
Anna tersadar, dia pingsan sejenak saat terjatuh setelah melompat ke pintu. Dia tidak tahu terlempar ke mana karena gelap, senternya pun sudah tidak menyala lagi. Anna mencoba menarik tubuhnya, sakit sekali. Petualangan yang begitu panjang dan melelahkan. Semoga dia sudah kembali ke dunia manusia. Pisau yang ada di tangan disimpan ke dalam kantong celana, Anna pun memeriksa payung dan masih ada.
Anna menarik tubuhnya menuju setitik cahaya yang dia lihat dan cahaya itu berada tidak jauh darinya. Dia harap itu adalah jalan keluar untuknya. Semoga saja dia tidak bertemu dengan Mariana yang marah karena jika sampai hal itu terjadi maka apa yang dia lakukan akan sia-sia.
Jalan untuknya menuju setitik cahaya itu semakin mengecil, tiba-tiba tercium bau busuk yang berhembus dari lubang kecil yang dia lihat. Anna terus merangkak, dia harus keluar dari tempat itu. Dia pun sudah tidak peduli sekalipun di dalam lubang itu dipenuhi oleh binatang menjijikkan.
Anna sudah hendak mencapai cahaya itu, dia bahkan berusaha untuk keluar namun tidak jadi saat dia mendengar suara jeritan yang mengerikan dan sepertinya suara itu terdengar tidak jauh darinya.
"Ampun... Ampun!" terdengar jeritan menakutkan dan terdengar pilu.
Jeritan itu tentunya jeritan dari lima arwah yang sedang mendapatkan hukuman dari Mariana yang tidak terima mereka telah mengkhianati dirinya. Arwah si nenek tua tidak luput dari amarah Mariana. Jeritan mereka terdengar akibat rasa sakit luar bisa yang mereka rasakan.
"Beraninya kalian menipu aku?!" teriak Mariana marah. Dengan kekuatannya, Mariana menyiksa kelima arwah juga arwah nenek tua yang dia percayai selama ini.
"Kami benar-benar tidak melakukan apa pun, Nyonya. Kami tidak tahu apa pun!" teriak salah satu arwah itu.
"Diam!" Mariana berteriak lalu dia kembali menyiksa keenam arwah yang sudah berani menipu dirinya. Suara teriakan kesakitan mereka kembali terdengar, Anna benar-benar tidak berani keluar. Sekarang dia tahu jika dia berada di rumah tua tersebut.
Mariana melampiaskan amarahnya pada keenam arwah yang sudah berkhianat. Seandainya mereka tidak menipu dirinya, mungkin dia tidak akan kehilangan pisau Artsbond yang dia sembunyikan. Seandainya mereka mengatakan jika Anna Baker menyusup dan masuk ke alam gaib melalui pintu terlarang, maka dia akan mencegah wanita itu mengambil mengambil benda berharga yang dia sembunyikan dengan baik.
"Nyonya, kami benar-benar tidak mengetahui apa pun," ucap arwah si nenek tua.
"Diam! Aku begitu mempercayai dirimu tapi kau juga berkhianat!" Mariana memberikan hukuman pada arwah si nenek tua itu. Kelima arwah yang melihat hukuman yang didapatkan oleh arwah nenek tua itu ketakutan, mereka tidak menyangka Mariana begitu cepat datang dan memberi hukuman pada mereka.
"Kami benar-benar tidak tahu, Nyonya. Seperti dirimu yang tidak bisa merasakan keberadaannya, kami pun tidak bisa!" teriak arwah nenek tua itu.
Mariana menghentikan aksinya menghukum arwah si nenek tua, apakah benar? Dia memang tidak bisa merasakan keberadaan Anna Baker bahkan ketika dia datang untuk memeriksa. Jika dia tidak bisa merasakan keberadaan agen itu, apakah yang lainnya juga tidak bisa merasakan keberadaan Anna Baker seperti dirinya?
"Benar, Nyonya. Kami hanya melihat pemuda itu menyerang sesuatu tanpa bisa melihat apa yang dia serang," salah satu kelima arwah itu mencoba membenarkan apa yang diucapkan oleh arwah si nenek tua.
