
Anna diminta untuk istirahat sebelum memulai ritual untuk membawa jiwa Barrow kembali. Beberapa jimat diletakkan di sekitar tubuh Barrow, itu dilakukan agar tubuhnya tidak dirasuki oleh arwah yang tidak bertanggung jawab.
Sepertinya ibu dan neneknya mengerti akan hal seperti itu. Mereka memang diajari oleh ibu mereka walau sesungguhnya mereka tidak tertarik namun tidak ada yang menduga jika apa yang diajarkan oleh ibu mereka akan berguna hari ini.
Ibu Anna membuatkan makanan untuk Anna, sedangkan sang bibi membereskan rumah yang berantakan. Mereka juga membutuhkan beberapa alat ritual. Walau sangat berbahaya apalagi kondisi Anna yang sedang lemah dan juga tidak adanya jimat yang seharusnya selalu dia bawa namun tidak ada yang bisa menolak keinginan Anna untuk membawa jiwa Barrow kembali.
Anna sudah meminum beberapa obat penahan rasa sakit. Dia tahu tidak mudah setelah mendengar perkataan ibu dan bibinya namun dia tidak akan rela membiarkan Barrow mati gara-gara dirinya.
Beberapa lilin, cermin besar dan beberapa benda lainnya sudah disiapkan. Setelah Anna makan dan memiliki tenaga yang cukup, maka ritual akan segera dijalankan.
Sang ibu menghampiri putrinya dengan semangkuk makanan. Anna duduk didekat Barrow, dia tidak meninggalkan Barrow sejak tadi.
"Bagaimana keadaanmu, Anna?" tanya ibunya.
"Sudah lebih baik, Mom. Aku tidak menduga akan mengalami hal seperti ini. Aku juga tidak tahu arwah mana yang membawa jiwa Barrow karena arwah itu tidak menampakkan diri. Entah itu arwah si payung merah, atau arwah yang mengejarku. Aku sungguh tidak tahu," ucap Anna.
"Mommy tahu semua yang terjadi pasti berat untukmu, Anna. Tapi dengarkan Mommy, mau itu arwah si payung merah atau arwah yang mengejarmu, mereka tidak ada bedanya. Kedua arwah itu bahkan akan bekerja sama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan jadi waspadahal pada kedua arwah itu. Arwah yang mati dalam keadaan memiliki banyak dendam sangat mengerikan, aku sudah melihat nenek mengusir mereka namun mereka sulit untuk ditangani bahkan arwah seperti itu tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai."
"Lalu apa kesalahan yang aku lakukan, Mom? Kenapa arwah jahat itu mengejar aku padahal aku tidak melakukan apa pun?" sungguh dia belum mengerti akan hal itu.
"Sudah Mommy katakan padamu, bukan? Kau dan saudara kembarmu lahir saat bulan purnama dan menurut nenek kau memiliki jiwa yang murni namun pada saat itu arwah itu salah mengambil sehingga saudaramu harus meninggal."
"Untuk apa arwah itu mengambil jiwa murniku?"
"Tentu saja untuk menambah kekuatan mereka, tidak saja menambah kekuatan tapi kau juga ancaman untuk mereka. Kau belum memahami hal ini sebab itu kau masih harus banyak belajar lagi. Nenek berkata dia perlu bertahun-tahun untuk memahami kelebihan yang dia miliki oleh sebab itu, kau juga akan melewati proses itu apalagi kau baru tahu kemampuanmu ini tidak lama."
"Apa aku bisa menghilangkan kemampuanku ini, Mom? Aku benar-benar tidak menginginkannya," jika kemampuannya itu bisa dihilangkan, dia lebih suka tidak bisa melihat arwah sama sekali.
"Tidak bisa, Anna. Itu sudah menjadi takdirmu!"
Anna diam, namun dia terlihat kecewa. Kehidupan normalnya sudah tidak bisa kembali lagi bahkan karena kemampuan yang dia miliki, dia justru mencelakai sahabat baiknya.
"Suatu saat nanti, kau akan bersyukur telah memiliki kemampuan itu. Nenek berkata ketika dia tahu kemampuannya, dia tidak suka sama sekali tapi seiring berjalannnya waktu, dia bisa menerimanya. Jadi jangan sedih seperti itu, Mommy pasti akan membantumu mendapatkan jiwa rekanmu kembali."
Anna mengangguk dan berusaha tersenyum, makanan yang ibunya berikan dinikmati. Sang bibi yang sudah selesai mempersiapkan persiapan ritual menghampiri mereka, dan bergabung dengan mereka.
