Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Aku Harus Waspada


Setelah selesai makan, Anna mengambil sebuah senter karena dia ingin mencari sesuatu di dalam gudang yang ada di lantai basemen. Dia ingin mencari petunjuk dari barang-barang milik sang nenek. Mungkin saja neneknya meninggalkan petunjuk akan keberadaan pisau yang bernama Artsbond. Dia harap neneknya membuat catatan akan pisau itu sehingga dia bisa menemukan benda itu dengan cepat sebelum malam purnama.


Ibu dan bibinya sangat heran, Anna belum mengatakan tentang pisau itu. Anna hanya berkata dia ingin melihat barang-barang yang ditinggalkan neneknya saja. Buku yang berisi informasi akan kotak terkutuk yang sudah hilang pun dibawa serta, Anna tidak seorang diri karena bibi dan ibunya menemani dirinya.


Ibu dan bibinya akan membantu Anna, meskipun mereka belum tahu apa yang sebenarnya Anna cari. Mereka bahkan belum bertanya pada Anna, apa saja yang terjadi padanya saat berada di dasar jurang dan apa saja yang dia bicarakan dengan roh pelindungnya.


"Tidak ada yang menghubungi Nick dan memberitahu keadaanku, bukan?" tanyanya.


"Tentu saja tidak. Dia sangat mengkhawatirkan dirimu, Anna. Kenapa kau tidak mau memberinya kabar akan keadaanmu? Aunty rasa kau harus memberitahunya agar dia tidak terlalu mengkhawatirkan dirimu," ucap sang bibi.


"Aku tahu, Aunty. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa bergerak sesuka hatiku karena aku sedang mengelabui arwah Mariana juga keturunan murninya. Aku harus tetap berpura-pura bagaikan boneka hidup selama aku mencari benda yang bisa menghancurkan kotak terkutuk itu dan menyelamatkan arwah si payung merah."


"Apa maksudmu, Sayang?" tanya ibunya.


Anna belum menjawab, mereka sedang menuruni anak tangga menuju basemen yang gelap. Dengan senter yang dia bawa, ruangan itu tampak remang-remang. Cahaya dari senter sudah cukup untuk menyinari ruangan. Anna mencari saklar lampu yang ada di dinding dan setelah menemukannya, Anna menyalakan lampu untuk menerangi ruangan basemen yang gelap.


"Sebenarnya apa yang kau cari, Anna?" tanya ibunya.


"Mencari petunjuk, Mom. Aku harus mencari dua benda yang diucapkan oleh roh pelindungku."


"Benda apa?" tanya bibinya.


"Sebuah pisau yang disebut sebagai Artsbond, apa Aunty pernah mendengarnya dari nenek?"


Bibinya tampak berpikir, nama pisau yang aneh. Dia belum mendengar nama pisau yang begitu aneh dari ibunya. Ibu Anna juga tidak pernah mendengarnya karena ibu mereka tidak pernah mengatakan apa pun tentang pisau yang sedang dicari oleh Anna.


"Kami tidak mendengarnya, Anna. Untuk apa pisau itu?" tanya ibunya.


"Roh pelindungku berkata, pisau itu bisa menghancurkan kotak terkutuk untuk menghentikan Mariana oleh sebab itu aku harus menemukannya jika aku ingin menghentikan semuanya. Aku juga harus menemukan sebuah payung merah terkutuk jika aku ingin menyelamatkan jiwa arwah si payung merah," jelas Anna.


"Baiklah, semoga nenekmu meninggalkan petunjuk akan pisau yang kau sebutkan," ucap bibinya.


"Aku juga berharap demikian."


Mereka sudah berada di hadapan dua rak yang berisi buku-buku sang nenek. Buku-Buku yang ada di sana sebagian ditulis langsung oleh neneknya. Buku yang berisi infromasi akan kotak miterius diletakkan di atas meja, jujur saja Anna belum membaca semua isi buku itu apalagi sangatlah tebal.


"Pisau yang kau sebutkan, seperti apa ciri-cirinya?" tanya sang bibi yang mulai sibuk mengambil buku yang ditulis secara langsung oleh ibunya.


"Menutur roh pelindungku, pisau itu bergagang tengkorak dan dibuat oleh seorang pastor."


"Baiklah. mari kita temukan informasi akan pisau tersebut. Malam purnama sudah tidak lama lagi, kita harus menemukannya untuk menghentikan kebangkitan Mariana."


"kau benar, Mom. Sebab itu aku akan berpura-pura seperti boneka hidup sampai malam itu tiba. Aku juga akan menggunakan kesempatan itu untuk mencari dua benda yang harus aku temukan."


