
"Sayang...., bangun. Kita hampir saja melewatkan jam makan pagi." Bisik Oliver sambil membelai pipi halus istrinya. Oliver baru saja selesai mandi. Ia terbangun saat salah satu pegawai hotel mengantar sebuah koper yang berisi pakaiannya dengan Alexa.
Alexa mencoba membuka matanya. Namun ia merasa sangat mengantuk. Oliver membuatnya tertidur pada saat jam sudah menunjukan pukul setengah empat pagi. Makanya ia kembali menutup matanya dan menarik selimutnya yang sedikit melorot karena ulah Oliver.
"Sayang..., honey..!" Oliver kembali membangunkan istrinya. Kali ia mencium pipi istrinya. "Apakah kamu tidak lapar? Makanan yang aku pesan sudah ada."
"Aku memang merasa lapar tapi juga masih sangat mengantuk."Kata Alexa tanpa membuka matanya."Biarkan aku tidur sedikit lagi. Karena jam 11, aku ingin menonton film kesayanganku."
"Tapi ini sudah jam 10 lewat 35 menit, sayang."
Alexa membuka matanya secara cepat. Ia bangun dan menatap suaminya. "Apa? Aku pikir ini masih sekitar jam 7 pagi."
Oliver mengambil ponselnya lalu menunjukannya pada Alexa.
"Ya ampun! Kenapa aku bisa bangun sangat telat seperti ini ya?" Alexa berkata sambil merasakan kalau kulit tubuhnya menjadi dingin. Saat ia menunduk, tangannya secara cepat menarik selimut untuk menutupi dadanya yang polos. Oliver menahan tawa melihat sikap malu-malu istrinya itu. Pada hal sejak semalam sampai subuh tadi, bagian itu yang menjadi favorit Oliver untuk membuat istrinya itu pasrah dalam permainan ranjang mereka.
Merasa kalau Oliver memperhatikannya, Alexa langsung melotot ke arah suaminya. "Awas ya, otaknya jangan dipakai untuk memikirkan yang macam-macam. Aku sangat capek."
Tawa Oliver langsung pecah. Entah apa yang merasukinya semalam. Sebenarnya ia hanya ingin menyatu dengan Alexa sebanyak dua kali. Karena ia tahu kalau gadis itu pasti masih merasakan sakit karena ini pengalaman pertamanya. Namun saat ronde kedua selesai, ketika keduanya asyik bercerita tentang rencana bulan madu mereka, gairah Oliver terbakar lagi saat kulit polos mereka saling bersentuhan. Dan dia merayu Alexa sedemikan rupa sampai akhirnya Alexa kembali pasrah dalam dekapan Oliver yang kembali membuat perempuan itu kehilangan akal sehatnya.
"Nggak, sayang. Pagi ini aku tak akan mengganggumu. Aku tahu kalau kamu pasti sangat capek dan butuh istirahat. Apakah kamu akan mandi?" Tanya Oliver dengan tatapan penuh cinta yang dimilikinya.
"Ya. Aku mau mandi dulu." Kata Alexa. "Ayo tutup matamu. Aku mau ke kamar mandi."
"Sayang, aku kan sudah melihatnya."
"Oliver....!"
"Baiklah."
Oliver memejamkan matanya. Alexa membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Saat kakinya menyentuh karpet yang ada di kamar hotel ini, ia meringis menahan rasa perih di inti tubuhnya.
"Sayang...." Oliver jadi khawatir mendengar suara Alexa yang sepertinya sedang menahan rasa sakit.
"Jangan di buka matanya!" Seru Alexa melihat Oliver akan membuka matanya.
"Baik, sayang."
Alexa berdiri perlahan dan melangkah ke kamar mandi dengan berjalan agak tertatih-tatih.
"Aku suka tahi lalat di pundak kananmu, sayang." Ujar Oliver sebelum Alexa membuka pintu kamar mandi.
"Dasar bule mesum...!" teriak Alexa. Sedikit berlari masuk ke kamar mandi karena menyadari kalau suami bulenya itu sudah membuka matanya. Terdengar tawa Oliver yang cukup keras.
15 menit kemudian, Alexa sudah keluar dari kamar mandi sambil memakai jubah mandi. Ada handuk putih yang membungkus kepalanya. Ia ikut bergabung dengan Oliver di meja makan yang letaknya ada di bagian lain kamar mereka.
Alexa meneguk susu yang ada lalu tangannya meraih remote kontrol dan menyalahkan TV. Ia mencari siaran salah satu stasiun TV swasta dan tersenyum saat melihat kalau film kesayangannya baru saja dimulai.
