Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Aku Pasti Kembali


Dua pistol, empat selongsong peluru dan satu senjata bius sudah berada di atas meja. Satu buku dan dua pisau berada di samping pistol tersebut berserta dua senter. Ibu dan bibi Anna sangat heran melihat semua yang ada di atas meja.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah selesai makan, Anna menyiapkan semuanya karena malam ini juga dia akan pergi untuk mencari keberadaan pisau Arsbond dan keberadaan payung merah yang membelenggu jiwa Natalie. Dia tidak boleh menunda dan tidak boleh membuang waktu. Dia harus segera bergerak sebelum ada yang tahu terutama Mariana.


Dia memang belum mengatakan apa yang akan dia lakukan pada ibu dan bibinya, dia akan mengatakannya sebentar lagi setelah dia bersiap.


Anna kembali setelah mengambil beberapa jimat. Ibu dan bibinya menatapnya dengan tatapan heran. Apa Anna mendapatkan tugas malam ini?


"Kau mau pergi ke mana, Anna. Apa ada tugas?" tanya ibunya.


"Aku harus pergi untuk mencari keberadaan pisau itu, Mom."


"Apa kau sudah tahu di mana tempatnya?" tanya bibi pula.


"Ya, Nenek memberikan aku petunjuk lain. Semoga saja aku tidak salah menebak tempat itu," Anna mengambil pistol dan menyelipkannya di pinggang begitu juga dengan pisau.


Empat selongsong senjata api dimasukan ke dalam saku celana. Buku di gulung lalu diselipkan di kantong yang ada di sisi kanan. Dua senter juga di masukkan ke dalam kantong celana sehingga empat kantong celananya menjadi penuh.


Ibu dan bibinya saling pandang, Anna membawa begitu banyak perlengkapan bahkan salib juga air suci yang dia ambil di gereja Trinity juga dia bawa. Dia harus membawa perlengkapan karena dia harus pergi ke alam gaib. Kali ini tidak ada cahaya yang menuntun, dia harus bisa masuk dan keluar sendiri.


"Begitu banyak yang kau bawa, Anna. Sebenarnya kau mau ke mana?" tanya ibunya.


"Alam gaib!"


"Apa??" ibu dan bibinya terkejut mendengar apa yang Anna katakan.


"Jangan bercanda, Anna. Dari mana kau tahu kedua benda itu ada di alam gaib dan bagaimana kau bisa masuk ke dalam alam itu? Jangan katakan kau akan melakukan ritual untuk masuk ke dalam alam itu karena sangat berbaha!" ucap ibunya.


"Teka teki itu menuntun aku ke alam itu, Mom. Aku yakin nenek dan roh pelindungku tidak mungkin berbohong dan aku yakin jawaban dari teka teki itu adalah alam gaib. Kali ini tidak ada ritual apa pun seperti waktu itu karena aku akan masuk sendiri," jawab Anna.


"Caranya? Bagaimana caranya kau masuk ke alam itu dan bagaimana jika tebakanmu salah?" kini bibinya yang bertanya.


"Aku tahu jalannya, Aunty. Semoga saja aku tidak salah tempat dan semoga saja aku menemukan jalannya."


"Tidak, Anna. Kau tidak boleh masuk ke alam itu!" cegah ibunya. Demi apa pun, Anna tidak boleh masuk karena sangat berbahaya apalagi dunia gaib bukanlah dunia yang bersahabat untuk manusia dan juga bukan tempat untuk manusia datangi.


"Benar, Anna. Kau tidak akan bisa keluar lagi dari dunia itu!" ucap bibinya pula. Seperti kakaknya, dia tidak setuju Anna memasuki dunia gaib apalagi seorang diri karena sangatlah berbahaya. Jangan sampai Anna tidak bisa kembali seperti yang mereka takutkan.


"Aku harus melakukannya, Aunty. Jika aku tidak berusaha mencarinya maka aku tidak akan bisa menghentikan kebangkitan Mariana."


"Tapi itu sangat berbahaya, Anna. Mommy tidak mau kau dalam bahaya," ibunya benar-benar terlihat khawatir, semoga saja ada cara lain untuk Anna selain harus masuk ke dalam alam gaib.


