
Oliver datang untuk makan malam. Alexa sendiri yang membukakan pintu untuknya di rumah papi Juan.
"Hallo sayang." Oliver langsung memeluk dan mencium dahi Alexa.
"Selamat datang, sayang." Alexa membalas sapaan Oliver dengan malu-malu.
Tangan Oliver membelai wajah kekasihnya itu. "Aku suka kau memanggilku dengan sebutan sayang. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu." Oliver merogoh kantong celananya dan memberikan sebuah paper bag kecil bertuliskan nama sebuah merk kosmetik terkenal.
"Lipstick?" tanya Alexa kaget saat melihat 3 buah lipstick dengan warna yang berbeda yang diberikan Oliver untuknya.
"Iya. Itu lipstick waterproof terbaik. Akan bertahan selama 12 jam dan takkan mudah putar oleh sentuhan apapun termasuk oleh bibirku saat kita berciuman." bisik Oliver membuat wajah Alexa langsung memerah. Ia memukul pundak Oliver dengan gemas.
"Aku juga punya lipstick waterproof. Hanya saja tadi siang saat ke kantormu, aku menggunakan lipstick yang biasa. Tapi terima kasih ya? Koleksi lipstick ku bertambah. Aku suka warnanya."
"Ucapan terima kasihnya nggak cukup. Harus dengan tindakan."
"Maksudnya"
Telunjuk Oliver menunjuk pipinya. Alexa hendak mencium pipi Oliver namun cowok itu tiba-tiba menggeser posisi kepalanya sehingga yang terjadi adalah bibir mereka yang ketemu.
"Oliver.....!" Alexa melotot.
Namun pria itu dengan santainya hanya tersenyum. "Sayang, di mana yang lain?"
"Ada di belakang. Ayo.....!" Alexa menggandeng tangan Oliver menuju ke taman belakang tempat disiapkannya makan malam. Di sana ada Wulan dan Joana yang sementara menyiapkan meja. Sedangkan Aldo dan Juan sedang duduk tak jauh dari meja makan sambil menikmati secawan anggur dan mengobrol bersama.
"Bi, tolong simpan ini di kamarku." Alexa menyerahkan paper bag yang berisi lipstick itu pada salah satu pelayannya. Setelah itu ia ikut bergabung dengan Oliver yang memberi salam pada orang-orang rumah.
Tak lama kemudian, keluarga Dawson datang. Kali ini hanya berlima. Anak-anak langsung dibawa masuk ke dalam oleh pelayan, karena mereka akan makan malam sendiri. Kecuali yang sudah dianggap dewasa boleh bergabung bersama dengan orang tua.
"Bibi Giani, kemana Gabrian?" tanya Alexa.
"Gabrian sudah berangkat ke London untuk melanjutkan studinya. Kalau Gabriel memilih untuk kuliah di Jakarta."
Alexa menatap sepupunya Gabriel. "Jadi beneran nih pisah? Kalian kan selama ini nggak pernah pisah."
"Aku sebenarnya nggak mau berpisah. Tapi dari semua kesamaan yang kami miliki, ternyata kami berdua juga punya perbedaan. Jurusanku berbeda dengan Gabriel. Dan aku nggak terlalu suka dengan cuaca dingin. Makanya, kuliah saja di sini. Dan beruntung sekali aku bisa lulus di UI." Kata Gabriel dengan wajah bangganya.
"Bilang saja kalau kamu nggak mau meninggalkan pacar-pacarmu itu. Iya kan?"
Gabriel tertawa. "Mereka hanya teman."
Giani dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ada yang bilang kalau cara membedakan Gabriel dan Gabrian adalah dengan melihat sifat mereka. Kalau Gabrian lebih cool dan lebih banyak diam, sedangkan Gabriel lebih periang dan cepat beradaptasi dengan siapa saja.
"Si kembar sudah berusia 18 tahun namun sampai hari ini, aku sering bingung membedakan mereka." ujar Joana pada Wulan.
"Aku juga begitu."
Giani hanya tersenyum. "Tatap saja mata mereka. Di sana ada perbedaannya. Warna mata mereka agak berbeda. Jero saja dapat membedakan mereka saat usia mereka sudah 3 tahun. Makanya mereka menggunakan kalung yang bertuliskan nama masing-masing."
