
Barrow mendatangi rumah Anna untuk memeriksa keadaan tapi Anna tidak ada di rumah. Rumah itu sepi, tidak ada siapa pun tapi Barrow tetap menerobos masuk untuk mencari sesuatu yang Mariana inginkan. Setelah membaca pikiran Barrow, Mariana jadi mengetahui keberadaan buku akan informasi kotak terkutuk miliknya. Sebab itu Mariana memanfaatkan ingatan yang ada pada Barrow yang mengingat buku milik nenek Anna yang dia ambil saat itu.
Mariana memerintahkan Barrow untuk mengambil buku itu karena memang Barrow yang mengetahuinya. Barrow mulai mencari, membongkar barang-barang yang ada di rumah Anna tapi dia tidak menemukan keberadaan buku tersebut.
Rumah Anna jadi berantakan, Barrow tidak juga berhenti tapi suara yang berbisik di telinganya menghentikan kegilaan Barrow yang sedang mengobrak abrik isi rumah.
"Tinggalkan tempat itu, pergi cari di mana kau mengambil buku itu pertama kali!" perintah Mariana karena dia merasa buku itu tidak ada di sana. Dengan adanya Barrow, dia bisa mendapatkan buku itu dan memusnahkannya apalagi Barrow bisa menerobos pertahanan yang dibuat oleh nenek Anna.
Barrow segera pergi, lagi-lagi dia melakukan hal yang sama pada rumah nenek Anna karena tidak ada siapa pun di sana. Barrow mengobrak abrik lantai basemen untuk mencari buku yang diinginkan oleh Mariana tapi dia tidak menemukannya.
Mariana sangat kesal sehingga dia meminta Barrow untuk menghancurkan semua yang ada di rumah itu. Mariana juga meminta Barrow mencari jimat yang melindungi rumah tersebut namun Barrow tidak pernah tahu karena tidak ada yang mengatakan tentang jimat itu padanya sehingga Barrow tidak menemukannya. Tentunya Mariana sangatlah marah, oleh sebab itu Barrow mendapat perintah untuk memporak-porandakan rumah itu.
Barrow tidak menemukan keberadaan buku itu karena buku itu dibawa oleh Anna ke gereja Trinity. Kenapa Mariana menginginkan buku itu? Setelah membaca pikiran Barrow, dia jadi ingin tahu isi dari buku tersebut apakah di buku itu menuliskan keberadaan pisau yang dia sembunyikan atau tidak karena jika ada, dia harus waspada dan memindahkan pisau itu dan memberikan penjagaan lebih ketat lagi.
Sesungguhnya Mariana ingin menghancurkan pisau tersebut tapi anehnya tidak bisa, dia bahkan tidak bisa menyentuh pisau itu. Dia bisa menyembunyikannya setelah memperdaya seseorang. Entah ada kekuatan apa di dalam pisau tapi yang pasti pisau itu adalah ancaman terbesar dan jangan sampai ditemukan oleh Anna jika tidak dia akan gagal.
Setelah memporak-porandakan rumah nenek Anna, Barrow pergi dari tempat itu untuk mencari keberadaan Anna tentunya di kantor. Mariana benar-benar memanfaatkan yang ada di dalam pikiran Barrow. Pria itu menjadi anak buah yang bisa dia manfaatkan untuk mencari keberadaan Anna.
Tanpa tahu apa yang terjadi, Anna sedang mencari petunjuk keberadaan pisau Artsbond. Berkat jimat yang dia bawa, Mariana tidak bisa merasakan keberadaannya. Anna benar-benar harus waspada tapi dia tidak tahu jika Barrow adalah ancaman terbesar untuk dirinya, bibi dan juga ibunya.
Anna sedang berbicara dengan seorang yang menjadi pengurus gereja sambil menunjukkan kotak misterius yang sudah memakan banyak korban. Mereka terlihat serius membahas hal itu apalagi pengurus gereja itu berkata dia pernah mendengar akan keberadaan pisau yang Anna cari.
"Bagaimana, apa kau tahu keberadaan pisau yang bernama Arsbond itu?" tanya Anna.
"Dulu seorang pastor kepala pernah mencoba mencari keberadaan pisau tersebut karena banyak korban yang berjatuhan tapi keberadaan pisau itu tidak pernah ditemukan. Ada yang berkata pisau itu sudah dihancurkan dan di lempar ke dalam gunung berapi sebab itu keberadaan pisau tersebut tidak ada yang mengetahuinya."
