
Arwah Mariana berdiri di depan jendela, matanya terpejam karena saat itu dia sedang berusaha merasakan keberadaan Anna. Keberadaan jiwa Anna yang tiba-tiba hilang membuatnya kesulitan mencari keberadaannya. Tentunya itu bukanlah hal baik baginya karena jiwa Anna paling dia butuhkan untuk kebangkitannya.
Kedua matanya terbuka, dia benar-benar tidak bisa merasakan keberadaan jiwa Anna. Apa si tua bangka itu telah menyembunyikan keberadaan Anna? Sungguh menyebalkan, sejak dulu dia tidak bisa menerobos ke dalam pertahanan yang si tua bangka itu buat bahkan kekuatannya menjadi melemah akibat mencoba menerobos pertahanan yang dibuat oleh si tua bangka itu. Jika bukan jiwa-jiwa yang diberikan oleh Natalie, maka dia tidak akan bisa bergerak bebas seperti itu lagi.
Sepertinya dia harus mengutus orang terdekat Anna untuk mencari keberadaan Anna Baker dan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Dia curiga ada campur tangan si tua bangka itu yang menyembunyikan keberadaan Anna. Dia juga curiga hal itu dilakukan agar dia tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan untuk menggagalkan kebangkitannya.
Mariana berpaling, melihat pemuda yang sedang terbelenggu. Sepertinya dia bisa menggunakan pemuda itu dan pion lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan jika dugaannya benar, mereka juga bisa mengelabui Anna sehingga Anna masuk ke dalam jebakannya.
Arwah Mariana melayang, mendekati pemuda tersebut. Perasaan sukanya pada Anna Baker akan dia manfaatkan apalagi dialah yang paling dekat dengan musuh yang harus dia waspadai.
"Barrow," seseorang berbisik memanggil, Barrow tersadar. Dia bagaikan terbangun dari tidur panjang sehingga Barrow butuh beberapa waktu untuk menyadari di mana dia berada.
"Barrow, apa kau tidak mendengar aku?"
Barrow melihat ke arah datangnya suara. Anna sedang berdiri di depan jendela dengan gaun tipis yang menerawang dan sialnya Anna sedang tidak menggunakan apa pun di balik gaun tipis itu sehingga Barrow dapat melihat isinya dengan jelas.
Barrow menelan ludah dan berpaling, mereka sedang berada di dalam sebuah kamar yang sangat mewah saat itu. Barrow bahkan baru sadar jika dia berada di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Apa yang sebenarnya terjadi? Barrow berusaha mengingat tapi dia tidak bisa mengingat apa pun.
"Apa yang kau lihat, Barrow?" Anna melangkah mendekat, gaun tipis yang dia gunakan tertiup oleh angin seolah-olah ada kipas angin di dekatnya.
"A-Anna, apa yang terjadi? Kenapa kita bisa berada di sini?" tanya Barrow heran. Sungguh dia tidak bisa mengingat apa pun.
Anna tertawa pelan, sambil naik ke atas ranjang. Barrow memundurkan tubuhnya, dia merasa ada yang aneh karena tapi dia tidak tahu apa.
"Kau benar-benar lupa, Barrow. Ini malam Natal, kau pernah berkata padaku kau ingin mengajak aku ke hotel untuk bercinta denganku dan di sinilah kita berada. Malam iniĀ kita akan menghabiskan waktu berdua seperti yang kau inginkan," Anna naik ke atas tubuh Barrow, duduk di atas tubuhnya.
Kedua tangan Anna bermain di dada Barrow, menggoda pemuda itu. Barrow mulai terbuai, Anna terlihat luar biasa malam ini. Tali gaun diturunkan, Barrow semakin tidak sabar sehingga pemuda itu menarik Anna dan membaringkannya ke atas ranjang.
"Oh, Anna. Aku sudah menunggu sejak lama. Malam ini kau akan menjadi milikku. Nick Devan tidak akan bisa merebutmu dariku!"
"Aku milikmu, Barrow. Aku tidak memiliki perasaan pada Nick," Anna mengusap wajah Barrow dengan perlahan, senyuman menghiasai wajahnya, " Jadikan aku sebagai milikmu malam ini, Barrow. Aku menginginkan dirimu," ucap Anna lagi.
"Aku tidak akan ragu!" bagaikan terhipnotis, Barrow menunduk dan mencium bibir Anna. Dia bahkan begitu bersemangat sehingga gaun tipis yang Anan gunakan ditarik hingga robek.
"Aku milikmu, Barrow. Jadikan aku sebagai milikmu!" Anna tersenyum, membiarkan Barrow menikmati tubuhnya.
