
Keadaan di rumah sakit tampak kacau, polisi sudah berada di lokasi saat Anna dan Barrow tiba di tempat itu. Padatnya jalanan membuat mereka kesulitan untuk tiba dan begitu tiba, mereka jadi tahu jika ada seorang wanita yang melompat dari ruangan yang ada di lantai dua puluh tujuh.
Ramainya kerumunan orang menarik perhatian mereka dan begitu tahu ada yang bunuh diri, Anna melihat dan tampak lega karena mayat itu bukan Lucia.
Anna tidak peduli dengan mayat yang sedang dievakuasi, dia justru pergi mencari Nick untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Lucia. Sudah dia duga jimat itu tidak begitu menjamin, padahal dia tidak mau kembali ke rumah sakit itu lagi akibat kejadian mengerikan pada malam itu tapi kini dia harus kembali lagi.
Para petugas sudah berada di dalam ruangan di mana Lucia dirawat, Anna tidak mendapati gadis itu berada di dalam ruangannya lagi. Itu karena keadaan Lucia sedang kritis akibat racun yang diberikan oleh Marion, tepatnya arwah si payung merah.
"Apa yang terjadi?" tanya Anna pada petugas yang ada di dalam ruangan.
"Tolong jangan masuk, Mam," seorang petugas wanita menahannya agar dia tidak masuk.
"Aku Anna Baker," Anna menunjukkan lencana dan identitasnya sehingga dia diperbolehkan masuk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya lagi.
"Seorang wanita bernama Marion meracuni pasien yang bernama Lucia Devan dan setelah itu, wanita itu bunuh diri," jelas petugas yang mengikutinya.
"Racun?" itu pasti ulah arwah si payung merah karena dia berkata akan melakukan cara apa pun untuk membunuh Lucia.
Anna melihat ke bawah, di mana tubuh Marion sedang dievakuasi. Wanita malang yang harus menjadi korban. Bertambah satu lagi korban yang mati akibat ulah arwa itu. Semoga tidak ada korban lagi tapi selama dia belum bisa memecahkan kasusnya maka dia yakin, arwah itu akan selalu mengambil korban.
Makanan yang berantakan menjadi bukti, bercak darah juga menjadi bukti karena Lucia sampai memuntahkan darah sebelum Nick kembali ke dalam kamar.
"Sekarang mana gadis itu?" tanya Anna.
"Dia sedang ditangani di ruang darurat karena kritis."
Tanpa membuang waktu, Anna berlari keluar karena dia ingin tahu bagaimana keadaan Lucia. Barrow mengikutinya, mereka berdua mencari keberadaan Lucia sampai akhirnya mereka melihat Nick berada di depan sebuah ruangan dan terlihat begitu depresi.
"Nick, bagaimana adikmu?" tanya Anna seraya melangkah mendekat.
Nick melihat ke arahnya, Anna bisa melihat jika mata pria itu tampak sembab dan merah seperti habis menangis. Nick meraih pinggangnya secara tiba-tiba sehingga membuat Anna terkejut. Pria itu memeluknya erat, bisa dia rasakan jika tubuh Nick bergetar lalu sesuatu membasahi bahunya.
Barrow menghentikan langkahnya, entah kenapa dia merasa jika dia tidak boleh berada di sana. Barrow melangkah mundur, sebaiknya dia pergi membantu para petugas yang lain dari pada berada di antara mereka.
"Apa yang terjadi?" Anna mengusap punggung Nick, dia melakukan hal itu untuk menenangkannya.
"Seharusnya aku curiga, seharusnya aku tahu jika itu bukan Marion karena kami sudah lama tidak bertemu tapi dia tiba-tiba datang menemui aku. Aku bahkan meninggalkan mereka bersama, semua yang terjadi karena kesalahanku, Anna," ucap Nick, dekapannya semakin erat.
"Tidak perlu menyalahkan diri seperti ini, kau hanya lengah saja."
"Tidak, semua gara-gara kebodohanku. Aku yang terlalu lalai dan sekarang, Lucia diambang kematian akibat kelalaian yang aku lakukan!"
Anna tidak mengatakan apa pun lagi, tangannya tidak henti mengusap punggung pemuda itu. Nick pasti sangat terpukul karena dia sudah menyebabkan adiknya hampir terbunuh padahal dia berada di sana. Nick sungguh menyesal telah meninggalkan Lucia bersama dengan Marion.
"Semua gara-gara aku," ucap Nick lagi.
"Tidak, semua gara-gara arwah sialan itu!" kini dia benar-benar marah. Sungguh arwah yang picik tapi sesungguhnya yang harus dia salahkan adalah orang yang sudah membuat arwah itu mati dipenuhi oleh dendam. Siapa pun pelaku yang telah membuat arwah si payung merah jadi seperti itu, tidak akan dia lepaskan.
"Apa yang harus aku lakukan, Anna. Arwah itu akan terus mengejar adikku."
