
Saat Oliver memasuki ruang makan, semua mata langsung tertuju padanya.
"Oliver sayang, mana Alexa?" Tanya Elvira.
"Eca nggak enak badan, mom. Katanya ia ingin tidur sebentar." Jawab Oliver lalu duduk di samping Giani.
"Tak enak badan? Pasti kamu nih yang sedikit keterlaluan mengajak Alexa making love terus." Kata Elvira yang sukses membuat wajah Oliver memerah.
"Mommy!" Tegur Orlando pada istrinya.
"Biar aja, Daddy. Itu kan memang kenyataannya. Like father like son." Elvira mencibirkan bibirnya.
Joana, Giani dan Wulan menahan tawa.
"Nanti minta maid untuk mengantarkan makanan bagi Alexa. Mommy nggak mau menantu mommy sampai sakit menjelang pesta pernikahan kalian." Ujar Elvira lalu menghabiskan jusnya.
"Jangan bawa makanan. Mendengar aku mengajaknya untuk makan saja, Alexa mengatakan kalau ia merasa mual." Cicit Oliver lalu memasukan satu suapan ke mulutnya.
"Mual?" Ujar Joana, Giani dan Wulan bersamaan. Ketiganya saling berpandangan sambil mencari kebenaran dari apa yang dapat mereka artikan dengan kata mual.
"Iya. Alexa bilang begitu tadi." ujar Oliver sambil menatap ketiga wanita kesayangan Alexa secara bergantian.
"Oliver, maaf kalau bibi harus tanyakan ini, apakah kamu tahu kapan Alexa terakhir mendapatkan haid?" Tanya Giani.
"Waktu kami ada di Thailand, bi. Tepatnya sehari setelah kami sampai."
"Tanggal berapa itu ya?" Joana gantian bertanya.
"Tanggal 2 Juni saat kami berangkat ke Thailand." Jawab Oliver masih bingung.
"Berarti Eca datang bulan sekitar tanggal 3 Juni ya? Sekarang tanggal berapa?" tanya Joana dengan wajah yang hampir yakin dengan apa yang dipikirkannya.
"Tanggal 11Juli." Jawab Elvira yang mulai mengerti arah bicara tiga wanita cantik ini.
"Haid Eca nggak pernah terlambat. Kalau mau dihitung sejak haid hari pertama tanggal 3, berarti Eca nya harus haid lagi sekitar tanggal 1 sampai tanggal 4 bulan ini. Jadi dapat dikatakan kalau Eca sudah terlambat haid selama 1 minggu." Kata Joana yang memang sangat memperhatikan perkembangan anak sambungnya itu.
"Oh My God! Menantuku pasti hamil." Pekik Elvira sambil membesarkan bola matanya. Wajahnya nampak berseri-seri.
"Hamil?" Ujar Oliver tak percaya. "Kami baru mau 7 Minggu menikahnya."
"Alexa jarang sekali sakit. Jika dia kelelahan biasanya dia memang akan tidur. Namun jika sudah ada sebutan kata mual, kita patut mencurigainya." Kata Wulan dengan senyum di kulum.
"Aku yakin kalau menantuku pasti hamil. Duh benihnya Pregonas memang luar biasa. Iyakan Daddy sayang? Aku juga dulu langsung hamil sebulan setelah menikah. Namun supaya kita semua tak penasaran, maka kita harus membuktikannya. Soraya!" Elvira memanggil kepala pelayanan di rumahnya itu.
Seorang wanita berusia sekitar 60an datang mendekat.
"Ya, nyonya!"
"Pergi ke apotik sekarang juga! Belikan alat tes kehamilan dari berbagai merk sebanyak mungkin. Laksanakan!" seru Elvira.
"Siap, nyonya!" Soraya langsung undur diri dan mencari sopir untuk mengantarnya.
40 menit kemudian....
Alexa yang masih berbaring di atas ranjang, terpaksa membuka matanya saat pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Oliver masuk bersama kedua mertuanya, diikuti Giani, Joana dan Wulan.
"Ada apa ini?" tanya Alexa.
Oliver membantu Alexa duduk di atas ranjang. "Sayang, kamu sudah buang air kecil?"
"Belum. Kenapa?'
"Ayo aku temani kau ke kamar mandi. Kau harus buang air kecil di wadah ini." kata Oliver sambil mengangkat gelas yang dipegangnya.