Oliver ikut melihat ke arah TV. "Ini drama Turki ya, Sayang?"
"Iya. Aku suka sekali dengan Burak Deniz. Dia sangat tampan dan kelihatan laki banget. Nah itu dia..!" tunjuk Alexa. "Semua dramanya aku ikuti. Bukan karena kisah cintanya namun karena dia adalah cowok paling ganteng menurutku. Wajahnya menenangkan kayak pak guru Paul!"
Wajah Oliver yang awalnya biasa saja kini mulai terlihat jengkel. Ia jadi ingat dengan apa yang dikatakan oleh paman Jero. Pak guru berkacamata itu sejak Eca kecil sudah menjadi idolanya Eca bersama dengan bibi Giani.
Tangan Oliver meraih remote TV yang ada di meja dan langsung menekan tombol off.
"Kok dimatikan sih?" protes Alexa. Dia ingin meraih remote itu namun dgn cepat disembunyikan oleh Oliver.
"Oliver, mana remote nya. Aku nggak mau ketinggalan episode ini. Mereka sebentar lagi akan menikah." Alexa terlihat kesal. Ia memohon pada Oliver.
"Memangnya kalau kamu menjalani tugasmu sebagai pramugari, kamu sempat menonton serial ini?"
"Aku baru saja mengikuti serial ini saat sudah berhenti jadi pramugari."
Oliver meletakan sendok dan garpu yang ada di tangannya. Ia berdiri dan mengambil remote yang disembunyikannya di tempat duduknya.
"Menontonlah sesukamu. Jika memang Burak Deniz dan pak guru Paul itu bisa membuatmu kagum akan seorang laki-laki, mengapa kau tak menikah dengan salah satu dari mereka?" Laku Oliver meninggalkan kamar dengan membanting pintu yang ada di belakangnya.
Alexa terkejut. Ia tak mengerti dengan perkataan Oliver. Di ambilnya remote dan dinyalakannya kembali TV yang ada. Alexa tenggelam indahnya cerita di episode ini sambil menikmati sarapannya.
Selama 1 jam Alexa menonton dan Oliver belum balik juga. Selesai itu, Alexa langsung memakai pakaiannya. Ia mencari ponselnya dan menghubungi Oliver namun ponsel Oliver ternyata ada di dalam kamar.
Dia kemana ya? Kok tiba-tiba saja pergi. Apakah Oliver cemburu hanya karena aku menonton film kesukaanku? Masa sih hanya segitu aja dia langsung ngambek. Atau karena aku memuji tokoh dalam film itu. Ia bahkan menyebutkan nama pak guru Paul.
Alexa mencoba mengingat perkataannya tadi. Tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Apakah Oliver cemburu saat aku memuji ketampanan Burak Deniz dan menyamakannya dengan pak guru Paul? Apakah hanya karena itu? Apakah aku sudah salah memuji laki-laki lain?
2 jam sudah Oliver pergi dan Alexa tak bisa menemukannya karena ponselnya ada di kamar. Dengan sangat terpaksa, Alexa balik lagi ke kamar. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk. Tenaganya yang terkuras semalam belum juga kembali. Akhirnya ia pun tertidur.
*********
Alexa terbangun karena bunyi ponselnya yang ia letakkan di samping bantalnya. Ia kemudian menjawab panggilan dari mami bulenya.
"Hallo mami bule." Sapa Alexa
"Sayang, apakah mami mengganggumu? Mami minta maaf tapi di sini ada asistennya Oliver. Ia datang untuk mengambil pasport. Kamu meletakkannya di mana?"
"Di laci paling atas di lemari buku ku, mami."
" Baiklah sayang. Karena esok malam kalian sudah akan pergi, bolehkah besok siang kita makan siang bersama? Mami sudah tanyakan pada Kevin kalau pesawat akan berangkat jam 8 malam."
"Ok mami."
"Bye sayang..."
Alexa meletakan lagi ponselnya. Sebenarnya dia masih ingin tidur lagi. Namun saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, ia langsung menoleh. Oliver keluar dari sana hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan. Rambutnya yang basah dan tubuhnya yang kelihatan atletis membuat Alexa menelan saliva nya membayangkan apa yang sudah mereka lalui sepanjang malam.
Oliver nampak dingin. Tak menoleh ke arah ranjang. Ia melangkah ke arah lemari, mengambil sebuah kaos dan memakainya setelah itu ia membuat minuman kopi. Harumnya dapat Alexa cium. Lalu ia membawa kopi dan ponselnya keluar menuju ke balkon kamar.
"Oliver.....!" teriak Alexa sedikit kesal.
