Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Restu


Malam romantis mereka belum berakhir, Anna dan Barrow masih berada di sisi pantai. Mereka berdua duduk di atas pasir sambil memandangi langit malam yang indah.


Jas yang dipakai oleh Barrow sudah digunakan oleh Anna, tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Malam ini mereka sudah resmi berpacaran tapi rasanya tidaklah puas. Barrow merasa dia ingin memiliki Anna secepatnya. Jangan sampai ada Nick lainnya yang membawa Anna pergi dari sisinya.


Malam itu bulan bersinar terang, bintang-bintang pun tampak gemerlapan di atas langit yang cerah. Melihat bulan yang bersinar dengan begitu indahnya mengingatkan Anna pad Nick.


"Jika kau tidak memiliki uang, apa kau akan melakukan perjanjian dengan iblis, Barrow?"


"Hei, apa maksudmu berkata demikian?" tanya Barrow tidak senang.


"Hidup ini rumit, Barrow. Semua akan berubah, kau dan aku, kita akan berubah suatu hari nanti. Perasaanmu padaku, pasti akan berubah dan kau tahu itu akan terjadi pada hubungan kita suatu saat nanti."


"Benar yang kau katakan semua akan berubah. Kita memang berubah dan perasaanku padamu pasti akan berubah. Aku tahu kau pasti ragu padaku tapi perasaan yang aku miliki padamu akan semakin bertambah besar. Aku akan semakin mencintai dirimu, kau akan semakin menjadi orang yang spesial dalam hidupku. Cinta yang ada untukmu akan semakin bertambah besar dan besar lagi," ucap Barrow.


"Benarkah?" Anna berpaling dan memandanginya sejenak.


"Sudah aku duga kau meragukan aku, Anna."


"Bukan begitu, Barrow. Aku selalu ditinggalkan oleh kekasihku. Hubungan kami hanya bertahan dua minggu saja. Semua pria yang menjalin hubungan denganku pasti akan melakukan hal demikian, saat hubungan kami tepat dua minggu saat itu pula mereka mencampakkan aku dengan berbagai alasan. Aku tidak tahu kenapa tapi itulah yang terjadi dan kemungkinan besar kau juga akan melakukan hal yang sama seperti mereka."


"Jadi kau menganggap aku seperti mereka?"


"Hal itu bisa saja terjadi, bukan? Sudah aku katakan semua bisa berubah."


"Aku tidak melakukan hal itu, Anna. Percayalah padaku tapi jika kau ragu, aku bisa menikahi dirimu malam ini juga!' ucap Barrow tanpa adanya keraguan.


"Apa kau serius, Barrow?"


"Tentu saja jika kau mau tapi aku akan membuktikan padamu jika aku tidak akan meninggalkan dirimu sekalipun hubungan kita sudah berjalan dua minggu."


"Baiklah, jika kau bisa bertahan selama dua minggu maka aku akan menerima lamaran darimu," Anna juga tidak ragu, mungkin saja Barrow adalah jodohnya. Sebab itu dia selalu dicampakkan oleh para pria yang pernah menjalin hubungan dengannya.


"Pegang ucapanmu, Anna. Jika hubungan kita baik-baik saja sampai kita kembali maka bersiaplah karena aku akan melamar dirimu. Pada saat itu aku tidak mau mendengar alasan apa pun dan kau harus menjadi istriku!"


"Aku menantikannya, Barrow," Anna beranjak dan menepuk pasir yang ada di belakang gaunnya.


Barrow pun beranjak, malam semakin larut tapi dia enggan kembali ke kamar. Dia masih ingin berduaan seperti itu dengan Anna.


"Ayo kita jalan di sisi pantai sebentar," ajak Barrow.


"Boleh saja," Anna tidak menolak dan menggenggam telapak tangan Barrow yang besar. Mereka melangkah bersama menyelusuri sisi pantai.


Barrow tidak melepaskan tangan Anna sama sekai, mereka menyelusuri pantai sambil berbincang. Makhluk apa pun yang ada di sisi pantai tidak dipedulikan oleh Anna. Walau ada beberapa yang mengikuti mereka tapi Anna benar-benar tidak mempedulikan para hantu tersebut.


"Kakiku sudah sakit, ayo kembali," ajak Anna.


"Kemarilah, aku akan menggendongmu," Barrow sudah berjongkok di depan Anna.


"Tidak perlu, kamar kita pun tidak jauh," tolak Anna.


"Ayolah, jangan menolak!"


