
Natalie kembali ke tempatnya semula, berpura-pura masih berada di dalam belenggu Mariana. Beruntungnya Natalie cepat kembali karena Mariana merasa ada yang aneh, dia merasa belenggu yang dia gunakan untuk membelenggu jiwa Natalie sudah tidak ada.
Natalie berpura-pura lemah, wajah mengerikannya kembali lagi. Mariana mendekatinya dan melihatnya, budak itu terlihat seperti biasa. Apa ada yang salah? Dagu Natalie diangkat, Mariana menatapnya tajam. Natalie juga menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Tinggal sedikit lagi, hanya tinggal sedikit saja maka penyihir jahat itu akan musnah.
"Apa ada yang kau lakukan tanpa sepengetahuanku, Natalie?"
"Ti-Tidak, aku tidak melakukan apa pun!" Natalie tampak ketakutan.
"Lalu kenapa aku merasa ada yang melepaskan belenggumu?" Mariana masih menatapnya curiga.
"Jika belengguku terlepas, untuk apa aku berada du sini? Aku pasti sudah pergi yang jauh," dusta Natalie.
"Baiklah, awas jika kau berani macam-macam seperti waktu itu yang hampir saja membocorkan rahasiaku pada Anna Baker. Kali ini aku tidak akan mengurung dirimu saja tapi aku akan membakar jiwamu di dalam api abadi seperti mereka yang mengkhianati aku!" Mariana mendorong dagu Natalie dengan kasar.
"Tidak, aku tidak berani. Aku tidak akan mengkhianati dirimu," ucap Natalie ketakutan.
"Bagus, karena jika kau berani maka aku tidak akan ragu!" Mariana melayang pergi, dia sungguh tidak curiga karena Natalie masih berada di tempat itu dan dalam keadaan tidak berdaya.
Natalie tampak lega, apalagi Mariana sudah melayang pergi. Dia akan mencari tahu di mana tempat ritual itu dan mengatakan hal itu pada Anna. Dia harus bergerak hati-hati agar Mariana dan Nick tidak tahu jika dia sudah bebas dan agar Mariana tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh Anna. Lagi pula tinggal menunggu hari saja, semoga saja Anna sudah siap.
Anna baru saja tiba di rumah dengan Barrow, tentunya mereka berdua lelah luar biasa. Jalan kembali juga tidak mudah, mereka harus mencari tanda yang mereka buat untuk sampai pada mobil mereka. Cukup lama mereka mencari tapi pada akhirnya, tanda yang mereka buat pun ditemukan.
Mereka tiba di rumah saat waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, Anna dan Barrow segera mandi dan tidur. Rasa kantuk sudah tidak bisa ditahan lagi, mereka pun tertidur sampai pukul satu siang. Itu wajar, mereka menghabiskan malam mereka di hutan sehingga mereka benar-benar butuh tidur.
Suara panggilan seseorang, membangunkan Anna dari tidurnya. Anna tampak enggan namun yang memanggilnya adalah Natalie. Anna segera duduk di atas ranjang, walau mengantuk tapi dia tahu Natalie datang untuk memberinya informasi.
"Maaf aku membangunkan tidurmu, Anna," ucap Natalie.
"Tidak masalah, katakan padaku, apa yang membuatmu datang ke sini?"
"Tentu saja membawa kamar untukmu, Anna. Mariana sempat curiga belenggu yang membelenggu jiwaku sudah terlepas tapi aku masih berhasil mengelabuinya."
"Itu bagus, apa kau sudah mendapatkan petunjuk di mana ritual kebangkitan Mariana akan terjadi?"
"Aku mendapat kabar kemungkinan ritual itu dilakukan di kastil tua tapi aku lebih yakin jika ritual itu akan diadakan di rumah tua itu karena di sana adalah gerbang menuju dunia orang mati," jawab Natalie.
"kau benar, aku rasa memang di sana tempat ritual itu akan dilaksanakan," Anna menyetujui perkataan Natalie.
"Aku akan mencari tahu hal ini lebih lanjut, Mariana dan putranya yang tua bangka itu pasti akan bertemu jadi aku akan mengikuti mereka dan mencari tahu," ucap Natalie.
"Sebaiknya jangan mengikuti mereka. Kau harus berhati-hati, jangan sampai kau tertangkap. Jika sampai hal itu terjadi maka aku yakin dia akan melenyapkan jiwamu atau dia akan menyiksa dirimu seperti yang dia lakukan pada kelima arwah yang ada di rumah tua itu!"
"Aku tahu, aku akan mengelabui mereka sehingga mereka tidak mengenali aku!" Natalie berputar untuk merubah wujudnya. Kini dia sudah berubah menjadi seorang nenek tua dengan tubuh bungkuk dan muka yang dipenuhi oleh bisul-bisul yang sudah pecah.