Oliver berhenti tepat di depan pintu. "Mandilah. Ini sudah jam 4 sore." ujarnya lalu segera melanjutkan langkahnya.
Alexa terkejut karena ternyata ia tidur sangat lama. Ia pun turun dari ranjang dengan wajah kesal karena merasa diabaikan oleh Oliver dan segera menuju ke kamar mandi.
Saat Alexa sudah selesai mandi, Oliver masih duduk di balkon sambil memainkan ponselnya. Alexa segera menemuinya dan duduk di samping Oliver.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kita baru sehari menikah dan kau sudah meninggalkan aku. Memangnya aku salah apa?" tanya Alexa berusaha sabar. Ia mengalah saja dan berbicara lebih dulu pada si bule pencemburu ini.
"Kamu nggak salah apa-apa. Mau makan? Kamu kan belum makan siang?" tanya Oliver tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dipegangnya.
Oliver diam. Ia berhenti memainkan ponselnya.
"Hanya karena itu? Memangnya dalam hidupmu kamu nggak pernah punya idola atau ngefans pada sesuatu?"
Oliver masih diam.
Alexa kini tahu kalau Oliver pencemburu. Ia pun bangkit dari duduknya dan mendekati Oliver. Tanpa di duga, ia duduk menyamping di pangkuan Oliver sambil melingkarkan satu tangannya di leher Oliver. Tangannya yang lain menyentuh wajah tampan yang nampak menakutkan saat ini.
"Maafkan aku, sayang. Tak seharusnya aku memuji lelaki lain di depan suamiku sendiri. Pemain drama itu dan pak guru Paul bukanlah orang yang istimewa dalam hidupku. Kamulah yang paling istimewa sayang. Paling tampan dan sudah menyentuh sisi hatiku yang paling dalam. Aku yang sama sekali tak menyukai pria bule justru jatuh cinta padamu." Alexa mencium pipi Oliver. "Jangan ngambek lagi ya? Kita kan sedang honeymoon, masa harus menjadi marah karena masalah sepele." Alexa memegang dagu Oliver dan memberanikan diri mencium bibir suaminya. Awalnya Oliver masih dingin namun akhirnya ia membalas ciuman Alexa. Saat ciuman itu terlepas, pandangan mereka saling beradu. Alexa menemukan lagi senyum di wajah suaminya.
"Ganteng...!" bisik nya di sudut bibir Oliver.
"Maafkan aku." kata Oliver dengan nada menyesal. Rasa cemburu telah membuat sifat kekanakan nya muncul.
"Aku tak marah padamu, kok. Hanya saja tadi saat tidur rasanya dingin karena nggak ada kamu yang memeluk aku seperti semalam."
Oliver mengecup bibir Alexa sekali lagi. Lalu membelai bibir itu dengan ibu jarinya. "Kamu ingin aku peluk lagi?"
"Mau dong. Tapi aku juga lapar."
"Biasanya makanan yang akan di pesan datangnya 45 menit sampai 1 jam. Oleh karena itu kita masih punya waktu untuk saling berpelukan dan membuat si pajaro masuk di Jaula."
Alexa mengerutkan dahinya." Pajaro masuk di Jaula? Pajaro itu apa? Jaula juga apa?"
"Dalam bahasa Spanyol, Pajaro adalah burung dan Jaula artinya sangkar."
Wajah Alexa langsung memerah. Ia mengerti kemana arah bicara suami bulenya ini. Ia bahkan merasa sesuatu yang agak keras telah didudukinya.
"Aku....." Alexa kehilangan kata-kata.
"Masih sakit?"
"Sedikit..." jawab Alexa tersipu.
"Aku akan pelan." Oliver mengedipkan matanya dan langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa masuk ke dalam, menuju ke ranjang yang sudah menanti mereka untuk mempertemukan Pajaro dan Juala.
(Jadi ingat Palo dan Nido he...he...)
**********
Oliver sudah dari tadi siap namun Alexa masih bingung harus memakai baju apa. Ia sudah 3 kali membuka baju yang dicobanya.
"Sayang, nanti kita akan terlambat ke acara makan siang bersama keluargamu. Dan pajaro bisa saja bangun dan ingin masuk ke dalam Juala melihat kamu hanya menggunakan dalaman."
Alexa menatap Oliver sedikit kesal. "Aku nggak punya baju yang pas untuk menutupi beberapa tanda merah yang kau buat di leherku, sayang. Aku kan jadi malu harus ketemu dengan papa, mami bule dan lain-lain."
