
Sebuah buku tebal yang bersampul kulit binatang sudah berada di atas meja. Buku itu berat, entah apa yang neneknya tulis tidak ada yang tahu bahkan buku itu sudah cukup tua sampai bisa di museumkan.
Walau tua tapi buku itu masih sangat bagus, sepertinya sang nenek merawatnya dengan baik bahkan buku itu terbungkus dengan baik menggunakan sebuah kain. Bau barang tua tercium dan sebuah tali mengikat buku itu.
Anna memandangi bibinya, dia tampak sudah tidak sabar. Tidak dia saja, yang lain juga tidak sabar.
"Apa Aunty yakin ada catatan tentang kotak itu di dalam buku ini?" tanya Anna.
"Jika tidak salah ingat aku pernah melihatnya, Anna. Ayo kita pastikan," ucap sang bibi.
"Aku sudah menantikannya, Aunty," ucap Anna.
Tali yang mengikat dibuka, kain yang membungkus disingkirkan. Tiba-Tiba suasana jadi tegang, mereka berempat jadi terlihat serius. Sang bibi membuka sampul buku, di halaman pertama sudah terlihat tulisan aneh yang sulit dipahami.
"Apa maksud tulisan ini, Aunty," tanya Anna seraya menunjuk tulisan aneh seperti tulisan sansekerta jaman kuno.
"Entahlah, hanya nenek saja yang tahu arti tulisan itu."
"Apa di dalamnya juga menggunakan tulisan seperti itu?"
"Tidak, ayo kita lihat!"
Lembar pertama sudah dibuka, lembar kedua pun menyusul. Lembar demi lembar dibuka sampai pada lembar di mana sebuah gambar wanita menyeramkan terlihat dan gambar itu dibuat oleh neneknya.
"Berhenti di sana, Aunty," pinta Anna.
"Ada apa?" tanya sang bibi.
"Gambar ini, aku merasa dialah sosok yang mengincar nyawaku!" Anna menunjuk gambar seram yang ada di buku.
"Apa?" ibu dan bibinya melihat gambar yang maksud oleh Anna.
Anna memutar buku itu, untuk melihat catatan yang ditulis oleh neneknya. Sepertinya bukan tanpa alasan nyawanya diincar apalagi neneknya meninggalkan catatan akan keberadaan arwah jahat itu. Dia juga merasa apa yang terjadi ada sangkut pautnya.
"Saat itu, tahun 1923 bulan Januari," Anna mulai membaca tulisan awal mengenai arwah hitam itu. Anna menelan ludahnya sejenak sebelum kembali membaca.
..."Seorang gadis yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, harus menjadi korban karena dia diduga sebagai seorang penyihir yang sudah melakukan banyak kejahatan. Saat itu aku berusia 5 tahun dan gadis itu berusia 18 tahun. Dia adalah putri seorang pelayan yang bekerja di rumahku. Gadis itu bernama Mariana, menurutku dia gadis yang sangat baik namun sayang sesungguhnya dia adalah seorang penyihir jahat. Bisa dikatakan dari sanalah mala petaka keluarga mulai terjadi, kakekku dan beberapa orang lainnya mulai menghakimi Mariana. Tidak saja Mariana, dia dihakimi bersama beberapa anggota keluarganya dan dibakar hidup-hidup oleh kakekku dan beberapa orang sahabatnya," tulisan itu terhenti sehingga Anna harus membalik lembar lain dan kembali membaca....
..."Aku bersembunyi di balik tumpukan jerami untuk melihat perbuatan keji yang dilakukan oleh kakekku sendiri. Mariana berteriak marah, di balik kobaran api yang membakar tubuhnya kutukan pun terdengar. Mariana mengutuk keluarga kami, dia akan mengambil setiap anak perempuan yang lahir di rumah keluarga kami dan akan menjadikannya sebagai budaknya. Kutukan itu tidak saja ditunjukkan untuk keluargaku, kutukan itu berlaku untuk semua orang yang sudah membunuhnya dan Mariana sendiri yang akan mengambil nyawa setiap gadis yang ada. Aku ketakutan, tidak berani keluar. Mariana dan keluarganya terbakar jadi abu lalu aku melihat salah seorang yang ada di sana membawa sebuah kotak aneh yang berwarna hitam. Mereka seperti memasukkan roh Mariana dan yang lain ke dalam kotak itu, entah bagaimana aku tidak tahu apalagi aku masih terlalu kecil."...
Pandangan Anna kini jatuh pada gambar kotak hitam yang digambar oleh neneknya, tidak salah lagi, Memang itulah kotaknya.
"Benar, lihat ukiran yang dibuat oleh nenek. Sama persis," ucap Anna.
"Ternyata itu benar-benar kotak kutukan," ucap Barrow.
"Mari kita kembali membaca," ucap Anna. Mereka kembali fokus, membaca tulisan selanjutnya.
