Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Bagaikan Raksasa Dan Semut


Anna melangkah semakin dalam. Sosok-sosok misterius sudah tidak terlihat lagi, suara rintihan dan suara permintaan tolong pun sudah tidak dia dengar lagi. Suasana mendadak sunyi dan mencekam. Udara semakin dingin dan gelapnya tempat itu semakin terasa pekat.


Senter yang dia gunakan untuk menerangi tempat itu bagaikan setitik cahaya yang tidak berarti. Langkahnya masih juga berat, sulit untuk ditarik seperti tadi. Kedua kaki bagaikan ditarik oleh ribuan tangan, karena hal itu membuatnya merasa dia melangkah dengan lambat.


Anna terus melangkah maju tanpa tujuan arah, dia belum tahu harus pergi ke mana dan mencari di mana kedua benda yang harus dia temukan di alam itu.


"Apa kau memiliki petunjuk?" Anna bertanya pada roh pelindungnya. Dia berharap bisa segera menemukan kedua benda itu lalu keluar dari sana karena dia sudah tidak tahan berada di tempat yang memiliki kegelapan saja.


"Terus maju, Anna. Kau tidak berpikir Mariana menyimpan benda itu begitu dekat dan mudah ditemukan, bukan? Kau bahkan belum melewati rintangan-rintangan yang ada di alam gaib ini. Beberapa makhluk yang ditempatkan oleh Mariana untuk menjaga benda itu dapat mencium bau manusia jadi berhati-hatilah!"


Anna mengangguk, bayangan makhluk yang dia lihat saat mencari jiwa Barrow kembali teringat, apakah makhluk yang harus dia hadapi tidak berbeda jauh dengan makhluk waktu itu? Sebaiknya dia waspada karena jika memang ada makhluk seperti itu, dia bisa diserang kapan saja.


Dunia yang asing, mencekam dan menakutkan bagi yang masuk ke dalam sana. Entah dapat keberanian dari mana, Anna tidak tahu yang pasti perasaan takut tidak dia rasakan kecuali perasaan was-was karena dia khawatir ada yang menyerang secara tiba-tiba. Anna yang tidak percaya dunia gaib tiba-tiba ditarik masuk ke dalam dunia itu dan sekarang dia memiliki sebuah misi penting yang berbahaya.


Anna semakin melangkah jauh namun tiba-tiba saja, Duuaarrrr.....!!! Terdengar suara ledakan keras di balakangnya. Anna terkejut dan berpaling, tanah yang dia pijak terasa bergetar bagaikan ada gempa bumi yang dahsyat akibat ledakan tersebut. Anna menelan ludah saat melihat sebuah gunung merapi tampak meletus namun bukan gunung merapi itu yang membuatnya terkejut, yang membuatnya terkejut adalah makhluk hitam besar dan super tinggi yang tampak bangkit di antara kegelapan dan cahaya api dari gunung itu meneranginya walau sedikit.


"Si-Sial!" Anna mencoba melangkahkan kakinya yang gemetar ke belakang.


"Bau manusia, bau manusia!" Makhluk hitam itu terlihat bergerak, mencari sumber bau yang dia cium.


"Siapa yang berani masuk ke dalam dunia ini?!" mahluk itu berteriak, suaranya menggelegar hingga memekakkan telinga.


Anna menutup kedua telinganya rapat, gendang telinganya terasa begitu sakit dan mau pecah. Makhluk itu masih mencari sosok manusia yang sudah berani masuk ke alam itu dan melangkah maju. Semula makhluk itu terlihat jauh namun semakin lama semakin dekat.


Anna kembali menelan ludahnya dengan susah payah, makhluk itu semakin dekat saja. Lari adalah pilihan satu-satunya yang dia punya oleh sebab itu Anna lengsung mengambil langkah seribu. Sebaiknya dia malarikan diri dari makhluk tersebut karena dia tidak akan mampu melawannya.