Oliver mendekat. "Nggak masalah. Mereka kan tahu kalau kita sudah menikah. Mereka pasti mengerti kalau putri kesayangan mereka kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang sedikit agresif kalau disentuh oleh suaminya."
Buk!
Alexa memukul lengan Oliver yang kemudian tertawa sambil menjauh darinya. "Oliver...!"
"Rambutnya dibiarkan tergerai saja, sayang."
"Tapi cuacanya sedang panas."
"Ruang makan di rumahmu kan pakai AC."
"Iya deh." Alexa menggunakan salah satu gaunnya. Ia membiarkan rambut panjangnya menutupi lehernya. Setelah make up sederhana, Eca dan Oliver pun meninggalkan hotel.
*******
Aldo langsung memeluk putrinya. Alexa baru 2 malam tak tidur di rumah ini namun rasanya seperti dua bulan.
3 pasang pasutri itu semuanya lengkap. Hanya para sepupu yang tak ada karena masih sekolah. Joaldo dan Felicia pun masih di sekolah. Dan mami bule menyiapkan makan siangnya di taman belakang. Bukan di ruang makan yang ada AC nya. Alexa sudah membayangkan betapa gerahnya ia nanti. Walaupun taman belakang terlihat sejuk karena banyak pohonnya, namun Jakarta sedang memancarkan panas yang sangat terik siang ini.
Sementara makan, Alexa yang tak terbiasa mengurai rambutnya tanpa sadar menggulung rambutnya secara asal ke atas dan membuatnya menjadi sanggul. Selama ia bekerja sebagai pramugari, Alexa memang sudah terbiasa menyanggul rambutnya. Makanya ia akan merasa gerah jika di ruangan tak ada AC rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja.
"Eca sayang, di hotel paman ada nyamuknya ya?" tanya Jero.
"Nyamuk? Masa sih paman di hotel bintang' lima ada nyamuknya." Alexa tersenyum.
"Oh, paman pikir ada nyamuknya soalnya leher Eca banyak tanda merahnya." Ujar Jero membuat semua spontan menatap ke arah leher Alexa kecuali Giani yang langsung menginjak kaki suaminya dengan kesal.
Wajah Alexa langsung memerah. Ia seperti mengingat sesuatu. Saat paman dan bibinya baru menikah. Di meja makan, ia juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama (ayo, apa masih ada yang ingat episode berapa?).
Apakah sekarang paman Jero sedang membalaskan dendamnya? Tapi waktu itu Alexa kan masih kecil yang belum pernah mengerti apa arti tanda merah di leher seseorang.
"Iya paman. Ada nyamuknya. Tapi nyamuk yang membuat tanda merah di leher Eca tidak berbahaya. Justru membuat Eca bahagia." Ujar Oliver membuat yang lain pada tertawa sedangkan Alexa mencubit pinggang Oliver yang duduk di sampingnya.
"Aow...! Ini sakit, sayang." Oliver meringis kesakitan.
Giani memandang Alexa yang masih tersipu malu. "Eca, sekarang kan Eca sudah menjadi wanita dewasa. Jangan malu lagi. Kami selaku orang tua, tinggal menunggu kabar bahagianya. Eca dan Oliver akan memberikan kami cucu. Semoga bulan madunya membuahkan hasil yang indah ya?"
"Benar. Sekaligus juga hendak membuktikan apakah bule yang bernama Oliver ini tokcer atau tidak." Ujar Juan yang lagi-lagi mengundang tawa yang lain.
"Memangnya papi Juan dulu langsung berhasil ya sama mami Wulan?" Tanya Oliver tak terduga.
"Iya. 2 bulan setelah kami menikah, Wulan langsung hamil. Iya kan sayang?" tanya Juan sambil membelai pipi istrinya yang memang duduk di sampingnya.
"Ih...apaan sih!" Wulan menjadi malu.
"Kalau paman Jero dan bibi Giani, berapa lama?" Oliver menatap kedua pasangan itu.
Jero jadi kelabakan. Bingung harus menjawab bagaimana.
"Waktu menikah, usia bibi baru 20 tahun. Masih sangat muda. Makanya kami menunda satu tahun untuk punya anak." Giani yang menjawab.
"Iya. Dan sekali dapat langsung dua." cicit Jero dengan sombongnya.
Tawa bahagia kembali terdengar di meja makan itu. Alexa bahagia. Tuhan memberikannya keluarga yang sangat luar biasa. Dan dia berjanji akan membangun keluarga yang bahagia juga dengan lelaki bule yang kini menjadi suaminya. Semoga.
Fin.....
*******
Sudah boleh finish nggak ceritanya???