"Bagaimana?" tanyanya, suaranya pun sudah seperti suara nenek-nenek.
"Bagus, kau sudah seperti penyihir jahat tapi kau akan tetap ketahuan," ucap Anna.
"Aku hanya bercanda, aku akan merasuki salah satu dari pengikutnya agar Mariana tidak tahu sama sekali. Malam ini semua pengikutnya akan berkumpul untuk melakukan pertemuan jadi aku akan merasuki salah satu dari mereka."
"Itu lebih bagus, Natalie. Sebaiknya tidak mencolok agar tidak dicurigai."
"Kau benar, aku akan?" ucapan Natalie terhenti karena pintu yang tiba-tiba terbuka.
"Anna, apa kau tidak?" Barrow yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar pun terkejut melihat sosok mengerikan Natalie.
"Dia bilang ingin berendam denganmu untuk membersihkan bisul di tubuhnya, Barrow," goda Anna.
"Tidak, aku tidak mau!" tolak Barrow.
"Ayolah pemuda tampan," suara Natalie masih seperti suara nenek-nenek, "Aku melihatmu di hutan dan tertarik denganmu jadi bantulah aku untuk membersihkan tubuhku ini. Hanya pria tampan dan gagah seperti dirimu saja yang bisa membersihkan luka-lukaku ini. Jadi marilah berendam denganku," goda Natalie.
"Oh, no. Aku tidak sudi!" Barrow memutar langkahnya, "Aku tidak sudi dengan nenek-nenek!" teriaknya sebelum masuk ke dalam kamar.
Anna tertawa terbahak, Natalie juga demikian. Sangat menyenangkan menggoda Barrow yang penakut tapi walau pria itu penakut, Barrow tidak pernah mundur saat melakukan apa pun. Dia hanya takut melihat sosok yang mengerikan itu saja, sebab itu dia lebih suka tidak bisa melihat mereka.
"Baiklah, aku harus pergi," sosok Natalie mulai terlihat menipis.
"Berhati-hatilah!" ucap Anna.
Natalie pun pergi, dia tidak akan melakukan kesalahan karena kesempatan mereka hanya sedikit. Seperti yang Anna katakan, jika dia tertangkap oleh Mariana, maka Mariana akan menyiksa jiwanya dan yang paling buruk adalah, Mariana akan melenyapkan jiwanya untuk selamanya.
Setelah Natalie pergi, Anna beranjak dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Anna keluar dari kamar untuk mencari Barrow yang masih berada di dalam kamarnya.
"Barrow," Anna memanggil sambil mengetuk pintu.
"Aku tidak mau keluar!" teriak Barrow.
"Ayolah, kita pergi makan siang," ucap Anna.
"Tapi tidak dengan nenek-nenek itu, Anna!"
"Natalie sudah pergi, dia hanya menakuti dirimu saja."
"Apa? Jadi dia Natalie?" Barrow jadi kesal karena dia dipermainkan oleh Anna dan arwah itu padahal mereka tahu dia tidak suka dengan hantu.
"Yeah... dia hanya menakuti dirimu saja, ayo keluar sekarang!" pinta Anna.
Barrow memang sudah melangkah menuju pintu dengan perasaan kesal. Anna masih menunggu di depan pintu dan ketika pintu sudah terbuka, Anna terkejut karena Barrow menarik tangannya lalu mencium bibirnya secara tiba-tiba.
Mata Ana melotot, Barrow melampiaskan kekesalan hatinya dengan ******* bibir Anna begitu lama sampai-sampai Anna hampir kehabisan napas. Anna memukul bahu Barrow, dia juga menendang kaki pria itu sampai Barrow melepaskan bibirnya.
"A-Apa kau gila?" teriak Anna sambil mengambil napas.
"Kalian menyebalkan karena telah menakuti aku," ucap Barrow kesal.
"Kami hanya bercanda, jangan marah seperti itu."
"Enak saja, bercanda kalian tidak lucu. Sebelum kita pergi melawan Mariana aku ingin kita melakukan perang di kamar mandi!"
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Anna tidak mengerti.
"Aku ingin sekarang!" Barrow menarik tangan Anna hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Barrow, jangan bercanda!" teriak Anna.
"Tidak, aku tidak bercanda!" pintu kamar tertutup, suara teriakan Anna masih terdengar namun tidak lama kemudian suara Anna tidak terdengar lagi. Tidak tahu apa yang mereka lakukan, yang tahu hanya hantu yang ada di sisi ruangan yang ada di dalam kamar tersebut.