Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Pak Guru Paul


Pak guru Paul?


Jeng..... jeng....


Otak Jero langsung mengingat kembali percakapannya dengan Giani beberapa hari lalu. Bukankah pak guru itu lebih tampan darinya?


Mata Jero mengikuti arah langkah istrinya. Giani terlihat begitu bersemangat sekalipun dengan perut yang besar ia melangkah mendekati meja tempat pak guru Paul duduk.


"Pak guru Paul!" Sapa Giani dengan wajah gembira. Sudah lama ia tak bertemu dengan gurunya itu.


"Giani? Wah, kamu sudah menikah ya?" Paul berdiri sambil memandang muridnya itu.


"Iya, pak." Jawab Giani agak malu.


"Baby......!" Jeronimo tiba-tiba muncul dan melingkarkan tangannya dipinggang Giani secara posesif. Wajah Jero menatap pria berkacamata di depannya. Dan sialnya, Jero harus mengakui kalau pria itu tampan. Terlalu tampan bahkan untuk menjadi seorang guru. Seharusnya dia menjadi seorang artis kan?


"Suamimu?" Tanya Paul saat melihat sikap Jeronimo yang posesif.


"Ya. Aku Jeronimo Dawson dan ini istriku Giani Dawson!" Kata Jero sambil menekan kata Dawson di belakang nama Giani. "Kami sebentar lagi punya anak. Dan anak kami kembar. Luar biasakan tendanganku sampai bisa langsung dapat dua?"


"Bee....!" Giani terkejut memdengar perkataan Jero. Wajah Giani bahkan sudah menjadi merah.


Paul tertawa. "Waw.....selamat ya!" Paul mengulurkan tangannya. Jero menyambut tangan Paul dengan ramah.


"Terima kasih, pak guru. Apakah bapak datang sendiri?" Tanya Jero sambil memperhatikan orang-orang yang duduk di meja itu, semuanya laki-laki.


"Iya." Jawab Paul.


"Istri bapak kemana?" Tanya Giani penasaran. Jero tak suka ketika Giani kepo.


"Istri saya meninggal 2 tahun yang lalu saat melahirkan anak pertama kami." Kata Paul sedikit sedih.


"Oh...kasihan sekali....!" Giani terlihat sedih. Ia memeluk Paul. "Aku turut berdukacita, pak."


"Sayang....!" Jeronimo menarik tubuh Giani karena pelukan itu agak lama.


Giani melotot ke arah Jero. Ia heran melihat sikap posesif suaminya. Bukankah orang barat juga biasa memberikan pelukan untuk memberikan dukungan bagi orang lain?


"Terima kasih, Giani. Kemarin aku tak sengaja bertemu Aldo di depan sebuah butik. Rupanya Aldo mengambil jas pengantinnya. Aldo lalu mengundang aku untuk datang ke sini." Kata Paul menjelaskan kenapa ia ada di sini.


"Aku senang bertemu lagi denganmu, pak. Semoga pak guru Paul selalu diberikan kekuatan dan kemampuan dalam menghadapi semuanya. Anak bapak laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Wah, sama. Anak kembarku juga laki-laki."


"Anak kembar kita sayang!" Kata Jeronimo membuat membuat Giani memutar bola matanya. Ia jengkel melihat sifat posesif Jero yang menurutnya merusak momen pertemuannya dengan pak guru Paul.


"Pak, sikahkan teruskan ngobrolnya ya? Kapan-kapan aku ingin ketemu lagi dengan bapak." Giani memutar langkahnya. Namun ia berbalik lagi. "Ngomong-ngomong, bapak terlihat sebagai duren!" Giani mengangkat jempolnya lalu melangkah meninggalkan Pak guru Paul diikuti oleh Jeronimo.


"Kenapa kau memanggil Paul dengan sebutan duren? Memangnya di matamu sekarang dia mirip durian?"


"Siapa bilang pak Paul mirip durian?"


"Lalu apa bedanya durian dan duren?"


Giani menahan tawa. Ia menatap pria bule di depannya yang sedang dalam mood cemburu buta. "Duren itu singkatan dari duda keren, sayang." bisik Giani lalu langsung bergabung dengan mama Sinta. Tak perduli dengan wajah Jero yang memerah menahan emosi karena cemburu? Duda keren? Dia memuji pria itu di depanku? Habislah kau Jeronimo Dawson. Bahkan sementara mengandung anakmu pun, istrimu itu menunjukan rasa kekaguman pada pria lain. Pak guru Paul sialan! Pesona apa yang dia punya sehingga bisa menggoyahkan cinta Giani untukku?


Jeronimo diam-diam memandang Paul yang masih asyik menikmati hidangan sambil bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya. Di lihat dari sudut manapun, pria itu memang ganteng. Wajah asli Indonesia yang rupawan. Apalagi kacamata yang ada di atas hidung mancungnya.


"uncle Jero...!" Panggil Alexa membuat Jero mengalihkan pandangannya dan menatap wajah cantik Alexa.


