
Anna mulai melangkah, lilin yang dia bawa menjadi penerang. Suasana sunyi, angin dingin berhembus membuat bulu roma meremang. Dia bagaikan sedang berjalan di sebuah jembatan, dia tidak bisa melihat apa pun di depan sana. Dia lupa bertanya pada ibunya, apakah dia boleh memanggil Barrow?
Entah ke mana dia harus melangkah, dia tidak tahu. Jalan yang dia lewati lurus ke depan, sisi kanan dan kiri tampak gelap. Anna semakin melangkah menjauh dan pada saat itu, sesosok yang menggunakan jubah hitam berdiri di hadapannya. Sosok itu memegang sebuah tongkat, tubuhnya sedikit membungkuk. Sosok itu bagaikan seorang penyihir.
Anna terus melangkah, satu tangan menahan api lilin, jangan sampai lilin itu padam. Anna hendak mengabaikan sosok itu namun sosok itu mengangkat kepalanya tapi Anna tidak bisa melihat rupa sosok itu yang gelap.
"Berhenti, tidak seharusnya manusia berada di sini," ucap sosok hitam yang kini sudah berada di sampingnya.
"Aku tidak akan lama, aku hanya ingin membawa sahabatku kembali yang dibawa secara paksa ke alam ini," ucap Anna.
"Nyalimu sungguh besar, tidak mudah keluar dari alam ini sekalipun kau bernyali!"
"Jika kau memiliki niat baik, tolong bantu aku tapi jika tidak, tolong jangan halangi langkahku!" pinta Anna.
"Di alam ini, tidak ada yang baik, Nona. Jadi jangan percaya pada siapa pun!" setelah berkata demikian, sosok itu menunjuk ke arah kanan, seperti memberi Anna petunjuk.
Anna melihat ke arah tangan mengerikan itu menunjuk, entah kenapa dia tidak yakin itu bukan arahnya apalagi sosok itu baru saja berkata untuk tidak percaya pada siapa pun.
"Terima kasih," Anna melangkah maju, samar-samar dia bisa mendengar beberapa suara. Kakinya terus melangkah, lilin di arah ke kanan dan ke kiri, Anna benar-benar tidak tahu harus mencari Barrow di mana.
"Barrow," Anna mencoba memanggil dan terus melangkah.
"Barrow, apa kau mendengar aku?"
"Siapa, siapa di sana?" terdengar suara Barrow.
"Ini aku Anna, dia mana kau?"
"Aku di sini, Anna. Aku ada di sini, aku berada di sini!!" tiba-tiba suara Barrow terdengar dari segala sisi.
Anna melangkah mundur, ada yang tidak beres. Dia tahu itu bukan Barrow, sepertinya para arwah yang ada di sana ingin mengelabui dirinya. Anna menghentikan langkah sejenak, ludah di telan dengan kasar. Dia tidak bisa mundur, dia harus terus melangkah maju.
Kini dia tidak memanggil, dengan lilin yang dia bawa, Anna menerangi sekitarnya. Bau amis dan bau busuk tercium, perutnya terasa mual. Anna merasa ada yang berdiri di sisi kanan dan sisi kirinya, bau busuk semakin menyengat sehingga Anna harus menutup hidungnya.
Dia terus melangkah, tiba-tiba di depan sana terlihat ada yang berdiri saat Anna memajukan lilinnya. Ludah kembali ditelan, dia memberanikan diri untuk kembali melangkah melewati sosok itu. Suasana benar-benar gelap, hanya satu titik cahaya yaitu cahaya lilin yang dia bawa.
Sosok yang menyerupai seorang pria itu semakin dekat, Anna terkejut melihat wajahnya yang hancur dan meleleh. Tidak hanya satu, ternyata sedari tadi dia berjalan di antara sosok mengerikan itu.
"Manusia... ada manusia!" sosok-sosok itu seperti mengendus dirinya. Jantung Anna berdegup kencang. Lari, sebaiknya dia lari apalagi sosok mengerikan dan berbau busuk itu mulai mengerumuninya.
Tanpa pikir panjang, Anna berlari sambil menjaga api lilin. Dia rasa waktu sepuluh menit sudah tidak banyak tapi dia belum juga menemukan Barrow. Dia juga sudah jauh dari titik di mana dia datang tadi. Bagaimana dia bisa kembali nanti?
