Mistery Red Umbrella

Mistery Red Umbrella
Perasaan Kecewa Maria Dan Lucia


Lucia dilepaskan dari ikatan yang masih membelenggu kedua tangan dan kakinya. Tidak saja Lucia, Maria Devan juga dilepaskan. Korban cadangan yang sudah disiapkan oleh Nick pun dilepaskan walau dalam keadaan pingsan. Korban itu segera dievakuasi, sedangkan Lucia dan ibunya saling berpelukan dan menangis.


Mereka menangis bahagia karena mereka masih bisa selamat dari kejadian mengerikan yang tidak terduga. Malam purnama sudah berlalu namun sinar bulan masih bersinar dengan terangnya. Tangis haru yang membahagiakan namun di balik tangis bahagia tersimpan sebuah kesedihan yang mendalam karena rasa kecewa pada Galen Devan dan mereka juga merasa kehilangan seseorang yang sudah mereka anggap keluarga dan yang sangat mereka sayangi tapi ternyata orang itu hanya seorang putra penyihir yang telah mengelabui mereka.


Semua itu gara-gara Galen Devan, dia yang memulai terlebih dahulu karena ingin kaya dengan cara instan. Seandainya Galen mau bekerja keras untuk sukses maka hal itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan mengalami kejadian buruk seperti itu.


Mobil polisi sudah memenuhi di tempat itu. Pelindung yang diciptakan Mariana sudah tidak ada lagi. Pelindung itu sirna seiring kematian Mariana. Para pengikut Mariana yang masih hidup sudah diamankan namun sebagian masih terkapar di tanah akibat obat bius. Itulah gunanya senjata itu, Anna sudah tahu mereka tidak akan bisa menangani begitu banyak pengikut Mariana. Mereka juga tidak mungkin membunuh orang-orang itu walaupun beberapa dari mereka mati akibat perjanjian yang sudah tidak ada lagi.


Galen Devan sudah tertangkap oleh Barrow, pria tua itu berteriak saat Barrow menariknya menuju altar di mana istri dan putrinya berada. Maria Devan beranjak saat suaminya memaki, Lucia pun melangkah bersama dengan ibunya untuk menghampiri ayahnya yang sudah keterlaluan ingin mengorbankan dirinya demi kekayaan yang mereka miliki saat ini.


Maria sudah berdiri tidak jauh, Barrow melemparkan pria tua itu di bawah kaki istrinya dan setelah itu Barrow berlalu pergi untuk menghampiri Anna yang sedang memerintahkan seseorang untuk menurunkan tubuh ibu dan bibinya. Galen memandangi istri dan putrinya yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Galen tampak menelan ludah, kini dia hanya bisa berharap istri dan putrinya mau memaafkan dirinya.


"Ma-Maria," Galen menyentuh kaki istrinya namun Maria melangkah mundur seolah-olah dia tidak mau disentuh oleh suaminya lagi.


"Lucia, maafkan Daddy," pinta Galen pada putrinya namun apa yang dilakukan olah putrinya juga sama. Rasa kecewa yang teramat dalam sudah membuat mereka jadi seperti itu.


"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf pada kalian," Galen beringsut untuk mendekati istri dan putrinya yang menatapnya dengan tatapan sinis.


"Aku benar-benar kecewa padamu, Galen!" air mata mengalir, selama puluhan tahun menikah dengan Galen Devan, dia sungguh tidak menyangka suaminya melakukan persekutuan dengan iblis dan telah menipunya selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Dia juga tidak menyangka jika selama ini dia menikmati uang yang tidak boleh dia nikmati sama sekali tapi yang paling membuatnya sakit hati adalah, suaminya menipunya jika dia memiliki seorang putra dan ingin mengorbankan darah dagingnya sendiri hanya untuk kekayaan.


"Aku benar-benar minta maaf, Maria. Waktu itu aku tidak memiliki jalan lagi, aku terpaksa bersekutu dengan Mariana agar aku cepat kaya. Aku tidak mau hidup di bawah penghinaan lagi, aku terpaksa mengambil jalan nekad dan menyetujui syaratnya tanpa pikir panjang lagi," jelas Galen.


"Aku tidak peduli apa pun alasanmu yang pasti, kau benar-benar sudah mengecawakan aku. Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu, Galen. Aku yakin Lucia pun tidak karena kau sudah begitu tega ingin mengorbankan dirinya."


