
Gelembung itu semakin membesar lalu meletus dan mengeluarkan asap hijau yang berbau begitu busuk. Anna menutup hidungnya dengan cepat, karena dia takut asap hijau itu adalah gas beracun. Anna kembali melangkah dengan susah payah, gelembung meledak semakin banyak sehingga asap hijau pun semakin banyak.
Dia harap tidak ada monster atau semacamnya keluar dari kubangan hitam itu. Jika sampai hal itu terjadi, dia tidak akan bisa lari akibat kubangan yang begitu lengket. Anna terus menarik kedua kakinya, tatapan mata begitu waspada dengan sekitar. Gelembung-Gelembung itu terus bermunculan, membuat gas hijau itu semakin banyak.
Anna mengabaikan gelembung-gelembung itu dan terus melangkah maju. Tujuannya berada di depan sana, dia harus bergegas dan tidak membuang waktunya terlalu lama di dalam kubangan yang seperti rawa itu.
Bluk... Bluk.. Bluk.... Terdengar suara aneh di belakangnya. Anna berpaling, mendengar suara seperti air mendidih di belakangnya. Senter pun di arahkan ke belakang, untuk mencari sumber suara yang semakin lama semakin terdengar. Anna bahkan menyipitkan kedua matanya, melihat kubangan yang mendidih bagaikan air panas.
Firasat buruk, dia yakin ada sesuatu di dalam gelembung yang mendidih itu. Anna memundurkan langkahnya, kubangan lengket terasa bergejolak seperti ada yang bergerak di bawahnya. Sebaiknya dia pergi, dia yakin ada monster di bawah gelembung-gelembung itu.
Anna berbalik, menarik kakinya agar dia bisa segera pergi. Kubangan itu semakin bergejolak dan benar saja dugaannya, monster yang begitu besar bangkit dari kubangan itu dan mengeluarkan suara mengerikan yang melengking tinggi. Anna menutup kedua telinganya rapat, ketika masuk ada monster api dan sekarang ada monster rawa. Semoga nanti tidak ada monster air atau pun monster angin.
"Ba-Bagaimana ini?" tanya Anna pada roh pelindungnya.
"Jangan bersuara, Anna. Melangkahlah dengan perlahan. Makhluk itu buta, tapi kau harus waspada karena tidak hanya satu."
Tidak hanya satu? Anna melihat sekeliling, benar saja yang roh pelindungnya katakan. Monster itu muncul di mana-mana. Mereka begitu besar, tubuh mereka bagaikan pohon besar yang memiliki banyak dahan.
"Siapa, Siapa yang telah membangunkan kami?" salah satu monster itu bertanya.
Anna menutup mulut, takut bersuara. Kakinya kembali melangkah mundur, monster-monster itu terus bermunculan dari dalam kubangan. Sejak awal dia sudah menduga ada yang tidak beres, tidak mungkin tidak ada apa pun dalam kubangan. Beruntungnya bukan buaya, dia akan sulit lari jika seluruh kubangan itu dipenuhi oleh buaya.
Langkah Anna semakin mundur, kubangan semakin terasa bergejolak didekatnya. Dia merasa akan ada yang muncul dan benar saja, monster besar muncul tepat di belakangnya. Anna diam mematung, mulut ditutup dengan rapat.
Monster itu sudah berdiri tepat di belakangnya, membuat Anna tidak bisa bergerak dan pergi ke mana pun. Bau busuk tercium, ternyata gas berwarna hijau yang keluar tadi adalah ulah monster tersebut dan baunya hampir sama.
"Pelan-Pelan, Anna," ucap roh pelindungnya.
Anna menarik satu kaki, berharap monster itu tidak menyadari keberadaannya namun kubangan itu bergerak sehingga monster yang ada di belakangnya seperti menyadari keberadaannya. Monster itu mendekati Anna, Anna pun berhenti dan menahan napas apalagi Monster itu superti mencari dirinya.
"Siapa yang telah berani masuk ke dalam rawa dan membangunkan kami?" pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh monster yang lebih besar. Seperti yang roh pelindung Anna katakan, monster-monster itu buta.
Anna tidak bisa bergerak, satu gerakan saja bisa membuat posisinya ketahuan. Sepertinya dia harus mencari cara untuk keluar dari rawa tersebut. Tangannya mulai meraba saku celana, dia tidak memiliki apa pun untuk menarik perhatian para monster tersebut.
Anna meraba bagian kantong belakang dan menemukan ponselnya. Dia lupa ada benda itu di saku celana bagian belakangnya. Ponsel di keluarkan, Anna tampak berpikir. Pandangannya melihat ke arah para monster yang seperti batang pohon, tiba-tiba dia memiliki ide walau dia harus kehilangan ponselnya.
