Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Bersabarlah


Anna mengalami hipertemia akibat kedinginan, selama dibawa ke rumah sakit Anna sudah mendapatkan penanganan pertama.


Ibu dan bibinya menunggu dengan tidak sabar, ibunya bahkan menangis mengkhawatirkan dirinya. Beruntungnya ada Nick, mereka sangat berterima kasi pada pemuda itu. Nick bahkan tidak pulang sejak semalam karena mencemaskan keadaan Anna. Dia menginap di rumah dan begitu pagi menjelang Nick langsung meminta para petugas untuk mencari Anna.


Pemuda yang begitu tulus. Ibu dan Bibi Anna bisa melihat ketulusannya dan mengambil kesimpulan jika Nick serius dengan Anna. Semua itu terbukti dengan tindakan yang telah Nick tunjukkan. Tidak ada keraguan sama sekali pada diri Nick terhadap Anna.


Mereka sudah berada di dalam ruangan saat itu. Nick duduk di sisi Anna dan menggenggam tangannya. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah Anna yang pucat. Anna belum juga sadarakan diri, sebab itu Nick terlihat begitu cemas.


"Pulanglah untuk beristirahat, Nick. Kami akan mengabarimu jika Anna sudah sadar." ucap ibu Anna.


"Aku akan tetap berada di sini sampai Anna sadar, Aunty," tolak Nick.


"Tapi kau belum beristirahat sejak semalam jadi beristirahatlah walau sebentar. Kami akan menjaganya, sebab itu kau tidak perlu khawatir."


Nick melihat ke arah Anna yang tampak tidak berdaya, dia sangat tidak mau meninggalkan Anna dalam keadaan seperti itu tapi dia memang butuh istirahat.


"Pergilah, tidak apa-apa. Kami akan menjaganya dengan baik," ucap ibu Anna lagi.


"Baiklah," Nick beranjak dan memberikan sebuah kecupan di dahi Anna, "Aku akan kembali nanti, aku harap kau sudah sadar saat aku kembali," ucapnya lalu Nick kembali mencium dahi Anna.


Ibu Anna tersenyum, semoga saja kali ini hubungan putrinya dengan pemuda itu berhasil. Semoga tidak seperti sebelumnya, kandas dalam hitungan hari.


Nick pamit pulang walaupun dia enggan. Lagi pula dia perlu mandi dan berganti pakaian. Setelah kepergian Nick, ibu Anna dan sang bibi menjaga Anna sebentar namun tidak lama karena mereka meninggalkan Anna untuk beristirahat.


Anna berada di alam bawah sadarnya. Dia tampak kebingungan karena dia berada di sebuah bangunan dengan lorong yang panjang dan sempit. Lorong itu bagai tak berujung, Anna terus melangkah maju. Entah apa yang dia cari, dia tidak tahu. Anna hanya mengikuti kata hatinya saja. Dia terus melangkah menuju lorong yang tanpa ujung itu namun dia dikejutkan oleh sosok seorang pria yang sedang berdiri di pojokan.


Anna melihat sekitar, seperti mencari orang lain. Mungkin saja ada yang lainnya namun hanya ada mereka berdua saja. Anna memberanikan diri melangkah mendekati sosok pria yang sedang berdiri membelakanginya.


"Hallo," Anna mencoba memanggil pria itu.


"A-Apa kau tahu aku ada di mana?" tanya Anna lagi. Dia semakin mendekati pria itu namun pria itu tidak bereaksi.


"Apa kau mendengar aku?" tanya Anna lagi.


"Ini aku, Anna," pria itu berbalik, Anna terkejut melihatnya.


"Barrow," Anna tidak percaya melihat Barrow berada di sana tapi ada apa dengan keadaan Barrow?


Kedua matanya seperti buta dengan luka bakar di kedua matanya. Air bercampur darah mengalir dari kedua matanya.


"Apa yang terjadi denganmu, Barrow? Di mana kita, apa tempat ini nyata?" tanya Anna. Dia kembali melihat sekitar namun tempat itu tampak asing dan sunyi.


"Ini hanya ilusi, Anna. Kita berada di bawah alam sadarmu," ucap Barrow.