Anna tampak canggung tapi pada akhirnya dia naik juga ke punggung Barrow. High heel yang Barrow bawakan sudah berpindah tangan karena Anna yang membawanya.


Kamar mereka memang tidak jauh tapi kebersamaan mereka yang seperti itu sangatlah berarti.


"Terima kasih untuk malam berarti ini, Barrow."


"Tidak perlu berterima kasih, Anna. Aku ingin kau mempersiapkan hatimu karena aku bersungguh-sungguh akan melamar dirimu setelah kita kembali dari sini."


"Kau harus melakukannya sekarang juga!"


''Kenapa? Kau tampak begitu terburu-buru?"


"Kau tahu, aku ingin segera menjadikan kau sebagai milikku jadi katakan pada mereka agar mereka tidak mencarikan seorang pengusaha untukmu."


Anna terkekeh, ibu dan bibinya tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi memang tidak ada salahnya menghubungi mereka dan mencari tahu bagaimana dengan pendapat mereka akan hubungannya dengan Barrow.


Setelah tiba di kamar, Anna menghubungi ibunya sedangkan Barrow pergi mandi. Mereka tidak akan mandi bersama karena itu terlalu cepat. Mereka pun tidak akan melakukan apa pun malam ini, sepertinya demikian.


"Mom, apa yang kalian lakukan?" tanya Anna pada ibunya.


"Mommy baik-baik saja, bagaimana dengan keadaanmu di sana?" tanya ibunya pula.


"Aku baik-baik saja walau sempat ada sedikit halangan tapi semua bisa diatasi dan kami dapat menikmati waktu kami berdua."


"Mommy sangat senang mendengarnya, Sayang. Sekarang katakan pada Mommy, bagaimana hubunganmu dengan Barrow?" tanya ibunya. Dia tahu Anna pergi berlibur bukan saja untuk merayakan keberhasilan mereka menangani kasus tapi mereka juga melakukan pendekatan.


"Bagaimana menurut Mommy?"


"Kenapa kau bertanya demikian padaku, Sayang? Kau yang akan menjalin hubungan dengannya dan kau sudah mengenal Barrow begitu lama jadi kaulah yang menilai."


"Barrow pemuda yang baik, Mom. Aku tahu itu, aku bahkan tidak menolak cintanya."


"Berarti itu adalah kabar bagus, aku senang mendengarnya."


"Kau tidak akan keberatan jika aku menikah dengannya?" tanya Anna lagi.


"Tentu saja tidak tapi apa kau serius, Anna?"


"Yeah.... Barrow bekata akan melamar aku setelah kami kembali."


"Baiklah, ini benar-benar kabar bagus. Jangan meyia-nyiakan cinta tulus yang ada di depan mata. Mommy serahkan semuanya padamu."


"Baiklah, aku hanya ingin tahu pendapat Mommy saja. Terima kasih atas nasehatnya dan maaf sudah menganggu Mommy."


Pembicaraan dengan ibunya pun berakhir, Anna masih termenung di depan balkon kamar sampai akkhirnya dia dikejutkan oleh tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Barrow, jangan mengagetkan aku!" ucapnya.


"Bagaimana, apa kau sudah berbicara dengan ibumu?"


"Tentu saja, ibuku berkata terserah aku."


"Apa itu berarti ibumu merestui hubungan kita?"


"Yeah, Mommy sudah mengenal dirimu jadi dia tidak keberatan."


"Oh... Aku benar-benar senang mendengarnya!" Tubuh Anna dibalik, Barrow mencium bibir Anna sejenak, "Mau mandi sendiri atau aku yang mandikan?" tanyanya sambil menarik turun tali gaun Anna.


"Tugasmu, Barrow. Taburlah garam yang kau bawa di sekeliling ranjang," goda Anna.


"Oh, sial. Aku hampir melupakannya. Pergilah mandi, aku akan membersihkan seluruh kamar ini agar tidak ada yang mengganggu!"


Anna terkekeh dan melangkah masuk di susul oleh Barrow. Anna masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Barrow menabur garam, memercik air suci lalu salib yang dia bawa sudah berada di atas meja. Tidak ada yang boleh mengganggu malamnya dengan Anna, sekalipun itu hantu.


Setelah selesai melakukan hal itu, Barrow menunggu Anna di atas ranjang. Anna keluar dari kamar mandi setelah mengenakan gaun malam, Barrow tampak tidak sabar dan ketika Anna mendekatinya, Barrow menarik tangan Anna sehingga Anna jatuh berbaring. Akhirnya, malam mereka berlanjut dan tidak ada hantu apa pun yang menganggu mereka.