"Anna, mengenai kotak yang kau ceritakan," ucap bibinya.
"Aku menguburnya di taman belakang, Aunty. Sebelumnya kotak itu mengambil tumbal sebab itu aku dan Barrow berniat menguburnya namun aku justru mencelakainya," jawab Anna.
"Katakan padaku, bagaimana bentuk kotak itu. Mungkin Aunty bisa membantumu memecahkan masalah itu."
"Apa itu kotak kutukan, Anna?" tanya ibunya.
"Aku tidak tahu, Mom. Aku sedang berusaha membukanya tapi tidak bisa dan sampai sekarang, aku selalu mendapatkan gangguan."
"Kotak tidak berpintu dan memiliki banyak ukiran?" sang bibi terlihat berpikir. Sepertinya dia pernah melihat kotak itu tapi dia tidak tahu pernah melihatnya di mana.
"Apa kau tahu?" tanya ibu Anna.
"Aku tidak yakin, Kak. Tapi sepertinya aku pernah melihat rupa kotak seperti itu disalah satu buku catatan Mommy."
"Apa?" Anna tampak terkejut.
"Sepertinya kita harus membongkar barang-barang yang ditinggalkan oleh Mommy. Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk," ucap ibu Anna.
"Kau benar, setelah ini kita harus mencarinya."
"Aku akan pulang dengan kalian," ucap Anna. Jika memang ada petunjuk tentang kotak itu maka tidak boleh dia sia-siakan. Mungkin neneknya meninggalkan catatan tentang kotak itu. Bagaimana cara membukanya, apakah kotak itu boleh dibuka atau tidak. Dia juga ingin tahu, siapa sebenarnya pemilik kotak misterius itu. Mungkin dari sana dia bisa memecahkan misteri arwah si payung merah.
Anna menikmati makanannya dengan cepat. Dia sudah tidak sabar untuk mencari tahu tentang kotak misterius itu. Tapi dia harus menyelamatkan Barrow terlebih dahulu dan melewati rintangan yang tidak tahu apa karena dia tahu tidak akan mudah.
Setelah selesai, Anna diminta untuk duduk di depan cermin dan di antara lilin yang membentuk lingkaran. Beberapa alat ritual juga sudah dipersiapkan namun sebelum memulai, ibunya memberi penjelasan terlebih dahulu.
"Ingat, Anna. Wakutmu hanya sepuluh menit saja. Cermin itu adalah jalanmu untuk kembali, lilin yang akan kau bawa nanti jangan sampai padam karena sampai hal itu terjadi, kau akan tersesat dan tidak akan menemukan jalan kembali. Kau paham?"
"Aku mengerti, Mom."
"Di sana sangat berbahaya, kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya jadi fokus cari sahabatmu, jangan tergoda dengan apa pun. Ingat, kau hanya sendirian di dalam sana. Jika kau mengalami masalah lalu tiba-tiba kau melihat aku, Aunty atau yang lainnya jangan pernah mengikuti karena itu bukanlah kami. Kau tidak akan pernah bisa kembali jika kau salah melangkah. Mommy harap kau bisa menemukan keberadaan sahabatmu sebelum waktunya habis tapi jika tidak, segera kembali dan ikuti cahaya yang kau lihat. Jangan bersikeras untuk mencari keberadaan rekanmu sampai ketemu karena kalian berdua akan terjebak di dalam sana untuk selamanya."
"Aku tahu, Mom. Aku akan melakukan apa yang Mommy katakan."
"Bagus, Mommy harap kau berasil," sebuah lilin diberikan ke tangan Anna, lilin itu yang akan dia bawa nanti.
"Ayo kita mulai," ucap bibinya.
Anna mengangguk, napas berat dihembuskan. Mata Anna sudah terpejam, walau ada rasa takut namun rasa khawatir akan keadaan Barrow mengalahkan rasa takut yang dia rasakan.
Ibu dan bibinya memulai ritual, entah apa yang mereka lakukan, Anna tidak tahu. Matanya masih saja terpejam, namun suara ibu dan bibinya lama-lama memudar. Ruangan mendadak sunyi, hawa dingin dia rasakan dan bau tak sedap pun tercium.
Anna membuka mata dengan perlahan, namun kegelapan yang dia dapatkan. Anna beranjak, mengangkat lilin dan melihat sekitar yang sangat gelap. Di mana dia sekarang? Apa dia sudah berada di dunia lain?