Anna menyalakan benda itu, mencari aplikasi pemutar musik. Mungkin posisinya memang akan ketahuan tapi dia akan mengelabui para monster tersebut. Sebelum musik diputar, Anna menarik napasnya sejenak. Dia mulai berbalik dengan perlahan untuk melihat monster yang masih berada tepat di belakangnya. Dia hanya memiliki satu kesempatan dan dia tidak boleh melakukan kesalahan.
"Di sana kau rupanya!" Monster itu memajukan tubuhnya, untuk mencari keberadaan Anna.
Anna kembali tidak bergerak, seperti yang dia duga monster itu pasti akan mencari keberadaannya dengan cara memajukan tubuhnya untuk mencari suara atau semacamnya. Anna menahan napas saat wajah monster itu berada di sampingnya, itu kesempatan yang dia tungggu. Dengan tangan gemetar dan dengan cepat Anna menyalakan musik lalu menyelipkan di bagian monster yang berbentuk seperti dahan-dahan pohon.
Musik keras berbunyi karena Anna sudah menaikkan volume ponselnya sampai maksimal. Monster itu terkejut begitu pun monster yang lainnya. Anna belum bergerak namun dia dikejutkan oleh monster-monster yang tiba-tiba melompat keluar dari kubangan yang lengket lalu menyerang monster yang ada di belakangnya.
Anna memnunduk agar monster itu tidak mengenai dirinya, para monster itu terlihat marah dan mengerikan. Gigi mereka keluar secara tiba-tiba, siap mencabik mangsa mereka. Tanpa membuang waktu Anna menarik kedua kakinya, menjauhi para monster itu. Jangan sampai dia menyia-nyiakan kesempatan karena ponsel itu akan mati saat jatuh ke dalam kubangan.
Teriakan mengerikan para monster terdengar, apalagi monster yang sedang dicabik oleh monster yang lain. Para monster itu tidak menyadari keberadaan Anna karena musik yang masih berbunyi keras. Monster yang menjadi korban pun sudah tercabik-cabik oleh monster yang lain. Kepala monster itu bahkan ditarik hingga lepas, lalu ponsel yang Anna selipkan jatuh ke dalam kubangan.
Musik berhenti berputar, Anna mengumpat dan terus menarik kedua kakinya agar segera keluar dari kubangan lengket itu. Sedikit lagi, dia sudah melihat daratan namun kubangan yang bergerak setiap kali dia menarik kedua kakinya membuat para monster yang ada di belakang sana menyadari keberadaannya.
Suara mengerikan monster itu terdengar, Anna berpaling namun dia tidak bisa melihat apa pun karena gelap. Dia pun tidak ingin mencari tahu karena dia sibuk menarik kedua kakinya. Anna terkejut saat kubangan itu bergelombang lalu suara monster-monster itu terdengar tidak jauh darinya.
"Tidak... Tidak!" Anna mulai panik namun dia terus menarik kedua kakinya. Para monster itu kembali melompat ke arahnya, Anna semakin panik. Sedikit lagi dia akan sampai namun kubangan lengket itu benar-benar menghambat dirinya.
"Aku ingin memakan dagingmu!" teriakan monster itu terdengar lalu monster itu melompat ke arah Anna.
Anna menunduk dengan cepat sehingga monster itu melewatinya. Dia semakin panik luar biasa karena monster yang begitu banyak sudah berada di belakangnya siap melompat untuk menerkamnya.
"Cepat, Anna!" teriak Roh pelindungnya.
"Aku sedang berusaha!" teriak Anna sambil menarik kakinya lagi. Dua langkah lagi dia akan mencapai daratan, karena teriakannya itu pula membuat semua monster mengetahui keberadaannya.
"Dagingnya adalah milikku!" semua monster sudah melompat ke arahnya.
Anna merinding mendengar teriakan monster tersebut yang sudah melompat ke arahnya, siap mencabik tubuhnya dan memakannya seperti yang mereka lakukan pada monster tadi.
"Aku tidak ingin melewati rawa ini lagi!" teriak Anna sambil menarik satu kaki yang masih berada di kubangan.
"Menjauh!" teriak roh pelindungnya.
Anna segera menjauh dari kubangan dan pada saat itu, para monster yang hendak menerkamnya terpental akibat sebuah penghalang yang tidak bisa mereka lewati. Anna terengah-engah melihat para monster yang tidak bisa naik ke darat, sepertinya mereka memang tidak bisa keluar dari kubangan tersebut.
Anna belum beranjak, dia masih berada di sana menyaksikan para monster yang kembali menenggelamkan diri ke dalam kubangan lalu menghilang. Kubangan itu kembali seperti semula, seperti tidak terjadi apa pun di sana. Kini Anna mulai melangkah, menyinari tempat itu menggunakan senternya. Anna berjalan cukup jauh namun langkahnya terhenti saat sebuah bangunan berada di hadapannya. Apakah itu tempatnya?