"Kenapa?" Alexa bingung.
"Lakukan saja, sayang. Nanti berita gembira atau berita kurang gembira yang akan kita lihat, kita akan lihat bersama." Oliver menarik tangan Alexa perlahan dan menuntun istrinya ke kamar mandi.
"Ada apa, Oliver?" tanya Alexa saat keduanya ada di kamar mandi dan Oliver sudah mendapatkan apa yang diinginkannya di gelas itu. Keduanya keluar lagi. Oliver meletakan gelas itu di atas meja.
Elvira langsung maju dan mencelupkan satu alat tes.
Alexa terpana. "Aku mau dites apakah hamil, tapi kan aku dan Oliver baru saja...." Kalimat Alexa terhenti saat Elvira menunjukan alat itu. "Dua garis. Positif!"
"Coba dengan alat yang lain, sayang!" Ujar Orlando terlihat sangat penasaran.
Elvira membuka alat tes dengan merk yang lain.
"Tanda +. Positif lagi." Elvira terlihat semakin bersemangat.
"Satu kali lagi, sayang!" Orlando pun tambah penasaran.
Satu alat tes lagi digunakan. Hasilnya sama. Alexa memang positif hamil.
"Aduh, senangnya hatiku akan menjadi nenek. Selamat ya Eca sayang." Elvira yang pertama memeluk Alexa. Setelah itu Orlando, Giani, Joana dan terakhir Wulan.
Alexa yang masih belum percaya dengan apa yang dialaminya terlihat masih diam. Pun saat yang lain meninggalkan kamar dan meninggalkan ia dan Oliver sendiri, Eca kelihatan masih diam.
"Sayang, kita akan punya baby!" kata Oliver sambil mengusap perut Alexa yang masih rata.
Air mata Alexa mengalir tanpa bisa ditahannya. Tangannya menyentuh tangan Oliver yang ada di perutnya. "Anak? Anak kita sedang tumbuh di dalam perutku? Oliver sayang, buah cinta kita ada di sini."
Oliver langsung membawa Alexa ke dalam pelukannya. Ia tak bisa melukiskan betapa bahagianya dirinya. Ia sendiri pun tak bisa menahan rasa haru yang membuat matanya berkaca-kaca.
Saat pelukan mereka terurai, Oliver langsung menyatukan ciuman mereka dengan sangat lembut.
"Aku mencintaimu, sayang!" bisik Oliver.
"Aku juga mencintaimu. Namun sekarang aku sudah merasa lapar, Oliver."
Oliver membelai wajah istrinya."Kamu mau apa, sayang? Biar aku ambilkan."
"Aku mau makan kue putu."
"Kue apaan itu?"
"Kue berwarna hijau yang isi nya gula merah dan dimakan dengan parutan kelapa muda."
Oliver menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sayang, apakah kue itu ada di sini?"
"Ya Carikan! Aku mau itu, Oliver!" rengek Alexa.
"Ok. Aku akan cari di toko kue Asia. Sekarang kamu istirahat saja. Jangan melakukan apapun. Aku tak mau kenapa-napa dengan kamu dan anak kita."
Oliver mencium dahi Alexa sebelum keluar kamar. Ia melihat kalau orang tuanya bersama dengan ketiga mamanya Alexa ada di ruang tamu.
"Oliver, kenapa nggak temani Alexa di kamar?" tanya Elvira.
"Kue itu nggak ada di sini. Kalau di Indonesia banyak. Aduh, gimana harus mencarinya?" Elvira terlihat bingung.
"Antar bibi ke toko Asia. Bibi akan mencari bahan untuk membuat kue itu." Kata Giani membuat Oliver bernapas lega.
********
Pesta pernikahan Oliver dan Alexa dilaksanakan di salah satu gedung pertemuan yang dapat menampung lebih dari 3000 orang. Sistem keamanan yang super ketat harus dijalani oleh semua tamu undangan yang akan masuk.
Alexa menggunakan gaun indah hasil dari rancangan desainer terkenal yang ada di kota Madrid. Ia terlihat sangat cantik dengan taburan mutiara indah di gaunnya. Oliver menggunakan jas berwarna hitam yang sangat indah membungkus tubuh kekarnya.
Karena banyak nya tamu yang datang, dan Alexa yang mengeluh kalau kakinya sakit, terpaksa sang pengantin wanita menyingkir dulu ke ruang tunggu untuk sementara. Oliver menyampaikan kepada para tamu bahwa istrinya sedang hamil dan ia membutuhkan waktu untuk istirahat.
