
Selama 4 hari, Jero memilih untuk menemani Giani di Bali. Ia bahkan membantu istrinya itu untuk membantu menyelesaikan renofasi cafenya. Anak buah Jero yang dimintakan untuk membantu Giani bekerja selama 24 jam secara bergantian. Dan akhirnya, di hari ke-3, cafe kopi itu bisa dibuka kembali.
Mengenai apa yang Jero ucapkan saat ia tidur, Giani tak pernah mengungkitnya. Ia memilih menyimpannya karena itu adalah mimpi bagi Jero.
"Kami sudah menyelidiki tentang kejadiannya, mengapa cafe ini bisa terbakar pada hal ia memiliki sistem keamanan yang sangat canggih. Ternyata sistemnya sengaja dirusak sehingga CCTV pun tak bisa merekam apa yang terjadi beberapa jam sebelum kebakaran itu terjadi." Kata Letnan Nyoman, polisi yang menangani kebakaran di cafe Giani.
"Tak mengapa, pak. Yang penting tak ada korban jiwa. Memang aku sedikit rugi karena mesin kopi dan beberapa alat elektronik lainnya rusak. Belum lagi stok bahan pembuat kopi yang baru saja tiba sehari sebelum kecelakaan itu terjadi." Giani berkata lirih. Cafenya mengalami kerugian yang cukup banyak. Namun keuntungan yang didapatkan sejak cafe ini dibuka cukup berimbang. Semua bahan yang dipakai untuk renovasinya pun ditanggung oleh Jero. Sebenarnya Giani ingin menuntaskan kasus kebakaran yang disengaja ini secara baik. Namun Beryl sudah meneleponnya. Ada beberapa kamera tersembunyi yang sebenarnya di letakan Beryl di beberapa sudut. Kamera itu memang tak terhubung dengan kamera CCTV yang bisa dilihat oleh Giani dan Beryl serta pengawas cafe. Kamera ini hanya bisa dilihat oleh Beryl. Dan Beryl akan datang untuk menangkap sendiri pelakunya yang identitasnya sudah diketahui oleh Beryl.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan tetap mengembangkan penyelidikan yang ada. Jadi kalau ada temuan baru, kami akan menghubungi pihak managernya." Letnan Nyoman pun permisi untuk pulang.
Giani mengantarnya sampai ke depan pintu. Saat ia berbalik, dilihatnya Jero masih sibuk dengan tablet yang ada ditangannya. Ia tahu kalau Jero memang banyak pekerjaan. Semalam saja Jero tidur agak larut karena sedang videocall dengan sekretarisnya tentang pekerjaan.
"Bagaimana? Polisi sudah bisa mengungkapkan siapa dalang kebakaran ini?" Tanya Jero saat Giani mendekati mejanya.
"Belum. Biar saja polisi bekerja dengan waktunya, kita pulang saja ke Jakarta sore ini. Aku sudah memesan tiket. Pesawatnya jam 3 sore."
Jero hanya mengangguk. Ia memang ingin cepat pulang, namun hatinya merasa tak nyaman untuk pulang. Ia merasa tenang justru kalau Giani ada bersamanya.
***********
Keduanya sampai di rumah saat jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Saat tiba di bandara, Giani dan Jero memilih makan malam di restoran dekat bandara.
Sopir sekaligus petugas keamanan di kantor Jero yang bernama Budi, dialah yang menjemput Giani dan Jero.
"Budi, mobilnya kamu bawa pulang saja. Nanti besok pagi jam 8 jemput aku di sini ya?" Kata Jero saat Budi sudah selesai menurunkan semua koper dan barang-barang yang dibawa Jero dan Giani.
"Baik, bos!" Budi menunduk hormat dan segera meninggalkan halaman rumah itu. Jeropun menekan tombol untuk menutup pintu pagar dan menyalahkan lampu taman.
Saat ia masuk ke dalam kamar, dilihatnya Giani sedang memasukan baju-baju kotor ke dalam keranjang.
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jero.
"Sudah selesai, sayang. Besok, beberapa pelayan dari rumah mama sinta akan datang untuk mencucinya sekaligus membersihkan rumah ini." Giani merenggangkan tangannya, berusaha untuk meluruskan otot-ototnya.