"Aku tidak tahu, Nick. Sudah aku katakan jangan terlalu bergantung pada jimat yang aku berikan tapi kalian tidak mau mendengarkan aku!"
"Aku benar-benar bodoh," Nick melepaskannya dan kembali terduduk di kursi.
Mereka berdua diam, Anna mencari keberadaan Barrow tapi pria itu tidak terlihat. Dia jadi tidak enak hati pada Barrow.
"Lain kali, jagalah Lucia dengan baik," ucap Anna.
"Jika Lucia masih hidup, aku tidak akan lalai lagi menjaganya," terliat rasa sesal yang teramat dalam pada dirinya karena dia benar-benar menyesal.
Pada saat itu, kedua orangtua Nick datang. Ibunya terlihat khawatir tapi tidak dengan sang ayah. Pria itu menunjukkan ekspresi tidak suka saat melihat Anna. Semua yang terjadi setelah Lucia terlibat dengan agen itu.
"Nick, bagaimana keadaan Lucia?" tanya ibunya.
Nick beranjak, begitu juga dengan Anna. Tatapan mata ayah Nick tidak lepas dari Anna bahkan pria itu menghampiri Anna dan berdiri di hadapannya.
"Kau, bukan? Semua ini gara-gara kau!" ucapnya.
"Dad, apa maksudmu berkata demikian pada Anna?" Nick tampak tidak senang.
"Jangan membela dirinya, Nick. Sejak awal semua yang terjadi pada Lucia setelah bertemu dengannya. Dialah sumber petaka dalam keluarga kita sehingga Lucia harus mengalami kejadian tidak menyenangkan sampai berkali-kali!"
"Wow, Tuan Devan. Tolong jangan menuduh sembarangan," ucap Anna.
"Benar, Dad. Jangan menuduh Nona Anna seperti itu. Dia adalah penolong yang sudah menyelamatkan Lucia beberapa kali," ucap istrinya.
"Penolong? Sudah aku katakan kalian jangan terlalu percaya dengan wanita ini tapi kalian masih saja mempercayainya!" teriak Galen Devan lantang.
"Tutup mulutmu, Dad. Jangan berbicara sembarangan tentang Anna padahal Daddy tidak tahu apa pun karena Daddy hanya peduli dengan bisnis Daddy saja!" ucap Nick dengan nada tidak suka.
"Hng, sungguh luar biasa. Sekarang keluargaku sudah berani melawanku. Apa ini yang kau inginkan, Anna Baker?"
"Dad!" Nick berteriak keras, Anna mencoba melerai.
"Tidak perlu ribut karena aku. Aku hanya seorang penegak hukum. Jika Tuan Devan tidak suka aku berada di sini, maka aku akan pergi," ucap Anna.
"Pergi, jangan pernah mengganggu keluargaku lagi karena semua yang terjadi pada Lucia akibat perbuatanmu!"
"Apa kau bisa diam, Dad?" kedua tangan Nick sudah mengepal erat. Rasanya ingin memukul ayahnya yang menyalahkan orang sembarangan.
"Tidak perlu marah, Nick. Aku pergi dulu," Anna memegangi tangan Nick lalu dia kembali berkata, "Kabari aku jika Lucia sudah baik-baik saja."
"Maaf, Anna. Aku akan menghubungimu nanti," Nick jadi tidak enak hati.
"Jagalah dia baik-baik," setelah berkata demikian, Anna melangkah pergi. Dia tidak suka ada keributan yang diakibatkan oleh dirinya. Dia bisa melihat ayah Nick tidak menyukainya dan dia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kenapa kau berbicara seperti itu pada Anna, Dad? Apa kau tidak tahu sudah berapa kali dia menolong Lucia?" ucap Nick kesal.
"Sudah aku katakan, semua disebabkan olehnya supaya kita bergantung dan percaya pada dirinya. Dia juga sengaja mendekati dirimu, dia ingin merayumu jadi berhati-hatilah!" ucap ayahnya.
"Untuk apa dia melakukan hal itu? Daddy jangan asal bicara jika tidak memiliki bukti!"
"Tentu saja dia menginginkan uang kita, dia pura-pura baik dengan dalih arwah yang tidak bisa kita lihat. Apa kalian tidak curiga sama sekali? Jangan-Jangan arwah itu dia yang mengirimkannya!" ucap ayahnya.
"Cukup, Dad! Sekali lagi aku mendengar Daddy mengatakan hal buruk tentang Anna, sekalipun kau ayahku, aku tidak akan memaafkannya!" ucap Nick seraya melangkah pergi.
Sang ibu mencoba mencegah tapi Nick tetap pergi. Mereka tidak tahu jika pembicaraan mereka didengar oleh sosok bergaun merah yang berdiri di balik pintu. Seringai lebar menghiasi wajahnya yang robek. Hal itu bisa dia manfaatkan untuk menyingkirkan Anna Baker agar tidak mengganggunya lagi.