..."Karena aku sudah ada sebelum kejadian itu maka aku terhindar dari kutukan dan keturunanku juga terhindar dari kutukan Mariana yang mengerikan. Tahun pertama setelah tragedi mengerikan itu, istri pamanku melahirkan seorang anak perempuan. Semua bersuka cita menyambut kelahiran bayinya namun keesokan harinya, tiba-tiba bayi itu ditemukan dalam keadaan hitam seperti terbakar. Semua histeris, namun kakekku diam saja. Aku juga tidak berani bicara karena aku masih kecil. Tahun demi tahun dilewati dengan penuh ketakutan, aku pun menikah dan pindah ke kota lain. Dari sana aku mulai menyadari kemampuan yang aku miliki, semula aku takut namun aku tahu kemampuanku akan menyelamatkan keluargaku dari kutukan Mariana dan benar saja, dua putri yang aku lahirkan baik-baik saja namun semua itu berubah setelah cucu kembarku lahir," dari sana tulisan terhenti, sepertinya sang nenek mengalami kesedihan yang teramat sangat karena harus kehilangan satu cucunya....
..."Kotak hitam itu muncul lagi, kotak yang mulai menginginkan korban karena roh jahat Mariana. Tidak saja kotak itu, roh Mariana juga muncul lagi untuk mengambil jiwa cucuku yang istimewa. Aku berusaha mencari kotak itu tapi kotak terkutuk itu justru jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab dan lagi-lagi puluhan gadis tidak bersalah menjadi korban. Aku sudah tidak punya banyak waktu tapi aku harap cucuku segera sadar dengan kemampuannya dan memecahkan kasus yang terjadi lalu mendapatkan kotak hitam yang sudah memakan puluhan bahkan ratusan jiwa gadis muda yang terus menjadi korban untuk dijadikan budak oleh Mariana apalagi orang-orang yang mendapatkan kotak itu melakukan perjanjian terkutuk dengan Mariana. Aku tidak tahu terlalu banyak apa saja yang terjadi, yang aku tahu Mariana mencari jiwa yang murni untuk kebangkitannya. Dia tidak memerlukan raga, tapi dia benar-benar butuh jiwa yang murni untuk kebangkitanya tepat di seratus tahun kematiannya."...
Anna berhenti membaca dan mulai menghitung, seratus tahun? Sial, bukankah sebentar lagi akan berganti tahun yang berarti sebentar lagi kematian Mariana menginjak seratus tahun?
"Sial, terjawab sudah!" ucap Anna.
"Apa maksudmu, Anna?" tanya Barrow.
"Arwah itu butuh jiwa yang murni, Barrow. Dan kemungkinan jiwa yang murni adalah jiwa Lucia Devan. Sebab itu arwah si payung merah ingin membunuhnya tapi sampai sekarang tidak berhasil," ucap Anna dan memang, begitulah kenyataannya.
Sebab itu korban tidak jatuh lagi karena arwah si payung merah belum bisa mendapatkan nyawa Lucia Devan sehingga dia tidak bisa mengambil korban lagi untuk mencukupi jiwa yang akan bergabung dengan para korban lainnya lalu Mariana akan bangkit dan membunuh semua keturunan orang yang sudah membunuhnya namun sesungguhnya ada rahasia besar dibalik semua itu tanpa mereka ketahui.
"Lalu apa hubungannya dengan arwah si payung merah?" tanya Barrow.
"Itulah yang harus kita pecahkan, Barrow. Kita harus tahu apa hubungan arwah si payung merah dan arwah Mariana. Aku menebak dia adalah budak yang dimanfaatkan oleh Mariana bahkan aku menebak ada sebuah rahasia yang lebih rumit lagi," ucapnya.
"Lalu mengenai kotak itu?" mereka belum menemukan cara membukanya.
Anna kembali membaca, beberapa poin penting. Jika buku itu dipelajari, tidak cukup satu hari.
"Nenek menuliskan kotak itu tidak bisa dibuka dengan cara apa pun kecuali dengan darah murni keturunan Mariana. Lambang yang ada di kotak seperti simbol, cukup satu tetes darah saja maka kotak akan terbuka namun kotak itu tidak boleh terbuka sebelum waktunya tiba jika tidak kebangkitan Mariana akan gagal dan semua jiwa yang sudah terkumpul akan terlepas. Mariana akan musnah, dia tidak akan bisa bangkit lagi dan semua jiwa korban akan bebas," ucap Anna.
"Sial! Kita benar-benar menghilangkah barang berharga yang bisa menghentikan itu semua!" teriak Barrow kesal.
"Tidak perlu marah, Barrow," buku ditutup, sudah cukup informasi yang dia dapatkan.
"Seandainya kita memiliki kotak itu pun, kita tidak bisa membukanya karena kita tidak tahu siapa keturunan murni Mariana. Kasus ini semakin sulit, Barrow. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjaga Lucia Devan dan mencari keberadaan kotak tersebut agar tidak ada korban. Aku akan mempelajari buku ini baik-baik, mungkin nenek menuliskan cara menyegel kotak itu dan aku akan mencoba bernegosiasi dengan arwah si payung merah jika aku bertemu dengannya lagi."
"Baiklah, aku akan mulai menghubungi polisi untuk meminta bantuan mereka," ucao Barrow.
"Semoga kita bisa menemukannya sebelum terlambat," Anna menghela napas, sang ibu menggusap bahunya untuk memberi semangat. Benar-Benar kasus yang rumit dan Lucia Devan adalah kunci untuk menghentikan semua itu tapi sesungguhnya dia adalah gadis istimewa yang sudah dipersiapkan untuk kebangkitan Mariana.