Jero langsung menyimpan koper yang mereka pakai ke dalam walk in closet.
"Aku mandi dulu." Kata Giani.
"Aku juga mau mandi!" Imbuh Jero sambil membuka kemeja yang dipakainya. Giani tersenyum.
"Janji ya, kita hanya mandi!" Giani mengingatkan.
"Iya. Aku janji tak akan tergoda. Masih 4 hari lagi baru masuk masa suburmu kan?" Jero berusaha menahan hasratnya. Sudah 2 minggu ia tak menyentuh Giani. Tentu saja ia rindu. Namun ia berusaha menepati janjinya pada Giani. Mereka hanya akan berhubungan saat masa subur Giani.
Saat mandi, Giani memilih untuk tak berendam di bak mandi. Ia langsung berdiri si bawah shower untuk membasahi tubuhnya.
"Mau aku gosokan punggungnya?" Tanya Jero.
"Boleh!"
Giani merasakan kalau darahnya berdesir menerima sentuhan tangan Jero di kulit punggungnya. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya. Tubuhnya justru menginginkan Jero menyentuhnya lebih. Namun Giani menguatkan hatinya.
Mereka berdua pun saling menggosokan punggung sebelum mengahiri aktifitas mandi mereka.
Giani tahu, Jero pasti sangat tersika dengan semua ini. Mereka tak lagi saling bersentuhan selama 2 minggu. Palo bahkan sejak tadi terlihat tak mau tidur.
Hati Giani memberontak. Dia masih suamiku. Bukankah kewajiban istri adalah melayani suami? Haruskah aku melayaninya?
Giani menjadi galau, sampai ia tak sadar kalau Jero sudah berdiri di belakangnya. Tubuh Giani menghalangi pintu masuk walk in closet.
"Gi, kenapa belum ganti baju? Aku juga mau mau masuk untuk mengambil bajuku!"
Tubuh Giani berbalik. Ia terkejut melihat Jero yang sudah membuka handuk yang melilit tubuhnya. Giani menelan ludahnya. Pesona tubuh Jero sungguh menggodanya. Si Palo nampak tegang.
"Aku masih istrimu. Kau masih suamiku." Kata Giani parau diantara rasa malu dan juga keinginan untuk memenuhi tanggungjawabnya.
"Maksudnya?" Jero bertanya tak mengerti.
"Aku tahu kalau kau menginginkan aku. Iya kan?"
"Sangat menginginkanmu, Gi." Ujar Jero dengan wajah yang memerah menahan gairah.
Giani menarik tali jubah handuk mandinya lalu membiarkannya jatuh di kakinya. "Mari kita lakukan apa yang biasa suami istri lakukan."
Mata Jero langsung bersinar bahagia. Tanpa bicara, ia langsung mengangkat tubuh Giani dan membawanya ke ranjang. Tanpa bicara juga Jero dan Giani langsung saling memuaskan raga yang terlanjur haus akan belaian dan sentuhan dari pasangan masing-masing. Dan jangan salahkan palo, jika malam ini ia tak akan berhenti sampai fajar menyingsing. 😄😄😄😄
*********
Giani menggerakan badannya selesai memeriksa laporan keuangan cafenya. Hari ini dia sudah janjian dengan Jero untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mama Sinta.
Saat ia menatap ke arah cermin, Giani tak dapat menahan senyumnya melihat ada tanda merah di lehernya. Ia terpaksa harus menutupnya dengan rambutnya. Jero memang terlihat begitu bersemangat semalam. Namun ia tetap lembut. Hanya saja, ia nanti melepaskan Giani, saat jam sudah menunjukan pukul 3 subuh. Dan akhirnya, Budi harus menunggu 2 jam di depan pintu pagar karena pasangan itu nanti bangun jam 9.30 pagi.
Hari ini Giani berada di cafe dekat kantor kakaknya. Tadi siang ia bahkan makan bersama Alexa. Gadis kecil itu terlihat semakin lincah dan pintar. Tak terlihat tanda-tanda kalau ia bersedih karena perceraian orang tuanya.
