
Suasana Pesta semakin meriah, mereka mulai terbuai terutama Barrow. Sosok yang menyerupai adiknya sudah berada di dalam dekapannya saat itu. Barrow bahkan menangisi pertemuan mereka yang tidak terduga, dia lupa dengan situasi yang sedang dia hadapi dan di mana dia berada.
Dia bagaikan terhipnotis, dia bahkan lupa jika sosok Jenie yang berada di dalam dekapannya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Anna bagaikan orang lingung, dia belum bisa mempercayai apa yang sedang terjadi apalagi Nick tiba-tiba berada di sana. Dia berusaha mencerna apa yang terjadi namun suara lantunan musik piano membuat pikirannya kacau sehingga setiap kali dia ingin mencari jawaban atas apa yang sedang mereka alami, dia justru tidak bisa berpikir dengan jernih.
Musik itu membuat mereka semakin terhipnotis sehingga mereka tidak bisa lagi berpikir dengan jernih dan tenggelam dalam dunia ilusi juga tenggelam dalam apa yang sedang mereka lihat saat ini karena sesungguhnya itu tetaplah kastil tua yang gelap dan yang bersama dengan mereka saat ini hanyalah ilusi semata yang menjerat mereka walau tidak keseluruhannya adalah ilusi.
Mereka berdua bahkan tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengan mereka apalagi seperti ada penghalang yang memisahkan mereka dengan kata lain, Barrow tidak bisa melihat Anna dengan sosok yang dia lihat begitu juga dengan Anna. Dia juga tidak bisa melihat jika Barrow sedang bersama dengan sosok adiknya yang sudah meinggal.
"Apa maksdunya ini, Nick?" tanya Anna pada Nick yang sudah berdiri di hadapannya. Nick terlihat gagah dan tampan dengan pakaian seperti seorang pangeran dari sebuah kerajaan dalam cerita dongeng meski begitu, Anna tidak menyadarinya sama sekali.
"Ini pesta, Anna," Nick meraih tubuh Anna dan menariknya mendekat, "Aku menyiapkan pesta ini untuk menyambut kedatanganmu," ucap Nick.
"Benarkah?" tanya Anna tidak percaya.
"Tentu saja," dalam satu jentikan jari, tiba-tiba saja baju yang dikenakan oleh Anna berubah. Sebuah gaun pesta sudah dia kenakan saat itu, Anna terkejut dan tampak takjub. Dia bahkan melangkah menuju sebuah cermin untuk melihat penampilannya dan Nick mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana, kau suka dengan gaun itu bukan, Anna?" Nick berdiri di belakang Anna dan memeluknya.
"Sangat," jawab Anna sambil tersenyum namun satu hal yang tidak dia sadari adalah, dari semua yang ada di ruangan itu tidak ada satu dari mereka memiliki pantulan diri di cermin kecuali dirinya.
"Berdansa denganku, Anna. Malam ini aku ingin kau menjadi milikku."
Anna tidak menjawab, dia benar-benar terhipnotis. Nick memegangi satu tangannya, tangan yang satu masihh berada di pinggang Anna. Suara musik berubah, pesta dansa pun dimulai. Anna dan Nick berada di tengah lantai dansa, seolah-olah merekalah bintangnya malam ini.
Anna tersenyum, dia pun terbuai. Nick terlihat begitu menawan malam itu namun dia tidak tahu jika yang sedang berdansa dengannya saat itu adalah sosok mengerikan dengan wajah yang sudah hancur bahkan tengkorak wajahnya terlihat dari pelipis kanan ke arah dagunya. Deretan giginya dan tulang hidungnya pun bahkan terlihat dan setengah wajahnya lagi terlihat seperti meleleh.
Anna menikmati lantunan musik bersama sosok yang menyerupai Nick, dia semakin terbuai lebih dalam bahkan dia mulai merasa jika dia berada di dalam kamar dengan Nick dan akan bercinta dengannya.
Tidak dia saja yang terbuai, Barrow juga terbuai dengan sosok Jenie. Mereka sudah meninggalkan ruang pesta, sosok yang menyerupa adiknya yang manis adalah sosok arwah seorang gadis dengan wajah yang menakutkan tentunya dengan gaun jaman kunonya.
Anna dan Barrow benar-benar dikelabui oleh para penghuni kastil tua tersebut, mereka bahkan tidak ingat dengan keberadaan rekan mereka.