"Iya. Aku ingat dulu, harus melihat kalung mereka baru menyebut nama si kembar. Ah, waktu sudah berlalu begitu lama. Anak-anak kita sudah dewasa. Bahkan Eca tak lama lagi akan menikah. Aku masih ingat bagaimana dulu ia sangat menyukai roti coklat buatanmu dan setiap kali selesai memakannya, mulut kecilnya selalu belepotan dengan coklat." Kenang Joana sambil memandang Alexa yang sedang duduk bersama Oliver, Gabriel, Joaldo dan Felicia.
"Kisah kita mungkin tak berarti lagi. Yang ada hanyalah kisah tentang anak-anak kita. Apakah kisah mereka akan semanis dan sepahit yang kita lalui, aku juga tak tahu." Ujar Giani.
Wulan yang paling muda dari Giani dan Joana hanya bisa tersenyum. Ia mengingat wajah cantik yang fotonya masih terus ada di dinding kamar mereka. Finly. Walaupun Wulan tak pernah mengenalnya, namun ia yakin Finly pasti akan sangat berbahagia karena Alexa akan menjalani kehidupan yang baru.
Acara makan malam pun selesai dengan baik. Semuanya puas dengan masakan Wulan yang memang sangat enak.
Saat para orang tua memilih duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi dan kue, para remaja asyik bermain game, Alexa mengajak Oliver untuk duduk di teras belakang sambil menikmati malam yang begitu indah. Alexa bersandar di bahu Oliver sambil melingkarkan tangannya di pinggang cowok itu. Tangan Oliver sesekali membelai rambut indah kekasihnya itu.
"Sayang, pihak maskapai kemarin sudah bertanya apakah aku sudah siap terbang lagi. Namun aku belum memberikan jawaban." kata Alexa membuka percakapan diantara mereka.
"Sayang, memangnya kamu masih ingin kerja lagi? Please Eca, jangan buat aku jantungan lagi. Berhentilah menjadi pramugari. Aku ingin selalu bersamamu. Kau kan dapat kerja di perusahaan ku atau juga di perusahaan orang tuamu. Jangan kerja sebagai pramugari lagi ya?" Oliver mencium puncak kepala Alexa. Ia tak mau kekasihnya itu jauh darinya.
"Pernikahan kita kan masih satu bulan lagi. Aku bosan di rumah terus. Aku pikir beberapa kali penerbangan lalu aku akan pamit dan meninggalkan dunia pramugari yang sebenarnya sangat aku sukai."
"Tanggapan orang tuamu?"
"Semua nggak setuju kalau aku kerja lagi."
"Tuh kan, kenapa juga kamu harus kerja?" Oliver memegang dagu Alexa dan menghadapkan wajah kekasihnya itu padanya. Pandangan mereka bertemu.
"Sayang, waktu pacaran kita singkat sekali. Aku ingin semakin mengenalmu selama 1 bulan ini. Aku dan adikku sudah sepakat kalau ia akan menggantikan aku untuk memimpin perusahaan selama aku mempersiapkan pernikahanku dan selama kita akan bulan madu. Kalau kamu memilih kerja lagi, bagaimana kita akan punya waktu untuk berdua?" Oliver membelai wajah Alexa lalu ia menempelkan dahinya dengan dahi Alexa. "Jangan kerja lagi, ya? Aku takut sesuatu akan menimpamu. Saat tahu pesawatmu kecelakaan, aku rasanya mau mati saja. Aku takut kehilangan kamu, Eca."
Hati Alexa menghangat mendengar kata-kata Oliver. Ia langsung memeluk Oliver dengan hati yang bergetar karena cinta yang dimilikinya untuk pria bule itu.
"Baiklah, sayang. Aku nggak akan kerja lagi. Tapi maukah besok kamu temani aku untuk resign dari perusahaan? Aku ingin pamit secara baik-baik dengan mereka."
"Apapun untuk kamu, Eca.' Oliver melepaskan pelukannya. Tatapan mereka kembali bertemu, dan saat wajah mereka semakin dekat.....
"Eca....Oliver, paman dan bibi mau pulang dulu." Jero dan Giani muncul dan menggagalkan rencana mereka untuk berciuman.
Oliver dan Alexa berdiri, memberikan pelukan hangat pada keluarga Dawson.
