
Hutan, lagi-lagi hutan. Barrow benar-benar benci hutan tapi malam ini mau tidak mau dia dan Anna harus kembali masuk ke dalam hutan rimba untuk melakukan ritual karena Anna ingin membebaskan jiwa Natalie dari belenggu Mariana.
Hutan yang akan mereka datangi bukan hutan biasa, hutan itu sangatlah lebat dan berbahaya. Hutan lebat yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja karena banyak pepohonan besar yang tumbuh menjulang tinggi dan jarak pohon yang begitu dekat sehingga tidak memungkinkan mereka memasuki hutan tersebut menggunakan kendaraan mobil. Terdapat pula binatang buas di dalam hutan tersebut oleh sebab itu mereka harus berhati-hati. Tentunya Anna mendapatkan lokasi keberadaan makam Natalie dari roh pelindungnya.
Sebelum berangkat, mereka sudah melakukan persiapan. Alat-Alat untuk melakukan ritual, mantera yang harus dibacakan juga beberapa perlengkapan lain seperti senjata api juga tali. Tidak hanya itu saja, mereka juga membawa senter juga perlengkapan lainnya.
Mereka berangkat pukul tujuh malam, mereka harus berangkat lebih cepat karena jarak hutan yang jauh juga keberadaan makam Natalie yang cukup dalam berada di dalam hutan. Anna dan Barrow tiba di lokasi pukul setengah sembilan malam. Mereka harus menghabiskan satu setengah jam perjalanan untuk tiba di hutan tersebut.
Mobil dihentikan di sisi jalan, Anna melihat peta dari ponsel. Mereka memang sudah berada di sisi hutan yang akan mereka masuki. Anna turun terlebih dahulu disusul oleh Barrow. Pria itu berdiri di sisi mobil sambil menyinari hutan lebat yang akan mereka masuki sebentar lagi. Barrow bahkan menelan ludah melihat hutan tersebut.
"Apa kau serius, Anna?" tanyanya.
"Tentu saja, jangan katakan kau takut padahal kita sudah keluar masuk ke dalam hutan beberapa kali!" Anna melengkapi diri dengan senjata api yang ada di jok belakang mobil.
"Justru karena kita sudah keluar masuk hutan membuat aku jadi trauma dengan hutan!"
"Ck, cepat Barrow. Kau membuang waktu dengan melihat hutan itu. Kau akan melihatnya sampai puas setelah kita masuk ke dalam nanti!" ucap Anna. Sebuah senter super terang pun diambil karena mereka membutuhkan alat penerangan yang cukup memadai di hutan yang gelap.
Barrow mendekati Anna, mengambil perlengkapan yang harus dia bawa. Mereka harus waspada terhadap binatang buas karena beberapa binatang buas lebih aktif saat malam hari.
Setelah perlengkapan sudah siap, mereka berdua berdiri di sisi hutan. Barrow kembali menelan ludah apalagi mereka disambut oleh suara burung hantu. Bulu roma pun meremang, semoga tidak ada yang mengikutinya dari belakang dan berdiri di atas pundaknya.
Barrow mengusap tengkuk, sial. Dia jadi memikirkan yang tidak-tidak sehingga membuatnya semakin merinding karena takut. Seharusnya dia memanggul salib besar di punggung agar tidak ada hantu yang bisa mendekatinya lalu duduk di atas bahunya.
"Ayo, Barrow!" ajak Anna.
"Kau yakin?" tanya Barrow karena dia tidak yakin. Malam-Malam mereka harus masuk ke dalam hutan untuk mencari makam, sepertinya mereka berdua sudah gila.
"Cepat, dasar pengecut!" Anna melangkah masuk ke dalam hutan, Barrow segera berlari menyusul. Dia tidak mau berada di belakang Anna oleh sebab itu dia berjalan di depan. Setidaknya jika ada hantu yang hendak duduk di atas pundaknya, hantu itu harus melewati Anna terlebih dahulu dan jika ada hantu yang menempel di belakangnya, Anna bisa melihatnya.
"Aku jalan terlebih dahulu, jangan sampai kau diterkam singa!" ucapnya beralasan padahal dia takut berada di belakang.
Anna menggeleng, senter yang super terang sangat membantu mereka melihat jalanan dan juga melewati batang pohon yang tumbang. Suara serangga malam mengiri perjalanan mereka memasuki hutan, suara burung hantu juga tidak henti terdengar bahkan suara lolongan serigala terdengar dari kejauhan.