"Tapi bagaimana kau mencarinya, Anna. Alam gaib pasti luas, tidak mungkin alam itu sebesar rumah ini jadi bagaimana kau mencarinya?" tanya bibinya.


"Aku tidak tahu, Aunty. Aku hanya bisa mengikuti kata hatiku saja. Aku sungguh tidak tahu bagaimana menemukan kedua benda itu tapi aku akan berusaha. Sudah aku katakan walau kemungkinannya kecil, tidak ada salahnya aku mencoba.


"Tapi, Anna?" ibunya masih tidak mengijinkan Anna untuk masuk ke dalam alam gaib.


"Tidak perlu khawatir, Mom. Aku pasti akan kembali. Aku berjanji pada kalian," ucapnya.


"Tidak, kau tidak boleh pergi!" dengan perasaan tidak menentu, sang ibu Julian Baker hanya bisa memeluk putrinya sambil berharap putrinya membatalkan niat untuk masuk ke alam tersebut.


Sang adik Amy juga berharap demikian tapi sepertinya Anna tidak mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam dunia yang tidak seharusnya dimasuki oleh manusia. Dengan perasaan berat, mereka harus melepaskan kepergian Anna yang entah akan pergi ke mana karena Anna tidak mengatakan ke mana dia akan pergi. Itu Anna lakukan agar ibu dan bibinya tidak mengambil jalan nekad yaitu menyusulnya.


"Kau harus kembali dengan kami, Anna. Kau harus kembali," ucap sang ibu sambil memeluk putrinya erat.


"Aku pasti akan kembali sebelum malam bulan purnama agar aku bisa menghentikan kebangkitan Mariana tapi satu hal yang aku ingin kalian lakukan, jaga diri kalian dan jangan keluar dari rumah jika tidak penting. Jangan pula lupa membawa jimat karena aku khawatir Mariana tidak saja mencari keberadaanku tapi dia juga mencari keberadaan kalian."


"Kami pasti akan berhati-hati, Anna. Kami justru mengkhawatirkan dirimu," ucap bibinya.


"Aku pasti baik-baik saja, percayalah padaku," Anna masih berusaha menyakinkan ibu dan bibinya.


Walau tidak ingin dan dengan perasaan berat, ibu dan bibinya terpaksa melepaskan kepergian Anna apalagi saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Anna pergi ke sebuah tempat, tempat yang pernah dia datangi dan tepat itu adalah rumah tua di mana dia dan Barrow menemukan kotak terkutuk itu.


Dia yakin rumah tua itulah yang dimaksud oleh teka teki tersebut dan memang rumah itu adalah gerbang dan penghubung antara dunia manusia dan juga alam gaib.


Tidak butuh lama, hanya setengah jam perjalanan dia sudah tiba. Anna menyembunyikan keberadaan mobilnya agar tidak ada yang tahu agar orang yang melihat tidak penasaran sehingga mendekati rumah tersebut karena dia khawatir akan terjadi sesuatu.


Kakinya mulai melangkah, mendekati rumah. Tiba-Tiba saja udara terasa dingin dan langit mendadak mendung. Kilat terlihat seperti menyambar di dalam awan yang gelap. Anna mengusap lengan, bulu roma meremang karena secara tiba-tiba tempat itu terasa mengerikan.


"Hii... Hi... Hi.. Hi...!" terdengar suara tawa mengerikan di sekitar hutan.


Anna melihat sekeliling dan menyinari tempat itu dengan senter yang dia bawa. Pepohonan tertiup angin dan lagi-lagi tawa mengerikan itu terdengar.


"Hii... Hii.. Hii.. Hiii....!" Tawa itu menggema sehingga seperti berada di sekitarnya. Anna menelan ludah, memberanikan diri untuk melangkah maju.


Pistol yang ada di pinggang ditarik, dia merasa ada seseorang di sana. Anna semakin melangkah maju namun langkahnya terhenti ketika seorang pria berdiri di hadapannya dengan senjata otomatis di tangan.


Mata Anna terbelalak, Barrow. Kini dia melangkah mundur karena Barrow terlihat aneh dan tidak main-main.