"Aku tidak tahu, Anna. Saat kambali, aku belum merasakan ada hal yang aneh namun sosok yang tiba-tiba muncul mengambil alih tubuhku sehingga aku terpedaya. Aku bagaikan tersesat di dalam lorong yang gelap. Ke mana pun aku melangkah, aku tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Aku bisa mendangar suaramu, namun aku tidak bisa menemukan keberadaanmu. Aku bagaikan terjebak dalam dimensi yang hanya dipenuhi oleh kegelapan saja oleh sebab itu bantu aku, Anna. Bantu aku keluar dari kegelapan yang tidak berujung ini," pinta Barrow.


Anna diam, menatap Barrow dengan lekat. Apakah sebab itu kedua mata Barrow buta sehingga dia tidak bisa melihat cahaya untuk kembali? Tapi apakah yang sedang berbicara dengannya saat ini benar-benar Barrow? Sebaiknya dia waspada dan tidak salah karena bisa saja saat ini Mariana mengecoh dirinya menggunakan sosok Barrow. Dia harus mengingat pesan dari roh pelindung jika dia harus waspada dan lebih cerdik.


"Tolong bantu aku, Anna. Aku tidak mau terjebak di dalam dunia gelap ini," pinta Barrow memohon.


"Aku pasti akan membantumu, Barrow. Aku akan membantumu dan mengeluarkan dirimu dari tempat gelap itu tapi bersabarlah, aku harus mencari cara agar aku bisa membebaskan dirimu jadi bersabarlah. Tunggu aku mendapatkan cara untuk membebaskan dirimu!" ucap Anna.


"Jangan lama, Anna. Aku sudah tidak tahan berada di tempat gelap itu. Aku ingin segera terbebas jadi jangan lama!" pinta Barrow memohon.


"Aku pasti membebaskan dirimu, Barrow. Aku akan membebaskan dirimu," air mata Anna mengalir, dia sungguh tidak kuasa menahan kesedihan hati melihat keadaan Barrow.


Air mata yang terus mengalir membuat pandangannya buram. Anna menghapus air matanya, sosok Barrow tiba-tiba menghilang dan tidak terlihat lagi dari pandangannya. Anna tampak heran, kedua mata dikucek karena dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Barrow?" Anna memanggil dan mencari sosok Barrow yang sudah tidak terlihat lagi.


"Barrow!" Anna berteriak, apa yang baru saja dia lihat adalah illusi?


Tiba-Tiba saja sebuah cahaya berada di ujung lorong, Anna berlari menuju cahaya itu sambil berteriak memanggil nama Barrow. Dia terus berlari menuju cahaya yang semakin terlihat jelas. Lari Anna semakin cepat, dan cepat sampai akhirnya dia seperti menerobos cahaya yang begitu menyilaukan mata


"Anna... Anna!!" terdengar suara panggilan ibunya.


Ibu dan bibinya terkejut saat Anna berteriak seperti sedang bermimpi buruk. Mereka tampak panik sehingga mereka memanggil Anna agar Anna segera sadar.


"Bangun, Anna. Cepatlah sadar!" pinta ibunya sambil menangis.


Kedua kelopak mata Anna bergerak, ibu dan bibinya sangat senang. Mereka semakin terlihat senang saat Anna membuka kedua matanya. Ibunya menangis tersedu sambil memeluk Anna. Dia benar- benar lega putrinya sudah sadar dan terlihat baik-baik saja.


"Mommy sangat senang kau sudah sadar dan baik-baik saja, Sayang," ucap ibunya.


"Aunty akan segera menghubungi Nick dan mengatakan keadaanmu padanya. Dia yang paling mengkhawatirkan keadaanmu jadi dia harus segera tahu," ucap bibinya.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apa ada yang sakit?" tanya ibunya. Dia tampak heran karena Anna diam saja tanpa menjawab pertanyaan mereka.


Sang ibu sangat heran, begitu juga dengan bibinya. Tatapan mata Anna tampak kosong, ibu dan bibinya saling pandang dengan tatapan heran.


"Anna, apa yang terjadi padamu?" ibunya kembali menangis dan memeluknya. Apa yang terjadi dengan Anna? Kenapa dia terlihat tidak bersama dengan mereka? Anna memang sudah sadar tapi dia seperti raga yang kosong tanpa jiwa.


"Jangan seperti ini, Anna. Jangan menakuti, Mommy. Kembalilah!" teriak ibunya sambil menangis.


Sang bibi hanya bisa menenangkan kakaknya yang menangis histeris karena keadaan Anna. Apa yang sebenarnya terjadi pada Anna? Kenapa dia bagaikan cangkang kosong tanpa jiwa?