Setelah itu Oliver pun pamit pulang karena waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam.
Alexa pun segera ke kamarnya di rumah papa Aldo. Ia membersihkan wajahnya dan menggosok gigi, setelah itu menggunakan gaun tidurnya dan segera naik ke atas tempat tidur. Ia ingin tidur dengan perasaan bahagia.
Ponsel Alexa berbunyi. Ada panggilan video call dari Oliver.
"Hai sayang, aku sudah merindukanmu." Sapa Oliver dari seberang. Ia juga sudah menggunakan piyamanya dan sedang duduk di atas tempat tidur.
"Rindu? Kita kan baru saja bertemu tadi."
"Iya. Tapi waktunya kurang. Pelukan saja nggak lama. Banyak mata-mata di rumahmu."
Alexa tertawa mendengar perkataan Oliver.
"Aku suka melihatmu tertawa. Kau semakin cantik dan menggemaskan. Rasanya tak sanggup lagi menunggu satu bulan untuk bisa menikah. Kita nikah besok saja ya?"
Alexa mencibir. "Pasti karena kamu sudah nggak tahan untuk meniduri aku kan?"
"Sayang, kamu pikir aku selalu hanya ingin menikmati sex saja? Ini adalah perasaan cinta yang ingin segera menjadikanmu sebagai milikku. Aku takut jika terjadi sesuatu yang akan membuat kita terpisah lagi. Aku bisa gila tanpamu, sayang."
Alexa tersenyum. "Terima kasih mencintaiku sebesar ini. Aku juga sangat mencintaimu."
Oliver pun tersenyum. "Kamu sudah mengantuk?"
"Sedikit."
"Jangan dimatikan ponselnya. Aku ingin terus menatapmu sampai kau benar-benar tertidur."
*******
Pihak perusahaan sangat menyesal saat Alexa menyampaikan surat pengunduran dirinya. Mereka membujuk Alexa untuk terus bekerja dan memberikan Alexa cuti selama 3 bulan namun Alexa menolaknya. Ia tahu kalau keluarganya menginginkan dia berhenti demikian juga dengan kekasihnya.
Saat meninggalkan kantor pusat itu, wajah Alexa terdengar sedih. Oliver memegang tangan kekasihnya. "Aku tahu kau sedih sayang. Namun aku yakin lama-lama kau akan terbiasa dengan keadaan ini. Memang meninggalkan sesuatu yang sangat kita sukai bukan perkara muda. Namun aku akan menggantinya dengan kasih sayang dan perhatian yang besar untukmu."
Alexa menghentikan langkahnya. Ia menatap Oliver dengan hati yang berbunga-bunga. "Sungguh?"
"Kau masih ragu dengan ketulusanku? Perlukah aku berbuat sesuatu untuk lebih meyakinkanmu?"
Alexa langsung memeluk Oliver. "Aku percaya." Ia sudah membayangkan apa yang akan Oliver lakukan dengan semua kegilaannya.
Oliver mencium puncak kepala Alexa lalu keduanya kembali melangkah menuju ke tempat parkir.
"Sayang, kau menggunakan lipstick yang aku berikan padamu semalam?" tanya Oliver saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Ya. Aku suka warnanya. Bagaimana menurutmu?" tanya Alexa sambil tersenyum memaparkan lipstik itu.
"Boleh aku mencobanya?"
"Kau mau memakai lipstik? Kayak banci saja."
"Sayang, aku mau mencoba lipstik itu langsung dari bibirmu. Mau melihat apakah itu akan menempel di bibirku atau tidak."
Alexa tertawa. "Dasar modus. Bilang saja kalau kamu ingin mencium ku. Iya kan?"
"Mencium sekaligus mencobanya. Boleh ya? Please...."
"Papi Juan nanti muncul secara tiba-tiba."
"Nggaklah."
"Papi Juan sementara mengerjakan proyek bersama perusahaan maskapai ini."
"Ini tempat parkir, sayang. Mana mungkin papi Juan ada di sini?"
Alexa berpikir sejenak. "Baiklah!"
"Kau mengijinkan aku mencium mu?"
"Bukan ciuman. Hanya kecupan."
"Baiklah. Dari pada tidak sama sama sekali."
Juan mendekat. Ia mencium Alexa dengan sangat senang.
tok....tok.....tok....