"Kakak, ayo ke sini!" teriak arwah yang menyerupai Jenie.
"Tunggu, Jenie. Jangan lari!" teriak Barrow sambil mengejarJenie yang berlari menaiki anak tangga yang berbentuk spiral.
"Cepat, kak Barrow payah!" teriak Jenie.
"Jangan lari seperti itu, Jenie. Berbahaya!" teriak Barrow pula.
"Cepat, Kak Barrow. Kau harus menemukan keberadaannku!"
"Tunggu, Jenie!!" begitu banyak ruangan di atas membuat Barrow kebingungan apalagi suara tawa dan teriakan Jenie terdengar menggema di seluruh ruangan.
"Jenie, jangan bersembunyi!" teriak Barrow, dia mulai memasuki sebuah kamar yang tampak begitu rapi dengan furnitur mewah namun nyatanya ruangan itu berantakan dan berdebu. Barrow bahkan mengira lemari yang dia buka saat ini adalah lemari bagus namun itu adalah lemari usang.
"Jenie, di mana kau?" Barrow mencari adiknya dari satu lemari ke lemari lain.
"Aku di sini!" teriak Jenie sambi berlari keluar, tawanya pun kembali terdengar.
Barrow tersenyum, dia pun keluar dari ruangan untuk mencari adiknya.
Jenie kembali berlari ke dalam ruangan lain, dia pun tertawa sambil memanggil. Barrow masih mengikuti ke mana adiknya bersembunyi. Dia tidak menyadari jika dia sedang dituntun ke lantai paling atas kastil tersebut. Tangga berbentuk spiral kembali dia naiki, Jenie terlihat melayang ditengah-tengah sebuah ruangan sambil melambai namun Barrow tidak menyadarinya sama sekali.
"Ke mari, kak Barrow. Ayo tangkap aku," ucapnya. Tangannya tak henti melambai, Barrow semakin melangkah mendekatinya namun tubuh Jenie melayang ke belakang.
"Jangan lari, Jenie!" langkah Barrow semakin maju, Jenie terus melayang ke belakang. Dia akan menuntun Barrow ke tengah-tengah bangunan itu di mana bagian tengahnya adalah kosong dan jika Barrow salah melangkah maka dia akan terjun bebas ke lantai dasar.
Tubuh Jenie sudah terbang melewati pembatas yang menyerupai pagar yang menjadi penghalang agar tidak ada yang terjatuh dari sana. Kaki Barrow semakin melangkah maju, dia benar-benar terhipnotis oleh lambaian tangan adiknya.
"Ke mari, Kak Barrow," ucap Jenie lagi.
Barrow semain mendekat, tatapannya kosong. Langkahnya bahkan sudah dekat dengan pembatas, dia akan memanjati pembatas itu untuk menangkap tubuh adiknya yang melayang di tengah-tengah dan jika dia melakukannya maka dia akan terjatuh dan mati.
Di bawah sana, Anna masih berdansa. Kedua mata Anna terpejam, dia terbuai dengan apa yang sedang dia lakukan. Dia sedang berdansa di tengah ruang kosong sendirian namun entah kenapa saat itu dia merasa sedang bersama dengan Nick di dalam kamar dan sedang bercumbu dengannya.
Ekspresi yang ditunjukkan olehnya menunjukkan jika dia menikmati sentuhan yang Nick berikan. Dia sungguh tidak tahu, hantu menakutkan telah membuatnya seperti itu.
"Wake up, Anna," terdengar seseorang berbisik di telinganya namun Anna masih terbuai oleh hipnotis yang memabukkan.
"Cepatlah sadar, kalian sedang diperdaya oleh penghuni kastil," suara itu kembali terdengar.
Anna mengernyitkan dahi, kesadarannnya sudah akan kembali namun suara musik yang terdengar kembali membuatnya terbuai.
"Anna, sahabatmu akan mati jika kau tidak juga sadar!" bukan bisikan lagi namun suara teriakan yang terdengar sehingga Anna tersadar sepenuhnya dari tipu daya sang iblis. Anna terkejut dia tampak linglung, Anna melihat sekeliling yang tidak ada siapa pun.
"Barrow?" Anna mencari Barrow yang tidak terlihat bersama dengannya.
"Barrow?" Anna kembali berteriak namun Barrow tidak mendengar suara teriakannya karena yang dia dengar adalah musik piano dan saat itu, Barrow sedang memanjat pagar pembatas agar dia bisa menangkap tubuh adiknya.