Malam itu cuaca tidak begitu bersahabat, hujan mulai mengguyur membuat udara di dalam hutan terasa begitu dingin. Jalanan yang mereka lalui pun terjal dan licin, hal itu membuat Barrow harus berhenti dan mengulurkan tangannya ke arah Anna untuk membantunya. Tidak lupa, mereka juga membuat tanda agar mereka tidak tersesat dan bisa kembali setelah mereka sudah selesai.
"Berikan tanganmu padaku!" Barrow megulurkan satu tangannya, sedangkan tangan lain memegangi batang kayu.
"Hujan semakin lebat, Barrow. Kita berteduh sebentar!" teriak Anna.
"Mau berteduh di mana?" tanya Barrow sambil berteriak karena hujan yang semakin mengguyur dengan lebat.
"Kita cari goa atau apa saja yang bisa kita gunakan untuk berteduh sebentar!" teriak Anna pula.
"Tidak perlu, kita terus jalan. Aku membawa jas hujan. Kita tidak tahu akan berapa lama hujan ini berhenti jadi sebaiknya kita terus jalan dari pada kita kehabisan waktu!" Barrow membuka ransel yang dia bawa, dia memang membawa jas hujan untuk berjaga-jaga dan beruntungnya jas yang dia bawa sangat berguna.
Anna mengangguk setuju, mereka berdiri di bawah pohon besar yang cukup rindang agar tidak terlalu basah terkena air hujan. Suara binatang hutan tidak terdengar lagi, mereka sibuk mengenakan jas hujan. Walau agak basah tapi tidak jadi soal, ternyata Barrow memikikirkan hal itu sehingga membawa jas hujan.
Setelah jas hujan sudah terpakai, mereka kembali melangkah memasuki hutan yangg begitu lebat. Mereka terus melangkah tanpa menyadari ada yang merayap di atas rumput dan bergerak dengan cepat.
Suara sesuatu yang mendesis terdengar, Anna dan Barrow melangkah dengan hati-hati melewati rerumputan yang cukup tinggi. Rumput di sebelah kanan terlihat bergoyang seperti ada yang bergerak di bawahnya. Anna dan Barrow melangkah mundur, mereka juga tampak waspada dengan keadaan.
"Apa itu, Anna? Hantu atau ular?" tanya Barrow.
"Bodoh, hantu apa yang ada di semak-semak? Sudah pasti ular, bukan?"
"Sial, aku benci ular!" ucap Barrow.
Senter di arahkan ke arah kanan lalu ke kiri karena rumput-rumput terus bergerak. Firasat buruk, sepertinya mereka harus lari karena bisa saja yang sedang berada di rerumputan itu ular anaconda besar.
"Melangkah dengan perlahan, Barrow. Jangan lari," ucap Anna.
"Aku benar-benar benci ini, Anna!" Barrow melangkah mundur dengan hati-hati. Desisan semakin terdengar, rumput pun tidak henti bergoyang. Mereka berdua melangkah dengan hati-hati, dari balik semak ada yang mengintai. Hujan pun sudah berhenti, para binatang lapar kembali mencari mangsanya.
Kini tidak hanya suara desisan, suara geraman binatang buas pun terdengar. Anna dan Barrow semakin waspada, apalagi mereka merasa ada yang mengintai mereka berdua.
"Lari, Anna!" ucap Barrow sambil berbisik.
Belum lagi Anna menjawab, mereka berdua terkejut saat seekor singa betina melompat ke arah Anna yang sedang melangkah mundur.
"Anna!" Barrow berteriak, suara letusan senjata api terdengar karena Anna menembak namun singa lain juga melompat ke arahnya dan menyergapnya.
Situasi jadi mencekam karena dua singa lapar sedang menyerang Anna. Barrow berusaha menembaki kedua singa itu secara bergilir tapi sayangnya, dia harus dikejutkan oleh sesuatu yang melilit di kakinya lalu menarik tubuhnya.
"Anna!" Barrow berteriak karena tubunya ditarik oleh sesuatu di atas rerumputan. Pistol yang ada di tangan pun terjatuh entah ke mana.
"Barrow!" Anna pun berteriak memanggil karena Barrow ditarik pergi dan berteriak meminta bantuannya.
Dua singa lapar itu masih terus menyerangnya, Anna mengumpat kesal. Serangan malam yang mendadak, mereka belum bertemu dengan hantu tapi mereka justru bertemu dengan binatang lapar terlebih dahulu.