
Nick sedang bersiap-siap, sebentar lagi dia akan pergi menjemput Anna dan mengajaknya makan malam. Ini kali pertama mereka akan menghabiskan waktu di luar, dia memang sudah menantikannnya begitu lama.
Anna wanita yang menarik, dia juga cantik. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan apalagi Anna masih lajang. Pria bernama Barrow itu juga tidak memiliki hubungan dengannya jadi dia harus cepat bertindak jika dia menginginkan Anna.
Jas yang ada di atas ranjang diambil dan dikenakan, Nick tidak menyadari arwah yang membawa payung merah sedang memperhatikannya di luar jendela dengan tatapan penuh kebenciannya. Dia sangat ingin mendekati Nick, namun kekuatannya terbelenggu sehingga dia tidak bisa melakukan apa pun.
Setelah memastikan penampilannya, Nick segera bergegas pergi untuk menjemput Anna. Dia sudah tidak sabar, padahal mereka tidak bertemu baru satu hari saja. Dia bahkan sudah membayangkan penampilan Anna yang cantik namun sayangnya Anna masih tidur.
Lelah yang dia rasakan akhirnya membuatnya terlelap. Dalam satu malam saja banyak yang dia alami sehingga membuatnya butuh banyak istirahat. Ibunya masuk ke dalam kamar dan menggeleng karena Anna masih tidur padahal Anna berkata dia akan pergi makan malam bersama dengan seorang pria tampan.
"Anna, jika kau tidak segera bangun maka pria tampanmu akan pergi," ucap ibunya.
"Aku masih mengantuk, Mom."
"Baiklah, saat pria tampanmu datang maka aku akan memintanya untuk pulang," ucap sang ibu.
"Apa? Jangan!" teriak Anna. Kini dia sudah bangun, jangan sampai pria tampan yang ingin mengajaknya makan malam diusir oleh ibunya.
"Bagus, sudah setengah tujuh jadi segeralah bergegas. Jangan sampai pria tampanmu sudah datang tapi kau belum siap."
"Oh, tidak. Kenapa Mommy baru membangunkan aku sekarang?" Anna beranjak dari atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi dengan terburu-buru.
"Mommy kira kau sudah bersiap-siap, Sayang."
"Tolong pilihkan baju untukku, Mom!" teriak Anna sambil melepas baju yang dia gunakan. Luka di perut masih sakit jadi dia harus berhati-hati.
Ibunnya membantu mencarikan baju, sedangkan Nick sudah tiba di luar sana. Dia disambut oleh sang bibi yang memandanginya dari atas sampai ke bawah.
"Siapa yang kau cari anak muda?" tanya bibi Anna, tatapan matanya tidak lepas dari Nick.
"Aku sahabat Anna, kami sudah membuat janji untuk makan bersama," ucap Nick.
"Oh, ternyata kau rupanya. Ayo masuk, Anna sedang bersiap-siap," ucap bibi Anna.
Nick mengikuti langkah sang bibi menuju ruang tamu, dia diminta menunggu di sana sedangkan bibi Anna pergi untuk memanggil Anna.
"Anna, apa kau sudah siap? Pria tampanmu sudah datang!" ucap sang bibi.
"Sebentar Aunty, biarkan pria tampan itu menunggu sebentar!" Anna sedang mengenakan gaun malamnya dibantu sang ibu.
"Bergegaslah, Aunty akan membuatkan minuman untuknya."
"Jangan terlalu kencang, Mom. Lukaku sakit," pinta Anna saat ibunya mengikat tali gaun dibelakangnya.
"Baiklah, segera kembali jika keadaanmu tidak memungkinkan."
"Pasti," Anna melihat penampilannya di cermin dan terlihat puas. Semoga saja penampilannya malam ini tidak mengecewakan Nick.
Anna keluar dari kamar setelah selesai, Nick terkejut melihat penampilan Anna yang tampak luar biasa. Penampilan Anna benar-benar jauh berbeda dengan penampilan sehari-harinya.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Anna, "Apakah penampilanku aneh?" tanyanya lagi.
"Bukan begitu, kau terlihat begitu luar biasa!" puji Nick.
"Thanks, maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa, siap pergi?" tanya Nick.
