
Kotak berbahaya yang sudah mengambil tumbal membuat mereka berdua kebingungan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa pada kotak itu. Mereka juga khawatir kotak itu menginginkan darah menusia sehingga ada manusia yang menjadi korban.
Barrow dan Anna saling bertukar pikiran sehingga sebuah keputusan diambil walau sesungguhnya Barrow lebih suka kotak itu dikembalikan ke rumah tua itu tapi Anna tidak mau usaha mereka untuk membawa kotak itu keluar menjadi sia-sia.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Barrow sibuk menggali tanah di belakang rumah Anna. Sesuai dengan kesepakatan, mereka akan mengubur kotak itu di belakang rumah Anna. Beberapa cctv juga dipasang karena Anna ingin tahu apakah akan terjadi sesuatu atau tidak.
Kotak itu hanya dikubur untuk sementara waktu saja karena Anna akan meminta ibunya datang besok. Mungkin ibunya lebih mengerti akan kotak itu dari pada dirinya. Barrow masih terus menggali, sedangkan Anna memasang cctv. Kotak itu akan dikubur dengan beberapa salib. Mereka melakukannya agar tidak ada yang tertarik dengan hawa jahat yang keluar dari kotak. Entah bermanfaat atau tidak, mereka tetap mencoba.
"Aku berharap kau mengajak aku bercinta, Anna. Tapi malam ini aku justru harus mencangkul!" gerutu Barrow. Anna memintanya mencangkul sedalam mungkin agar aura kotak tidak dirasakan oleh mahkluk hidup.
"Lakukan dengan benar, Barrow. Jangan memikirkan hal tidak senonoh!" Anna meliriknya dengan tatapan tajam.
"Ayolah, Anna. Waktu itu kau meminta aku menarik kotak ini keluar sekarang aku harus menguburnya. Kapan aku bisa menenggelamkan dirimu di atas ranjangku?"
"Setelah kasus ini selesai, aku akan bercinta denganmu!" Anna berkata demikian karena dia tahu Barrow hanya bercanda saja.
"Apa kau serius?" cangkul berhenti, Barrow melihat ke arah Anna yang sedang sibuk.
"Menurutmu, Barrow?"
"Oh, sial! Aku semakin bersemangat mencangkul!" ucapnya.
Anna menggeleng, dasar otak mesum. Di saat seperti itu bukannya serius bekerja tapi masih saja ingat dengan urusan ranjang. Anna kembali fokus namun dia merasa ada yang sedang mengawasi mereka. Tatapan matanya melihat sekitar hutan yang gelap. Dia bahkan menggunakan senter yang ada di tangan untuk melihat sekitar mereka.
"Ada apa? Jangan katakan ada hantu lagi," ucap Barrow.
"Sttss!" Anna meletakkan jari ke bibirnya, meminta Barrow untuk diam.
Barrow tampak tidak mengerti, Anna melangkah menuju sebuah pohon besar sambil memasang telinga baik-baik. Barrow bahkan mengikuti langkahnya karena dia ingin tahu.
"Ada apa?" tanya Barrow sambil berbisik.
"Apa kau tidak mendengar sesuatu?"
Barrow menggeleng karena dia tidak mendengar apa pun. Telinga dipasang dengan baik, mereka menangkap suara seperti ada yang melangkah di antar semak-semak.
Krak... Terdengar sesuatu di dalam hutan, seperti ada yang menginjak ranting pohon.
Anna mengarahkan senternya kembali, jangan katakan ada binatang yang mulai tertarik dengan aura jahat kotak itu. Suara itu kembali terdengar mendekat. Anna dan Barrow melangkah mundur. Mereka semakin yakin jika ada sesuatu yang mendekat.
Pistol yang ada di pinggang diambil, Barrow mengarahkannya ke arah hutan. Langkah mereka masih mundur ke belakang, Anna dan Barrow bahkan menelan ludahnya kasar. Napas jadi berat, jantung mereka bahkan berdegup kencang.
"Apa itu beruang?" tanya Barrow.
"Sepertinya," jawab Anna.
Mereka fokus ke depan namun mereka dikejutkan oleh suara dari arah belakang. Mereka berpaling, kini mereka berdua berdiri saling membelakangi. Anna juga mengambil pistol, mereka berdua tampak waspada.
Tidak saja suara-suara itu yang terdengar, angin kencang berhembus, menggoyang pepohonan yang ada di sekitar mereka. Anna dan Barrow kembali menelan ludah, bulu roma meremang. Angin semakin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering yang sudah berguguran.
