Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Masalah Baru


Barrow masih bernegosiasi dengan seorang polisi setempat yang dia kenal. Tentunya dia ingin meminta bantuan polisi itu untuk mencari keberadaan kotak yang mereka yakini tidak jauh dari mereka.


Untuk saat ini, mereka harus menemukan keberadaan kotak terlebih dahulu. Kotak itu harus mereka dapatkan sebelum pergantian tahun dan bulan Januari tiba. Nenek Anna tidak menuliskan tanggal berada jiwa Mariana akan bangkit namun pergantian tahun yang sebentar lagi membuat mereka was-was. Jangan sampai jiwa jahat Mariana bangkit sehingga kejahatan semakin merajalela.


Cukup lama Barrow bernegosiai dengan polisi dan pada akhirnya polisi itu bersedia bekerja sama dengan mereka namun mereka hanya punya waktu dua hari saja. Jika sampai waktu dua hari mereka tidak menemukan keberadaan kotak itu maka mereka tidak boleh mengganggu ketenangan warga setempat.


Setelah mendapat persetujuan, Barrow menghampiri Anna yang sedang membaca buku neneknya. Dia masih berusaha mencari petunjuk akan keturunan murni Mariana yang tidak tahu siapa dan mencari cara untuk menghancurkan kotak tersebut.


"Anna, mereka setuju membantu kita," ucap Barrow.


"Bagus, kita bisa mulai mencari besok."


"Yeah, tapi kita hanya punya waktu dua hari saja. Jika kita tidak menemukannya maka kita tidak boleh mengganggu para warga lagi."


"Kenapa begitu singkat?" dua hari bukan waktu yang banyak untuk mencari kotak itu apalagi banyak yang tinggal di sana.


"Hanya itu yang bisa aku dapatkan, Anna. Kita harus memanfaatkan waktu dua hari itu sebaik-baiknya."


"Baiklah, kita memang harus mencobanya."


"Jika begitu aku mau pulang, aku belum mandi dari semalam. Badanku sudah wangi luar biasa dan aku mau istirahat!" ucap Barrow.


Anna terkekeh, buku yang sedang dia baca ditinggalkan. Anna mengikuti langkah Barrow yang melangkah keluar, mereka memang butuh istirahat dan besok mereka akan mencari keberadaan kotak yang dicuri dari mereka.


"Datanglah lebih awal besok agar kita tidak membuang waktu," ucap Anna. Mereka melangkah mendekati mobil Barrow yang terparkir di sisi jalan.


"Tentu saja, jangan pergi ke mana-mana karena kita butuh istirahat!"


"Aku tidak akan pergi ke mana pun, Barrow," Anna berdiri di sisi mobil Barrow namun tiba-tiba saja dia merasa ada yang memperhatikan mereka.


Anna sangat heran, pandangannya melihat sekitar untuk mencari orang yang sedang memperhatikan mereka. Barrow sangat heran, entah apa yang sedang dilihat oleh Anna tapi dia juga melihat sekitar yang sepi.


"Ada apa?" tanya Barrow.


"Seperti ada yang memperhatikan kita," jawab Anna. Dia masih melihat, mencari orang yang mencurigakan.


"Kau yakin?" Barrow yang tadinya berada di mobil keluar lagi.


"Tentu saja aku yakin, Barrow. Jangan-Jangan kecurigaan kita memang benar."


"Belum pasti, bukan? Jangan terlalu berperasangka buruk, masuklah untuk istirahat!" Barrow kembali ke dalam mobil.


"Kau benar, aku juga mau tidur. Mumpung ada bibi dan ibuku, aku tidak perlu khawatir arwah itu akan datang dengan menjelma sebagai dirimu."


"Ck, arwah itu tidak mungkin menjadi diriku. Kau lihat wajah tampanku ini? Tiada duanya!" ucap Barrow bangga.


"Huh, otak mesummu yang tiada duanya!"


Barrow terkekeh, mesin mobil sudah menyala. Dia sudah mau pulang untuk istirahat karena besok mereka akan kembali sibuk mencari kotak tersebut. Anna melambai dan lagi-lagi, dia merasa ada yang sedang melihat ke arahnya. Anna kembali melihat sekitar namun tidak ada siapa pun. Sungguh aneh, semoga saja hanya perasaannya saja tapi memang ada seseorang yang melihatnya dari balik pohon.


Orang itu bersembunyi, bisikan-bisikan aneh dia dapatkan. Ekspresi wajahnya terlihat aneh dan tatapan matanya tidak lepas dari Anna seolah-olah dia sangat membenci Anna.


Anna kembali memastikan, melihat sekitarnya namun orang itu bersembunyi di balik pohon agar Anna tidak melihatnya. Walau dia yakin ada yang memastikan tapi dia tidak bisa melakukan apa pun.