Pintu ruangan Giani diketuk. Ia pikir kalau Jero yang datang karena sekarang sudah jam setengah 6 sore. Namun saat pintu terbuka, ternyata Finly yang masuk.
"Ada apa, kak?" Tanya Giani sambil berdiri.
Finly menatapnya sinis. "Apakah kamu tahu kalau aku tidur dengan Jero?"
Giani tersenyum. "Aku tahu!"
Finly tak percaya dengan reaksi yang ditunjukan Giani. "Aku yang meminta suamiku untuk menjaga kak Finly di sana."
"Dia bukan hanya menjagaku. Tapi kami bercinta sepanjang malam."
"Oh ya? Kakak punya bukti? Soalnya aku tak akan percaya jika tak ada bukti. Aku lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh suamiku."
Finly mengeluarkan ponselnya. "Ini fotonya."
Tepat di saat itu Jero masuk ke ruangan Giani yang memang pintu terbuka.
"Finly, apa yang kamu lakukan di sini?" Kata Jero dengan nada suara yang tak suka.
"Kenapa, kamu takut Giani akan tahu kalau kita tidur bersama?" Tantang Finly. "Aku sudah menyerahkan foto-fotonya pada Giani."
"Sayang....!" Jero mendekat dan bermaksud akan mengambil ponsel Finly yang sementara dilihat oleh Giani. Namun Giani justru menggeleng dan mundur beberapa langkah agar Jero tak mendekatinya.
Finly tersenyum senang.
Giani menyerahkan kembali ponsel Finly. "Fotonya bagus. Kalau dimuat diinternet pasti langsung viral. Sayangnya, aku lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh suamiku." Giani mendekati Jero dan langsung melingkarkan tangannya dilengan pria bule itu.
"A-apa?" Finly tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kamu bodoh atau benar-benar bodoh Giani?"
"Aku tidak bodoh, kak. Semua foto itu menunjukan kalau Jero dalam keadaan terlelap."
"Tentu saja aku harus mengambil gambarnya saat ia tidur. Kalau disaat kami sedang bercinta pasti Jero tak mau." Finly terlihat mulai jengkel.
"Jero mengantuk setelah meminum kopi yang dibuat olehmu. Ia terbangun dalam keadaan kalian sudah saling berpelukan tanpa pakaian. Aku pernah memberikan Jero obat tidur di minumannya. Dan ia terlelap sampai pagi tanpa bisa melakukan apa-apa. Pergilah kak Finly, apapun rencanamu, kau tak akan mampu membuatku percaya bahwa kalian sudah tidur bersama. Jero adalah suamiku. Dan seorang istri harus lebih percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Bukan begitu sayang?" Giani menatap Jero dengan mesra. Jero merasa senang.
"Tentu saja, sayang."
Finly menatap Giani dan Jero dengan penuh kebencian.
"Kau akan lihat nanti, Giani. Apa yang kukatakan adalah sebuah kebenaran. Kau akan menyesalinya!" Finly langsung pergi dari hadapan Giani dan Jero.
Giani langsung melepaskan tangannya yang memegang lengan Jero saat melihat Finly pergi.
"Makasi, Gi!"
Giani tersenyum. "Kita masih suami istri. Bukankah seharusnya kita saling percaya?" Ujar Giani. Sebenarnya Giani sedang menekan rasa marah di hatinya saat melihat foto-foto itu. Bagaimana tidak? Ada satu foto di mana Finly sedang mencium palo dengan gaya genitnya. Ada juga foto dimana Finly mencium bibir Jero. Walaupun mata Jero terlihat tertutup, tetap saja Giani merasa jijik melihatnya. Namun ia tak mau kalah di hadapan Finly.
"Gi, terima kasih karena lebih percaya padaku."
"Jangan sia-siakan usahaku. Kau harus bisa membuang Finly dalam hidupmu!"
"Aku sudah membuangnya."
"Kita pergi sekarang?"
"Ok."
"Oh ya, Gi. Kapan kamu memberikan aku obat tidur?" Tanya Jero membuat Giani tertawa. Ia tak menyangka sudah menceritakan salah satu rahasianya.
So...gimana kelanjutannya?
Haruskah mereka berpisah?
Berikan emak ini vote yang banyak ya 🤣🤣🤣