"Hi.. Hi.... Hi.... Hi...!" tawa mengerikan itu terdengar diiringi dengan hembusan angin yang semakin kencang.
"Anna," Barrow semakin merinding mendengar tawa mengerikan itu.
Suara mengerikan itu terdengar dari segala sisi, mereka mengarahkan pistol mereka ke kanan lalu ke kiri. Tawa itu bahkan kencang, kedua kaki Barrow sudah gemetar akibat rasa takut yang melanda. Kedua tangan Anna yang sedang memegang pistol juga gemetar.
"Hi.. HI.. Hi.., Ha.. Ha.. Ha..!" tawa menggema, seperti ada beberapa orang yang tertawa.
"La-Lari, kita harus lari, Anna!" ucap Barrow tapi sesungguhnya dia tidak yakin bisa lari dengan kedua kaki yang gemetar.
"Aku tidak yakin, Barrow!" teriak Anna.
Mereka diteror dengan tawa mengerikan juga dengan angin kencang yang berhembus tiada henti. Belum lagi ada hal berbahaya yang mengintai mereka dari semak-semak. Barrow menutup kedua telinga, dia mulai tidak tahan dengan suara tawa mengerikan itu.
"Pergi kalian!" teriak Barrow dengan keras.
"Waspada, Barrow!" teriak Anna. Dia yakin ada bahaya lain yang mengintai mereka selain angin kencang dan tawa mengerikan itu.
"Aku sudah tidak tahan, Anna!" Barrow sungguh ingin berlari pergi namun kedua kaki tidaklah sanggup. Dia sudah tidak berkonsentrasi lagi dan pada saat itulah, sebuah geraman terdengar dan sesuatu melompat dari semak-semak untuk menyerang Barrow.
"Barrow, awas!" Anna mendorong tubuh Barrow dengan sekuat tenaga lalu menembak seekor beruang besar yang menyerang ke arah Barrow. Tidak saja satu ekor, tiga ekor beruang menyerang sekaligus.
Anna kewalahan, apalagi kondisinya yang tidak memungkinkan. Tawa mengerikan itu masih saja terdengar, Barrow pingsan bagaikan terhipnotis sehingga Anna harus melawan ketiga beruang besar yang ganas. Mata ketiga beruang itu tampak aneh, mata mereka merah menyala.
Luka di bagian perut Anna mengeluarkan darah. Semua yang terjadi gara-gara kotak misterius itu. Suara letusan senjata api memecah keheningan malam, ketiga beruang itu sulit untuk mati padahal Anna sudah menembaknya berkali-kali. Suara ketawa masih juga tidak berhenti, seperti menertawakan Anna.
"Sial, keluar kau jika kau berani!" teriak Anna.
"Kau harus mati, Anna!"
"Jika begitu keluar, kita adu kekuatan!" Anna sedang bersandar di sebuah pohon, sambil memegangi perutnya yang sakit. Dia sungguh tidak menduga, niat mereka untuk mengubur kotak itu justru berujung bahaya.
"Mari kita melakukan pertukaran, Anna," ucap sosok yang tidak mau menunjukkan rupanya.
"Pertukaran, apa maksudmu?" tanya Anna tidak mengerti.
"Jiwamu, atau jiwa sahabatmu. Kau bisa memilihnya, jadi ayo kita melakukan pertukaran."
"Apa?" Anna melihat ke arah Barrow yang sudah tidak bergerak. Sial, firasat buruk.
"Kembalikan sahabatku!" teriak Anna sambil menghampiri Barrow.
"Dua hari, jika kau tidak melakukan pertukaran denganku maka dia akan mati dan aku akan mendapatkan jiwanya dan juga jiwamu!"
"Jangan bercanda, kembalilkan Barrow!" teriak Anna.
"Hi... Hi... Hi... Hi...!" tawa mengerikan kembali terdengar disertai angin kencang.
"Kembalikan Barrow!" teriak Anna namun tawa itu semakin menghilang bahkan angin kencang yang bertiup tiba-tiba berhenti.
Ketiga beruang itu pun mati, Anna berteriak meminta jiwa Barrow dikembalikan namun suasana kembali hening, seperti tidak terjadi apa pun dan Barrow seperti sedang tertidur pulas.
Anna menangis sambil memeluk tubuh Barrow. Celaka, benar-benar celaka. Jiwa Barrow sedang terancam dan dia harus mengambil jiwa Barrow kembali, apa pun caranya. Tidak ada yang boleh mati, apalagi karena dirinya tapi bagaimana caranya? Apa dia benar-benar harus melakukan pertukaran untuk menyelamatkan Barrow?