"Baik, Mom!" Anna pergi ke ruang tamu untuk mengambil ponsel yang dia tinggalkan di sana. Senyum menghiasi wajah saat melihat orang yang menghubungi.


"Hanya menerima panggilan dari pria tampan," ucapnya.


"Semoga pria tampan ini tidak mengganggu waktu Nona Anna," ucap Nick karena memang dia yang menghubungi Anna.


"Ada apa, Nick? Jangan katakan kau rindu padaku padahal kita baru satu hari tidak bertemu," ucap Anna menggoda.


"Bagaimana jika aku memang merindukanmu, Anna. Kau tidak keberatan, bukan?"


"Wah, kau membuat aku tersanjung. Bagaimana keadaan Lucia?"


"Lucia baik-baik saja, dia bilang dia ingin bertemu denganmu untuk membicarakan sesuatu."


"Apa ada hal penting?" Anna mulai terlihat serius.


"Sepertinya. Bagaimana jika malam ini makan malam denganku, Anna? Ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu," ajak Nick. Dia harap Anna bersedia menerima ajakan makan malamnya.


"Boleh saja, Anna Baker tidak bisa menolak ajakan dari pria tampan!"


"Aku senang mendengarnya, aku akan menjemputmu nanti malam."


"Aku tunggu, Nick," walau situasi sedang gawat tapi dia harus menikmati waktunya juga.


Setelah sepakat untuk makan malam bersama dengan Nick, Anna mencari ibunya dengan wajah berseri. Ibu dan bibinya sampai heran melihat ekspresi wajahnya yang terlihat begitu senang.


"Kenapa kau begitu senang, Anna? Apa Barrow mengajakmu pergi kencan nanti malam?" tanya bibinya.


"Bukan Barrow, Aunty. Pria tampan lain yang mengajak aku pergi makan malam."


"Wah, siapa pria yang telah membuatmu seperti ini? Sepertinya aku harus menyelidikinya dengan benar," ucap ibunya bercanda.


"Seorang kenalan, Mommy akan bertemu dengannya nanti malam karena dia akan datang menjemput aku."


"Mommy tidak sabar bertemu dengannya," ucap ibunya.


Anna tersenyum, dia jadi tidak sabar menanti malam cepat tiba. Sudah lama tidak menghabiskan waktu di luar, malam ini dia mau menikmati waktunya karena selama beberapa hari dia terlalu sibuk dengan kasus yang rumit tapi sebelum itu dia istirahat terlebih dahulu.


Anna pamit masuk ke dalam kamar pada ibu dan bibinya. Perasaan jika dia sedang diperhatikan kembali dia rasakan. Anna melangkah menuju jendela yang terbuka. Daun jendela diraih, Anna melihat keluar dengan teliti tapi tidak ada siapa pun. Aneh, apa ada arwah yang mengincarnya? Semoga saja tidak karena dia mau istirahat agar dia tidak mengantuk saat makan malam dengan Nick.


Jendela ditutup, gorden juga ditutup. Setelah kasus itu selesai dia mau pergi ke Hawaii, berjemur dengan para pria tampan. Anna naik ke atas ranjang, dia mau tidur namun mata dan pikiran tidak bisa diajak bekerja sama karena lagi-lagi dia memikirkan keturunan Mariana. Siapa keturunan murni Mariana?


Catatan yang dibuat oleh neneknya tidaklah lengkap, sangat disayangkan karena neneknya tidak membuat silsilah keluarga Mariana sehingga dia tidak bisa mencari tahu siapa sesungguhnya keturunan Mariana bahkan sang nenek juga tidak mengatakan dengan siapa Mariana menjalin hubungan dan apakah dia sudah menikah atau tidak.


Anna termenung, mata tidak mau terpejam. Neneknya berkata Mariana tidak membutuhkan raga, dia hanya butuh jiwa yang murni. Apa dengan jiwa-jiwa yang sudah terkumpul akan memberikan wujud yang tidak akan mati untuknya? Sepertinya seperti itu, sebab itu dia tidak perlu raga lalu apa hubungannya dengan si payung merah?


Perkataan arwah yang dia yakini si payung merah teringat yang mengatakan jika musuh berada di dekatnya. Tunggu, Anna duduk di atas ranjang dan terlihat serius. Apakah yang dimaksud oleh si payung merah adalah keturunan murni Mariana?


Anna tampak berpikir, jangan-jangan itulah yang dimaksud oleh si payung merah tapi siapakah keturunan murni Mariana? Masalah lama belum selesai dan sekarang, ini menjadi masalah baru yang harus dia pecahkan sebelum tahun berganti dan kebangkitan Mariana terjadi.