
Kotak yang mereka dapatkan dengan susah payah disimpan dibagasi. Walau sudah tidak seberat tadi tapi kotak itu harus mereka angkat berdua karena kotak itu terbuat dari benda besi atau semacamnya.
Setelah memasukkan kotak usang itu, Anna dan Barrow terduduk di atas tanah untuk mengambil napas. Mata Anna masih memandangi kelima arwah yang berusaha untuk keluar tapi tidak bisa karena mereka seperti dihalangi oleh sesuatu.
Tatapan Anna berpindah ke Barrow, pria itu terlihat begitu lelah. Kotak itu sungguh berat saat berada di rumah berhantu itu. Sungguh aneh, dia sangat ingin bertanya tapi tenaganya sudah terkuras banyak sebab itu dia sedang mengumpulkan tenaga.
"Bagaimana dengan lehermu?" tanya Anna.
"Jangan dipikirkan, lihat luka di lenganmu. Itu lebih serius!" ucap Barrow.
Anna melihat luka goresan di tangan yang cukup dalam, itu disebabkan oleh kaca ketika dia melompat keluar dari jendela.
"Luka ringan, tidak masalah," ucap Anna.
"Mana arwah itu, apa tidak mengejar?" tanya Barrow.
"Sudah aku katakan, mereka seperti tejebak di rumah itu, Barrow. Ada semacam dinding pelindung yang menghalangi mereka untuk keluar dari rumah itu."
"Kau sudah mengatakannya, Anna. Dari mana kau tahu hal ini?" tanya Barrow ingin tahu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tahu," Anna juga terlihat bingung.
"Dasar kau aneh, ada berapa arwah yang ada di dalam?"
"Lima!"
"What?" Barrow terkejut, jadi mereka menghadapi lima arwah sedari tadi?
"Kenapa kau tidak bilang padaku ada begitu banyak?" tanyanya.
"Jika kau tahu kau pasti akan lari."
"Tentu saja, untuk apa aku mempertahankan kotak rongsok itu!" dengus Barrow.
"Kotak itu bisa memberi kita petunjuk, Barrow," ucap Anna.
"Ck, aku lebih suka mencari petunjuk lain dari pada aku menghadapi arwah. Aku hampir mati oleh sesuatu yang tak kasat mata, bagaimana jika kau yang jadi tersangka nanti? Aku juga tidak mau terkurung di rumah itu lalu berkumpul dengan kelima arwah itu yang aku tebak jika mereka semua adalah wanita!"
"Dari mana kau tahu?"
"Aku menebak saja, wanita lebih mengerikan. Untung saja aku tidak mati jika tidak aku akan menjadi budak naf*su oleh kelima arwah itu!"
"Sial, masih saja bercanda di saat seperti ini!" Anna memukul bahu Barrow lalu beranjak.
"Mau ke mana?" Barrow juga beranjak.
"Aku ingin berbicara dengan mereka," ucap Anna.
"Apa, untuk apa?"
Anna tidak menjawab namun dia sudah berdiri di depan rumah itu di mana kelima arwah itu masih berusaha untuk keluar.
"Apa yang terjadi pada kalian?" tanyanya.
"kau tidak perlu tahu, manusia!!"
"Mungkin aku bisa membebaskan kalian dari sini jadi katakan padaku, apa yang terjadi dan kenapa kalian bisa terkunci di rumah ini?"
"Kami memang tersegel di rumah ini untuk selamanya, apa kau tidak bisa melihatnya?" teriak mereka marah.
"Katakan padaku, apa yang terjadi sehingga kalian mengalami hal ini?"
"Kami adalah budak yang dibeli lalu dijadikan tumbal. Jiwa kami terkurung di tempat ini untuk selamanya. Apa kau kira kami menyukai hal ini?"
"Cari tahu jika kau mampu dan kotak itu, kau tidak akan pernah berhasil membukanya!" Kelima arwah itu melayang masuk ke dalam sambil memperdengarkan tawa mengerikan mereka.
Anna masih memperhatikan begitu juga Barrow yang berdiri di belakangnya walau dia tidak tahu apa yang sedang Anna lihat dan dengan siapa dia berbicara tapi tiba-tiba saja pintu rumah itu tertutup dengan sendirinya.
Barrow terkejut, arwah yang pemarah. Sangat beruntung dia tidak bisa melihat para arwah itu, dia juga lebih suka tidak bisa melihat mereka. Anna menghela napas, dia berjalan pergi namun bukan pergi ke mobil tapi dia seperti ingin mengelilingi rumah tersebut.
"Hei, mau ke mana?" Barrow mengikuti langkah Anna.
