
Lampu senter kembali kedap kedip, Anna masih memikirkan cara untuk menerobos mantera pelindung yang dibuat oleh Mariana. Entah bagiamana caranya tapi dia sudah membuang banyak waktu karena setelah ini dia pun harus mencari jalan untuk kembali.
Anna bepikir dengan keras, namun dia tidak menemukan caranya. Apakah mantera harus dia lawan menggunakan mantera juga? Tapi mantera apa? Seandainya dia membawa buku sang nenek, mungkin saja ada mantera yang bisa dia gunakan untuk mematahkan mantera pelindung Mariana.
"Aku semakin kehabisan waktu," ucapnya. Anna mulai frustasi.
"Apa kau tidak tahu sama sekali akan hal ini, Anna?"
"Tidak, seandainya ada Nenek, mungkin aku bisa?"
"Jika begitu panggilah dia!" sela roh pelindungnya.
"Aku bisa memanggil nenek?"
"Tentu saja, panggilah dia. Mungkin dia bisa membantumu"
Anna mengangguk, mata pun terpejam karena dia ingin berkonsentrasi untuk memanggil neneknya. Sekarang sang nenek menjadi harapan satu-satunya yang dia miliki untuk mematahkan mantera pelindung Mariana.
"Nenek, aku butuh bantuanmu. Datanglah dan bantu aku mematahkan mantera pelindung yang dibuat oleh Mariana," Anna memanggil neneknya dan berharap neneknya datang membantu karena dia tidak memiliki jalan lagi untuk mendapatkan pisau Artsbond yang sudah ada di depan mata.
Cukup lama Anna menunggu, tidak ada yang manjawab. Dia tampak sedikit kecewa. Apakah neneknya tidak bisa mendengar panggilannya karena dia berada di alam gaib? Ataukah neneknya tidak bisa mendengar panggilannya karena ada penghalang di alam tersebut?
"Nenek, apa kau tidak mendengar aku?" Anna kembali memanggil, dia sangat berharap neneknya datang membantu.
"Nenek di sini, Anna," terdengar suara neneknya namun Anna tidak bisa melihat sosoknya.
"Akhirnya kau datang, Nenek. Kali ini aku butuh bantuanmu. Aku tidak bisa menembus pelindung yang dibuat oleh Mariana jadi tolonglah aku," pinta Anna.
"Nenek lihat sebentar!"
Anna menunggu, entah apa yang dilakukan oleh neneknya karena dia tidak bisa melihat sosok sang nenek yang sedang terbang mengitari pelindung yang Mariana ciptakan. Pelindung yang sangat kuat untuk menjaga sesuatu yang sangat berharga. Tentunya berisiko saat mantera pelindung itu dipatahkan.
"Bagaimana, Nenek?" tanya Anna tidak sabar.
"Pelindung yang rumit, Anna. Tapi Nenek bisa membantumu mematahkan menteranya namun ada risiko yang harus kau hadapi saat mantera pelindung itu dipatahkan," ucap neneknya.
"Risiko, apakah sangat berbahaya?" jangan katakan dia harus menjadi tua secara mendadak atau semacamnya.
"Saat pelindung itu terbuka, kau hanya punya waktu sepuluh detik saja untuk mengambil pisau tersebut karena mantera itu akan kembali untuk menyegel pisau. Jika kau kehabisan waktu maka kau akan terkurung di dalam pelindung yang tidak akan bisa dipatahkan lagi untuk selamanya karena pelidung yang dibuat oleh Mariana hanya bisa dipatahkan satu kali saja. Hanya Mariana yang bisa membuka pelindung yang dia ciptakan jadi kau harus cepat untuk mengambil pisau tersebut."
"Sepuluh detik, itu sudah cukup untukku, Nenek," senter yang sudah redup diangkat, bersama dengan pistol. Sepuluh detik akan dia pergunakan dengan baik.
"Kau siap, Anna?" tanya neneknya.
"Terbukalah!" seperti ada dua energy yang saling bertabrakan, Anna bahkan dapat merasakannya dan pada saat itu, mantera pelindung yang dibuat oleh Mariana untuk melindungi pisau Artsbond terbuka.
"Sekarang, Anna!!" terdengar suara teriakan neneknya.