"Jadi pisau itu tidak pernah berada di gereja ini?"
"Tentu saja tidak, tapi untuk apa kau pisau itu, Nona?"
"Tentu saja untuk melawan arwah jahat. Terima kasih sudah memberi aku informasi, aki kira benda itu ada di gereja ini," buku neneknya ditutup, ternyata mencari di gereja bukanlah jalan terbaik tapi dia belum tahu bagaimana dengan ibu dan bibinya.
Anna keluar dari gereja itu. Tiba-Tiab dia merasa makam bukanlah jawaban dari teka teki itu. Entah kenapa dia merasa seperti itu dan dia yakin dia tidak mungkin salah. Sepertinya yang dimaksud bukanlah makam. Anna melangkah pergi dari gereja sambil menghubungi ibunya karena dia ingin meminta ibu dan bibinya kembali.
"Mom, aku merasa tidak ada di makam," ucapnya sambil melihat sekitar.
"Apa maksudmu? Mommy sedang melihat makam yang ada di sini," jawab sang ibu.
"Baiklah, Mommy akan meminta Aunty untuk kembali,. Lagi pula memang sudah sore, kita beli makanan diluar untuk kita nikmati bersama."
"Oke, Mom," Anna menyimpan ponsel setelah berbicara dengan ibunya. Dia masih melihat sana sini, khawatir ada yang melihatnya. Seharusnya dia menyamar agar tidak was-was seperti itu.
Mereka membuat janji bertemu di sebuah stasiun kereta dan setelah itu mereka pulang. Tidak ada yang curiga sama sekali dengan apa yang telah terjadi tapi ketika mereka masuk ke dalam rumah, mereka dikejutkan dengan kondisi rumah yang sudah porak-poranda.
"Apa yang terjadi?" bibi Anna berlari masuk, melihat rumah yang hancur.
"Ada apa, ini? Apa ada beruang yang masuk?" tanya ibu Anna.
"Ini bukan ulah beruang, Mom," buku yang dibawa diletakkan, kenapa rumah mereka hancur seperti ini? Rumah bahkan masih terkunci dengan rapat.
Mereka memeriksa semua tempat, semuanya berantakan. Kamar mereka, dapur bahkan lantai basemen semuanya hancur. Mereka sempat mengira ada pencuri yang masuk tapi tidak ada barang berharga yang hilang. Anna melangkah masuk ke dalam kamar neneknya, diikuti oleh ibu dan bibinya.
Kamar neneknya juga sama, bahkan lebih hancur dari pada kamar mereka. Mereka juga memeriksa barang-barang yang ditinggalkan oleh neneknya tapi tidak ada yang hilang. Anna melihat sekitar, dia terkejut saat melihat sosok neneknya sedang berdiri di sisi ruangan.
"Segera pergi, Anna," ucap neneknya.
"Nenek," Anna memanggil neneknya.
"Apa?" ibu dan bibinya berpaling melihat ke arahnya.
"Segera pergi, pemuda itu berbahaya dan kalian sudah tidak aman berada di sini. Bawa buku dan jimat itu, kita akan bertemu lagi nanti," sosok neneknya terlihat menipis.
"Pemuda, siapa yang Nenek maksud?"
"Segera bergegas, jangan membuang waktu!" roh neneknya terlihat serius dan dia tahu jika sosok neneknya bukan jelmaan dan apa yang dikatakan oleh roh neneknya sangat serius. Anna ingin kembali bertanya tapi sosok neneknya sudah tidak terlihat lagi.
"Ayo kita pergi dari sini," ucap Anna.
"Ke mana, Anna? Jangan katakan kita harus kembali ke rumahmu," ucap ibunya.
"Ke rumah dinas yang belum pernah aku tempati, kita sudah tidak aman berada di sini. Aku mengambil jimat, Mommy dan Aunty mengambil barang-barang yang penting. Kita harus segera pergi!" tanpa menunggu lagi, Anna bergegas.
Ibu dan bibinya saling pandang, mereka belum mengerti tapi Anna terlihat begitu serius jadi mereka pun segera bergegas. Entah apa yang terjadi dan entah siapa yang telah memporak-porandakan rumah mereka tapi yang pasti, mereka harus segera pergi.