
Malam semakin larut, Anna dan Nick berjalan di sisi pantai setelah makan malam mereka berakhir. High heel berada di tangan, Anna melangkah di sisi Nick tanpa mempedulikan sosok mengerikan yang terlihat di sisi pantai dan yang juga berada di dalam air.
Sepertinya mereka adalah arwah orang-orang yang mati tenggelam di laut itu. Mereka akan kembali setelah menikmati waktu di sana. Yeah, setelah ini dia akan kembali sibuk bersama dengan Barrow apalagi dia mulai sadar jika arwah si payung merah mengikuti mereka sedari tadi.
Anna tidak mengatakannya pada Nick karena dia tidak mau mengacaukan malam itu. Dia bahkan tahu jika arwah si payung merah berdiri tidak jauh dari mereka dan tidak melepaskan pandangannya dari mereka.
"Hm, Nick. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Anna.
"Tentu saja. Apa yang ingin kau ketahui, Anna?"
"Maaf jika aku lancang, aku hanya ingin tahu saja. Apakah kau pernah memiliki pacar sebelumnya?"
"Tentu saja aku punya. Bagaimana denganmu, Anna. Apa kau sudah punya pacar sebelumnya?" tanya Nick pula.
"Aku, yeah... hubunganku dengan pria tidak pernah berjalan mulus."
"Kenapa? Kau wanita yang menarik, kenapa tidak berjalan dengan mulus?" tanya Nick ingin tahu.
"Entahlah, hubunganku dengan pria tidak bertahan lama. Paling lama dua bulan, lalu pria itu pergi dengan alasan yang tidak jelas," ucap Anna.
"Aku tidak akan pergi, Anna," Nick meraih tangan Anna, langkah mereka berdua pun terhenti.
"Aku tidak akan seperti kekasihmu yang lari setelah menjalin hubungan dua bulan," ucapnya lagi.
Anna berusaha tersenyum, dia merasa hal itu akan terjadi. Entah karena apa, hubungannya dengan seorang pria memang tidak bertahan lama.
"Percayalah padaku," ucap Nick menyakinkan.
"Baiklah, sekarang katakan padaku. Kenapa hubunganmu dengan kekasihmu bisa berakhir?"
"Hubungan kami semula baik-baik saja, Anna. Tapi tiba-tiba dia ingin pergi ke luar negeri untuk mengejar karirnya dan aku pun tidak bisa memaksa.
"Sayang sekali, dia sudah menyia-nyiakan pria tampan seperti dirimu!" Anna kembali melangkah namun Nick menahannya dan meraih pinggangnya.
Nick merapatkan tubuh mereka berdua, Anna menatap pemuda itu dengan lekat. Tangan Nick sudah berada di wajahnya, mengangkat sedikit dagu Anna
"Jadi, apa kau akan menyia-nyiakan pria tampan ini?" tanya Nick, wajah mereka didekatkan sampai Anna dapat merasakan belaian napas hangatnya.
"Tentu tidak!" jawab Anna.
High heel yang dia bawa terjatuh, Nick sedang mencium bibirnya saat itu. Kedua tangan melingkar di leher Nick, Anna membalas ciuman yang diberikan oleh pria itu. Anna membuka mata yang tadinya terpejam, tatapan matanya tertuju pada arwah si payung merah yang masih berdiri tidak jauh dari mereka.
Aneh, ekspresi wajah arwah itu terlihat sedih. Anna bahkan bisa melihat darah mengalir dari kedua matanya. Apakah arwah itu sedang bersedih? Tapi untuk apa?
Ciuman Nick terlepas, tapi Anna justru melewatkan momen di mana mereka akan saling pandang dengan wajah tersipu. Anna justru melangkah ke sisi Nick dan melangkah ke arah belakang di mana arwah si payung merah sudah tidak terlihat lagi. Nick sangat heran, apakah ciuman yang mereka lakukan tidak berkesan bagi Anna?
"Ada apa, Anna?" Nick melangkah mendekat dan berdiri di sisi Anna.
"Uhm, tidak ada apa-apa," ucap Anna.
"Kau yakin?" tanya Nick memastikan.
"Yes, sudah malam. Aku sudah harus pulang," Anna mengambil high heel yang dia jatuhkan tadi.
"Apa besok kau ada waktu, Anna?"
"Besok aku sibuk, Nick. Untuk dua hari ini aku sibuk," ucap Anna.
"Tentu," Anna tersenyum saat Nick meraih tangannya.
