa mereka pada kehancuran.
"Aku tahu, Mom. Aku tidak mungkin melakukan kesalahan."
"Jika begitu bergegaslah. Jika kau tidak bisa membujuknya maka aku akan melakukan ritual tepat pada waktunya dan dia akan mati menjadi tumbalku. Jiwanya akan bergabung dengan jiwaku nanti!"
Nick mengangguk, kakinya melangkah turun dari altar pemujaan dan mendekati Anna namun langkahnya terhenti setelah berada beberapa jarak jauhnya dari Anna.
"Katakan, apa yang kau inginkan agar kau melepaskan ibu dan bibiku?!" teriak Anna lagi.
"Aku ingin kau menjadi istriku, Anna. Kau akan dilepaskan, begitu juga dengan ibu dan bibimu. Kemarilah, bergabunglah dengan kami dan berikan pisau Artsbond yang kau curi padaku!" Nick mengulurkan tangan ke arah Anna, berharap Anna menerima tawarannya dan memberikan pisau itu padanya.
"Tidak, tidak akan!" teriak Anna menolak.
"Kau tidak bisa menolak jika kau memang menginginkan mereka dalam keadaan hidup!" Nick mengangkat tangan, dan pada saat itu juga ikatan yang membelenggu ibu dan bibinya melonggar sehingga tubuh mereka terjun ke bawah.
Teriakan ibu dan bibinya terdengar, Anna terkejut dan segera berpaling untuk melihat ibunya dan sang bibi yang semakin jatuh ke bawah, di mana api berkobar semakin besar.
"Hentikan, Nick. Hentikan!" teriak Anna.
"Jika begitu pilihanmu hanya satu, Anna. Berikan pisau Artsbon itu pada mereka dan kemarilah. Kita akan memiliki kehidupan yang abadi dan kita berdua akan menjadi penerus ibuku yang abadi. Semua yang kau inginkan akan kau dapatkan, kemudaan, kecantikan dan kekayaan akan kau dapatkan jadi kemarilah. Putuskan sekarang karena waktu tidak banyak!"
"Jangan, Anna. Jangan!" teriak ibu dan bibinya.
"Jangan pedulikan kami, hancurkan penyihir jahat itu!" teriak ibunya.
"Tolong selamatkan aku, Kak Anna. Selamatkan aku dan ibuku," pinta Lucia sambil menangis.
"Sekarang, Anna!" teriak Nick.
"Jika aku memberikan pisau itu, kau akan menepati ucapanmu itu, bukan?" tanya Anna.
"Tentu saja, aku pasti membebaskan mereka!"
Anna menarik pisau Arstbond itu, Mariana tertawa terbahak karena rencana putranya berhasil. Pisau itu pun Anna berikan pada salah satu pengikut Mariana, sorakan mereka terdengar karena satu-satunya benda yang bisa membunuh Mariana sudah mereka dapatkan.
Anna melangkah ke arah Nick, ibu dan bibinya berteriak keras karena mereka kecewa dengan apa yang Anna lakukan. Lucia dan ibunya pun menangis histeris, mereka akan mati setelah ini. Anna mengikuti langkah Nick menuju altar, Natalie tidak bergeming sama sekali, sedangkan Barrow menatap Anna dengan tatapan curiga. Semudah itukah Anna memberikan benda berharga yang bisa menghabisi lawan? Entah kenapa dia merasa ada rencana tersembunyi apalagi dia tahu, Anna tidak mungkin sembarangan mengambil tindakan tanpa adanya rencana.