Barrow sungguh terperdaya, dia tidak tahu sedang bercumbu dengan siapa. Wajah Anna bahkan berubah menjadi menyeramkan untuk sesaat, wajahnya terlihat hitam dan membusuk di bagian kanan namun Barrow tidak juga sadar jika dia sedang diperdaya oleh Mariana dan yang bercinta dengannya saat ini bukanlah Anna.
"Kau harus menjadi milikku, Anna. Kau harus menjadi milikku!" Barrow mengeluarkan kekuatan yang dia miliki, gairah yang mengebu-ngebu sudah tidak bisa dia tahan lagi apalagi dia memang sudah menginginkan Anna sejak lama. Dia bahkan tidak begitu memperhatikan sosok mengerikan yang sedang bercinta dengannya. Antara mimpi dan kenyataan itulah yang sedang Barrow rasakan.
Barrow berhenti, dia terlihat seperti orang linglung. Arwah Mariana yang menyerupai Anna kembali berusaha memperdaya dirinya.
"Kenapa kau berhenti. Barrow? Kita belum selesai dan aku belum puas!"
"Hentikan semua itu, Barrow. Jika tidak kau akan memberikan keturunan lain pada Mariana!" lagi-lagi ada yang berbicara, suara itu terdengar begitu jelas tapi dia tidak tahu.
"Barrow, kenapa kau berhenti?"
"Maafkan aku, Anna," Barrow melihat ke bawah, di mana Anna berada tapi dia terkejut melihat rupa Anna yang menakutkan. Matanya seolah-olah terbuka sehingga dia bisa melihat sosok mengerikan yang sedang bercinta dengannya. Barrow berteriak dan melompat turun, percintaan panas itu pun terhenti.
"Siapa kau? Kenapa kau menyerupai Anna?" teriak Barrow marah.
"Hi.. Hi... Hi.... Hi....!" tawa mengerikan terdengar, seluruh kamar yang tadinya terlihat mewah seketika berubah menjadi porak poranda. Ruangan itu tidak lebih seperti rumah kosong yang sudah ditinggalkan selama puluhan tahun.
Barrow melangkah mundur, saat sosok yang menyerupai Anna bangkit dari atas ranjang, sosok itu berdiri di atas ranjang namun dalam keadaan melayang. Seringai mengerikan menghiasi wajahnya yang menakutkan. Sosok itu pun terbang ke arah Barrow sehingga Barrow memundurkan langkahnya.
"Jangan mendekat, pergi kau!" teriak Barrow. Gila, dia baru saja bercinta dengan hantu.
"Kenapa, Barrow? Apa karena rupaku ini sehingga kau tidak mau melanjutkannya?" arwah Mariana terbang mengitari Barrow, "Atau kau lebih bernafsu dengan sosok ini," kini dia kembali berubah menjadi Anna dengan tubuhnya yang polos.
"Pergi!" teriak Barrow marah.
"Oh, i'm so sad!" arwah Mariana pura-pura sedih dan melayang menuju ranjang. Arwah Mariana berbaring di atas ranjang dan membuka kedua kakinya di hadapan Barrow untuk menggodanya.
"Kemarilah, Barrow. Aku tahu kau menginginkan hal ini!" godanya.
"Kau tidak akan bisa menipu aku untuk kedua kalinya!" Barrow memutar langkah, dia harus pergi dari ruangan mengerikan itu namun langkahnya terhenti dan tubuhnya menjadi kaku. Barrow tidak bisa bergerak, sedangkan arwah Mariana melayang mendekatinya.
"Jangan kira kau bisa lari dari belengguku!" teriak Mariana. Kini dia sudah kembali menjadi rupanya dengan gaun hitam yang selalu dia kenakan.
"A-Apa maumu?" tanya Barrow. Matanya tidak lepas dari sosok Mariana yang menakutkan.
"Kau budakku, kau harus menjalankan apa pun perintahku!" satu jari Mariana berada di dahi Barrow. Bagaikan ada kekuatan yang aneh, Barrow terkejut lalu dia terjatuh. Mariana melayang mundur, menunggu Barrow kembali sadar. Tidak perlu menunggu lama, Barrow sudah berdiri tegak dengan tatapan kosong.
"Aku akan melakukan apa pun yang Mariana perintahkan!" ucap Barrow.
"Bagus, kau memang budak yang sempurna!" Mariana melayang mendekati Barrow. Pemuda itu adalah pion yang sempurna untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Anna dan mencari tahu, apakah Anna sedang menipu dirinya atau tidak karena dia tidak mau kebangkitan yang dia nantikan selama seratus tahun menjadi gagal.