
Anna sedang bersiap-siap karena sebentar lagi dia dan Barrow akan menikmati malam mereka berdua. Entah apa yang Barrow siapkan, tapi dia tahu Barrow sudah menyiapkan sebuah kejutan yang tidak terduga. Dia tahu mereka akan pergi makan malam tapi sepertinya bukan makan malam biasa.
Sebuah gaun berwarna hitam sudah melekat di tubuhnya. Anna yang biasanya berpakaian casual kini terlihat anggun dengan dress seksi yang dia kenakan. Sebuah kalung indah melingkar di leher, anting-anting yang panjangnya sampai ke bahu mempercantik penampilannya. Rambutnya yang panjang diggulung sedemikian rupa dan diurai, Anna terlihat luar biasa sampai-sampai membuat Barrow tidak berpaling melihat penampilannya.
Ini kali pertama Barrow melihat Anna berpenampilan seperti itu, Barrow sungguh takjub dengan penampilannya malam ini. Barrow bahkan berjalan memutari Anna untuk melihat penampilannya yang berbeda dari biasanya. Anna sangat heran, dia jadi ragu berpenampilan seperti itu.
"Apa penampilanku aneh?" tanya Anna.
"Tidak. Kau terlihat luar biasa, Anna," puji Barrow.
"Benarkah? Tapi kenapa kau melihat aku seperti itu?" Anna tampak tidak yakin karena Barrow melihatnya tanpa henti.
"Aku takjub melihat penampilanmu, ini kali pertama aku melihatmu berpenampilan seperti ini. Kau sungguh luar biasa!"
"Oke, baiklah. Jangan terlalu memuji penampilanku. Jika memang tidak ada yang aneh, sebaiknya kita segera pergi!" Anna melangkah menuju ranjang untuk mengambil tas tangan yang ada di atas ranjang.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar!" Barrow merapikan dasi kupu-kupu yang dia pakai sebelum mereka pergi.
"Tentu, aku sudah tidak sabar melihat kejutan yang hendak kau berikan. Aku harap kau bisa membuat aku berdebar walau sedikit!"
"Tidak hanya sedikit, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku malam ini juga!"
"Wah, kau sungguh percaya diri. Aku semakin tidak sabar untuk melihat kejutan yang kau siapkan."
"Ayo berangkat!" Barrow memberikan lengannya, tangan Anna pun melingkar di sana.
Mereka segera keluar dari kamar, Barrow membawa Anna melewati sebuah taman. Anna sangat heran karena mereka tidak sedang menuju restoran yang ada di hotel itu. Walau begitu dia tidak bertanya, Anna mengikuti lanngkah Barrow sampai mereka tiba di sebuah gajebo yang sudah dihias sedemikian rupa.
Gajebo itu berbentuk bulat dengan atap berbetuk kubah. Sekelilingnya dihiasi dengan bunga mawar putih, lilin pun sudah menyala di atas meja. Lilin itu menjadi penerang, seikat bunga mawar merah sudah berada di atas meja pula.
Mereka akan makan malam di sana sambil menikmati pemandangan laut pada malam hari karena gajebo itu menghadap ke arah laut. Semua itu disiapkan hanya untuk mereka tentunya sesuai dengan permintaan Barrow tapi bukan itu saja yang disiapkan oleh Barrow, dia sudah menyiapkan kejutan lainnya untuk membuat Anna berdebar.
"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Barrow.
"Tidak buruk, tapi seleramu sedikit jelek," ucap Anna.
"Benarkah?"
"Yes, bunga mawar putih itu sedikit norak tapi aku masih menyukainya," Anna melangkah mendekat dan duduk di atas bantal empuk yang sudah disediakan.
"Lalu bagaimana dengan bunga mawarnya?"
Anna mengambil bunga wamar yang ada di atas meja, aroma bunga dihirup lalu Anna memandangi bunga yang indah itu.
"Bunga ini indah tapi jujur saja aku lebih suka bunga bank," ucap Anna menggoda.
"Anna Baker!" Barrow sedikit kesal karena Anna tidak serius.
"Aku hanya bercanda, terima kasih tapi ini melum bisa membuat aku berdebar."
"Kita makan dulu sebelum kau melihat kejutan lainnya."
"Masih ada yang lain?" tanya Anna, tatapan matanya tidak lepas dari Barrow yang juga terlihat tampan malam ini.
"Tentu saja, kau tidak berpikir hanya ini saja, bukan?"
"Baiklah, ayo kita makan agar aku bisa melihat kejutan lainnya."
"Malam masih panjang, Anna," semoga tidak ada hantu atau semacamnya yang akan menghancurkan suasana di antara mereka tapi sesungguhnya sosok hantu dengan wajah mengerikan sudah ada di dekat mereka tapi Anna pura-pura tidak melihat karena dia tidak mau menghancurkan suasana apalagi Barrow sudah susah payah menyiapkan semua itu untuknya.
Mereka memesan makanan yang ditawarkan oleh restoran yang ada di hotel, sebotol anggur sudah pasti menemani makan malam mereka. Beberapa menu menjadi pilihan yang akan mereka nikmati bersama. Selama makan belum dihidangkan, Anna dan Barrow mengisi waktu dengan berbincang. Tentu saja yang mereka bicarakan masalah pekerjaan. Tidak ada yang membahas masalah hantu karena tidak ada yang ingin membahas hal itu.
"Setelah kembali, di mana kau akan ditugaskan?" tanya Anna.