"Ada apa sayang?"


"Uncle Jero sedang memperhatikan siapa?"


"Oh....uncle lagi melihat teman bibi Giani yang ada di sana!"


"Oh...itu namanya pak guru Paul!"


Jero terkejut. "Alexa tahu?"


"Kan foto pak guru Paul ada di laptopnya bibi Giani. Ada juga di ponsel bibi. Dulu Eca sering lihat kalau bibi sering menatap foto pak guru Paul sambil tersenyum."


"Benarkah?" Api cemburu di dada Jero semakin membara.


"Eca sayang, menurut Eca siapa yang lebih ganteng, pak guru Paul atau uncle Jero?"


Alexa menatap Jero dan Paul secara bergantian. "Aku rasa pak guru yang lebih ganteng. Maaf ya, paman..."


"Kenapa pak guru yang lebih ganteng?"


"Eca nggak suka cowok bule. Maaf ya paman..."kata Alexa lalu segera pergi meninggalkan Jero.


"Nggak suka cowok bule? Lalu kenapa kau mengijinkan mamamu menikah dengan si bule Juan?" gerutu Jero lalu ia segera menghentakan kakinya dan menuju ke bar tender. Dia butuh alkohol.


*********


Giani menatap suaminya yang masih terus diam semenjak mereka kembali dari pestanya Aldo dan Joana.


Wajah Jero terlihat kusut. Ia mengendarai mobil tanpa bicara, membukakan pintu untuk Giani tanpa bicara, lalu masuk ke dalam rumah tanpa bicara.


Saat Giani keluar dari kamar mandi, ia melihat susu hamilnya sudah ada di atas nakas. Namun tak ada suara Jero yang mengingatkannya untuk segera minum. Whats wrong?


"Bee, kamu kenapa?" Tanya Giani melihat Jero yang sedang bermain dengan ponselnya. Giani tahu kalau Jero hanya pura-pura sibuk dengan ponselnya namun hatinya sedang galau.


"Bee, kok kamu mengacuhkan aku, sih? Ada apa?"


Jero tetap diam.


"Kalau kamu terus mendiami aku, aku akan tidur di kamar bawah!" ancam Giani.


Jerp tetap tak bergeming.


Giani melangkah ke arah pintu. Berharap kalau Jero akan memeluknya dari belakang tapi ternyata tidak.


Dengan sangat terpaksa Giani keluar. Ia membanting pintu dengan kesal. Apakah karena pak guru Paul sampai Jero mendiaminya? Bukankah itu terlalu kekanakan?


*******


Karena tidur sudah tengah malam, Giani bangun saat jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Ia bergegas keluar dari kamar karena tahu sudah terlambat menyiapkan kebutuhan suaminya untuk ke kantor.


"Selamat pagi nona!" Sapa bi Lumi.


"Selamat pagi, bi. Aku mau ke atas dulu ya."


"Tuan sudah pergi, nyonya."


"Ke kantor?"


"Iya. Tuan berangkatnya jam 7 pagi. Katanya ada rapat penting."


Giani mendengus kesal. Pasti bukan rapat penting. Jeronimo sengaja menjauhinya. Dasar bule tua yang ke kanak-kanakan? Apakah dia mau mengajak perang? Fine! Kita lihat saja siapa yang akan berbicara lebih dulu.


Sepanjang hari Giani duduk dengan bosan. Ia juga gengsi menghubungi Jero lebih dulu.


Saat para pelayan pulang, Giani semakin merasa kesepian. Biasanya Jero akan pulang sebelum para pelayan pulang. Namun sekarang, Jero tak kunjung pulang bahkan sudah jam makan malam.


Jam 7.30 malam, Giani mendengar bunyi pagar yang di buka dari luar. Ia tersenyum saat mengintip dari kaca dan melihat mobil BMW putih suaminya memasuki halaman.


Giani pura-pura duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


Jero membuka pintu. Ia melihat Giani sedang menonton TV. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk istrinya itu. Satu hari ini ia menahan seluruh perasaannya untuk menghubungi istrinya. Semuanya karena pak guru Paul.


Giani melirik ke arah Jero. Ia langsung berdiri dengan mulut yang terbuka.


"Bee, apa yang kamu lakukan dengan rambutmu?" Teriak Giani saat melihat kalau rambut coklat keemasan Jero sudah di cat menjadi hitam. Rambut Jero juga disisir berbeda dari biasanya. Rambutnya lebih mirip dengan...., astaga, kenapa mirip pak guru Paul?


Jero tak menjawab pertanyaan Giani. Ia swgwra menaiki tangga menunju ke kamar. Giani mengikutinya dengan emosi yang membeludak. Ia sangat suka dengan warna rambut Jero. Ia bahkan sering menghayal kalau si kembar akan mempunyai rambut seperti Jero.


"Bee, kenapa dengan rambutmu? Kenapa kamu merubahnya menjadi warna hitam?"