"Barrow! Di mana kau?!" kini dia kembali berteriak, diam saja juga bukan solusi di tempat gelap itu.
"Barrow, jawab aku jika kau mendengar!" Anna masih memanggil.
"Barrow!" Anna kembali berteriak namun tiba-tiba saja, Bhuukkk!! Sesuatu menghantam punggungnya dengan keras.
Tubuh Anna terdorong ke depan, dia bahkan jatuh terjerambab. Lilin yang dia pegang jatuh, namun masih menyala. Anna beranjak dan ingin mengambil lilinnya namun lagi-lagi ada yang menghantam tubuhnya dengan keras diiringi dengan tawa mengerikan.
Anna bahkan sampai memuntahkan darah, dan hal itu dia alami di dunia nyata. Ibu dan bibinya terkejut, melihat darah segar dimuntahkan sampai dua kali oleh Anna.
"Bagaimana ini, apakah kita harus mengakhiri ritualnya?" ucap ibu Anna. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya.
"Jangan, kak. Kita justru akan mencelakai jiwanya!"
Sang ibu khawatir luar biasa, Anna terlihat kesakitan. Darah dari luka mengalir, beberapa goresan terbentuk di tangannya karena Anna sedang melawan sesuatu yang tidak bisa dia lihat saat itu.
"Kau sungguh berani datang ke sini, Anna. Aku akan mengambil jiwamu dengan senang hati," ucap arwah itu.
"Diam, kembalikan sahabatku!" teriak Anna. Seluruh tubuh terasa sakit. Walau perutnya tidak berdarah dan dia tidak memuntahkah darah di alam itu tapi hal itu terjadi di dunia nyata.
"Kau lemah, Anna. Kau tidak akan bisa menemukan keberadaannya dan jiwamu akan menjadi milikku!"
"Tutup mulutmu, sekalipun aku lemah tapi aku tidak akan menyerah begitu saja jadi katakan di mana Barrow. Bukankah kau menginginkan aku? Aku ada di sini sekarang jadi lepaskan Barrow!" mata Anna tertuju pada lilin, beruntungnya tidak padam. Lilin itu sudah ibunya beri kekuatan magic agar tidak cepat padam.
"Hi.. Hi.. Hi..Hi! Semangat yang bagus, jiwamu akan terasa lezat saat aku menelannya."
"Membuang waktuku saja!" Anna berlari ke arah lilin dan mengambilnya. Setelah mendapatkan lilin itu, Anna berlari dan bertemu dengan dua jalan yang berbeda, Anna mengumpat. Yang mana yang harus dia ambil?
"Ke sini, Anna. Sahabatmu ada di sini!" terdengar seorang wanita berteriak dari sisi jalan yang ada di sebelah kanan.
Anna mengarahkan lilin, dia terkejut melihat sosok yang tidak asing baginya.
"Nenek," yang dia lihat memang sosok neneknya.
"Jangan, Anna, Jangan ke sana, sahabatmu ada di sebelah sini!" kini suara teriakan seorang wanita terdengar di sebelah kiri.
Anna mengarahkan lilinnya ke sebelah kiri, kini yang berdiri di sana adalah seorang wanita yang begitu mirip dengannya sehinga mereka bagaikan kembar.
"Jangan dengarkan dia, Anna. Jalan yang ini yang benar, Nenek akan menuntunmu sampai kau bertemu dengan sahabatmu!" teriak sosok yang menyerupai neneknya.
"Tidak, Anna. Dia bukan Nenek. Aku kembaranmu, aku tidak mungkin mencelakai dirimu!"
Anna memejamkan mata, celaka. Yang mana yang harus dia percaya dan jalan mana yang harus dia ambil?
Dia tahu waktu yang dia miliki sudah tidak banyak tapi jika dia salah mengambil jalan, maka dia tidak akan bisa kembali untuk selamanya dan Barrow juga akan terjebak di tempat itu untuk selamanya. Yang mana yang harus dia percaya? Sosok yang menyerupai neneknya atau sosok yang menyerupai dirinya ataukah sosok hitam yang pertama kali dia temui saat dia melangkah masuk.