"Melihat rumah ini dari luar!"
"Untuk apa?" tanya Barrow tidak mengerti.
"Melihat saja, aku ingin tahu!"
"Hm, jangan katakan jika kau ingin mencari sesuatu lagi!"
Anna hanya tersenyum, mereka mengitari rumah tersebut dan melihatnya. Pepohonan rambat hampir menutupi sebagian rumah, beberapa bagian yang hancur pun dapat terlihat. Bagi orang awam seperti Barrow, rumah itu tampak seperti rumah tua pada umumnya tapi bagi orang seperti Anna, dia bisa melihat di rumah itu memiliki energi yang jahat.
Dia menebak rumah itu digunakan oleh orang-orang untuk mengadakan ritual semacam pemujaan setan. Enah kenapa dia jadi curiga jika si payung merah adalah korban dari ritual sesat tersebut. Apakah si payung merah memiliki hubungan dengan kelima hantu yang ada di dalam sana? Itu bisa saja terjadi, jangan-jangan mereka adalah sahabat atau kerabat.
Anna dan Barrow masih mengitari rumah tua itu, dari luar tidak ada yang aneh. Tidak juga terkesan seram, sekarang dia mengambil kesimpulan jika kelima arwah dan arwah wanita tua yang dia lihat untuk pertama kali bangkit kembali akibat permainan papan Ouija yang dilakukan oleh Lucia dan keempat sahabatnya.
Mungkin arwah itu sejak awal tertidur tapi akibat permainan pemanggil arwah tersebut, mereka bangkit tapi mereka terkurung namun bagaimana arwah Wanita tua itu bisa keluar dan memberikan payung merah pada Anna? Sungguh rumit dan membuat kepala sakit.
"Ayo kita pergi, Anna," ajak Barrow.
"Ya, kita kembali. Aku sudah tidak sabar membuka kotak itu," uca Anna. Mata melihat sekeliling, dia merasa ada yang mengawasi mereka dari kejauhan.
Mereka melangkah menuju mobil namun langkah Anna terhenti karena dia semakin yakin ada sosok arwah yang memperhatikannya.
"Anna," Barrow sangat heran karena Anna berhenti bahkan dia melangkah ke arah yang berbeda.
"Hei, mau ke mana??" Barrow berlari, mengejar Anna yang sedang melangkah menuju sebuah pohon besar.
Barrow tidak bisa melihat tapi Anna bisa karena di bawah pohon itu berdiri arwah si payung merah yang menatap Anna dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" tanya Anna.
"Kenapa kau menghalangi aku untuk membunuh gadis itu?" teriak arwah si payung merah. Karena jimat yang diberikan oleh Anna, dia tidak bisa menyentuh Lucia lagi. Setiap kali dia ingin merasuki gadis itu, dia selalu terpental jauh.
"Sudah aku katakan, janga sentuh dia. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu dan kelima arwah itu. Aku yakin kemampuan yang aku miliki bisa menolong kalian agar kalian tidak terjebak di dunia ini terlalu lama," ucap Anna.
"Jangan membual kalian para manusia munafik. Kalian berkata-kata manis namun nyatanya di dalam hati kalian busuk! Bujuk rayu kalian lakukan tapi nyatanya hanya untuk menyenangkan keinginan kalian. Selama dendam ini belum terbalas, aku tidak akan berhenti membunuh bahkan aku tidak akan ragu untuk membunuh orang-orang terdekatmu jika kau masih berani ikut campur!" ancam arwah si payung merah.
"Jangan pernah menyentuh mereka. Aku tidak berbohong akan membantumu jadi katakan, apa yang telah terjadi dengan kalian?"
"Diam! Rasa percaya pada manusia sudah tidak ada dan aku," arwah itu terbang ke belakang, bayangannya terlihat menipis, "Aku tetap akan membunuh gadis itu menggunakan cara apa pun!" suara itu terdengar diiringi hilangnya arwah si payung merah.
Anna diam, sepertinya arwah itu mengalami kekecewaan yang teramat dalam pada manusia semasa hidupnya. Sebab itu dia tidak percaya pada ucapan manusia lagi.
"Bagaimana?" tanya Barrow.
"Ayo pergi, dia tidak mudah diajak berkomunikasi," ajak Anna.
"Sudah pasti, sepertinya kasus ini masih panjang, Anna."
Anna menghela napas, dia harap bisa cepat selesai dan setelah ini dia mau pergi berlibur agar dia tidak terlibat dengan arwah lagi.
Mereka pergi meninggalkan rumah tua tersebut, membawa kotak yang mereka dapatkan. Apa pun isi kotak itu, mereka akan tahu nanti.