Mahkluk itu terus mencari, kedua matanya yang tidak terlihat tiba-tiba saja seperti terbakar sehingga menyerupai dua bola api. Tempat yang gelap menjadi sedikit terang, tentunya bukan hal bagus bagi Anna karena dengan matanya yang terbakar, makhluk tersebut dapat melihat Anna yang sedang berari.


"Di sana rupanya kau, manusia!"


"Yang ada di tempat ini harus mati oleh sebab itu kau harus mati. Api ini akan membakarmu sehingga kau pantas berada di tempat ini!" satu tangan terangkat, sebuah bola api menyala sudah berada di tangan lalu makhluk itu melemparkan bola apinya ke arah Anna.


Anna berpaling, umpatan kembali terdengar. Satu bola api yang sangat besar mengarah ke arahnya, kaki Anna terus berlari dengan kecepatan yang dia miliki. Bola api itu semakin dekat dan semakin besar, hendak menghantam tubuhnya. Anna mencoba menghindar, jika dia terkena bola api itu maka dia akan mati.


Bola api itu semakin dekat, dekat dan dekat, Anna berlari ke arah samping untuk menghindari bola api sehingga bola api tidak mengenai dirinya dan menghantam sesuatu yang tidak terlihat. Anna kira dia sudah aman namun ada dua bola api lagi yang dilemparkan oleh makhluk itu terbang ke arahnya.


"Curang, bisakah satu persatu!" teriak Anna, dia kembali berlari sekuat tenaga untuk menghindari bola-bola api itu.


Setiap bola api yang dia hindari menghantam sesuatu yang tidak terlihat, anehnya bola api itu langsung padam sehingga tempat itu tetap gelap. Makhluk yang ada di belakang sangatlah marah, teriakannya kembali menggelegar dan membuat telinga Anna kembali sakit.


Anna menutupi dua telinganya sambil berlari, jika dia tahu akan ada makhluk seperti itu maka dia akan membawa granat atau senjata peledak untuk meledakkan tubuh makhluk hitam yang menakutkan itu tapi apakah senjata manusia bisa membunuhnya? Dan apakah makhluk itu bisa mati?


Hanya satu dua langkah saja makhluk itu sudah semakin dekat walau Anna berlari sudah cukup jauh. Napas Anna sudah hampir habis, dia kira dia bisa mengambil napas sebentar tapi ketika dia melihat makhluk yang sudah berada di sisi kanannya membuat Anna sangat terkejut.


"Kau harus mati, manusia!" teriak makhluk itu seraya mengayunkan kedua lengannya ke arah Anna.


Mata Anna terbelakak, tubuhnya membeku. Dia seperti tidak bisa bergerak, kedua kakinya seperti ada yang memegangi sehingga tidak bisa dia gerakkan.


"Manusia tidak boleh ada di dunia ini!" teriak makhluk itu lagi lalu kedua lengan yang terayun menghantam jalanan dengan begitu teras. Percikan api terjadi, akibat benturan kedua lengan makhluk itu ke atas tanah. Tidak itu saja, bebatuan besar berhamburan dari kedua lengan makhluk tersebut yang bisa menghantam apa saja.


Gelombang akibat benturan kedua lengan tersebut begitu dahsyat sehingga membuat tubuh Anna terpental ke belakang. Anna berteriak, bagaikan terkena angin badai, tubuhnya berputar di atas lalu jatuh dan menghantam sesuatu seperti batu besar. Anna kembali berteriak lalu memuntahkan darah segar akibat dahsyatnya benturan yang dia dapatkan.


Mahkluk itu tidak juga berhenti, kini mahluk itu memajukan tubuhnya ke depan sehingga begitu dekat dengan Anna. Anna hanya bisa melihatnya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Makhluk hitam itu kembali mundur, satu tangan terangkat lalu sebuh bola api sudah berada di tangan.


"Yang masuk ke dunia ini harus mati!" ucapnya lalu bola api itu dilemparkan ke ara Anna.


Anna mengumpat, tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Apa dia akan mati dan gagal di sana? Tidak, dia harus bisa menghindari bola api itu namun sialnya tidak hanya satu, namun bola api itu ada dua yang sedang terbang ke arahnya.