
Anna melangkah maju, mendekati arwah si payung merah. Entah itu asli atau palsu yang pasti dia sudah diperingati untuk tidak terkecoh. Dia tidak tahu kenapa arwah Natalie tiba-tiba berada di sana, jika arwah itu ingin menghalangi langkahnya maka dia tidak akan ragu.
Arwah si payung merah hanya menatapnya, Anna menyimpan air suci dan menarik satu pistolnya yang tersisa lalu mengarahkan benda itu ke arah si payung merah. Arwah itu tidak bergeming, Anna pun melangkah melewatinya tanpa ada kendala. Anna terus melangkah namun tetap waspada apalagi arwah si payung merah melihat ke arahnya sambil memperlihatkan senyum mengerikannya.
"Kenapa kau begitu terburu-buru, Anna?" arwah itu melayang mengikutinya.
"Jangan pedulikan, Anna!" ucap roh pelindung Anna.
"Aku memiliki satu rahasia, apa kau tidak mau tahu rahasia itu?" tanya arwah si payung merah lagi.
Anna terus melangkah maju, tidak mempedulikan arwah Natalie yang masih melayang mengikutinya dari belakang.
"Aku tahu apa yang kau cari, Anna. Apa kau tidak mau tahu?"
Anna masih berusaha menahan diri, tentu dia sangat ingin tahu namun dia tahu semua itu hanya tipuan karena tidak mungkin Mariana melepaskan Natalie di alam itu apalagi Mariana tahu Natalie hendak berkhianat.
"Apa kau tidak ingin tahu di mana letak pisau itu, Anna? Aku bisa menuntunmu sampai ke pisau itu jadi ikutlah denganku," arwah si payung merah masih berusaha menggodanya.
"Shut up, kau bukan Natalie!" ucap Anna kesal.
"Hi...... Hi.... Hi... Hi....!" tawa mengerikan arwah Natalie terdengar. Arwah itu terbang ke depan dan berada di hadapan Anna.
Anna tidak mempedulikan arwah tersebut dan terus melangkah maju, awah Natalie terbang mundur sehingga dia tetap mengikuti Anna
"Aku akan membawamu ke lokasi pisau itu, Anna. Aku juga akan memberikan Nick padamu jadi percayalah padaku jika aku akan membantumu," arwah itu kembali memberi penawaran agar Anna tegoda.
"Diam!" teriak Anna kesal.
"Oh, sayang sakali!" arwah Natalie terbang menjauh lalu hilang di kegelapan malam.
Anna tampak lega, dia kira sudah berakhir namun arwah itu tidak akan berhenti sampai targetnya jatuh ke dalam ilusi ciptaannya yang menyesatkan.
Anna masih terus melangkah dengan hati-hati, namun dia dikejutkan oleh arwah Natalie yang sudah berada di sampingnya lagi.
"Apa kau mau tahu di mana kembaranmu disekap oleh Mariana, Anna?" bisik arwah Natalie.
"Apa?" Anna terkejut dan berpaling.
"Jangan, Anna!" teriak roh pelindungnya namun Anna sudah berpaling. Arwah Natalie tersenyum, akhirnya.
Anna terkejut, tiba-tiba saja tubuhnya seperti tertarik oleh angin kencang lalu secara tiba-tiba dia sudah berada di dunia yang asing, dunia yang serba putih. Anna melihat sekeliling, namun tidak ada siapa pun di sana.
Kaki Anna melangkah, tatapan mata tidak lepas dari sekitar ruangan yang hanya putih saja.
"Hallo," Anna berteriak memanggil, berharap ada yang menjawab.
Tempat itu seperti sebuah ruangan, Anna berputar karena dia kebingungan. Apa itu ilusi? Dia masih ingat di mana dia berada dan sangat ingat jika dia sedang bersama dengan arwah Natalie.
Anna masih kebingungan namun kemudian dia dikejutkan oleh sebuah pintu yang terbuka. Tatapan mata Anna tidak lepas dari pintu itu apalagi dari sana keluar seorang wanita yang menggunakan gaun serba putih..
"Apa kau nyata?" tanya Anna.
"Tentu saja, Anna. Aku adalah kembaranmu," wanita yang begitu mirip dengannya melangkah mendekati Anna.
