Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Hanya Bercanda


Barrow pergi setelah Anna tidur, ada yang hendak dia siapkan untuk Anna nanti malam. Tentunya dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan tidak mau membuang waktu mereka selama berada di sana. Waktu yang dia miliki hanya dua minggu, setelah kembali mereka akan disibukkan dengan kasus baru dan sepertinya mereka tidak bisa satu tim lagi sehingga membuat mereka akan jarang bertemu.


Kasus arwah si payung merah sudah selesai, semoga saja tidak ada kasus seperti itu yang berhubungan dengan ilmu hitam tapi jika mengingat mereka tidak akan menjadi rekan lagi, dia justru berharap bisa menangani kasus yang sama agar mereka bisa bersama.


Mereka sudah mendapatkan kasus apa yang akan mereka tangani setelah mereka kembali nanti. Anna akan menyelidiki kasus di mana para remaja yang menjadi korban sedangkan Barrow akan menangani kasus penyeludupan yang melibatkan seorang penjahat kelas kakap oleh sebab itu, waktu yang mereka miliki di sana tidak boleh dia sia-siakan.


Barrow sedang merencanakan sebuah makan malam romantis, malam ini dia harus membuat Anna berdebar walau sedikit. Tidak mudah menarik perhatian Anna yang cuek tapi dia tetap harus berusaha. Untuk mendapatkan Anna sudah pasti harus berjuang, tidak ada yang mudah apalagi untuk mendapatkan cinta.


Setelah semua yang dia inginkan siap, Barrow kembali ke kamar di mana Anna masih tidur. Barrow segera menghampiri Anna yang pasti lelah setelah membantu hantu Rosaline menegakkan keadilan. Kasus mendadak dan tidak terduga tapi sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk melihat hantu, Anna tidak bisa menghindarinya. Lagi pula dia sudah menerima kemampuannya itu di mana tidak semua orang memilikinya.


Anna sedang berbaring membelakangi Barrow, selimut pun menutupi seluruh tubuhnya. Barrow yang tidak curiga sama sekali, naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Anna. Barrow juga memeluk Anna dari belakang. Dia jadi ingin menggoda Anna, dia tidak pernah mencobanya jadi dia harus mencoba.


"Anna," selimut yang menutupi tubuh Anna di buka, lengan Anna pun diusap dengan perlahan.


"Kau ingin tidur sampai kapan?" Barrow berbisik dan menyingkirkan rambut Anna yang menutupi wajahnya.


Anna masih tidak bergeming, dia tampak heran karena Anna tidak juga bangun. Padahal Anna tidak seperti ini sebelumnya, apa dia benar-benar lelah?


"Jika kau tidak bangun juga maka aku menggerayangi seluruh tubuhmu ini!" ancam Barrow.


Anna masih juga tidur, aneh. Barrow semakin penasaran dan ingin tahu. Dari pada penasaran dengan keadaan Anna, jadi dia lihat saja. Tanpa ragu Barrow memutar tubuh Anna, dia kira akan mendapati wajah cantik Anna saat tidur tapi yang dia dapatkan justru wajah mengerikan dengan mulut robek serta kedua mata yang berada di luar.


Barrow berteriak karena terkejut, secara refleks Barrow mundur ke belakang sehingga membuatnya terjatuh. Sosok mengerikan itu bangun dan duduk di atas ranjang. Sosok itu pun memalingkan wajahnya yang mengerikan ke arah Barrow.


"Kenapa kau mengganggu aku?" tanya sosok mengerikan itu dengan suara menakutkan.


"Sial, kau kemanakan Anna?" teriak Barrow.


"Anna? Dia sudah berada di dalam perutku," perut yang begitu besar diusap, tatapan mata Barrow pun jatuh pada perutnya yang buncit.


"Tidak, tidak mungkin!" teriak Barrow.


"Selanjutnya aku ingin memakan dirimu," sosok mengerikan itu merangkak menuruni ranjang.


Barrow menelan ludah, dia pun melangkah mundur. Sosok itu semakin merangkak mendekati Barrow, satu matanya bahkan jatuh di atas lantai.


"Pergi, jangan mendekati aku!" teriak Barrow kesal.


"Aku ingin memakanmu, pemuda tampan. Hi.. Hi... Hi!"