"Bagaimana kau bisa keluar tanpa ketahuan, Anna? Jimat pelindungmu sudah tidak ada, jika ada mungkin kau masih bisa memanipulasi keadaan."


"Baiklah, ayo kita mulai mencari," ucap ibunya.


Mereka mulai mencari dari lembar perlembar buku yang ditulis oleh sang nenek. Mereka bertiga begitu serius namun mereka belum mendapatkan petunjuk sama sekali. Sudah tiga buku yang mereka lihat, tapi di ketiga buku itu tidak ada infromasi apa pun tentang pisau Artsbond.


Ibu Anna meninggalkan mereka berdua untuk membuat minuman, Anna dan bibinya sepakat untuk membawa buku-buku yang tersisa ke atas karena basemen begitu panas dan pengap. Buku-Buku itu ternyata berat, sehingga mereka harus membawanya beberapa kali. Ibu Anna yang sudah selesai membuat minuman pun memutuskan untuk membantu, dia hendak turun ke bawah namun niatnya terhenti oleh suara ponselnya.


Nick sangat mengkhawatirkan keadaan Anna, oleh sebab itu dia memutuskan untuk menghubungi ibu Anna untuk mengetahui keadaan Anna.


"Bagaimana keadaan Anna, Aunty? Apa dia belum menunjukkan respon sama sekali?" Nick terdengar begitu khawatir, ibu Anna jadi iba karena Anna tidak mau keadaannya diketahui oleh orang luar sehingga mau tidak mau dia harus menipu pemuda yang baik hati itu.


"Keadaannya sama seperti tadi, Nick," jawab ibu Anna, tatapan matanya tertuju ke arah putrinya yang sedang membawa dua buku terakhir dari basemen.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Anna? Kenapa dia bisa seperti itu?" Nick kembali menanyakan hal yang sama karena dia benar-benar ingin tahu.


"Kami tidak tahu, besok kami akan mencari orang pintar untuk melihat keadaannya. Mungkin dengan demikian, kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Baiklah, aku akan datang bersama Lucia besok siang," semoga saja keadaan Anna bisa kembali seperti semula karena dia tidak suka Anna yang seperti cangkang kosong.


"Kami tunggu, semoga orang pintar yang kami temukan bisa mengetahui keadaan Anna."


Anna sedang bersandar di dinding sambil bersedekap dada, tatapan matanya tidak lepas dari ibunya yang berbohong pada Nick akan orang pintar untuk mengetahui keadaannya, sekarang siapa yang akan berpura-pura menjadi orang pintar itu?


"Kenapa melihat Mommy seperti itu?" tanya ibunya setelah selesai berbicara dengan Nick.


"Kebohongan yang bagus, Mom. Besok siapa yang akan menjadi orang pintarnya agar Nick percaya?" tanya Anna.


"Oh, tidak. Mommy membuat masalah baru!" ibunya menepuk dahi. Siapa yang akan berperan sebagai cenayang besok?


"Jika ada Barrow aku bisa memaksanya menjadi canayang, dia lebih mendalami peran tapi dia sedang terbelenggu. Siapa yang bisa Mommy jadikan cenayang agar Nick percaya?"


"Kenapa kau tidak mau mengatakan keadaanmu padanya, Anna. Dia sangat mengkhawatirkan dirimu," ucap bibinya.


"Yang terlihat baik, belum tentu baik. Itu yang roh pelindungku katakan. Aku harus waspada apalagi musuh berada di dekatku yang bisa saja itu Nick, ayahnya atau siapa pun. Barrow juga bisa jadi pelaku jadi aku harus waspada pada siapa pun selain kalian berdua," sesungguhnya dia sudah tahu siapa keturunan murni Mariana tapi untuk hal ini tidak ada yang boleh tahu selain dirinya dan juga roh pelindung yang sudah memberinya petunjuk.


"Baiklah, yang kau katakan sangatlah benar, Mommy sudah membuat minuman dan membawa camilan, kita santai sejenak sebelum kita kembali mencari petunjuk di buku nenek.


"Baiklah, lagi pula lenganku pegal karena mengangkat buku yang beratnya tidak kira-kira itu."


"Aunty juga lelah," ucap bibinya.


Sebelum kembali memeriksa buku yang ditulis oleh neneknya, Anna memilih menghabiskan waktu dengan ibu dan bibinya. Lagi pula mereka memang butuh istirahat sebentar sebelum mereka kembali mencari petunjuk akan keberadaan pisau yang dimaksud oleh roh pelindung yang bisa menghentikan kebangkitan Mariana.