"Entahlah, aku belum bertanya mengenai hal ini yang pasti kita sudah sulit untuk bertemu."
"Ck, jangan memulai!" ucap Barrow dengan nada tidak senang.
Anna terkekeh, dia tidak bermaksud tapi tanpa sadar pembicaraan mereka justru mengarah ke sana.
"Bagaimana jika kita tinggal bersama, Anna? Kita akan bertemu setiap hari jika kita tinggal bersama," ucap Barrow. Mungkin dengan demikian hubungan mereka semakin dekat.
"Tidak!" Anna menolak karena dia tidak mau tinggal dengan pria mana pun tanpa adanya sebuah ikatan atau hubungan yang pasti.
"Kenapa? Apa kau tidak mau kita bersama?"
"Bukan begitu, aku rasa terlalu cepat untuk memutuskan tinggal bersama. Kita mulai pelan-pelan, jika berjodoh maka kita akan bersama nantinya."
"Baiklah, kita nikmati makanan kita terlebih dahulu dan setelah itu, aku ingin menunjukkan kejutan lain untukmu."
"Semoga yang kali ini mendebarkan," goda Anna.
Menu pembuka sudah diantar, mereka menikmati makanan yang terhidang. Setelah menu pembuka, menu lain pun dihidangkan. Anngur dituang ke dalam gelas, dentingan suara gelas yang di adu berbunyi. Anggur diteguk sampai habis lalu mereka kembali menikmati makanan yang sudah terhidang.
Anna dan Barrow masih berbincang seputar pekerjaan tapi terkadang mereka bercanda sehingga membuat mereka tertawa. Malam yang menyenangkan, mereka menikmati makanan yang terhidang, anggur dan juga kebersamaa mereka malam itu.
Setelah menikmati semua makanan yang ada, Barrow mengajak Anna ke sisi pantai namun kedua mata Anna ditutup dengan rapat. Kedua tangan Barrow meenutupi mata Anna, dia juga menuntun Anna agar melangkah dengan hati-hati.
"Apa yang kau rencanakan, Barrow?" tanya Anna ingin tahu, sesungguhnya dia tidak suka kedua matanya ditutup seperti itu.
"Ikuti saja, Anna," Barrow masih membawanya sampai tidak jauh dari sisi pantai. Anna bahkan dapat mendengar suara ombak yang berdebur dan menerjang bibir pantai.
Langkah mereka terhenti, Anna sangat heran. Barrow menyingkirkan tangannya yang menutupi mata Anna. Anna pun membuka matanya dengan perlahan. Objek yang dia lihat pertama kali adalah lilin, benda itu menyala dan berada di sekililingnya.
Anna berputar untuk melihat bentuk dari lilin itu, senyuman mengembang di wajahnya saat melihat lilin yang berbentuk hati. Dia tidak menyangka Barrow menyiapkan hal itu untuk dirinya.
"Anna," Barrow memegangi kedua tangan Anna, mereka berdua saling menatap dan tampak serius.
"Mungkin bagimu aku bukanlah pria spesial tapi bagiku kau sangat spesial. Aku sudah jatuh hati padamu begitu lama, bisa menjadi rekanmu adalah sebuah keberuntungan bagiku. Walau setelah kembali kita tidak bekerja bersama dan akan sulit bertemu tapi aku ingin memiliiki hubungan spesial denganmu. Aku serius, mungkin aku tidak seperti para lelaki yang kau kenal yang memiliki perusahaan dan juga pesawat pribadi karena aku hanya seorang agen tapi maukah kau menjadi pacarku?"
"Bodoh, apa aku wanita materialistis? Aku tidak mempedulikan semua itu karena yang aku butuhkan adalah pria yang setia."
"Jika begitu kau tidak boleh menolak karena aku adalah pria yang setia!" ucap Barrow.
"Aku tahu, aku juga mencari pria yang bisa melihat hantu," kini dia mengungkit hal itu.
"Itulah aku dan kau tidak salah memilih!"
"Jadi?" kedua tangan Anna sudah melingkar di leher baru.
"Apa itu berarti kau bersedia menjadi pacarku?"
"Menurutmu, Barrow?"
"Yes!" Barrow berteriak karena senang. Dia bahkan melompat lalu memeluk tubuh Anna. Barrow memutar Anna berkali-kali untuk mengekspresikan kegembiraannya.
Anna berteriak, sepertinya sebentar lagi makanan yang baru saja dia makan akan dia muntahkan karena ulah Barrrow.
"Stop, Barrow!" teriak Anna.
"Oh, aku terlalu senang," Barrow menurunkan tubuh Anna tapi tidak melepaskan pelukannya, "Terima kasih kau mau menerima aku yang biasa saja ini, Anna. Aku berjanji tidak akan mengecewakan."
"Aku tahu tapi ingat, aku bukan orang yang suka menjalin hubungan terlalu lama apalagi aku punya sejarah buruk mengenai pacaran. Jika kau bisa bertahan denganku selama dua minggu, maka aku akan menganggap kau serius," ucap Anna karena dia selalu ditinggalkan setelah menjalani masa pacaran selama dua minggu.
"Aku tidak mungkin meninggalkan dirimu!" Barrow mengangkat dagu Anna dan mengecup bibirnya, "Itu karena aku serius denganmu," ucapnya lagi.
"Aku harap demikian," mata Anna sudah terpejam, mereka berdua berdiri di dalam lingkaran lilin yang berbentuk hati sambil berciuman. Barrow sangat senang, akhirnya perasaannya pada Anna dapat terbalaskan.