Barrow semakin memundurkan tubuhnya tapi tunggu, kenapa suara hantu itu seperti suara Anna? Anna juga tidak ada di mana-mana, jangan katakan?


Hantu mengerikan itu semakin merangkak mendekat, Barrow semakin curiga dibuatnya. Pasti Anna, dia yakin Anna sedang menakuti dirinya.


"Kemarilah, pemuda tampan. Aku ingin menelan dirimu!" sosok mengerikan itu sudah tidak jauh, oleh sebab itu Barrow segera menarik wajah mengerikan itu dan benar saja, itu hanya sebuah topeng yang digunakan oleh Anna untuk menakuti Barrow.


"Ck, begitu cepat sudah ketahuan!" sosok mengerikan itu memang Anna, dia sengaja berpenampilan seperti itu untuk menakuti Barrow.


Barrow benar-benar kesal, dia kira hantu itu sungguhan tapi nyatanya? Akan dia balas apa yang Anna lakukan padanya.


"Aku kira kau akan takut sampai lari," ucap Anna seraya beranjak. Sumpalan di dalam baju pun dikeluarkan.


"Apa kau kira menyenangkan menakuti aku?" Barrow pun beranjak.


"Aku hanya bercanda Barrow, jangan marah."


"Tapi itu tidak lucu, Anna!"


"Oke, baiklah. Maafkan aku," Anna melangkah mendekati Barrow dan mencium pipinya sebagai permintaan maaf.


"Aku minta maaf," ucap Anna lagi.


"Cium yang benar jika ingin meminta maaf!" ucap Barrow.


"Apa aku belum melakukan nya dengan benar?"


"Belum!" Barrow meraih pinggang Anna sehingga tubuh mereka merapat. Dagu Anna pun diangkat, bibir mereka sudah saling beradu saat itu.


Kali ini tidak ada perasaan canggung lagi, kedua tangan Anna sudah melingkar di leher Barrow. Seperti yang Barrow duga, mereka memang harus perbanyak kontak fisik agar semakin dekat dan agar rasa canggung yang mereka rasakan selama ini sirna.


Ciuman mereka terlepas, Anna dan Barrow saling pandang dengan napas memburu. Tangan Barrow sudah berada di wajah Anna, mengusapnya dengan perlahan.


"Malam ini aku punya kejutan untukmu," ucapnya.


"Benarkah? Apa kau sudah menyiapkan sesuatu yang romantis untuk membuat aku berdebar?"


"Yes, sebab itu segeralah bergegas. Aku ingin melihatmu berpenampilan feminim malam ini."


"Apa penampilanku tidak menarik?"


"Tidak, bukan begitu Anna. Aku belum pernah melihatmu berpenampilan feminim. Aku belum pernah melihat dirimu menggunakan gaun malam yang indah jadi malam ini aku ingin melihatnya."


"Baiklah, hanya memakai gaun saja, bukan perkara sulit!" Anna mendorong tubuh Barrow, dia akan bersiap-siap namun Barrow kembali menarik pinggangnya lalu mencium bibirnya kembali. Anna pun tidak membantah, Barrow menggendongnya dan membawanya mendekati ranjang, rasanya tidak ingin mengakhiri kebersamaan mereka yang seperti itu.


Tubuh Anna dibaringkan dengan perlahan, Barrow tidak melepaskan bibir Anna sama sekali. Mereka berciuman cukup lama dan saling melepaskan saat membutuhkan napas. Tidak ada yang mengatakan apa pun, mereka berpelukan dalam diam.


Anna mendongak sebentar untuk memandangi Barrow, mata Barrow sedang terpejam dan tangannya tidak henti membelai rambutnya. Ya sudahlah, Barrow pemuda yang baik, dia hanya takut dengan hantu saja tapi tidak dengan penjahat jadi tidak ada salahnya menjalin hubungan dengan pria itu. Mereka memang rekan kerja tapi hubungan mereka bisa menjadi hubungan yang spesial jika mereka mau merubahnya. Lagi pula setelah ini mereka tidak menjadi rekan kerja lagi dan rasa canggung yang mereka rasakan sebagai rekan kerja  tidak akan mereka rasakan lagi.