"Ta-Tapi bagaimana mungkin?" tanya Anna, dia tidak bisa mempercayainya begitu saja.
"Aku ditangkap oleh Mariana saat masih bayi, Anna. Jiwaku dikurung olehnya di tempat ini. Aku tidak bisa pergi oleh sebab itu aku hanya bisa bertemu denganmu di tempat ini," ucap kembarannya.
"Tapi waktu itu kau masih bayi, jiwa bayi masih murni dan tidak berdosa. Tidak akan ada arwah jahat yang bisa menangkap jiwa seorang bayi yang masih murni."
"Yang kau katakan sangat benar, Anna," kembarannya berbalik dan terlihat sedih, "Tapi aku ditangkap oleh Mariana, penyihir paling jahat sepanjang abad yang sudah menjual jiwanya pada iblis dan yang sudah memberikan banyak tumbal pada iblis. Dia menangkap jiwa murniku, dia memenjarakan aku di tempat ini sehingga aku tidak bisa pergi ke mana pun!" sang kembaran kembali berbalik lalu mendekati Anna lagi.
"Aku sudah berusaha untuk keluar dari tempat ini tapi, Anna. Tempat ini aneh, setiap kali aku keluar dari pintu itu maka aku akan kembali ke tempat yang sama. Aku tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Mariana memenjarakan aku di tempat serba putih ini, membuat aku kebingungan."
"Lalu bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini jika memang tidak ada jalan keluar?" tanya Anna, tatapan matanya tidak lepas dari kembarannya. Entah kenapa mereka bisa tiba-tiba bertemu dan entah apa maksudnya itu.
"Kita berdua bisa menemukan jalan keluarnya, Anna. Kita berdua bisa menggabungkan kekuatan lalu menemukan jalan keluarnya. Kita akan pergi dari tempat ini lalu kita akan membunuh Mariana bersama."
"Wow, rencana yang sempurna. Sekarang, sebaiknya kita segera mencari jalan keluar agar kita bisa segera keluar untuk membunuh Mariana."
"Kau benar, ikut aku!"
Anna mulai mengikuti kembarannya. Tatapan matanya jatuh pada kedua kaki kembarannya yang tidak terlihat karena gaun panjang yang dia gunakan. Sudah dia duga.
Sebuah pintu terbuka, mereka berdua masuk ke dalam. Anna melihat ruangan yang sama lalu mereka kembali masuk ke dalam sebuah ruangan dan lagi-lagi ruangan itu sama.
"Lihatlah, Anna. Semuanya sama. Mariana mengurung aku di dalam ruangan yang sama sehingga aku tidak bisa keluar dari tempat ini!"
"Jika begitu katakan padaku, bagaimana kita bisa keluar dari ruangan ini?"
Kembarannya melangkah mendekat lalu berkata, "Sebelumnya ijinkan aku memelukmu sebentar. Aku sangat merindukan dirimu, Anna," ucapnya seraya memeluk Anna dengan erat.
"Aku juga merindukanmu, tapi kita harus terpisah akibat ulah Mariana. Aku berjanji dan bersumpah padamu akan membalas kematianmu. Aku akan menggagalkan Mariana untuk bangkit, aku bersumpah akan hal itu!" tatapan mata Anna lurus ke depan, tatapan matanya memancarkan api kebencian.
"Aku percaya kau pasti bisa, Anna. Kau yang istimewa dan terpilih, aku yakin kau pasti bisa membunuh Mariana," ucap kembarannya.
"Percayalah padaku!"
Kembarannya mengangguk, namun senyum licik menghiasi wajahnya. Anna semakin memeluk kembaran dengan erat, sedangkan saat itu sebilah pisau keluar dari tangan kembarannya.
"Aku berjanji akan membunuh Mariana, aku berjanji!" ucap Anna lagi.
"Aku tahu kau mampu tapi sebelum itu?" pisau yang berada di tangan sudah terangkat, siap menikam punggung Anna.
Anna memejamkan matanya. Pisau yang berada di tangan kembarannya sudah terayun, akan menghujam punggung Anna.
"Kita akan membunuh Mariana bersama," ucap Anna dan pada saat itu, Jlebbbb.... Pisau yang tajam sudah menembus masuk ke dalam tubuh.