Giani dan Wulan datang menemani Alexa, sedangkan Joana dan Aldo mendampingi orang tua Oliver untuk menyapa para tamu.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Giani.
"Capek, bi. Badan rasanya agak lemas. Pinginnya tidur saja. Aku juga jadi kangen Indonesia. Kangen makan bakso, gado-gado dan cilok." Ujar Alexa sambil menelan ludah membayangkan semua makanan itu.
Wulan dan Giani tersenyum sambil berpandangan. "Kau merindukan makanan Indonesia saat hamil seperti ini, mengingatkan bibi juga saat hamil Ian dan Iel dulu. Pinginnya pulang ke Indonesia dan merindukan makan nasi goreng, makan ayam kari dan ikan asin. Tapi wajah Ian dan Iel lebih mirip bule dari pada orang Indonesia."
"Iya. Kayak waktu hamil Fiero, aku juga ingin makan makanan kampung. Ibuku bahkan harus selalu membuat sayur pete, lalapan kampung eh si Fiero lahirnya mirip papanya." Ujar Wulan.
"Makanya aku waktu itu nggak mau menikah dengan bule. Pinginnya orang Indonesia. Eh, kecantol nya sama si bule. Pada hal mamanya Oliver orang Bandung namun Oliver 90 persen mirip papanya." Ujar Alexa sambil mengelus perutnya. "Aku nggak tahu bagaimana nanti wajah anakku. Mungkinkah akan mirip bule atau orang Indonesia. Aku sih maunya agak mirip orang Indonesia. Sama kayak pak guru Paul yang asli Indonesia. Kok tiba -tiba aku ingin ketemu pak guru Paul ya?"
Oliver yang baru tiba di depan pintu untuk melihat keadaan istrinya langsung terkejut mendengar nama pak guru Paul disebut.
"Sayang, kok sebut nama pak guru Paul sih?" Tanya Oliver sambil masuk dengan wajah cemberut.
Alexa bingung juga kenapa ia harus ingat pak guru tampan yang selalu datang mengajar bibinya Giani dengan motor sport nya. Dulu, Alexa sering menunggu pak guru itu di depan pintu jika dia datang. Alexa suka sekali dengan kacamata yang ia kenakan.
"Mungkin Eca terbawa kenangan saja. Pak guru Paul kan sekarang usianya sekitar 48 atau 50. Nggak mungkinlah Eca akan menyukainya." ujar Giani.
Wajah Oliver masih cemberut membuat Wulan dan Giani memilih meninggalkan pasangan itu.
"Sayang, kamu kok cemburu banget sama pak guru Paul. Aku kan sudah bilang kalau aku hanya sekedar mengaguminya. Bukan mencintainya." Alexa meraih tangan Oliver dan meletakan di atas perutnya. "Kalau daddy cemburu, nanti dede nya ikutan ngambek. Yang repot mommy nya yang harus ngurus bapak sekaligus anaknya."
Senyum di wajah Oliver akhirnya nampak juga. Ia membelai perut Alexa. Tak sabar rasanya melihat perut istrinya menjadi besar dan akhirnya bisa melahirkan.
"Bagaimana dia? Apakah membuatmu mual malam ini?"
Alexa menggeleng. "Hanya sedikit capek saja."
"Kita pulang saja, ya?"
"Memangnya bisa?"
"Para tamu sudah banyak yang pulang. Mommy Elvira yang mengatakan kalau kita sebaiknya pulang."
"Baiklah." Alexa memakai sepatunya yang ia pakai tadi. Namun saat ia akan berdiri, Oliver menahan tangannya. "Aku akan menggendongku."
Wajah Alexa langsung memerah. "Sayang, aku malu."
"Tak akan kubiarkan kau berjalan dengan sepatu ini. Aku akan menggendong mu sampai ke mobil."
"Tapi...."
"Diamlah istriku! Kau cerewet sekali malam ini." Kata Oliver lalu mulai melangkah keluar dari ruang tunggu.
Semua yang melihat kemesraan pasangan itu tersenyum manis.
"Oliver memang tipe pria romantis yang menyayangi istrinya. Alexa yang terbiasa dimanja dan disayang oleh banyak orang pasti tak akan pernah kehilangan kasih sayang karena Oliver akan memberikan banyak cinta untuknya." Ujar Giani sambil terus memandang pasangan itu sampai menghilang dari balik pintu.