"Bukankah kamu lebih suka pria lokal dari pada pria bule? Kamu suka dengan pria berkacamata dan rambut dibelah tengah kayak gini? Aku sengaja merubah penampilanku supaya kamu akan terus mengenang pak guru Paul yang kini sudah menjadi duda keren."


"Bee, kamu cemburu?"


"Menurutmu? Pantaskah seorang wanita bersuami memuji pria lain di hadapan suaminya?"


"Bee, aku hanya kagum sama pak guru Paul. Kagum itu bukan berarti aku cinta. Aku memujinya duda keren karena ingin menyemangatinya yang sudah kehilangan istri. Tak ada maksud untuk menggodanya." Giani berdiri di hadapan Jero. "Sayang, aku sudah mengandung anakmu dengan susah payah, kenapa juga aku harus berpaling pada lelaki lain? Aku suka kamu pria buleku. Apa yang membuatmu berpikir kalau aku lebih suka pria lokal dari pada pria bule?"


"Alexa mengatakan kalau dia lebih suka pria lokal dari pada pria bule."


"Jadi kamu pikir kalau aku juga demikian?"


"Alexa kan suka meniru apapun juga yang kau sukai dan lakulan."


Giani tersenyum. Ia membelai wajah Jero dengan lembut. "Karena itukah kau mengabaikan ku satu hari ini? Aku kangen, Bee. Kangen mendengar celotehanmu yang menurutku makan dan istirahat."


Jero menatap istrinya. "Jangan lagi memuji pak guru Paul di depanku, Mel sayang. Aku bisa mati karena cemburu."


"Baiklah. Aku janji hanya akan memujinya dalam hati."


"Itu pun tak ku ijinkan."


"Kau sangat sayang padaku sampai jadi posesif seperti ini?"


"Aku tergila-gila padamu, sayang. Rasanya aku tak sanggup jika kamu berpaling pada pria lain."


"Aku memang akan berpaling pada pria lain."


"Apa?"


"Aku akan mencari pria bule yang berambut coklat keemasan. Yang rambutnya seperti boyband Korea. Aku nggak mau pria berambut hitam dan disisir seperti pria tua seperti ini."


"Apa?"


"Cepat kembali ke salon dan kembalikan rambut pirangmu!"


"Tapi Mel."


"Aku akan menelepon Beryl sekarang juga dan memintanya untuk menikahiku."


"Beryl sudah bersama Anggita."


"Kau mau coba?" Giani meraih ponselnya. Ia menghubungi Beryl dan menghidupkan speaker.


"Hallo Beryl, kamu ada di mana?"


"Aku ada di apartemen."


"Beryl, jika aku cerai dengan Jero, apakah kamu masih mau menikahiku?" .


"Tentu saja, Gi."


"Bagaimana dengan Anggita?"


"Aku akan meninggalkannya demi dirimu."


Jero langsung menyambar ponsel Giani. "In your dream, brengsek! Jangan pernah ganggu istriku!" Teriak Jero lalu melemparkan ponsel Giani ke atas tempat tidur.


"Kau lihat?"


Jero akan bicara namun tiba-tiba ia melihat perut Giani bergerak.


"Ya ampun, Gi. Mereka bergerak." Jero menyentuh perut Giani dengan kedua tangannya. Ia hampir melompat kesenangan karena bayi mereka kembali menendang.


"Bee, mereka sangat aktif." Kata Giani sambil memegang tangan Jero yang masih menempel di perut Giani.


"Mereka pasti nggak suka kalau kita bertengkar."


"Mereka marah karena rambut daddy mereka berubah warna."


Keduanya saling bertatapan tak lama kemudian mereka tertawa bersama. Dan entah siapa yang memulai, mereka pun berciuman dengan sangat mesra.


************


Aldo menatap obat kontrasepsi yang ada di laci nakas. Ia memandang Joana yang sedang menyiapkan pakaiannya.


"Honey, kau mengkomsumsi pil ini?"


"Ya."


"Kenapa?"


Joana menatap Aldo. "Aku takut hamil, Aldo."


"Alasan apa itu. Kita sudah menikah, Jo."


"Aku takut saat hamil dan melahirkan, Alexa akan kekuarangan perhatian. Aku tak mau Alexa tak menyayangiku lagi."


Aldo mendekat. "Alexa akan menerima keadaannya saat kamu lebih sibuk dengan anak kita. Dia akan menjadi kakak yang pengertian. Jangan kau takuti sesuatu yang belum terjadi. Aku ingin punya anak darimu, Jo."


"Maafkan aku. Seharusnya aku tak perlu paranoid seperti ini."


Aldo membelai wajah Joana dengan ibu jarinya. "Buang pil itu. Biarkan benihku tumbuh di perutmu."


Joana mengangguk. Ia langsung memeluk Aldo dengan perasan terharu.


Mau tahu nama si kembar?


Episode berikut Giani melahirkan.


jangan lupa baca ceritaku yang lain :


ISTRI PERTAMA MENJADI ISTRI KEDUA