Mereka kembali melangkah menuju mobil sambil berpegangan tangan. Anna melihat sekitar, mencari arwah si payung merah dari para arwah yang ada di sana. Ke mana dia pergi? Sungguh dia sangat ingin berbicara dengan arwah itu tapi dia tidak terlihat lagi.
Nick mengantarnya kembali tapi dia tidak mampir karena sudah larut, Mobil sudah berhenti di depan rumah Anna, Anna juga sudah bersiap hendak turun.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Nick," ucap Anna.
"Tidak perlu berterima kasih, aku sangat senang mengajakmu makan bersama dan aku sangat menantikan jawaban darimu. Aku harap kau tidak terlalu lama untuk mengambil keputusan."
"Jawabanku sama seperti tadi, Nick."
"Baiklah, padahal aku sudah sangat ingin menjadikanmu sebagai milikku."
Anna hanya tersenyum, menjadi milik Nick Devan? Seperti yang dia duga sebelumnya, hubungan mereka sepertinya tidak akan berjalan lama.
"Kita seperti ini saja untuk saat ini. Jika kita berjodoh maka kita akan bersama nantinnya."
"Baiklah, kau benar. Masuklah, sudah malam," setelah berkata demikian, Nick memberikan ciuman di dahi.
Anna turun dari mobil, dia tidak langsung masuk. Anna masih berdiri di sisi jalan, melambaikan tangan ke arah Nick. Dia bahkan masih berdiri di sisi jalan sampai mobil yang dibawa oleh Nick hilang dari pandangan.
Angin sejuk berhembus perlahan, namun semakin lama angin itu semakin kencang. Anna terkejut apalagi tiba-tiba saja sebuah payung merah terbang di hadapannya lalu seorang wanita yang berdiri membelakanginya menangkap payung itu dan menggunakannya.
Anna mengernyitkan dahi, si payung merah? Sungguh kebetulan yang luar biasa. Tanpa ragu Anna melangkah mendekati arwah tersebut yang tidak berpaling.
"Kenapa kau mengikuti kami?" tanya Anna.
"Kau lupa dengan peringatan yang aku berikan," ucap arwah tersebut.
"Aku tidak pernah lupa. Sekarang jawab aku, apa kau pernah memiliki hubungan dengan Nick Devan?" tanya Anna. Dia merasa arwah itu memiliki hubungan dengan Nick.
"Apa kau sangat ingin tahu?" arwah itu balik bertanya.
"Tentu, katakan sekarang juga. Aku tahu kau sedih saat melihat kebersamaan kami. Apa kau mantan kekasihnya yang menjadi tumbal?"
Arwah itu diam, tidak menjawab. Anna menunggu namun kesunyian yang dia dapatkan. Apa tebakannya benar? Tapi bagaimana mungkin, Nick berkata jika mantan kekasihnya pergi ke luar negeri untuk mengejar karir. Apakah Nick telah melewatkan sesuatu sehingga dia tidak tahu jika mantan kekasihnya ditangkap seseorang lalu di bunuh untuk dijadikan tumbal dan akhirnya mantan kekasihnya itu menjadi arwah si payung merah yang selalu mengincar korban. Tapi kenapa dia selalu membawa payung itu? Dia yakin benda itu bukanlah hiasan semata.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Anna.
"Berhati-hatilah, waktunya sudah dekat. Saat bulan melingkar dengan sempurna dan berada di atas kepala, saat itu pula waktunya tiba jadi berhat-hatilah!"
Anna kembali mengernyitkan dahi, apakah yang dimaksud oleh arwah itu adalah bulan purnama?
"Jika begitu, tolong katakan padaku. Siapa keturunan murni Mariana?" mungkin arwah itu tahu dan bisa memberinya petunjuk.
"Aku tidak tahu!" teriak arwah itu marah.
"Kau pasti tahu!" Anna berteriak pula.
"Beraninya kau?" tiba-tiba terdengar suara itu dan saat suara itu terdengar, arwah si payung merah ketakutan.
"Tidak, aku tidak melakukan apa pun!' teriaknya. Angin kencang berhembus, teriakan arwah si payung merah masih terdengar namun suara teriakannya hilang bersamaan dengan hilangnya hembusan angin tersebut.
Anna melihat sekeliling, ternyata arwah si payung merah memang budak yang menjalankan perintah Mariana. Bulan purnama? Dia harus memeriksanya dan menghentikan semua itu sebelum bulan purnama tiba.