"Memangnya aku bukan tipe pria romantis?" Tanya Jero yang berdiri di samping Giani.
"Kamu romantis juga, sayang." Puji Giani sambil melingkarkan tangannya di lengan suaminya.
"Malam ini kita menginap di hotel ya? Aku kangen dengan kamu. Sudah seminggu lebih Palo dan Nido tak bertemu. Mereka pasti sangat kangen."
Giani menatap suaminya. "Memangnya kenapa kalau di rumahnya Oliver?"
"Aku kan nggak tahu kalau kamarnya kedap suara atau bukan. Aku takut suaramu akan sedikit ribut malam ini. Karena aku dan Palo akan membuat kau dan Nido bekerja cukup banyak malam ini."
"Bee, yang biasa ribut saat kita bercinta siapa? Aku atau kamu? Lagi pula kau mau berapa ronde malam ini? Ingat umur sayang. Nanti kamu kelelahan dan nggak bisa bangun esok paginya." bisik Giani.
Oliver tersenyum menggoda. "Jangan kau ragukan kemampuan suamimu ini, sayang. Usiaku boleh mencapai angka 40an, tapi tenagaku masih seperti waktu kita menikah dulu."
Kedua pasangan itu tertawa bersama membuat Gabriel yang berdiri tak jauh dari mereka tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya yang tak pernah usang dinamai usia. Dalam hati lelaki tampan itu bertanya, apakah aku dan gadis pujaan ku bisa bahagia seperti daddy dan mommy?
**********
Seminggu setelah pesta pernikahan mewah itu selesai, keluarga Alexa menyempatkan diri untuk menikmati keindahan Madrid dan sekitarnya sebelum pulang ke Indonesia. Alexa merasa sangat kesepian. Apalagi jika Oliver sudah berangkat kerja. Ia hanya bisa berdiam di kamarnya sambil memainkan ponselnya. Kehamilannya memang tak membuatnya repot. Ia hanya akan mengalami mual dan sedikit muntah di pagi hari. Selebihnya ia akan merasa enak dan bisa makan di siang sampai malam hari.
Alexa merindukan semua masakan Indonesia. Dia sebenarnya ingin segera pulang ke Jakarta namun dokter menyarankan untuk menunggu kandungannya berusia di atas 3 bulan.
Karena merasa bosan hari ini, Alexa memutuskan untuk keluar rumah. Ia ingin memberi kejutan dengan pergi ke kantor suaminya. Tadi pagi sebenarnya Oliver sudah mengajaknya namun karena Elina masih merasa mual, ia menolak untuk pergi.
Ibu mertuanya sedang berada di butiknya sedangkan ayah mertuanya juga berangkat kerja seperti Oliver.
Adik lelaki Oliver ada di Jakarta sedangkan adik perempuannya sibuk dengan karirnya sebagai model. Ia bahkan jarang pulang ke rumah ini.
Setelah berganti pakaian, Alexa meminta salah satu sopir mengantarnya. Ia pun tiba di kantor keluarga Pregonas setelah 15 menit naik mobil.
Waktu ia tiba di lobby, semua orang langsung menunduk hormat padanya. Semua mengenal Alexa karena berita pesta pernikahan mereka menjadi viral di media sosial.
Lewat resepsionis, Alexa diberitahukan untuk naik lift khusus menuju ke lantai 5 tempat ruangan Oliver berada. Sampai di lantai yang dimaksud, Alexa langsung tersenyum saat melihat Kevin. Kevin langsung terkejut melihat kedatangan Alexa.
"Di mana suamiku?"
"Ada di dalam nyonya, tapi ada tamu yang...."
Kevin tak meneruskan lagi bicaranya karena Alexa langsung membuka pintu ruangan Oliver dan ia langsung menjerit kaget saat melihat Oliver sedang berpelukan dengan Calina.
"Sayang?" Oliver terkejut melihat Alexa.
Alexa menatap Oliver dengan tatapan dingin. "Maaf menganggu!" katanya lalu keluar sambil membanting pintunya.
*********
Kenapa Calina ada di sana ya?
Ayo, tebak? Jangan dulu kesal ya emak2
kan aku sudah bilang kalau Calina bukan pelakor. 2 episode lagi akan tamat ya....