"Tentu saja!" Anna berpamitan pada ibu dan bibinya.
Nick membawa Anna ke restoran tepi laut, mereka tidak saja akan menikmati makana tapi mereka juga akan menikmati pemandangan pantulan kota dari laut yang terlihat indah.
Sebotol anggur sudah berada di atas meja, dengan seikat bunga mawar merah. Anna tersenyum saat Nick memberikan bunga itu untuknya.
"Terima kasih," bunga diambil dan dicium. Senyum menghiasi wajah Anna tanpa henti.
"Pesanlah makanan apa pun yang kau inginkan, Anna," ucap Nick.
"Terima kasih, Nick," bunga diletakkan, Anna mengambil buku menu.
Dia restoran itu begitu banyak orang tapi lagi-lagi dia merasa ada yang memperhatikan mereka. Anna melihat sana sini, seperti mencari seseorang. Apakah ada yang mengikuti mereka?
"Kau berkata ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku, Nick. Apa itu?" tanya Anna.
"Ini mengenai, Lucia. Setiap malam dia selalu bermimpi buruk."
"Mimpi? Apa yang dia impikan?"
"Entahlah, kami mendapati dirinya berteriak saat tengah malam. Dia juga berkata melihat sosok hitam di jendela. Dia bahkan tidak tidur dan terkadang dia berdiri termenung di depan jendela. Sebab itu Lucia berkata ingin bertemu denganmu dan berbicara denganmu," ucap Nick.
"Baiklah, aku akan segera menemuinya tapi aku harap kau menjaga Lucia baik-baik, Nick. Dia adalah kunci untuk menghentikan semua yang terjadi oleh sebab itu aku harap kau tidak lengah."
"Kunci apa?" Nick tampak tidak mengerti.
"Jagalah dia baik-baik, aku akan menemuinya saat aku sudah punya waktu."
"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau katakan," anggur di tuang ke dalam gelas dan setelah itu Nick memberikan gelas yang sudah berisi anggur pada Anna.
"Bersulang untuk malam kita," ucap Nick.
"Untuk malam kita," Anna mengangkat gelas anggur, gelas diadukan hingga berbunyi dan setelah isinya diteguk sampai habis.
Makanan yang mereka pesan pun sudah terhidang, Anna dan Nick menikmati makanan mereka sambil berbincang. Kali ini mereka membahas seputar kehidupan mereka tanpa mengungkit arwah yang menginginkan nyawa Lucia. Mereka menyingkirkan hal itu untuk sesaat dan menikmat kebersamaan mereka.
Setelah selesai makan, Nick mengajak Anna untuk berdansa. Tentunya Anna tidak menolak karena dia sudah memutuskan untuk menikmati malam itu. Anna bahkan membiarkan Nick memeluknya erat saat mereka sedang menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama musik.
"Apa kau punya pacar, Anna?" tanya Nick basa basi.
"Seharusnya kau tahu, Nick. Aku tidak punya tapi aku tidak sedang ingin menjalin hubungan dengan siapa pun."
"Kenapa? Apa kau memiliki trauma?"
"Tidak, aku hanya belum ingin menjalin hubungan saja."
"Lalu, bagaimana denganku?"
"Maksudmu?" Anna menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Nick. Mereka berdua saling pandang, tangan Nick bahkan sudah berada di wajahnya.
"Apa kau tidak mau mempertimbangkan aku? Apa aku tidak bisa menjadi pacarmu?"
Anna terkejut, pernyataan yang begitu mendadak. Jawaban apa yang harus dia berikan?
"Kenapa kau diam? Apa aku kurang tampan?"
"Bukan begitu, Nick."
"Lalu? Apa ada masalah lain?"
Anna diam sejenak, mencari jawaban terbaik. Dia tahu dia tidak boleh mengecewakan pria itu.
"Beri kau waktu, saat ini aku sedang fokus dengan kasus yang sedang aku tangani dan setelah selesai, aku akan menjawab permintaanmu ini," ucap Anna.
"Baiklah jika itu maumu," Nick memeluknya, dia harus bisa mendapatkan Anna baker.
Mereka kembali berdansa, menikmati malam mereka namun mereka tidak mengetahui jika arwah si payung merah melihat mereka dengan tatapan penuh kebencian.