Anna bergerak, suara letusan senjata api terdengar karena Anna menembaki rantai yang membelenggu pisau hingga terlepas. Anna meraih benda yang dia inginkan dan setelah itu dia berlari menjauh agar dia tidak terkurung di dalam pelindung yang akan kembali.
Benda itu sudah dia dapatkan dan pada saat itu pula, Mariana merasa ada yang aneh. Mariana keluar dari lukisan dinding, dia merasa ada yang mencuri barang berharga miliknya. Sebaiknya dia pergi memeriksa apalagi dia masih curiga akan keberadaan penyusup yang masih menjadi tanda tanya juga keanehan yang terjadi di rumah tua.
Mariana kembali masuk ke dalam lukisan, dia akan pergi ke alam gaib untuk melihat apakah benda berharga yang dia sembunyikan masih aman atau tidak namun benda itu sudah berada di tangan Anna.
Sebelum mentera pelindung Mariana kembali utuh, Anna melemparkan salib yang dia bawa sebagai pengganti pisau milik Mariana. Salib itu mendarat tepat di atas batu di mana pisau tadi berada. Anna berlari dengan cepat, keluar dari mantera pelindung ciptaan Mariana.
Batu-Batu yang dia pijak bergetar, lava panas juga terlihat mendidih. Anna berlari tanpa membuang waktu karena dia takut batu setapak yang bisa dia lewati kembali tenggelam ke dalam lava. Jangan sampai dia terjebak di sana sampai tua.
"Bergegas, Anna. Aku merasakan kehadiran Mariana," ucap roh pelindungnya.
"Apa? Apa dia tahu aku mengambil pisau itu?"
"Sepertinya dia menyadarinya jadi bergegaslah!"
Anna melompati sisa jalan setapak yang terakhir, akhirnya dia keluar dari kolam lava panas tersebut namun guncangan dahsyat membuat Anna kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Anna mengumpat, pisau Artsbon terpental jatuh ke sisi kolam. Anna merangkak hendak mengambil pisau tersebut namun dia dikejutkan oleh monster besar yang muncul dari dalam kolam lava panas.
Monster itu pun berteriak, mengeluarkan banyak lava yang menyiprat ke mana-mana. Anna melindungi kepalanya menggunakan lengan, takut lava panas itu mengenai dirinya. Sepertinya monster lava itu memang ditugaskan untuk menjaga pisau Artsbond.
Anna merangkak perlahan, untuk mengambil pisau tersebut. Jaraknya tingga sedikit lagi namun dia dikejutkan oleh dua lengan yang menghantam lantai sehingga lava panas menyiprat di sekeliling pisau.
"Siapa, Siapa yang telah berani mengambil barang berharga milik Mariana?" teriak monster lava tersebut.
Anna tidak bersuara, dia masih berusaha merangkak untuk mengambil pisau yang sudah tidak jauh lagi.
"Ambil pisau itu dan lari. Mariana sudah dekat dan kau tidak akan bisa mengalahkan monster lava itu" ucap roh pelindungnya.
Anna mengangguk, dia kembali merangkak tapi lagi-lagi kedua lengan monster itu menghantam lantai membuat Lava berada di mana-mana yang mempersulit dirinya untuk mendapatkan pisau tersebut.
Mariana memang sudah dekat, alam gaib selalu sunyi dan menyeramkan tapi dia tahu ada yang salah dan tidak beres. Sepertinya ada yang masuk dan mengacau di alam itu. Jangan katakan penyusup itu berhasil masuk dan mengambil pisau yang disembunyikan. Sepertinya kelima arwah itu sudah membohonginya, begitu juga dengan arwah nenek tua itu.
Tidak akan dia biarkan, mereka sudah begitu berani membohonginya. Mariana sudah melewati para perawat yang membawa benda tajam, dia pun sudah melewati hantu halusinasi yang hendak memperdaya Anna menggunakan kembarannya. Mariana pun sudah tiba di rawa dan akan masuk ke dalam bangunan yang dia ciptakan.
Anna masih berusaha mencari jalan untuk mengambil pisau yang dia jatuhkan. Dia harus melewati beberapa kubangan lava dan lengan monster yang panas. Dia harus cepat sebelum Mariana tiba di tempat itu.