"Sudah aku katakan aku melakukan hal itu tanpa pikir panjang. kau lihat," Galen menunjuk ke belakang, "Tidak hanya aku yang melakukannya, banyak yang melakukan hal yang sama denganku. Mereka sudah mengorbankan putri mereka terlebih dahulu, sedangkan aku belum."


"Dasar kau baj*ngan!" teriak Maria marah. Sebuah tamparan keras Galen dapatkan di wajahnya. Tidak saja satu kali, namun berkali-kali. Tidak hanya tamparan saja, tendangan juga Galen dapatkan dari istrinya yang kecewa pada dirinya. Maria melampiaskan amarah dan kekesalan hatinya pada sang suami yang benar-benar mengecewakan.


"Aku benar- benar kecewa padamu, Galen. Benar-Benar kecewa!" teriak Maria.


"Aku minta maaf, aku minta maaf!" teriak suaminya.


"Tidak ada kata maaf untukmu, tidak ada!" teriak Maria lagi. Maria Devan melangkah mundur, Lucia memeluk ibunya, untuk menenangkan ibunya yang masih dikuasai oleh emosi.


"Kesalahan yang kau lakukan cukup besar, Galen. Kau tidak pantas mendapatkan maaf dariku juga Lucia. kau sudah menipu kami selama puluhan tahun, kau juga hendak mengorbankan Lucia agar kau mendapatkan kekayaan dan keabadian. Apa kau kira perbuatan yang kau lakukan bisa dimaafkan? Tidak hanya itu saja yang telah kau lakukan, kau telah menipu kami dengan kehadiran Nick. Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini dengan Lucia? Aku sudah menganggap Nick sebagai putraku dan begitu menyayangi dirinya tapi malam ini semuanya sudah terungkap. Kau benar-benar tidak mengerti bagaimana perasaanku yang sudah menganggap dirinya sebagai putraku dan yang telah mencurahkan seluruh kasih sayangku padanya, " Maria memandangi suaminya dan menangis terisak.


"Daddy benar-benar tega telah menipu kami seperti ini, walau Nick bukan kakakku tapi aku sudah terlanjur menganggapnya sebagai kakakku dan begitu menyayanginya tapi malam ini, Daddy benar-benar sudah menghancurkan semuanya," ucap Lucia yang masih juga menangis.


"Daddy minta maaf, Lucia. Semua harus Daddy lakukan jika Daddy menginginkan harta kekayaan yang Daddy inginkan!"


"Simpan perkataan maaf Daddy. Seperti perkataan Mommy, Daddy tidak pantas dimaafkan!" Lucia menatap ayahnya dengan sinis, pria yang dia sayangi selama ini, benar-benar mengecewakan dirinya dan ibunya.


"Daddy benar-benar minta maaf, Lucia!" teriak ayahnya.


Lucia dan ibunya tidak mempedulikan dan melangkah pergi, Galen hendak mengejar namun dua orang petugas sudah menangkap dirinyam karena tempat itu sudah dipenuhi oleh polisi yang akan membantu mengamankan para pengikut Mariana yang sudah diamankan.


"Maria, maafkan aku. Lucia, Maafkan perbuatan Daddy!" teriak Galen saat kedua petugas itu menariknya pergi dari tempat itu.


Maria dan putrinya melangkah menuju tulang belulang Nick yang sudah menjadi abu tanpa mempedulikan teriakan Galen Devan. Air mata mereka kembali mengalir karena rasa sedih akan kehilangan sosok yang pernah mereka sayangi tidak bisa dibendung sama sekali.


Lucia bahkan menangis terisak memeluk ibunya, Maria juga demikian. Mereka bahkan masih ingat bagaimana kebersamaan mereka dengan pria itu untuk terakhir kalinya. Angin berhembus perlahan, meniup tulang belulang Nick yang sudah menjadi abu. Abu itu berputar ditiup oleh angin, sebuah bisikan selamat tinggal seperti terdengar dari hembusan angin tersebut. Angin itu membawa abu tulang belulang Nick lalu abu itu menghilang karena tertiup oleh angin.


Lucia memeluk ibunya dengan erat, menangis dengan keras. Kenapa semua harus terjadi dengan mereka? Kenapa keluarga mereka yang utuh harus jadi seperti itu? Seandainya ada reinkarnasi, semoga saja Nick bisa hidup kembali menjadi bagian dari mereka.