"Sial, Anna Baker. Dia semakin berbahaya!" Mariana berbalik, entah bagaimana cara Anna Baker membuat dirinya tidak bisa dia rasakan, yang jelas dia harus semakin mewaspadai agen tersebut.
"Tolong ampuni kami, Nyonya. Ampuni kami!" teriak para arwah yang masih berada di bawah siksaannya.
"Tidak ada kata ampun, nikmati siksaan itu untuk selamanya!" Mariana melayang pergi, meninggalkan para arwah yang menjerit kesakitan.
"Ampuni kami, Nyonya. Ampuni kami!" para arwah itu masih berteriak memohon namun Mariana tidak peduli dan melayang pergi.
Cukup lama Anna menunggu, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari lubang tersebut. Anna terkejut saat dia keluar dari sebuah lemari usang yang ada di rumah tua tersebut karena rumah itu memang terhubung dengan alam gaib.
"Sakiiiittt.... Pan....as!" teriak keenam arwah yang kesakitan.
Anna melangkah mengendap, dia berada di dalam sebuah kamar saat itu. Semoga saja Mariana sudah pergi sehingga dia bisa keluar dari rumah tersebut. Anna melangkah dengan hati-hati menuju pintu keluar. Dia masih ingat dimana letaknya. Suara teriakan kesakitan semakin terdengar pilu, keenam arwah itu benar-benar tersiksa dengan hukuman yang diberikan oleh Mariana.
"Panas.... Panas!" suara teriakan itu semakin dekat.
Anna mengintip, untuk melihat apa yang terjadi pada ruangan yang hendak dia lewati. Anna tampak terkejut melihat keenam arwah yang seperti sedang berada di atas bara api. keenam arwah itu seperti dibakar tapi api itu tidak membakar rumah atau pun lantai karena itu api yang berbeda.
Arwah nenek tua melihat ke arahnya, begitu juga dengan yang lain saat Anna masuk ke dalam ruangan itu. Anna melepaskan jimatnya agar mereka bisa menyadari keberadaannya, dia melakukan hal itu karena dia ingin tahu apakah ada yang bisa dia kakukan untuk membebaskan mereka.
"Ternyata benar kau?" ucap arwah nenek tua itu.
"Aku akan membebaskan kalian. Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan?" sungguh dia iba dengan keenam arwah yang sedang tersiksa itu.
"Percuma, api ini bukan api biasa yang bisa kau padamkan!"
"Sakit...Panas, tolong kami!" teriak kelima arwah itu.
"Aku akan menolong kalian, katakan apa yang bisa aku lakukan?" Anna melangkah mendekati mereka tapi lagi-lagi ada mantera pelindung yang dibuat oleh Mariana agar tidak ada yang bisa membebaskan keenam arwah tersebut.
"Sudah aku katakan, percuma. Bunuh Mariana dengan pisau itu jika kau ingin membebaskan kami tapi sebaiknya kau pergi sebelum Mariana kembali!" teriak arwah si nenek tua.
"Aku akan membunuhnya dan membebaskan kalian, aku berjanji," Anna melangkah mundur dan mengambil jimat yang dia letakkan tadi. Jimat kembali digunakan, dia tidak tega melihat keenam arwah yang sedang tersiksa dan kesakitan.
"Aku pasti membebaskan kalian dari belenggunya, aku berjanji pada kalian!" ucap Anna, air mata bahkan mengalir akibat rasa tidak tega.
"Pergi!" teriak arwah nenek tua tersebut.
Anna keluar dari ruangan, meninggalkan para arwah yang menjerit kesakitan. Dia pasti akan membunuh Mariana untuk membebaskan para arwah itu. Pasti akan dia lakukan. Anna melangkah menuju pintu keluar sambil menghapus air matanya yang masih mengalir. Suara teriakan kesakitan tidak juga terhenti tapi suara teriakan itu hanya terdengar di dalam rumah saja.
Suara itu tidak terdengar di luar rumah, itu karena mantera pelindung rumah yang membuat suara itu tidak terdengar. Lagi pula orang awam tidak akan bisa mendengar jeritan arwah-arwah tersebut. Anna melangkah melewati pintu tapi dia dikejutkan oleh tangan yang menariknya secara tiba-tiba dan tangan yang menutupi mulutnya. Siapa yang sedang berada di belakangnya saat ini?