Seseorang mengetuk kaca pintu mobil Oliver. Keduanya melepaskan ciuman mereka. Oliver menurunkan kaca mobilnya.
"Papi Juan?" Oliver terkejut.
"Papi baru saja sampai dan melihat mobil Oliver. Bagaimana, sudah selesai?" Juan mengalihkan pandangannya dari Oliver kepada Alexa.
"Sudah papi. Awalnya mereka nggak menerima karena mereka berpikir kalau aku akan pindah lagi ke maskapainya Pregonas. Namun aku menjelaskan kalau aku benar-benar akan berhenti."
"Baguslah. Sekarang kalian mau ke mana?"
"Mau ke butik untuk melihat gaunnya." jawab Alexa.
"Baiklah. Hati-hati menyetirnya, Oliver. Lebih baik menggunakan sopir. Soalnya kurang baik menyetir sambil bermesraan. Papi masuk dulu ya?" Juan segera pergi. Oliver menaikan lagi kaca mobilnya. Ia menatap Alexa dengan debar jantung yang belum juga mereda.
"Sayang, papi mu itu seperti hantu. Dia selalu muncul di saat kita akan bermesraan. Apa dia punya ilmu khusus ya? Apa tahu mengapa ia mau supaya kita memakai sopir, supaya kita nggak bermesraan di dalam mobil. Apakah tadi dia melihat saat kita berciuman? Kaca mobilku ini lumayan gelap." ujar Oliver sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alexa tertawa. "Mungkin itu tandanya kita nggak boleh berciuman sampai hari pernikahan kita."
"Mana bisa aku tahan melihat bibirmu yang indah ini?" Juan menyentuh bibir Alexa dengan jempolnya.
"Bisa sayang. Kalau kita nggak sering berduaan."
"Mana bisa aku nggak berduaan denganmu? Rasanya hari ini aku tak mau mengantar kamu pulang ke rumahmu."
Alexa menarik hidung mancung Oliver. "Sabar ya, bule. Akan ada saatnya kita akan berdua terus."
Oliver mengambil tangan Alexa dan menciumnya mesra. "Tak sabar menunggu hari bahagia kita."
"Ayo kita pergi melihat gaunnya!"
Oliver mengangguk.
Keduanya menuju ke butik yang membuat gaun pengantin Alexa. Ada dua gaun yang mereka pesan. Gaun yang akan dipakai saat pemberkatan nikah dan untuk acara resepsinya. Kedua gaun itu hampir selesai.
"Sayang, kita makan siang, ya? Aku lapar" kata Oliver saat mereka akan meninggalkan butik.
"Iya. Aku juga sudah lapar. Ke restoran mana?"
"Kevin mengatakan kalau ada restoran Itali yang baru di buka dan sangat enak makanannya. Aku sudah pesan tempat sebelum menjemputmu tadi. Kau mau kan?"
"Ok. Aku juga suka makanan Italia."
Mobil Oliver pun di arahkan ke restoran yang di maksud. Jaraknya lumayan jauh dari butik. Memakan waktu hampir 40 menit.
Setelah sampai, Oliver dan Alexa langsung diantar ke meja mereka.
"Sayang, aku suka tempatnya." ujar Alexa.
"Iya. Sangat nyaman." Oliver menatap seluruh ruangan restoran. Kebetulan tempat duduk mereka ada di sudut. Ia mengagumi interior dan desain ruangan yang ada.
Namun, mata Oliver yang tajam langsung bertemu dengan pandangan mata bening milik seorang perempuan yang duduk tak jauh dari mereka. Perempuan itu sepertinya sedang menunggu agar Oliver menatapnya.
Deg! Jantung Oliver seperti berhenti berdetak. Tatapan mata itu terlihat sangat terluka. Ada kesedihan dan air bening yang siap mengalir saat ia mengedipkan matanya.
"Calina?" guman Oliver membuat Alexa menatapnya dengan bingung.
"Kamu bicara apa, sayang?"
Oliver tak mendengar pertanyaan Alexa. Lututnya bahkan terasa kaku dan sulit digerakkan. Ya Tuhan, masihkah dia memenuhi relung hatiku yang paling dalam setelah 8 tahun berlalu???
Wah.....masalah apa lagi nih*????